Setan Adalah Musuh Manusia

Tafsir Al-Qur’an: Surah Maryam ayat 44-46

0
45

Tafsir Al-Qur’an: Surah Maryam ayat 44-46. Kisah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dengan bapaknya, penjelasan bahwa setan adalah musuh manusia, sungguh, setan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pengasih. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

يَا أَبَتِ لا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَنِ عَصِيًّا (٤٤) يَا أَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِنَ الرَّحْمَنِ فَتَكُونَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيًّا (٤٥) قَالَ أَرَاغِبٌ أَنْتَ عَنْ آلِهَتِي يَا إِبْرَاهِيمُ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ لأرْجُمَنَّكَ وَاهْجُرْنِي مَلِيًّا (٤٦)

Wahai ayahku! Janganlah engkau menyembah setan. Sungguh, setan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pengasih. Wahai ayahku! Aku sungguh khawatir engkau akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pengasih, sehingga engkau menjadi teman bagi setan.” Dia (ayahnya) berkata, “Bencikah engkau kepada tuhan-tuhanku, wahai Ibrahim? Jika engkau tidak berhenti, pasti engkau akan kurajam, maka tinggalkanlah aku untuk waktu yang lama.” (Q.S. Maryam : 44-46)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Yā abati lā ta‘budisy syaithān (wahai bapakku, janganlah kamu menyembah setan), yakni janganlah kamu menaati setan dengan cara menyembah berhala.

Innasy syaithāna kāna lir rahmāni ‘ashiyyā (sesungguhnya setan itu durhaka kepada Yang Maha Pengasih), yakni kafir kepada Yang Maha Pengasih.

Yā abati innī akhāfu (wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir), yakni sesungguhnya aku tahu.

Ay yamassaka (bahwa kamu akan ditimpa), yakni kamu akan didera.

‘Adzābum minar rahmāni (azab dari Yang Maha Pengasih), jika kamu tidak beriman kepada-Nya.

Fa takūna lisy syaithāni waliyyā (lalu kamu akan menjadi teman bagi setan”), yakni teman di dalam neraka.

Qāla (dia berkata), yakni Azar.

A rāghibun aηta ‘an ālihatī (“Apakah kamu tidak senang kepada tuhan-tuhanku), yakni kepada penyembahan tuhan-tuhanku.

Yā ibrāhīmu la il lam taηtahi (hai Ibrahim? Sungguh jika kamu tidak berhenti) dari ocehanmu.

La arjumannaka (niscaya aku benar-benar akan mengutukmu), yakni niscaya aku akan mencaci kamu. Ada pula yang berpendapat, niscaya aku akan membunuhmu.

Wahjurnī maliyyā (dan tinggalkanlah aku untuk masa yang lama”), yakni menjauhlah dariku selama aku masih hidup. Menurut satu pendapat, tinggalkanlah aku dan janganlah mengajakku bicara. Menurut yang lain, (tinggalkanlah aku) selama-lamanya.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Wahai ayahku! Janganlah engkau menyembah setan[8]. Sungguh, setan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pengasih[9].

[8] Yaitu dengan menaatinya untuk menyembah patung. Menurut Syaikh As Sa’diy, dikatakan menyembah setan adalah karena orang yang menyembah selain Allah sama saja menyembah setan.

[9] Barang siapa yang mengikuti jejak langkahnya, maka sama saja telah menjadikan kawannya, dan ia akan bermaksiat kepada Allah seperti halnya setan.

  1. Wahai ayahku! Aku sungguh khawatir engkau akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pengasih[10], sehingga engkau menjadi teman bagi setan[11].”

[10] Jika engkau tidak bertobat. Yang demikian disebabkan tetap terusnya ayahnya di atas kekafiran serta sikap melampaui batas.

[11] Di neraka.

  1. Dia (ayahnya) berkata, “Bencikah engkau kepada tuhan-tuhanku, wahai Ibrahim?[12] Jika engkau tidak berhenti[13], pasti engkau akan kurajam[14], maka tinggalkanlah aku untuk waktu yang lama.”

[12] Sehingga engkau mencelanya.

[13] Yakni dari mencela sesembahan-sesembahanku dan dari mengajakku beribadah kepada Allah.

[14] Yakni kulempari dengan batu atau aku caci-maki dengan kata-kata yang jelek.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Wahai bapakku! Janganlah kamu menyembah setan) dengan ketaatanmu kepadanya, yaitu menyembah berhala. (Sesungguhnya setan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah) yang banyak durhakanya.
  2. (Wahai bapakku! Sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah) jika kamu tidak bertobat (maka kamu menjadi kawan bagi setan)” yaitu menjadi penolong dan temannya di neraka.
  3. (Bapaknya berkata, “Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim?) maka sebab itu kamu mencelanya. (Jika kamu tidak berhenti) mencaci makinya (maka niscaya kamu akan kurajam) dengan batu, atau dengan perkataan yang jelek, maka hati-hatilah kamu terhadapku (dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama)” yakni dalam masa yang lama.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Swt. berfirman:

Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah setan. (Maryam: 44)

Maksudnya, janganlah kamu menaatinya dengan menyembah berhala-berhala ini, karena sesungguhnya setanlah yang mendorongmu untuk menyembahnya dan setan suka dengan perbuatanmu. Hal ini semakna dengan apa yang disebutkan di dalam ayat lain melalui firman-Nya:

أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَنْ لَا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ

Bukankah Aku telah memerintahkan kepada kalian, hai Bani Adam, supaya kalian tidak menyembah setan? Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian. (Yasin: 60)

إِنْ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ إِلا إِنَاثًا وَإِنْ يَدْعُونَ إِلا شَيْطَانًا مَرِيدًا

Yang mereka sembah selain dari Allah itu tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain menyembah setan yang durhaka. (An-Nisa: 117)

Adapun firman Allah Swt.:

Sesungguhnya setan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. (Maryam: 44)

Yakni penentang lagi sombong, tidak mau taat kepada Tuhannya; maka Tuhan mengusir dan menjauhkannya. Karena itu, janganlah kamu mengikuti setan, sebab akibatnya kamu menjadi seperti dia.

Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah. (Maryam: 45)

Karena kemusyrikan dan kedurhakaanmu terhadap apa yang diperintahkan kepadamu (yaitu menyembah Allah Swt. semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun)

maka kamu menjadi kawan bagi setan. (Maryam: 45)

Yaitu maka kamu tidak mempunyai pelindung dan tidak pula penolong, serta tidak penjamin selain iblis. Padahal iblis tidak dapat melakukannya, juga yang lainnya; bahkan ketaatanmu terhadapnyalah yang mengakibatkan kamu tertimpa azab. Seperti yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam ayat yang lain melalui firman-Nya:

تَاللَّهِ لَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى أُمَمٍ مِنْ قَبْلِكَ فَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَهُوَ وَلِيُّهُمُ الْيَوْمَ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami kepada umat-umat sebelum kamu, tetapi setan menjadikan umat-umat itu memandang baik perbuatan mereka (yang buruk), maka setan menjadi pemimpin mereka di hari itu dan bagi mereka azab yang sangat pedih. (An-Nahl: 63)

Allah Swt. berfirman, menceritakan tentang jawaban ayah Nabi Ibrahim saat Nabi Ibrahim menyerunya untuk menyembah Allah. Disebutkan bahwa ayah Nabi Ibrahim mengatakan, seperti yang disitir oleh firman-Nya:

“Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim?” (Maryam: 46)

Maksudnya, jika kamu tidak ingin menyembahnya dan tidak pula menyukainya, maka hentikanlah cacianmu dan penghinaan serta serapahmu terhadapnya. Jika kamu tidak mau menghentikan itu semua, niscaya aku akan menghukummu dan berbalik akan mencaci dan menghinamu. Yang demikian itu adalah yang dimaksudkan oleh apa yang disebutkan firman-Nya:

niscaya kamu akan kurajam. (Maryam: 46)

Demikianlah menurut penafsiran Ibnu Abbas, As-Saddi, Ibnu Juraij, Ad-Dahhak, dan lain-lainnya.

Firman Allah Swt.:

dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama.” (Maryam: 46)

Menurut Mujahid, Ikrimah, Sa”id ibnu Jubair, dan Muhammad ibnu Ishaq, yang dimaksud dengan maliyyan ialah dahran, artinya satu tahun. Menurut Al-Hasan Al-Basri, artinya masa yang lama.

As-Saddi telah mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama. (Maryam: 46) Bahwa artinya selama-lamanya.

Ali ibnu Abu Talhah dan Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama. (Maryam: 46) Bahwa yang dimaksud dengan maliyyan ialah sawiyyan, yakni dalam keadaan utuh dan selamat sebelum kamu tertimpa siksaan dariku.

Hal yang sama telafudikatakan oleh Ad-Dahhak, Qatadah, Atiyyah Al-Jadali, dan Abu Malik serta lain-lainnya. Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

«««« juz 15 ««««      «««« juz 16 ««««      «««« juz 17 ««««