Ketetapan Bagi Para Rasul

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Israa’ ayat 76-77

0
30

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Israa’ ayat 76-77. Ketetapan bagi para rasul. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَإِن كَادُواْ لَيَسْتَفِزُّونَكَ مِنَ الأَرْضِ لِيُخْرِجوكَ مِنْهَا وَإِذاً لاَّ يَلْبَثُونَ خِلافَكَ إِلاَّ قَلِيلاً -٧٦- سُنَّةَ مَن قَدْ أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِن رُّسُلِنَا وَلاَ تَجِدُ لِسُنَّتِنَا تَحْوِيلاً -٧٧

Dan sungguh, mereka hampir membuatmu (Muhammad) gelisah di negeri (Mekah) karena engkau harus keluar dari negeri itu, dan kalau terjadi demikian, niscaya sepeninggalmu mereka tidak akan tinggal (di sana), melainkan sebentar saja (lalu dibinasakan). (Yang demikian itu) merupakan ketetapan bagi para rasul Kami yang Kami utus sebelum engkau, dan tidak akan engkau dapati perubahan atas ketetapan Kami. (Q.S. Al-Israa’ : 76-77)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa ing kādū (dan sungguh mereka hampir), yakni orang-orang Yahudi.

La yastafizzūnaka (benar-benar mengeluarkan kamu), yakni benar-benar mengusir kamu.

Minal ardli (dari negeri tersebut), yakni dari negeri Medinah.

Li yukhrijūka minhā (untuk mengusir kamu darinya) ke negeri Syam.

Wa idzan (dan kalau sudah demikian), yakni kalau mereka telah mengusir kamu dari Medinah.

Lā yalbatsūna khilāfaka illā qalīlā (tentulah sepeninggalmu mereka tidak akan tinggal kecuali sebentar saja), yakni sesaat, lalu Kami membinasakan mereka.

Sunnata mang qad arsalnā qablaka mir rusulinā ([hal itu] sebagai suatu ketetapan terhadap rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelummu), yakni Kami membinasakan kaum para rasul setelah para rasul meninggalkan mereka.

Wa lā tajidu li sunnatinā (dan kamu tidak akan mendapati pada ketetapan Kami itu), yakni pada azab Kami itu.

Tahwīlā (perubahan).

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Dan sungguh, mereka hampir membuatmu (Muhammad) gelisah di negeri (Mekah) karena engkau harus keluar dari negeri itu[22], dan kalau terjadi demikian, niscaya sepeninggalmu mereka tidak akan tinggal (di sana), melainkan sebentar saja (lalu dibinasakan[23]).

[22] Yang demikian karena kebencian mereka yang begitu dalam kepada Beliau.

[23] Syaikh As Sa’diy berkata, “Dan ketika orang-orang kafir membuat makar terhadap Beliau serta mengeluarkan Beliau (dari Mekah), ternyata mereka tidak tinggal (di dunia) kecuali sebentar, sehingga Allah membinasakan mereka di Badar, tokoh-tokoh mereka terbunuh dan kekuatan mereka pecah, maka segala puji bagi-Nya. Dalam ayat ini terdapat dalil butuhnya seorang hamba kepada peneguhan Allah terhadap dirinya, dan bahwa sepatutnya bagi dirinya senantiasa mencari keridhaan Tuhannya; meminta kepada-Nya agar diteguhkan di atas keimanan sambil berusaha melakukan semua sebab yang dapat mencapai ke arah itu, karena Nabi ﷺ adalah makhluk yang paling sempurna, namun Allah tetap berfirman kepadanya, “Dan sekiranya Kami tidak memperteguh(hati)mu, niscaya engkau hampir saja condong sedikit kepada mereka.” Lalu bagaimana dengan selain Beliau?”

Menurut Syaikh As Sa’diy pula, bahwa semakin tinggi kedudukan seorang hamba dan banyak mendapatkan nikmat, maka semakin besar dosanya apabila melakukan perbuatan tercela. Demikian pula, apabila Allah ingin membinasakan suatu umat, maka dibiarkan dosanya menumpuk, lalu Allah menimpakan azab kepadanya.

Ada yang menafsirkan, bahwa maksudnya kalau sampai terjadi Nabi Muhammad ﷺ diusir oleh penduduk Mekah, niscaya mereka tidak akan lama hidup di dunia, dan Allah segera akan membinasakan mereka. Hijrah Nabi Muhammad ﷺ ke Madinah bukan karena pengusiran kaum Quraisy, akan tetapi karena perintah Allah Subhaanahu wa Ta’aala. Ada pula yang mengatakan, bahwa ayat ini turun berkenaan orang-orang Yahudi ketika mereka datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, “Wahai Abul Qasim, jika engkau memang seorang nabi maka pergilah ke Syam, karena Syam adalah negeri padang mahsyar dan negeri para nabi.” Maka Beliau berperang di Tabuk dengan maksud pergi menuju Syam. Ketika sampai di Tabuk, Allah menurunkan kepada Beliau ayat di atas dan memerintahkan Beliau untuk kembali ke Madinah (Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Baihaqi dari Abdullah bin Ghanam. Menurut Ibnu Katsir, dalam isnadnya perlu diteliti, karena Nabi ﷺ berperang Tabuk karena perintah Allah, bukan karena perintah orang-orang Yahudi.”)

  1. (Yang demikian itu) merupakan ketetapan bagi para rasul Kami yang Kami utus sebelum engkau[24], dan tidak akan engkau dapati perubahan atas ketetapan Kami.

[24] Maksudnya, setiap umat yang mengusir rasul pasti akan dibinasakan Allah. Itulah sunnah (ketetapan) Allah Subhaanahu wa Ta’aala yang tidak mengalami perubahan.

.

Tafsir Jalalain

  1. Ayat ini diturunkan ketika orang-orang Yahudi berkata kepada Nabi ﷺ, “Jika kamu benar-benar seorang nabi, pergilah kamu ke negeri Syam karena negeri itu adalah negeri para nabi.” (Dan sesungguhnya) huruf in di sini adalah bentuk takhfif daripada inna (benar-benar mereka hampir membuatmu gelisah di negeri ini) di kota Madinah (untuk mengusirmu daripadanya dan kalau terjadi demikian) seandainya mereka benar-benar mengusirmu (niscaya sepeninggalmu mereka tidak tinggal) di dalam kota Madinah (melainkan sebentar saja) lalu mereka akan dibinasakan oleh azab-Ku.
  2. (Hal itu sebagai suatu ketetapan terhadap rasul-rasul Kami yang Kami utus sebelum kamu) yakni sebagaimana kebiasaan Kami terhadap para rasul Kami, yaitu membinasakan orang-orang yang mengusir mereka (dan tidak akan kamu dapati perubahan bagi ketetapan Kami) maksudnya tidak ada pergantian baginya.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Menurut suatu pendapat, ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang Yahudi, ketika mereka memberikan saran kepada Rasulullah ﷺ untuk tinggal di negeri Syam yang merupakan negeri para nabi dengan meninggalkan kota Madinah yang ditempatinya saat itu. Pendapat ini di-nilai lemah karena ayat ini jelas ayat Makkiyyah, sedangkan Rasulullah ﷺ tinggal di Madinah sesudah itu.

Menurut pendapat yang lainnya lagi, sesungguhnya ayat ini diturunkan di Tabuk. Akan tetapi, kesahihan pendapat ini masih perlu dipertimbangkan.

Imam Baihaqi dan Imam Hakim telah meriwayatkan dari Al-Asam, dari Ahmad ibnu Abdul Jabbar Al-Utaridi, dari Yunus ibnu Bukair, dari Abdul Hamid ibnu Bahram, dari Syahr ibnu Hausyab, dari Abdur Rahman ibnu Ganam bahwa di suatu hari orang-orang Yahudi datang kepada Rasulullah ﷺ lalu mereka berkata, “Hai Abul Qasim, jika engkau benar seorang nabi, maka pergilah ke negeri Syam, karena sesungguhnya negeri Syam adalah tanah Mahsyar dan tempat tinggal para nabi.” Ternyata apa yang dikatakan oleh mereka itu dibenarkannya. Maka Nabi ﷺ berangkat ke Medan Tabuk dengan tujuan tiada lain adalah negeri Syam. Setelah Nabi ﷺ sampai di Medan Tabuk, Allah menurunkan kepadanya beberapa ayat surat Al-Isra setelah surat Al-Isra khatam, yaitu mulai dari firman-Nya: Dan sesungguhnya mereka benar-benar hampir membuatmu gelisah di negeri(mu) untuk mengusirmu darinya. (Al-Isra: 76) Sampai dengan firman-Nya: suatu perubahan pun. (Al-Isra: 77) Maka Allah memerintahkan kepada Nabi ﷺ untuk kembali ke Madinah, dan Allah berfirman, “Di Madinahlah tempat hidupmu dan tempat kematianmu, serta di Madinahlah engkau akan dibangkitkan.”

Sanad hadis ini masih perlu dipertimbangkan kesahihannya, tetapi yang jelas pendapat ini tidak benar, karena sesungguhnya Nabi ﷺ melakukan perang di Medan Tabuk bukan karena anjuran orang-orang Yahudi, melainkan menaati perintah Allah yang disebutkan melalui firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قَاتِلُوا الَّذِينَ يَلُونَكُمْ مِنَ الْكُفَّارِ

Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang ada di sekitar kalian itu. (At-Taubah: 123)

Dan firman Allah Swt.:

قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلا بِالْيَوْمِ الآخِرِ وَلا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang di haramkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh, sedangkan mereka dalam keadaan tunduk. (At-Taubah: 29)

Nabi ﷺ memerangi mereka di Tabuk untuk melakukan pembalasan atas gugurnya sebagian dari para sahabat dalam perang Mu’tah.

Seandainya hadis tadi sahih, tentulah semakna dengan hadis yang diriwayatkan oleh Al-Walid ibnu Muslim, dari Aqirah ibnu Ma’dan, dari Salim ibnu Amir, dari Abu umamah r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

أُنْزِلَ الْقُرْآنُ فِي ثَلَاثَةِ أَمْكِنَةٍ: مَكَّةَ، وَالْمَدِينَةِ، وَالشَّامِ

Al-Qur’an diturunkan di tiga tempat, yaitu Mekah, Madinah, dan Syam.

Al-Walid mengatakan, yang dimaksud dengan Syam ialah Baitul Maqdis. Akan tetapi tafsir yang mengatakan di Tabuk adalah lebih baik daripada apa yang dikatakan oleh Al-Walid yang menyatakan di Baitul Maqdis.

Menurut pendapat yang lainnya, ayat ini di turunkan berkenaan dengan orang-orang kafir Quraisy manakala mereka bertekad untuk mengusir Rasulullah ﷺ dari kampung halaman mereka. Maka Allah Swt. mengancam mereka dengan menurunkan ayat ini. Jika mereka mengusir Nabi ﷺ sesudah itu tentulah mereka tidak akan lama lagi dapat tinggal di Mekah. Dan memang demikianlah kejadiannya, karena sesungguhnya sesudah Nabi ﷺ berhijrah meninggalkan mereka setelah mengalami tekanan yang sangat berat dari pihak mereka, maka dalam masa satu setengah tahun berikutnya Allah Swt. mempertemukan mereka dengan Nabi ﷺ di Medan Badar tanpa diduga-duga oleh mereka. Kemudian Allah memberikan kemenangan kepada Nabi ﷺ atas mereka, sehingga banyak dari kalangan pemimpin mereka yang terhormat gugur dan yang lainnya ditawan.

Karena itulah disebutkan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya:

سُنَّةَ مَنْ قَدْ أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنْ رُسُلِنَا

(Kami menetapkan yang demikian) sebagai suatu ketetapan terhadap rasul-rasul Kami. (Al-Isra: 77), hingga akhir ayat.

Dengan kata lain, demikianlah ketetapan Kami terhadap orang-orang yang kafir kepada rasul-rasui Kami dan yang menyakitinya dengan mengusirnya dari tempat tinggal mereka, Allah menurunkan azab terhadap mereka. Seandainya saja Rasulullah ﷺ bukanlah rasul pembawa rahmat, tentulah mereka akan ditimpa pembalasan di dunia ini dengan azab yang tak pernah dialami oleh seorang manusia pun. Dalam suatu ayat disebutkan oleh firman-Nya:

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedangkan kamu berada di antara mereka. (Al-Anfal: 33), hingga akhir ayat.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

«««« juz 14 «««««« juz 15 «««««« juz 16 ««««