Sungguh, Dia Maha Penyayang

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Israa’ ayat 66-67

0
28

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Israa’ ayat 66-67. Mengingatkan nikmat-nikmat Allah, Sungguh, Dia Maha Penyayang. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

رَّبُّكُمُ الَّذِي يُزْجِي لَكُمُ الْفُلْكَ فِي الْبَحْرِ لِتَبْتَغُواْ مِن فَضْلِهِ إِنَّهُ كَانَ بِكُمْ رَحِيماً -٦٦- وَإِذَا مَسَّكُمُ الْضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَن تَدْعُونَ إِلاَّ إِيَّاهُ فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ وَكَانَ الإِنْسَانُ كَفُوراً -٦٧

Tuhanmu yang melayarkan kapal-kapal di lautan untukmu, agar kamu mencari karunia-Nya. Sungguh, Dia Maha Penyayang terhadapmu. Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilang semua yang biasa kamu seru, kecuali Dia. Tetapi ketika Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling (dari-Nya). Dan manusia memang selalu ingkar (tidak bersyukur). (Q.S. Al-Israa’ : 66-67)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Rabbukumul ladzī yujzī lakum (Rabb kalianlah yang mendorong untuk kalian), yakni yang melayarkan untuk kalian.

Al-fulka (kapal-kapal), yakni perahu-perahu.

Fil bahri li tabtaghū miη fadlih (di lautan supaya kalian bisa mencari sebagian karunia-Nya), yakni supaya kalian bisa mencari sebagian rezeki-Nya. Menurut yang lain, sebagian ilmu-Nya.

Innahū kāna bikum rahīmā (sesungguhnya Dia Maha Penyayang kepada kalian) dengan menangguhkan azab. Ada yang berpendapat, kepada siapa saja yang bertobat di antara kalian.

Wa idza massakumudl dlurru (dan apabila kalian ditimpa bahaya), yakni ditimpa kesulitan dan kengerian.

Fil bahri dlalla maη tad‘ūna (di lautan, hilanglah apa yang kalian seru itu), yakni niscaya kalian tinggalkan berhala-berhala yang kalian sembah dan tak meminta keselamatan kepada mereka.

Illā iyyahū (kecuali Dia), yakni kalian akan memohon keselamatan dari Allah Ta‘ala.

Fa lammā najjākum ilal barri a‘radl-tum (namun, ketika Dia menyelamatkan kalian ke daratan, kalian pun berpaling) dari syukur dan tauhid.

Wa kānal insānu (dan adalah manusia), yakni manusia yang kafir.

Kafūrā (senantiasa kufur) kepada nikmat-nikmat Allah Ta‘ala.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. [29]Tuhanmu yang melayarkan kapal-kapal di lautan untukmu, agar kamu mencari karunia-Nya[30]. Sungguh, Dia Maha Penyayang terhadapmu.

[29] Allah Subhaanahu wa Ta’aala mengingatkan nikmat-nikmat-Nya yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya, berupa penundukkan-Nya untuk mereka kapal dan perahu, mengilhamkan kepada mereka cara membuatnya, penundukkan-Nya laut yang berombak besar sehingga mereka dapat berlayar di sana agar manusia memperoleh manfaat darinya seperti dapat menaikinya dan dapat mengangkutkan barang-barang mereka.

[30] Seperti dengan berdagang.

  1. Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilang semua yang biasa kamu seru, kecuali Dia. Tetapi ketika Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling (dari-Nya). Dan manusia memang selalu ingkar (tidak bersyukur)[31].

[31] Termasuk rahmat-Nya yang menunjukkan bahwa Dia yang satu-satunya berhak disembah adalah ketika mereka tertimpa bahaya di lautan, lalu mereka takut akan binasa karena ombak yang begitu besar, ketika itu hilanglah di pikiran mereka sesembahan-sesembahan yang mereka sembah selain Allah Subhaanahu wa Ta’aala di waktu aman sentosa, seakan-akan mereka tidak pernah berdoa kepada sesembahan-sesembahan itu karena mereka mengetahui bahwa sesembahan tersebut adalah lemah dan tidak mampu menghilangkan bahaya. Ketika itu, mereka berdoa dengan mengeraskan suara kepada Pencipta langit dan bumi yang diminta oleh semua makhluk ketika kondisi sulit. Saat itu, mereka memurnikan doa kepada-Nya serta merendahkan diri. Namun ketika Allah telah menghilangkan bahaya dari mereka dan menyelamatkan mereka ke daratan, mereka lupa kepada yang menyelamatkan mereka, yaitu Allah, bahkan menyekutukan-Nya dengan sesuatu yang tidak mampu mendatangkan manfaat dan menolak bahaya, tidak kuasa memberi dan tidak kuasa menahan. Hal ini termasuk kebodohan manusia dan kekufurannya, karena manusia sangat sering kufur kepada nikmat Allah selain orang yang diberi-Nya hidayah dan dikaruniakan oleh-Nya akal yang sehat, di mana ia mengetahui bahwa yang menghilangkan bahaya dan menyelamatkannya itulah yang berhak diibadahi, baik di waktu sulit maupun di waktu lapang. Akan tetapi, orang yang ditelantarkan oleh Allah dan diserahkan dirinya kepada akalnya yang lemah, maka ia tidak melihat sewaktu susahnya selain maslahat untuk saat itu dan diselamatkan pada saat itu. Ketika ia selamat dan kesulitan hilang, maka ia mengira karena kebodohannya bahwa dia telah melemahkan Allah Subhaanahu wa Ta’aala, dan tidak terlintas di hatinya akibat dari sikapnya itu di dunia, apalagi di akhirat. Oleh karena itu, pada ayat selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman, “Maka apakah kamu merasa aman bahwa Dia tidak akan membenamkan sebagian daratan bersama kamu atau Dia meniupkan (angin keras yang membawa) batu-batu kecil?”

.

Tafsir Jalalain

  1. (Rabb kalian adalah yang menjalankan) melayarkan (kapal-kapal bagi kalian) yakni perahu-perahu (di lautan agar kalian mencari) berupaya mencari (sebagian dari karunia-Nya) dari karunia Allah swt. melalui berniaga. (Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyayang terhadap kalian) karenanya Dia menundukkan bahtera-bahtera itu buat kalian.
  2. (Dan apabila kalian ditimpa bahaya) maksudnya marabahaya (di lautan) karena takut tenggelam (niscaya hilanglah) lenyaplah dari hati kalian (siapa yang kalian seru) tuhan-tuhan yang kalian sembah itu, karena itu kalian tidak menyeru mereka (kecuali Dia) Allah swt. maka pada saat itu kalian hanya berseru kepada-Nya semata, karena kalian berada dalam marabahaya, sedangkan kalian mengetahui, bahwa tiada yang dapat melenyapkannya melainkan hanyalah Dia (maka tatkala Dia menyelamatkan kalian) dari tenggelam, lalu Dia menyampaikan kalian (ke daratan, kalian berpaling) dari mentauhidkan-Nya. (Dan manusia itu adalah selalu tidak berterima kasih) banyak mengingkari nikmat-nikmat Allah.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Swt. menceritakan perihal kasih sayang-Nya kepada makhlukNya, antara lain ialah menundukan kapal-kapal di lautan buat hamba-hamba-Nya, dan memudahkannya sehingga dapat berlayar di atas lautan untuk keperluan hamba-hamba-Nya dalam mencari sebagian dari karunia-Nya melalui berniaga, dari suatu pulau ke pulau yang lain. Karena itulah disebutkan dalam akhir ayat ini:

Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyayang terhadap kalian. (Al-Isra: 66)

Dengan kata lain, sesungguhnya Dia melakukan hal itu bagi kalian hanyalah sebagai karunia dan rahmat-Nya buat kalian.

Allah Swt. menceritakan bahwa sesungguhnya manusia itu apabila tertimpa bahaya, pastilah mereka berseru kepada-Nya seraya bertobat kepada-Nya dan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya. Disebutkan oleh firman-Nya:

Dan apabila kalian ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kalian seru, kecuali Dia. (Al-Isra: 67)

Yakni lenyaplah dari hati kalian segala sesuatu yang kalian sembah selain Allah Swt.

Seperti yang terjadi pada diri Ikrimah ibnu Abu Jahal ketika ia melarikan diri dari Rasulullah ﷺ pada hari kemenangan kaum muslim atas kota Mekah. Ikrimah melarikan diri dan menaiki perahu dengan tujuan ke negeri Habsyah. Di tengah laut tiba-tiba bertiuplah angin badai. Maka sebagian kaum yang ada dalam perahu itu berkata kepada sebagian yang lain, “Sesungguhnya tiada gunanya bagi kalian melainkan jika kalian berdoa kepada Allah semata.” Maka Ikrimah berkata kepada dirinya sendiri, “Demi Allah, sesungguhnya jika tiada yang dapat memberikan manfaat (pertolongan) di lautan selain Allah, maka sesungguhnya tiada yang dapat mamberikan manfaat di daratan selain Dia juga. Ya Allah, saya berjanji kepada Engkau, seandainya Engkau selamatkan aku dari amukan badai laut ini, aku benar-benar akan pergi menemui Muhammad dan akan meletakkan kedua tanganku pada kedua tangannya (yakni menyerahkan diri), dan aku merasa yakin akan menjumpainya seorang yang belas kasihan lagi penyayang.”

Akhirnya selamatlah mereka dari laut itu. Lalu mereka kembali kepada Rasulullah ﷺ dan Ikrimah masuk Islam serta berbuat baik dalam masa Islamnya. Semoga Allah melimpahkan ridha-Nya kepada Ikrimah dan memuaskannya dengan pahala-Nya.

Firman Allah Swt.:

Maka tatkala Dia menyelamatkan kalian ke daratan, kalian berpaling. (Al-Isra: 67)

Maksudnya, kalian lupa kepada pengakuan kalian yang kalian ikrarkan di laut, yaitu bahwa Allah Maha Esa; lalu kalian berpaling, tidak mau menyembah dia Yang Maha Esa lagi tiada sekutu bagi-Nya.

Dan manusia itu adalah selalu tidak berterima kasih. (Al-Isra: 67)

Yakni tabiat manusia itu ialah selalu lupa kepada nikmat Allah dan mengingkarinya, kecuali hanya orang-orang yang dipelihara oleh Allah dari hal tersebut.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

«««« juz 14 «««««« juz 15 «««««« juz 16 ««««