Tuhanmu Lebih Mengetahui

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Israa’ ayat 55-56

0
99

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Israa’ ayat 55-56. Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang di langit dan di bumi. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَرَبُّكَ أَعْلَمُ بِمَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَلَقَدْ فَضَّلْنَا بَعْضَ النَّبِيِّينَ عَلَى بَعْضٍ وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُوراً -٥٥- قُلِ ادْعُواْ الَّذِينَ زَعَمْتُم مِّن دُونِهِ فَلاَ يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنكُمْ وَلاَ تَحْوِيلاً -٥٦

Dan Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang di langit dan di bumi. Dan sungguh, Kami telah memberikan kelebihan kepada sebagian nabi-nabi itu atas sebagian (yang lain), dan Kami berikan Zabur kepada Dawud. Katakanlah (Muhammad), “Panggillah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain Allah, mereka tidak kuasa untuk menghilangkan bahaya darimu dan tidak pula (mampu) memindahkannya.” (Q.S. Al-Israa’ : 55-56)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa rabbuka a‘lamu bi maη fis samāwāti wal ardl (dan Rabb-mu lebih mengetahui siapa saja yang ada di langit dan bumi), yakni mengetahui kemaslahatan bagi kaum mukminin.

Wa laqad fadl-dlalnā ba‘dlan nabiyyīna ‘alā ba‘dlin (dan sungguh Kami telah melebihkan sebagian nabi-nabi atas sebagian lainnya), dengan menjadikannya sebagai kekasih Allah dan kalimah Allah .

Wa ātainā (dan Kami memberikan), yakni menganugerahkan.

Dāwūda zabūrā (Zabur kepada Daud), yakni Kitab Zabur kepada Daud a.s., Taurat kepada Musa a.s., Injil kepada ‘Isa a.s., dan Al-Furqan (Al-Qur’an) kepada Muhammad ﷺ.

Qul (katakanlah), hai Muhammad, kepada suku Khuza‘ah yang menyembah jin dan mengira bahwa jin adalah malaikat.

Ud‘ul ladzīna za‘amtum (serulah mereka yang kalian anggap), yakni yang kalian sembah.

Miη dūnihī (selain-Nya), yakni selain Allah Ta‘ala, manakala kalian mendapat kesulitan.

Fa lā yamlikūna kasyfadl dlurri ‘angkum (maka mereka itu tidak memiliki kekuasaan untuk melenyapkan bahaya dari kalian), yakni untuk menghilangkan kesulitan kalian.

Wa lā tahwīlā (dan tidak pula dapat memindahkannya) kepada selain kalian.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Dan Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang di langit dan di bumi[40]. Dan sungguh, Kami telah memberikan kelebihan kepada sebagian nabi-nabi itu atas sebagian (yang lain)[41], dan Kami berikan Zabur kepada Dawud.

[40] Dengan beragam makhluk yang ada. Dia memberikan masing-masingnya sesuai yang dikehendaki hikmah-Nya, Dia melebihkan sebagiannya di atas sebagain yang lain, baik secara hissiy (nampak) maupun maknawi (tidak nampak) sebagaimana Dia melebihkan sebagian nabi di atas nabi yang lain, baik dalam hal sifat yang terpuji, akhlak yang diridhai, amal yang saleh, banyak pengikut, turunnya kitab-kitab atas sebagian mereka yang mengandung hukum-hukum syar’i dan ‘aqidah yang benar, sebagaimana Dia menurunkan kepada Nabi Dawud kitab Zabur. Jika Allah Ta’ala telah melebihkan sebagian nabi di atas sebagian yang lain dan telah memberikan kitab-kitab kepada sebagian mereka, lalu mengapa orang-orang yang mendustakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari apa yang diturunkan Allah Subhaanahu wa Ta’aala kepada Beliau dan karunia yang diberikan-Nya berupa kenabian dan kitab?

[41] Dengan mengkhususkan sebagian mereka dengan keutamaan di atas sebagian yang lain, seperti keutamaan Nabi Musa ‘alaihis salam dengan diajak bicara oleh Allah, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan Nabi Muhammad ﷺ dijadikan sebagai kekasih-Nya, serta diisrakan-Nya Nabi Muhammad ﷺ.

  1. [42]Katakanlah (Muhammad), “Panggillah mereka yang kamu anggap (tuhan)[43] selain Allah[44], mereka tidak kuasa untuk menghilangkan bahaya darimu[45] dan tidak pula (mampu) memindahkannya[46].”

[42] Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Abu Ma’mar dari Abdullah tentang ayat, “Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan,” ia berkata, “Ada segolongan manusia yang menyembah segolongan jin, lalu segolongan jin itu masuk Islam, sedangkan manusia yang menyembahnya tetap menyembah, maka turunlah ayat, “Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan.” Imam Muslim menyebutkan lagi hadits dari jalan yang lain yang sampai kepada Ibnu Mas’ud, dan di sana disebutkan, “Lalu golongan jin masuk Islam, sedangkan manusia yang menyembah mereka tidak menyadari,” maka turunlah ayat tersebut.

[43] Seperti berhala, malaikat, jin, Nabi Isa, ‘Uzair, para wali atau orang-orang saleh dan sebagainya.

[44] Perhatikanlah, apakah mereka dapat memberi manfaat kepadamu dan menghindarkan bahaya atau tidak?

[45] Seperti sakit, kemiskinan, kesulitan, dsb.

[46] Kepada yang lain. Jika keadaan yang mereka sembah itu seperti ini, maka pantaskah disembah? Pantaskah menyembah makhluk yang tidak memiliki kesempurnaan, yang tidak berkuasa memberikan manfaat dan menghindarkan bahaya. Oleh karena itu, menjadikan makhluk yang lemah keadaannya sebagai tuhan merupakan kekurangan pada akal dan kebodohan pada pemikiran. Namun anehnya, mereka memandang kebalikannya, mereka menyangka bahwa menyembah makhluk yang lemah itulah pandangan yang lurus dan akal yang sehat.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan Rabbmu lebih mengetahui siapa yang ada di langit dan di bumi) maka Dia mengkhususkan bagi mereka apa-apa yang Dia kehendaki sesuai dengan kondisi mereka. (Dan sesungguhnya telah Kami lebihkan sebagian nabi-nabi itu atas sebagian yang lain) dengan memberikan keistimewaan-keistimewaan tersendiri kepada masing-masing dengan keutamaan, sebagaimana yang pernah diberikan kepada Nabi Musa yaitu dapat berbicara dengan-Nya, dan Nabi Ibrahim dijadikan-Nya sebagai kekasih-Nya, serta Nabi Muhammad dengan perjalanan isranya (dan Kami berikan kitab Zabur kepada Daud).
  2. (Katakanlah) kepada mereka (“Panggillah mereka yang kalian anggap) bahwa mereka adalah tuhan-tuhan sesembahan kalian (selain-Nya) seperti para malaikat, Nabi Isa dan Nabi Uzair (maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripada kalian dan tidak pula memindahkannya.”) memindahkan bahaya itu kepada orang selain kalian.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Swt.:

Dan Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang (ada) di langit dan di bumi. (Al-Isra: 55)

Yakni tentang tingkatan mereka dalam hal ketaatan dan kedurhakaan.

Dan sesungguhnya telah Kami lebihkan sebagian nabi-nabi itu atas sebagian (yang lain). (Al-Isra: 55)

Dalam ayat yang lain disebutkan melalui firman-Nya:

تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ مِنْهُمْ مَنْ كَلَّمَ اللَّهُ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ

Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat. (Al-Baqarah: 253)

Hal ini tidaklah bertentangan dengan apa yang disebutkan di dalam kitab Sahihain, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

لَا تُفَضِّلُوا بَيْنَ الْأَنْبِيَاءِ

Janganlah kalian saling mengutamakan di antara nabi-nabi.

Karena sesungguhnya yang dimaksud oleh hadis ini ialah saling mengutamakan yang berlandaskan hanya karena kesukaan dan kefanatikan, bukan berdasarkan dalil. Karena itu, apabila ada dalil yang menunjukkan kepada sesuatu keutamaan, maka wajib diikuti. Tidak ada perselisihan di kalangan ulama bahwa para rasul itu lebih utama daripada para nabi, dan bahwa ulul ‘azmi dari kalangan para rasul adalah yang paling utama di antara mereka. Mereka yang termasuk ke dalam golongan ulul ‘azmi ada lima orang, sebagaimana yang disebutkan dalam dua ayat Al-Qur’an; yaitu yang pertama terdapat dalam surat Al-Ahzab melalui firman-Nya:

وَإِذْ أَخَذْنَا مِنَ النَّبِيِّينَ مِيثَاقَهُمْ وَمِنْكَ وَمِنْ نُوحٍ وَإِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ

Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian ‘dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri), dari Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa putra Maryam. (Al-Ahzab: 7)

Yang kedua, terdapat di dalam surat Asy-Syura melalui firman-Nya:

شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ

Dia telah mensyariatkan bagi kalian tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kalian berpecah belah tentangnya. (Asy-Syura: 13)

Dan tidak ada yang memperselisihkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah yang paling utama di antara mereka, sesudah itu Nabi Ibrahim, lalu Nabi Musa, selanjutnya Nabi Isa putra Maryam, menurut pendapat yang terkenal. Kami telah menjelaskan dalil-dalilnya secara panjang lebar pada bagian lain.

Firman Allah Swt.:

Dan Kami berikan Zabur kepada Dawud. (Al-Isra: 55)

Hal ini mengisyaratkan tentang keutamaan dan kemuliaan yang dimilikinya.

قَالَ الْبُخَارِيُّ: حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ نَصْرٍ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، أَخْبَرَنَا مَعْمر، عَنْ هَمَّام، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: خُفف عَلَى دَاوُدَ الْقُرْآنَ، فَكَانَ يَأْمُرُ بِدَابَّتِهِ لتُسْرج، فَكَانَ يَقْرَأُ قَبْلَ أَنْ يَفْرغ يَعْنِي الْقُرْآنَ

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Nasr, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Hammam. dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi ﷺ yang telah bersabda: Bacaan Al-Kitab dimudahkan bagi Nabi Dawud, tersebutlah bahwa bila dia memerintahkan (kepada pelayannya) agar hewan kendaraannya dipersiapkan, lalu diberi pelana, maka tersebutlah bahwa ia telah merampungkan bacaan Al-Kitabnya sebelum hewan kendaraannya itu siap dikendarai.

Firman Allah Swt.:

Katakanlah. (Al-Isra: 56)

hai Muhammad, kepada orang-orang musyrik yang menyembah selain Allah.

Panggillah mereka yang kalian anggap (tuhan) selain Allah. (Al-Isra: 56)

Yakni berhala-berhala dan tandingan-tandingan yang kalian buat-buat itu. Lalu mintalah kepada mereka, maka sesungguhnya mereka:

Tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya dari kalian. (Al-Isra: 56) Artinya, mereka sama sekali tidak akan dapat melenyapkannya.

Dan tidak pula memindahkannya. (Al-Isra: 56)

Misalnya mereka mengalihkan bahaya itu kepada selain kalian. Dengan kata lain, yang dapat melakukan hal itu hanyalah Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, Dialah yang memiliki makhluk dan semua urusan.

Dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

«««« juz 14 «««««« juz 15 «««««« juz 16 ««««