Hanya Menjanjikan Tipuan Belaka

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Israa’ ayat 63-64

0
27

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Israa’ ayat 63-64. Peringatan agar tidak mengikuti setan, penyesatan yang dilakukannya kepada anak cucu Adam, dan setan itu hanya menjanjikan tipuan belaka. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

قَالَ اذْهَبْ فَمَن تَبِعَكَ مِنْهُمْ فَإِنَّ جَهَنَّمَ جَزَآؤُكُمْ جَزَاء مَّوْفُوراً -٦٣- وَاسْتَفْزِزْ مَنِ اسْتَطَعْتَ مِنْهُمْ بِصَوْتِكَ وَأَجْلِبْ عَلَيْهِم بِخَيْلِكَ وَرَجِلِكَ وَشَارِكْهُمْ فِي الأَمْوَالِ وَالأَوْلادِ وَعِدْهُمْ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلاَّ غُرُوراً -٦٤

Dia (Allah) berfirman, “Pergilah, tetapi barang siapa di antara mereka yang mengikuti kamu, maka sungguh neraka Jahanamlah balasanmu semua, sebagai pembalasan yang cukup. Dan perdayakanlah siapa saja di antara mereka yang engkau (Iblis) sanggup dengan suaramu (yang memukau), kerahkanlah pasukanmu terhadap mereka, yang berkuda dan yang berjalan kaki, dan bersekutulah dengan mereka pada harta dan anak-anak lalu beri janjilah kepada mereka.” Padahal setan itu hanya menjanjikan tipuan belaka kepada mereka. (Q.S. Al-Israa’ : 63-64)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Qāladzhab (Dia berkata, “Enyahlah), yakni Allah Ta‘ala berfirman kepada iblis, “Ketahuilah!”

Fa maη tabi‘aka minhum (siapa pun di antara mereka yang mengikutimu), yakni mengikuti agamamu.

Fa inna jahannama jazā-ukum jazā-am maufūrā (maka sesungguhnya Jahannam adalah balasan bagi kalian, balasan yang sempurna”), yakni bagian yang sempurna.

Wastafziz (dan asunglah), yakni gelincirkanlah.

Manistatha‘ta minhum bi shautika (siapa saja yang kamu sanggupi di antara mereka dengan suaramu), yakni dengan ajakanmu. Menurut satu pendapat, dengan suara seruling, nyanyian, dan semua bentuk kemungkaran.

Wa ajlib ‘alaihim (dan kerahkanlah terhadap mereka), yakni bergabunglah untuk menghadapi mereka. Ada juga yang berpendapat, mintalah bantuan!

Bi khailika (pasukan kavaleri), yakni pasukan kavaleri kaum musyrikin.

Wa rajilika (dan infanterimu), yakni pasukan infanteri kaum musyrikin.

Wa syārik-hum fil amwāli (dan bersekutulah dengan mereka dalam harta), yakni dalam harta yang haram.

Wal aulādi (dan anak-anak), yakni anak-anak haram (anak hasil perzinaan).

Wa ‘id-hum (dan janjikanlah kepada mereka) bahwa surga dan neraka itu tidak ada.

Wa mā ya‘iduhumusy syaithānu illā ghurūrā (dan tiadalah yang dijanjikan setan kepada mereka melainkan tipuan semata), yakni kebatilan semata.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Dia (Allah) berfirman, “Pergilah[21], tetapi barang siapa di antara mereka yang mengikuti kamu, maka sungguh neraka Jahanamlah balasanmu semua, sebagai pembalasan yang cukup.

[21] Dengan diberi tangguh sampai tiupan yang pertama.

  1. Dan perdayakanlah siapa saja di antara mereka yang engkau (Iblis) sanggup dengan suaramu (yang memukau)[22], kerahkanlah pasukanmu terhadap mereka, yang berkuda dan yang berjalan kaki[23], dan bersekutulah dengan mereka pada harta dan anak-anak[24] lalu beri janjilah kepada mereka[25].” Padahal setan itu hanya menjanjikan tipuan belaka kepada mereka[26].

[22] Seperti dengan nyanyian, alat musik, dan semua seruan yang mengajak kepada maksiat.

[23] Termasuk pula pasukan berkuda dan pejalan kaki dari kalangan manusia yang berjalan dalam bermaksiat kepada Allah, ia termasuk pasukan setan.

[24] Hal ini mencakup semua maksiat yang terkait dengan harta dan anak, seperti enggan membayar zakat, kaffarat dan hak-hak yang wajib, harta riba, mengambil harta tanpa haknya, dan harta hasil ghasb (rampasan). Demikian pula tidak mendidik anak di atas kebaikan; di atas ‘aqidah yang benar, ibadah yang sahih dan akhlak yang mulia. Bahkan banyak mufassir yang menggolongkan pula dalam keikutseraan setan pada harta dan anak, yaitu tidak membaca basmalah ketika makan, minum, masuk dan keluar rumah, dan berjima’; yakni jika tidak disebut nama Allah, maka setan ikut serta di dalamnya.

[25] Bahwa kebangkitan dan pembalasan itu tidak ada, atau menyampaikan janji-janji palsu yang dihias.

[26] Maksud ayat ini adalah Allah menguji manusia dengan memberi kesempatan kepada iblis untuk menyesatkan manusia dengan segala cara dan kemampuan yang ada padanya; baik dengan perkataannya maupun tindakannya. Tetapi segala tipu daya setan itu tidak akan mampu menghadapi orang-orang yang beriman sebagaimana diterangkan dalam ayat selanjutnya.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Berfirmanlah) Allah swt. kepada iblis (“Pergilah) sambil menunggu hingga waktu sangkakala ditiup (barang siapa di antara mereka yang mengikuti kamu, maka sesungguhnya neraka Jahanam adalah pembalasan kalian semua) kamu dan mereka yang mengikutimu (sebagai suatu pembalasan yang cukup) dicukupkan sepenuhnya.
  2. (Dan godalah) bujuklah (siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan rayuanmu) dengan ajakanmu melalui nyanyian dan tiupan serulingmu serta semua seruanmu yang menjurus kepada perbuatan maksiat (dan kerahkanlah) mintalah bantuan (terhadap mereka dengan pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki) mereka adalah pasukan yang berkendaraan dan berjalan kaki dalam keadaan maksiat (dan berserikatlah dengan mereka pada harta benda) yang diharamkan; seperti hasil dari riba dan rampasan atau rampokan (dan anak-anak) dari perbuatan zina (dan beri janjilah mereka) bahwasanya hari berbangkit dan hari pembalasan itu tidak ada. (Dan tidak ada yang dijanjikan oleh setan kepada mereka) tentang hal-hal tersebut (melainkan tipuan belaka) kebatilan belaka.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Setelah iblis meminta masa tangguh kepada Allah Swt., maka Allah Swt. berfirman kepadanya:

Pergilah kamu. (Al-Isra: 63)

sesungguhnya Aku telah memberikan masa tangguh kepadamu. Ayat ini semakna dengan apa yang di sebutkan di dalam ayat lain melalui firman-Nya:

قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ * إِلَى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ

(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan. (Al-Hijr: 37-38)

Kemudian Allah mengancam bahwa Dia telah menyediakan neraka Jahannam buat iblis dan para pengikutnya dari kalangan Bani Adam, yaitu melalui firman-Nya:

Tuhan berfirman, “Pergilah, barang siapa di antara mereka yang mengikuti kamu, maka sesungguhnya neraka Jahannam adalah balasanmu semua. (Al-Isra: 63)

Yakni balasan amal perbuatan kalian.

Sebagai suatu pembalasan yang cukup. (Al-Isra: 63)

Mujahid mengatakan bahwa maufuran artinya penuh.

Menurut Qatadah, maufuran artinya cukup, tanpa ada yang dikurangi.

Firman Allah Swt.:

Dan godalah (bujuklah) siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu. (Al-Isra: 64)

Menurut suatu pendapat, yang dimaksud dengan saut dalam ayat ini ialah nyanyian.

Mujahid mengatakan bahwa yang dimaksud ialah dengan hiburan dan nyanyian yang membuat mereka terbuai dan lupa diri.

Ibnu Abbas telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan godalah (bujuklah) siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu. (Al-Isra: 64) Bahwa makna yang dimaksud ialah setiap penyeru yang menyeru manusia kepada perbuatan maksiat terhadap Allah Swt.

Hal yang sama telah dikatakan oleh Qatadah, dan pendapat inilah yang dipilih oleh ibnu Jarir.

Firman Allah Swt.:

Dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki. (Al-Isra: 64)

Yakni kerahkanlah semua pasukanmu, baik yang berkuda maupun yang berjalan kaki, terhadap mereka. Lafaz rajilun adalah bentuk jamak dari rajulun; sama halnya dengan lafaz rakibun, jamak dari rakibun; dan sahibun jamak dari sahibun. Makna ayat, kuasailah mereka dengan segala kemampuan yang kamu miliki. Hal ini merupakan perintah yang berdasarkan takdir, seperti yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya:

أَلَمْ تَرَ أَنَّا أَرْسَلْنَا الشَّيَاطِينَ عَلَى الْكَافِرِينَ تَؤُزُّهُمْ أَزًّا

Tidakkah kamu lihat, bahwasanya Kami telah mengirim setan-setan itu kepada orang-orang kafir untuk menggoda mereka berbuat maksiat dengan sungguh-sungguh? (Maryam: 83)

Yakni menggugah orang-orang kafir untuk melakukan perbuatan-perbuatan maksiat dengan anjuran yang sungguh-sungguh, dan menggiring mereka dengan penuh semangat untuk melakukannya.

Ibnu Abbas dan Mujahid telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki. (Al-Isra: 64) Makna yang dimaksud ialah setiap pengendara dan pejalan kaki yang maksiat terhadap Allah Swt.

Qatadah mengatakan, Sesungguhnya setan mempunyai pasukan berkuda dan pasukan jalan kaki dari kalangan manusia dan jin. Mereka adalah orang-orang yang taat kepada perintah setan. Di dalam bahasa Arab disebutkan Ajlaba Fulanun ‘Ala Fulanin, artinya Si Fulan mengerahkan kemampuannya terhadap si Anu, yakni dengan mengeluarkan suara keras memberinya semangat. Termasuk ke dalam pengertian ini kalimat yang mengatakan bahwa Nabi ﷺ melarang mengeluarkan suara teriakan dan suara gaduh dalam perlombaan. Dan termasuk ke dalam pengertian kata ini pula lafaz al-jalabah yang artinya suara teriakan yang keras.

Firman Allah Swt.:

Dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak. (Al-Isra: 64)

Menurut Ibnu Abbas dan Mujahid makna yang dimaksud ialah perbuatan yang dianjurkan setan kepada mereka, misalnya membelanjakan harta untuk perbuatan maksiat terhadap Allah Swt.

Ata mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah melakukan riba.

Al-Hasan mengatakan, maknanya ialah menghimpun harta benda dari hasil yang kotor dan membelanjakannya ke jalan yang haram. Hal yang sama telah dikatakan oleh Qatadah.

Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa kebersamaan setan dan mereka dalam harta benda mereka ialah hal-hal yang diharamkan oleh setan dari sebagian ternak mereka, yakni ternak saibah, ternak bahirah, dan lain sebagainya. Hal yang sama telah dikatakan oleh Qatadah dan Ad-Dahhak.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa hal yang paling utama sehubungan dengan makna ayat ini ialah bila dikatakan bahwa makna ayat mencakup kesemua pendapat yang telah disebutkan di atas.

Firman Allah Swt.:

Dan anak-anak. (Al-Isra: 64)

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas. Mujahid, dan Ad-Dahhak, bahwa makna yang dimaksud ialah anak-anak yang lahir dari hasil zina.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa makna yang dimaksud ialah anak-anak mereka yang mereka bunuh tanpa dosa, korban kedangkalan pikiran dan ketiadaan pengetahuan mereka.

Qatadah telah meriwayatkan dari Al-Hasan Al-Basri, bahwa demi Allah, sungguh setan telah berserikat dengan mereka dalam harta benda dan anak-anak mereka. Mereka menjadikan anak-anaknya Majusi, Yahudi, dan Nasrani serta mewarnai mereka bukan dengan celupan Islam. Mereka pun membagikan sebagian harta mereka buat setan. Hal yang sama telah dikatakan oleh Qatadah.

Abu Saleh telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa makna yang dimaksud ialah penamaan anak mereka dengan nama Abdul Haris, Abdu Syams, dan Abdu Fulan.

Ibnu Jarir mengatakan, pendapat yang paling layak dinilai benar ialah bila dikatakan bahwa yang dimaksud ialah setiap anak yang dilahirkan oleh ibunya, lalu diberinya nama yang tidak disukai oleh Allah Swt. atau memasukkan anaknya ke dalam agama yang tidak diridai oleh Allah, atau anak dihasilkan dari hubungan zina, atau setelah lahir anak dibunuhnya, atau perbuatan-perbuatan lain yang dinilai sebagai perbuatan durhaka terhadap Allah Swt. maka semua perbuatan yang maksiat terhadap Allah Swt. termasuk ke dalam pengertian iblis ikut andil persekutuan di dalam-nya, apakah yang menyangkut harta ataupun anak. Karena Allah Swt. dalam firman-Nya mengatakan:

Dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak. (Al-Isra: 64)

tidak memberikan pengkhususan terhadap makna serikat yang ada di dalamnya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa setiap perbuatan yang menjurus kepada perbuatan durhaka terhadap Allah Swt. atau taat kepada setan, berarti setan ikut andil di dalamnya.

Apa yang dikatakan oleh Ibnu Jarir ini mempunyai alasan yang cukup terarah, semuanya bersumberkan dari ulama Salaf yang masing-masingnya menafsirkan sebagian dari pengertian perserikatan. Di dalam kitab Sahih Muslim disebutkan melalui Iyad ibnu Hammad, bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: إِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنفاء، فَجَاءَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ، وحَرّمت عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ

Allah Swt. telah berfirman, “Sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif (cenderung kepada agama yang hak dan menolak agama yang batil), lalu setan datang kepada mereka dan menyesatkan mereka dari agamanya, serta mengharamkan kepada mereka apa-apa yang Aku telah halalkan bagi mereka.”

Di dalam kitab Sahihain disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِيَ أَهْلَهُ قَالَ: بِسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا، فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدّر بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِي ذَلِكَ، لَمْ يَضُرَّهُ الشَّيْطَانُ أَبَدًا

Seandainya seseorang di antara mereka apabila hendak mendatangi istrinya mengucapkan, “Dengan nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah anak yang Engkau rezekikan kepada kami dari setan, “melainkan jika ditakdirkan bagi keduanya mempunyai anak dari hubungan itu, tentulah setan tidak dapat membahayakan anaknya selama-lamanya.

Firman Allah Swt.:

Dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh setan kepada mereka melainkan tipuan belaka. (Al-Isra: 64)

Perihalnya sama dengan apa yang diceritakan oleh Allah Swt. tentang iblis, bahwa apabila perkara hak telah terbukti kenyataannya, yaitu di hari Allah melakukan peradilan dengan hak. Disebutkan bahwa iblis (setan) berkata, sebagaimana yang disitir oleh firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ

Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kalian janji yang benar; dan aku pun telah menjanjikan kepada kalian, tetapi aku menyalahinya. (Ibrahim: 22), hingga akhir ayat.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

«««« juz 14 «««««« juz 15 «««««« juz 16 ««««