Allah Subhaanahu wa Ta’aala Memiliki Al-Asmaa’ul Husna

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Israa’ ayat 110

0
138

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Israa’ ayat 110. Beberapa perintah Allah Subhaanahu wa Ta’aala, dan bahwa Allah Subhaanahu wa Ta’aala memiliki Al-Asmaa’ul Husna serta perintah berdoa dengan nama-nama-Nya itu. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 قُلِ ادْعُواْ اللّهَ أَوِ ادْعُواْ الرَّحْمَـنَ أَيّاً مَّا تَدْعُواْ فَلَهُ الأَسْمَاء الْحُسْنَى وَلاَ تَجْهَرْ بِصَلاَتِكَ وَلاَ تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلاً -١١٠

Katakanlah (Muhammad), “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu dapat menyeru, karena Dia mempunyai nama-nama yang terbaik (Asma-ul Husna) dan janganlah engkau mengeraskan suaramu dalam shalat dan jangan (pula) merendahkannya dan usahakan jalan tengah di antara kedua itu.” (Q.S. Al-Israa’ : 110)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Qul (katakanlah) kepada mereka, hai Muhammad!

Ud‘ullāha awid‘ur rahmān, ayyam mā tad‘ū fa lahul asmā-ul husnā (“Serulah Allah atau serulah ar-Rahman. Dengan nama yang mana pun kalian menyeru, maka Kepunyaan-Nya-lah Asma-ul Husna [nama-nama yang paling baik]), yakni sifat-sifat yang paling luhur, seperti mengetahui, berkuasa, mendengar, dan melihat. Serulah oleh kalian dengan nama-nama tersebut.

Wa lā tajhar bi shalātika (dan janganlah kamu mengeraskan suara dalam shalatmu), yakni janganlah mengeraskan suaramu saat membaca Al-Qur’an dalam shalat, agar orang-orang musyrik tidak mengganggumu.

Wa lā tukhāfit bihā (dan jangan pula merendahkannya), yakni dan jangan pula terlalu merendahkan bacaan Al-Qur’an, sehingga teman-temanmu tidak dapat mendengarnya.

Wab taghi baina dzālika (tetapi carilah di antara keduanya itu), yakni antara mengeraskan suara dan merendahkannya.

Sabīlā (jalan tengah).

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Katakanlah (Muhammad)[21], “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu dapat menyeru, karena Dia mempunyai nama-nama yang terbaik (Asma-ul Husna)[22] dan [23]janganlah engkau mengeraskan suaramu dalam shalat dan jangan (pula) merendahkannya[24] dan usahakan jalan tengah di antara kedua itu.”

[21] Kepada orang-orang musyrik yang mengingkari sifat rahmah (penyayang) bagi Allah ‘Azza wa Jalla dan menolak menamai-Nya dengan Ar Rahman, atau kepada hamba-hamba-Nya.

[22] Nama yang dimiliki-Nya hanya yang terbaik. Oleh karena itu, nama yang mana saja di antara nama-nama-Nya kamu dapat berdoa dengannya, namun sepatutnya ketika berdoa; menggunakan nama-Nya yang sesuai. Misalnya, ketika meminta rezeki, maka menggunakan nama-Nya Ar Razzaq (Maha Pember rezeki), dsb.

[23] Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Ibnu Abas radhiyallahu ‘anhuma, tentang firman Allah Ta’ala, “Dan janganlah engkau mengeraskan suaramu dalam shalat dan jangan (pula) merendahkannya,” ia berkata, “Ayat tersebut turun, ketika itu Rasulullah ﷺ sedang bersembunyi di Mekah. Beliau apabila shalat bersama para sahabatnya, mengeraskan suara bacaan Al-Qur’annya, dan ketika orang-orang musyrik mendengarnya, maka mereka mencaci-maki Al-Qur’an, yang menurunkannya dan yang membawanya.” Maka Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya ﷺ, “Dan janganlah engkau mengeraskan suaramu” yakni bacaanmu sehingga orang-orang musyrik mendengarnya, kemudian memaki Al-Qur’an. “dan jangan (pula) merendahkannya,” yakni terhadap para sahabatmu sehingga engkau tidak memperdengarkan kepada mereka, “dan usahakan jalan tengah di antara kedua itu.”

[24] Maksudnya janganlah membaca ayat Al-Qur’an dalam shalat terlalu keras atau terlalu pean tetapi cukuplah sekedar dapat didengar oleh makmum.

.

Tafsir Jalalain

  1. Disebutkan bahwa Nabi ﷺ sering mengucapkan kalimat ya Allah, ya Rahman; artinya wahai Allah, wahai Yang Maha Pemurah. Maka orang-orang musyrik mengatakan, “Dia melarang kita untuk menyembah dua tuhan sedangkan dia sendiri menyeru tuhan lain di samping-Nya,” maka turunlah ayat berikut ini, yaitu: (Katakanlah) kepada mereka (“Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman) artinya namailah Dia dengan mana saja di antara kedua nama itu; atau serulah Dia seumpamanya kamu mengatakan, ‘Ya Allah, ya Rahman,’ artinya wahai Allah, wahai Yang Maha Pemurah (nama yang mana saja”) huruf ayyan di sini bermakna syarath sedangkan huruf maa adalah zaidah; artinya mana saja di antara kedua nama itu (kamu seru) maka ia adalah baik; makna ini dijelaskan oleh ayat selanjutnya, yaitu: (Dia mempunyai) Dzat yang mempunyai kedua nama tersebut (asmaul husna) yaitu nama-nama yang terbaik, dan kedua nama tersebut, yaitu lafal Allah dan lafal Ar-Rahman adalah sebagian daripadanya. Sesungguhnya asmaul husna itu sebagaimana yang dijelaskan dalam hadis ialah seperti berikut ini, yaitu: Allah Yang tiada Tuhan selain Dia,

Yang Maha Pemurah, Yang Maha Penyayang, Raja di dunia dan akhirat, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Maha Memberi keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Mulia, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Memiliki segala keagungan, Yang Maha Menciptakan, Yang Maha Mengadakan, Yang Maha Memberi rupa, Yang Maha Penerima tobat, Yang Maha Mengalahkan, Yang Maha Memberi, Yang Maha Pemberi rezeki, Yang Maha Membuka,

Yang Maha Mengetahui, Yang Maha Menyempitkan rezeki, Yang Maha Melapangkan rezeki, Yang Maha Merendahkan, Yang Maha Mengangkat, Yang Maha Memuliakan, Yang Maha Menghinakan, Yang Maha Mendengar, Yang Maha Melihat, Yang Maha Memberi keputusan, Yang Maha Adil, Yang Maha Lembut, Yang Maha Waspada, Yang Maha Penyantun, Yang Maha Agung, Yang Maha Pengampun, Yang Maha Mensyukuri, Yang Maha Tinggi, Yang Maha Besar, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Memberi azab, Yang Maha Penghisab, Yang Maha Besar, Yang Maha Dermawan, Yang Maha Mengawasi, Yang Maha Memperkenankan, Yang Maha Luas, Yang Maha Bijaksana, Yang Maha Pengasih, Yang Maha Mulia, Yang Maha Membangkitkan, Yang Maha Menyaksikan, Yang Maha Hak, Yang Maha Menolong, Yang Maha Kuat, Yang Maha Teguh, Yang Maha Menguasai, Yang Maha Terpuji, Yang Maha Menghitung, Yang Maha Memulai, Yang Maha Mengembalikan, Yang Maha Menghidupkan, Yang Maha Mematikan, Yang Maha Hidup, Yang Maha Memelihara makhluk-Nya, Yang Maha Mengadakan,

Yang Maha Mengagungkan, Yang Maha Satu, Yang Maha Esa, Yang Maha Melindungi, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Berkuasa, Yang Maha Mendahulukan, Yang Maha Mengakhirkan, Yang Maha Awal, Yang Maha Akhir, Yang Maha Lahir, Yang Maha Batin, Yang Maha Menguasai, Yang Maha Tinggi, Yang Maha Melimpahkan kebaikan, Yang Maha Memberi tobat, Yang Maha Membalas, Yang Maha Memaafkan, Yang Maha Penyayang, Raja Diraja, Yang Maha Memiliki kebesaran dan kemuliaan, Yang Maha Adil, Yang Maha Mengumpulkan, Yang Maha Kaya, Yang Maha Memberi Kekayaan, Yang Maha Mencegah, Yang Maha Memberi kemudaratan, Yang Maha Memberi kemanfaatan, Yang Maha Memiliki cahaya, Yang Maha Memberi petunjuk, Yang Maha Menciptakan keindahan, Yang Maha Kekal, Yang Maha Mewarisi, Yang Maha Membimbing, Yang Maha Penyabar.

Demikianlah menurut hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmizi. Selanjutnya Allah swt. berfirman: (Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu) dengan mengeraskan bacaanmu dalam salatmu, maka orang-orang musyrik akan mendengar bacaanmu itu jika kamu mengerasi suaramu karena itu mereka akan mencacimu dan mencaci Al-Qur’an serta mencaci pula Allah yang telah menurunkannya (dan janganlah pula merendahkan) melirihkan (bacaannya) supaya para sahabatmu dapat mengambil manfaat darinya (dan carilah) bersengajalah (di antara kedua itu) yakni di antara suara keras dan suara pelan (jalan tengah) yaitu cara yang pertengahan.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Swt. berfirman kepada Nabi-Nya, “Hai Muhammad, katakanlah kepada orang-orang musyrik yang mengingkari sifat rahmat Allah,” yaitu mereka yang tidak mau menyebut Allah dengan sebutan Ar-Rahman:

Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai asma-ul husna (nama-nama yang terbaik). (Al-Isra: 110)

Yakni tidak ada bedanya bila kalian menyeru-Nya dengan sebutan Allah atau sebutan Ar-Rahman, karena sesungguhnya Dia mempunyai nama-nama yang terbaik. Di dalam ayat lain disebutkan melalui firman-Nya:

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ

Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (Al-Hasyr: 22)

sampai dengan firman-Nya:

لَهُ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Yang mempunyai nama-nama yang terbaik. Bertasbihlah kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. (Al-Hasyr: 24), hingga akhir ayat.

Makhul pernah meriwayatkan bahwa ada seorang lelaki dari kalangan kaum musyrik mendengar Nabi ﷺ mengatakan dalam sujudnya:

يَا رَحْمَنُ يَا رَحِيمُ

Wahai Tuhan Yang Maha Pemurah, wahai Tuhan Yang Maha Pengasih.

Lalu lelaki musyrik itu berkata bahwa sesungguhnya dia menduga dirinya menyeru Tuhan yang satu, padahal dia menyeru dua Tuhan. Maka Allah Swt. menurunkan ayat ini.

Hal yang sama telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas. Kedua riwayat tersebut diketengahkan oleh Ibnu Jarir.

Firman Allah Swt.:

Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu. (Al Isra: 110), hingga akhir ayat.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasyim, telah menceritakan kepada kami Abu Bisyr, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang telah mengatakan bahwa ayat berikut ini diturunkan saat Rasulullah ﷺ sedang bersembunyi di Mekah, yaitu firman-Nya: dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu dan jangan pula merendahkannya. (Al-Isra: 110) Bahwa apabila Nabi ﷺ salat dengan sahabat-sahabatnya, maka beliau mengeraskan bacaan Al-Qur’annya; dan manakala kaum musyrik mendengar bacaannya itu, mereka mencaci Al-Qur’an dan mencaci Tuhan yang menurunkannya serta malaikat yang menyampaikannya. Maka Allah Swt. berfirman kepada Nabi-Nya: dan janganlah kamu mengeraskan suaramu. (Al-Isra: 110) Maksudnya, janganlah kamu mengeraskan bacaan Al-Qur’anmu, nanti orang-orang musyrik akan mendengarnya dan mereka akan mencaci Al-Qur’an karenanya. dan janganlah pula kamu merendahkannya. (Al-Isra: 110) Yakni memelankan bacaanmu dari sahabat-sahabatmu, sehingga mereka tidak dapat mendengarkan bacaan Al-Qur’anmu, padahal mereka menerimanya dari bacaanmu. dan carilah jalan tengah di antara kedua itu. (Al-Isra: 110)

Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkannya melalui hadis Abu Bisyr Ja’far ibnu Iyas dengan sanad yang sama.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ad-Dahhak, dari Ibnu Abbas, yang di dalam riwayatnya disebutkan tambahan, yaitu bahwa setelah Nabi ﷺ hijrah ke Madinah, maka gugurlah perintah tersebut. Dengan kata lain, Nabi ﷺ boleh melakukannya bila menghendaki.

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Daud ibnul Husain, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa pada mulanya Rasulullah ﷺ selalu membaca Al-Qur’an dalam salatnya dengan bacaan yang keras, dan orang-orang meninggalkannya serta tidak mau mendengarkan bacaannya. Dan bilamana seseorang hendak mendengarkan bacaan Rasulullah ﷺ dalam salatnya, maka ia terpaksa harus mencuri-curi dengar karena takut kepada orang-orang musyrik. Apabila orang-orang musyrik mengetahui bahwa dia mendengar bacaan Rasul ﷺ, maka dia pergi karena takut disakiti oleh mereka dan tidak mau mendengarkannya lagi. Dan apabila Rasulullah ﷺ merendahkan bacaannya, maka orang-orang yang mendengarkan bacaannya tidak dapat mengambil suatu manfaat pun dari bacaannya. Maka Allah menurunkan firman-Nya: dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu. (Al-Isra: 110), yang menyebabkan orang-orang kafir yang simpati kepadamu bubar meninggalkanmu. dan janganlah pula merendahkannya. (Al-Isra: 110) sehingga orang-orang yang mencuri dengar dari bacaanmu dari kalangan mereka tidak dapat mendengarnya, karena barangkali sebagian dari mereka memperhatikan sebagian dari apa yang didengarnya darimu dan beroleh manfaat darinya. dan carilah jalan tengah di antara kedua itu. (Al-Isra: 110)

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ikrimah, Al-Hasan Al-Basri, dan Qatadah, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan masalah bacaan dalam salat.

Syu’bah telah meriwayatkan dari Asy’as ibnu Salim, dari Al-Aswad ibnu Hilal, dari Ibnu Mas’ud sehubungan dengan makna firman-Nya: dan janganlah pula merendahkannya. (Al-Isra: 110) terhadap orang yang membuka telinganya lebar-lebar untuk mendengarkannya.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ya’qub, telah menceritakan kepada kami Ibnu Ulayyah, dari Salamah ibnu Alqamah, dari Muhammad ibnu Sirin yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar berita bahwa sahabat Abu Bakar apabila salat merendahkan bacaan Al-Qur’annya, sedangkan sahabat Umar mengeraskan bacaan Al-Qur’annya. Maka dikatakan kepada Abu Bakar, “Mengapa engkau lakukan hal itu?” Abu Bakar menjawab, “Saya sedang bermunajat kepada Tuhanku, dan Dia mengetahui keperluanku.” Lalu dikatakan kepadanya, “Engkau baik.” Dan dikatakan kepada Umar, “Mengapa engkau lakukan hal itu?” Umar menjawab, “Saya sedang mengusir setan dan melenyapkan rasa kantuk.” Maka dikatakan kepadanya, “Engkau baik.” Dan ketika firman Allah Swt. diturunkan, yaitu: dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu, dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu. (Al-Isra: 110) maka dikatakan kepada Abu Bakar, “Angkatlah sedikit suara bacaanmu.” Dan dikatakan kepada Umar, “Rendahkanlah sedikit suara bacaanmu.”

Asy’as ibnu Siwar telah meriwayatkan dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan berdoa.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh As-Sauri dan Malik, dari Hisyam ibnu Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah r.a. bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan doa. Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, Sa’id ibnu Jubair, Abu Iyad, Makhul, dan Urwah ibnuz Zubair.

As-Sauri telah meriwayatkan dari Ibnu Ayyasy Al-Amiri, dari Abdullah ibnu Syaddad yang menceritakan bahwa pernah ada seorang Badui dari kalangan Bani Tamim apabila mengucapkan salam kepada Nabi ﷺ lalu ia mengiringinya dengan doa, “Ya Allah, berilah saya rezeki berupa ternak unta dan anak.” Maka turunlah ayat ini: dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu dan janganlah pula merendahkannya. (Al-Isra: 110)

Pendapat lain. Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abus Sa-ib, telah menceritakan kepada kami Hafs ibnu Gayyas, dari Hisyam ibnu Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah r.a. yang mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan bacaan tasyahhud, yaitu firman-Nya: dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu dan janganlah pula merendahkannya. (Al-Isra: 110)

Hal yang sama telah dikatakan oleh Hafs, dari Asy’as ibnu Siwar, dari Muhammad ibnu Sirin dengan teks yang semisal.

Pendapat lain. Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu dan janganlah pula merendahkannya. (Al-Isra: 110) Maksudnya, janganlah kamu salat karena ingin dilihat oleh orang-orang, janganlah pula kamu meninggalkannya karena takut terhadap orang-orang kafir.

As-Sauri telah meriwayatkan dari Mansur, dari Al-Hasan Al-Basri sehubungan dengan firman-Nya: dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu dan janganlah pula kamu merendahkannya. (Al-Isra: 110) Bahwa janganlah kamu melakukannya dengan baik secara terang-terangan, lalu melakukannya dengan buruk di kala sendirian.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Abdur Razzaq, dari Ma’mar, dari Al-Hasan dengan sanad yang sama. Hisyam telah meriwayatkannya dari Auf, dari Al-Hasan dengan sanad yang sama; dan Sa’id meriwayatkannya dari Qatadah, dari Al-Hasan dengan sanad’yang sama pula.

Pendapat lain. Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan carilah jalan tengah di antara kedua itu. (Al-Isra: 110) Bahwa orang-orang Ahli Kitab itu selalu merendahkan bacaan kitab mereka bilamana ada seseorang dari mereka mengeraskan bacaan suatu kalimat dari kitabnya dengan suara yang keras, maka orang-orang yang mengikutinya membacanya dengan keras pula di belakangnya. Maka Allah Swt. melarang Nabi ﷺ mengeraskan suara dalam bacaannya seperti yang dilakukan orang-orang ahli kitab, dan melarang pula merendahkannya seperti yang dilakukan mereka. Kemudian Allah Swt. memberinya jalan pertengahan di antara keduanya, yang hal ini dicontohkan kepada Nabi ﷺ oleh Malaikat Jibril a.s. dalam salatnya.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

«««« juz 14 «««««« juz 15 «««««« juz 16 ««««