Kisah Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam dengan Bapaknya

Tafsir Al-Qur’an: Surah Maryam ayat 41-45

0
50

Tafsir Al-Qur’an: Surah Maryam ayat 41-45. Kisah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dengan bapaknya, penjelasan bahwa setan adalah musuh manusia dan pentingnya berpaling dari orang-orang yang bodoh. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَبِيًّا (٤١) إِذْ قَالَ لأبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لا يَسْمَعُ وَلا يُبْصِرُ وَلا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا (٤٢) يَا أَبَتِ إِنِّي قَدْ جَاءَنِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا (٤٣)

Ceritakanlah (Muhammad) kisah Ibrahim di dalam kitab (Al-Qur’an) ini. Sesungguhnya dia seorang yang sangat membenarkan, dan seorang nabi. (Ingatlah) ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku! Mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikit pun? Wahai ayahku! Sungguh, telah sampai kepadaku sebagian ilmu yang tidak diberikan kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. (Q.S. Maryam : 41-45)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wadz kur fil kitābi ibrāhīm (dan tuturkanlah olehmu di dalam al-Kitab tentang Ibrahim), yakni kisah tentang Ibrahim a.s.

Innahū kāna shiddīqan (sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat membenarkan) berkat keimanannya, (apa saja yang datang dari Allah Ta‘ala).

Nabiyyā (lagi seorang nabi) yang diutus, dan meyampaikan kabar dari Allah Ta‘ala.

Idz qāla li abīhi (ingatlah ketika dia berkata kepada bapaknya), Azar.

Yā abati limā ta‘budu (“Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah) selain Allah Ta‘ala.

Mā lā yasma‘u (sesuatu yang tidak mendengar), jika kamu menyerunya.

Wa lā yubshiru (dan tidak melihat), jika kamu menyembahnya.

Wa lā yughnī ‘angka syai-ā (dan tidak dapat menolongmu sedikit pun) dari azab Allah.

Yā abati innī qad jā-anī (wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku) dari Allah Ta‘ala.

Minal ‘ilmi (sebagian ilmu), yakni penjelasan.

Mā lam ya’tika (yang tidak datang kepadamu), yakni yang tidak datang kepadamu, bawasanya siapa pun yang beribadah kepada selain Allah, niscaya Dia akan mengazabnya dengan neraka.

Fattabi‘nī (karena itu ikutilah aku) dalam Agama Allah.

Ahdika shirāthaη sawiyyā (niscaya aku akan menunjukkan kamu ke jalan yang lurus), yakni niscaya aku akan menunjukkanmu ke jalan yang lurus yang diridai-Nya, yaitu Islam.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. [1]Ceritakanlah (Muhammad) kisah Ibrahim[2] di dalam kitab (Al-Qur’an) ini. Sesungguhnya dia seorang yang sangat membenarkan[3], dan seorang nabi.

[1] Kitab yang paling agung, paling utama dan paling tinggi adalah Al-Qur’an. Jika disebutkan berita di sana, maka beritanya adalah berita yang paling benar, jika disebutkan perintah dan larangan di sana, maka perintah dan larangan itu adalah yang paling adil. Jika disebutkan balasan, janji dan ancaman, maka janji dan ancaman tersebut adalah yang paling benar, dan menunjukkan kebijaksanaan, keadilan dan karunia-Nya. Jika disebutkan nama dan kisah para nabi dan rasul, maka nabi dan rasul yang disebutkan adalah nabi yang lebih utama daripada yang lain, oleh karena itu sering diulang-ulang kisah para nabi dan rasul yang di sana Allah melebihkan mereka daripada yang lain, meninggikan derajat dan perkara mereka, karena tugas yang mereka jalankan, berupa ibadah kepada Allah, mencintai-Nya, kembali kepada-Nya, memenuhi hak-hak-Nya dan hak hamba-hamba-Nya serta mengajak manusia kepada Allah serta bersabar di atasnya. Di surah ini, Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan secara garis besar kisah para nabi, di mana Allah Subhaanahu wa Ta’aala memerintahkan Rasul-Nya untuk mengingat kisah mereka, karena dengan mengingat kisah tesebut dapat memperjelas pujian untuk Allah dan untuk mereka, menerangkan ihsan dan karunia-Nya kepada mereka, dan di sana pun terdapat dorongan untuk beriman dan mencintai mereka serta menjadikan mereka sebagai teladan.

[2] Ibrahim ‘alaihis salam adalah nabi yang paling utama setelah Nabi Muhammad ﷺ, dialah orang yang Allah berikan kenabian dan kitab pada keturunannya, dialah orang yang mengajak manusia kepada Allah, bersabar terhadap gangguan dan siksaan dari orang lain dalam berdakwah, Beliau berdakwah kepada orang yang terdekat maupun yang jauh, dan berusaha semampunya mendakwahkan bapaknya. Di ayat tersebut dan setelahnya, Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan dialog yang sopan dan bertahap dari Ibrahim kepada bapaknya.

[3] Maksudnya, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam adalah seorang Nabi yang sangat cepat membenarkan semua hal yang ghaib yang datang dari Allah. Shiddiq juga berarti sangat banyak kejujurannya, di mana Beliau jujur dalam ucapannya, dalam perbuatannya, dan dalam keadaannya serta membenarkan semua yang diteperintahkan untuk dibenarkan, dan hal itu menunjukkan ilmu yang dalam yang sampai ke hati dan membekas di dalamnya sehingga membuahkan keyakinan serta amal saleh yang sempurna.

  1. (Ingatlah) ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya[4], “Wahai ayahku! Mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikit pun[5]?

[4] Yaitu Azar, di mana ia seorang penyembah patung.

[5] Hal ini menunjukkan kekurangan pada zatnya (diri patung itu) dan perbuatannya, karena tidak mampu mendengar, melihat dan menolong. Demikian juga menunjukkan bahwa menyembah sesuatu yang memiliki kekurangan baik pada zat maupun perbuatannya adalah perbuatan yang diangggap buruk oleh akal dan syara’. Di dalamnya juga terdapat isyarat, bahwa yang wajib dan pantas disembah adalah Tuhan yang memiliki kesempurnaan, di mana semua nikmat yang diperoleh hamba berasal dari-Nya, dan tidak ada yang dapat menghindarkan bahaya selain Dia.

  1. Wahai ayahku! Sungguh, telah sampai kepadaku sebagian ilmu yang tidak diberikan kepadamu[6], maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus[7].

[6] Kata-kata Nabi Ibrahim ‘alaihis salam sangat lembut, Beliau tidak mengatakan, “Wahai ayahku! Aku mengetahui sedangkan engkau tidak mengetahui”, bahkan mengatakan, “Sungguh, telah sampai kepadaku sebagian ilmu yang tidak diberikan kepadamu.”

[7] Yaitu beribadah kepada Allah saja dan menaati-Nya dalam semua keadaan.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan ceritakanlah) kepada mereka (tentang Ibrahim di dalam Al-Kitab ini) Al-Qur’an, yaitu tentang kisahnya. (Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan) seorang yang sangat jujur dalam keimanannya (lagi seorang nabi) hal ini dijelaskan dalam ayat selanjutnya.
  2. (Yaitu ketika ia berkata kepada bapaknya) yang bernama Azar, (“Wahai bapakku!) huruf Ta pada lafal Abati ganti dari Ya Idhafah, karena keduanya tidak dapat dikumpulkan menjadi satu. Azar adalah penyembah berhala (Mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu) tidak dapat mencukupimu (sedikit pun?) baik berupa manfaat maupun bahaya.
  3. (Wahai bapakku! Sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan) penuntun (yang lurus) tidak menyimpang dari kebenaran.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Swt. berfirman kepada Nabi Muhammad ﷺ bahwa ceritakanlah kisah Ibrahim di dalam Al-Kitab dan bacakanlah kisah ini kepada kaummu yang menyembah berhala. Dan ceritakanlah kepada mereka sebagian dari kisah Ibrahim, kekasih Tuhan Yang Maha Pemurah, yang merupakan bapak moyang bangsa Arab, dan mereka menduga bahwa diri mereka berada dalam agamanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang nabi, ia hidup bersama ayahnya dan melarang ayahnya menyembah berhala. Untuk itu Ibrahim mengatakan, seperti yang disitir oleh firman-Nya:

Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolong kamu sedikit pun? (Maryam: 42)

Yakni sesuatu yang tidak dapat memberikan manfaat kepadamu, tidak pula dapat menolak suatu mudarat pun darimu.

Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu. (Maryam: 43)

Dengan kata lain, dapat disebutkan bahwa jika aku berasal dari sulbimu (keturunanmu) dan kamu pandang diriku lebih kecil daripadamu karena aku adalah anakmu, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya aku telah dianugerahi ilmu dari sisi Allah yang tidak diketahui olehmu dan kamu tidak memilikinya sama sekali.

maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. (Maryam: 43)

Yaitu jalan yang lurus yang dapat mengantarkan seseorang untuk meraih cita-cita yang didambakan dan menyelamatkannya dari hal yang menakutkan.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

«««« juz 15 ««««      «««« juz 16 ««««      «««« juz 17 ««««