Allah Beserta Orang-orang yang Bertakwa

Tafsir Al-Qur’an: Surah An-Nahl ayat 127-128

0
106

Tafsir Al-Qur’an: Surah An-Nahl ayat 127-128. Dasar-dasar dakwah dan bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. Firman-Nya:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلاَّ بِاللّهِ وَلاَ تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلاَ تَكُ فِي ضَيْقٍ مِّمَّا يَمْكُرُونَ -١٢٧- إِنَّ اللّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَواْ وَّالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ -١٢٨

Bersabarlah (wahai Muhammad) dan kesabaranmu itu semata-mata dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan jangan (pula) bersempit dada terhadap tipu daya yang mereka rencanakan. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. (Q.S. An-Nahl : 127-128)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Washbir (dan bersabarlah kamu), hai Muhammad dalam menghadapi gangguan mereka.

Wa mā shabruka illā billāhi (dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dari Allah), yakni berkat taufik dari Allah Ta‘ala.

Wa lā tahzan ‘alaihim (dan janganlah kamu berduka terhadap mereka), yakni janganlah berduka dengan akan dibinasakannya para pengolok-olok.

Wa lā taku fī dlaiqin (dan janganlah kamu merasa sempit), yakni janganlah dadamu merasa sempit/sesak.

Mimmā yamkurūn (atas apa yang mereka rencanakan), yakni atas semua ucapan dan tindakan mereka terhadapmu.

Innallāha ma‘al ladzīnattaqau (sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa), yakni berserta orang-orang yang menjauhi kekafiran, kemusyrikan, dan perbuatan-pebuatan buruk.

Wal ladzīna hum muhsinūn (dan orang-orang yang berbuat kebaikan) dalam ucapan dan perbuatan seraya mengesakan (Allah Ta‘ala).

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. [57]Bersabarlah (wahai Muhammad) dan kesabaranmu itu semata-mata dengan pertolongan Allah[58] dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka[59] dan jangan (pula) bersempit dada[60] terhadap tipu daya yang mereka rencanakan[61].

[57] Allah Subhaanahu wa Ta’aala memerintahkan Rasul-Nya untuk bersabar ketika mengajak manusia kepada Allah serta meminta pertolongan kepada-Nya dan tidak bersandar kepada diri.

[58] Yakni Dialah yang membantumu untuk bersabar dan meneguhkanmu di atasnya.

[59] Yakni jangan bersedih ketika kamu berdakwah kemudian dakwahmu ditolak.

[60] Yakni jangan pedulikan.

[61] Karena makar tersebut kembalinya kepada mereka. Adapun engkau, maka engkau termasuk orang-orang yang bertakwa dan berbuat ihsan, sedangkan Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan berbuat ihsan. Bertakwa adalah dengan menjauhi kufur dan kemaksiatan, sedangkan berbuat ihsan adalah dengan beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya, atau merasakan pengawasan dari-Nya. Termasuk pula berbuat ihsan kepada manusia, yaitu dengan memberikan manfaat dari berbagai sisi. Kita meminta kepada Allah agar Dia menjadikan kita termasuk orang-orang yang bertakwa dan berbuat ihsan.

  1. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan[62].

[62] Dengan memberikan bantuan, pertolongan dan taufiq-Nya..

.

Tafsir Jalalain

  1. (Bersabarlah dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah) berkat taufiq-Nya (dan janganlah kamu bersedih hati terhadap kekafiran mereka) terhadap kekafiran orang-orang kafir, jika mereka tidak juga mau beriman, karena kamu menginginkan dengan sangat akan keimanan mereka (dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu-dayakan) artinya janganlah engkau hiraukan tipu muslihat mereka, karena sesungguhnya Akulah yang akan menolongmu dalam menghadapi mereka.
  2. (Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa) orang-orang yang takut terhadap kekafiran dan kemaksiatan (dan orang-orang yang berbuat kebaikan) dengan menjalankan ketaatan, kesabaran; Allah akan menolong mereka dengan bantuan dan pertolongan-Nya.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Adapun firman Allah Swt.:

Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah. (An-Nahl: 127)

Hal ini mengukuhkan perintah bersabar, sekaligus sebagai pemberitaan bahwa kesabaran itu tidak dapat diraih melainkan berkat kehendak Allah dan pertolongan-Nya, serta berkat upaya dan kekuatan-Nya. Selanjutnya Allah Swt. berfirman:

Dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka. (An-Nahl: 127)

Yakni terhadap orang-orang yang menentangmu, karena sesungguhnya Allah telah menakdirkan hal tersebut.

Dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. (An-Nahl: 127)

Artinya, janganlah kamu merasa duka cita terhadap upaya keras mereka dalam memusuhimu dan memasukkan kemusyrikan terhadapmu, karena sesungguhnya Allah-lah yang mencukupi, menolongmu, mendukungmu, menampakkan kamu, dan memenangkan kamu atas mereka.

Firman Allah Swt.:

Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. (An-Nahl: 128)

Yakni Allah beserta mereka melalui dukungan-Nya, pertolongan-Nya, bantuan-Nya, petunjuk dan upaya-Nya. Makna kebersamaan ini bersifat khusus, seperti pengertian kebersamaan yang terdapat di dalam ayat lain melalui firman-Nya:

إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آمَنُوا

(Ingatlah) ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku bersama kalian, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman.”(Al-Anfal: 12)

Dan firman Allah Swt. kepada Musa dan Harun, yaitu:

لَا تَخَافَا إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى

Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat. (Thaha: 46)

Demikian pula dalam sabda Nabi ﷺ kepada Abu Bakar As-Siddiq di dalam gua:

لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا

Janganlah engkau berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita. (At-Taubah: 40)

Adapun kebersamaan yang mengandung makna umum, maka pengertiannya hanya melalui pendengaran, penglihatan, dan pengetahuan; seperti pengertian yang terdapat di dalam firman Allah Swt.:

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Dan Dia bersama kalian di mana saja kalian berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kalian kerjakan. (Al-Hadid: 4)

Juga seperti yang ada di dalam firman-Nya:

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلاثَةٍ إِلا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلا خَمْسَةٍ إِلا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلا أَكْثَرَ إِلا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا

Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dialah yang keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama mereka di mana pun mereka berada. (Al-Mujadilah: 7)

وَمَا تَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَا تَتْلُو مِنْهُ مِنْ قُرْآنٍ وَلا تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا

Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca ayat dari Al-Qur’an dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan melainkan Kami menjadi saksi atasmu. (Yunus: 61). Hingga akhir ayat.

Adapun firman Allah Swt.:

Orang-orang yang bertakwa. (An-Nahl: 128) Maksudnya, orang-orang yang meninggalkan hal-hal yang diharamkan.

Dan orang-orang yang berbuat kebaikan. (An-Nahl: 128)

Yakni orang-orang yang mengerjakan ketaatan. Mereka adalah orang-orang yang dijaga oleh Allah, dipelihara-Nya, ditolong-Nya, didukung-Nya, dan dimenangkan-Nya atas musuh-musuh mereka dan orang-orang yang menentang mereka.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Basyar, telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad Az-Zubair, telah menceritakan kepada kami Mis’ar, dari Ibnu Aun, dari Muhammad ibnu Hatib yang mengatakan bahwa Khalifah Usman ibnu Affan termasuk orang-orang yang bertakwa dan orang-

Demikian akhir Surah An-Nahl dan merupakan akhir juz 14. Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

«««« juz 13 «««««« juz 14 «««««« juz 15 ««««