Seandainya Lautan Menjadi Tinta

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Kahf ayat 109

0
33

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Kahf ayat 109. Ilmu Allah tidak terbatas, dan seandainya lautan menjadi tinta untuk menulis kalimat-kalimat Tuhanku, maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai penulisan kalimat-kalimat Tuhanku. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

قُل لَّوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَاداً لِّكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَداً -١٠٩

Katakanlah (Muhammad), “Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai (penulisan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (Q.S. Al-Kahf : 109)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Qul (katakanlah), hai Muhammad kepada orang-orang Yahudi!

Lau kānal bahru midādal li kalimāti rabbī (“Andaikata lautan menjadi tinta untuk [menuliskan] Kalimah-kalimah Rabb-ku), yakni untuk (menuliskan) Ilmu Rabb-ku.

La nafidal bahru qabla aη taηfada kalimātu rabbī (niscaya benar-benar habislah lautan itu sebelum habis [dituliskan] Kalimah-kalimah Rabb-ku). Menurut satu pendapat, sebelum habis ketentuan Rabb-ku.

Wa lau ji’nā bi mitslihī madadā (walaupun Kami mendatangkan bantuan sebanyak itu pula), yakni Kami tambahkan (sebanyak air laut yang ada).

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Katakanlah (Muhammad)[18], “Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai (penulisan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)[19].”

[18] Kepada mereka tentang keagungan Allah, keluasan sifat-Nya dan bahwa manusia tidak mampu mencapainya.

[19] Dalam ayat lain disebutkan, “Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) setelah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Terj. Luqman: 27) ayat di atas termasuk pendekatakan makna agar lebih mudah dicerna, karena semua yang disebutkan itu makhluk, sedangkan makhluk ada habisnya, adapun firman Allah, maka termasuk sifat-Nya, sedangkan sifat-Nya bukan makhluk dan tidak ada batasnya. Keluasan dan kebesaran apa saja yang dibayangkan hati, maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala lebih dari itu, demikian pula semua sifat Allah Ta’ala, seperti ilmu-Nya, hikmah-Nya, qudrat(kekuasaan)-Nya dan rahmat-Nya. Oleh karena itu, jika pengetahuan makhluk terdahulu maupun yang datang kemudian dikumpulkan, baik yang terdiri dari penghuni langit maupun penghuni bumi, tentu jika dihubungkan kepada ilmu Allah, maka lebih kecil daripada air yang diteguk oleh seekor burung dengan paruhnya ke tengah-tengah lautan. Yang demikian adalah karena Allah Subhaanahu wa Ta’aala memiliki sifat-sifat yang agung lagi luas, dan bahwa kepada-Nya kembali semua kesudahan.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Katakanlah, “Kalau sekiranya lautan) airnya (menjadi tinta) yaitu sarana untuk menulis (untuk menulis kalimat-kalimat Rabbku) yang menunjukkan kepada kebijaksanaan-kebijaksanaan dan keajaiban-keajaiban ciptaan-Nya, seumpamanya hal itu ditulis (sungguh habislah lautan itu) untuk menulisnya (sebelum habis) dapat dibaca Tanfadza atau Yanfadza, yakni sebelum habis ditulis (kalimat-kalimat Rabbku, meskipun Kami datangkan sebanyak itu) lautan yang sama (sebagai tambahan tintanya.”) niscaya tambahan ini pun akan habis pula, sedangkan kalimat-kalimat Rabbku masih belum habis ditulis. Lafal Madadan dinashabkan karena menjadi Tamyiz.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Swt. memberitahukan kepada Nabi-Nya, hendaknyalah dia mengatakan kepada manusia bahwa seandainya laut dijadikan sebagai tinta bagi pena yang mencatat dengan semua kalimat Allah, hikmah-hikmah-Nya serta ayat-ayat (tanda-tanda) yang menunjukkan akan kekuasaan-Nya, tentulah laut itu akan habis sebelum penulisannya selesai.

Meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula). (Al-Kahfi: 109)

Yakni tinta yang sebanyak lautan itu, kemudian ditambahkan lagi hal yang semisal; dan seterusnya demikian, lautan tinta demi lautan tinta, tentulah kalimat-kalimat Allah tidak ada kunjung habisnya. Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan di dalam ayat lain melalui firman-Nya:

وَلَوْ أَنَّمَا فِي الأرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ أَقْلامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِنْ بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)wya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Luqman: 27)

Ar-Rabi’ ibnu Anas mengatakan, sesungguhnya perumpamaan ilmu para hamba semuanya di dalam ilmu Allah, sama dengan setetes air bila dibandingkan dengan semua lautan. Allah Swt. telah menurunkan firman-Nya sehubungan dengan hal ini, yaitu: Katakanlah, “Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku.”(Al-Kahfi: 109) Bahwa seandainya semua lautan yang ada menjadi tintanya untuk menulis kalimat-kalimat Allah, dan semua pepohonan yang ada menjadi penanya, tentulah semua pena patah dan lautan itu menjadi kering; sedangkan kalimat-kalimat Allah masih tetap utuh, tiada yang dapat menghabiskannya. Karena sesungguhnya seseorang tidaklah mampu memberikan penghormatan kepada-Nya dengan penghormatan yang semestinya, dan tiada seorang pun yang dapat memuji-Nya dengan pujian Allah terhadap diri-Nya sendiri. Sesungguhnya Tuhan kita adalah seperti apa yang dikatakan-Nya, tetapi di atas segala sesuatu yang kita katakan. Sesungguhnya perumpamaan kenikmatan dunia dari awal hingga akhir di dalam nikmat ukhrawi sama dengan perumpamaan sebiji sawi di dalam besarnya dunia ini secara keseluruhan.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

«««« juz 15 ««««      «««« juz 16 ««««      «««« juz 17 ««««