Allah Jadikan Mereka Buah Tutur yang Baik dan Mulia

Tafsir Al-Qur’an: Surah Maryam ayat 48-50

0
111

Tafsir Al-Qur’an: Surah Maryam ayat 48-50. Kisah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, Allah anugerahkan kepadanya Ishak dan Ya’qub. Dan Allah jadikan mereka buah tutur yang baik dan mulia. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَأَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَأَدْعُو رَبِّي عَسَى أَلا أَكُونَ بِدُعَاءِ رَبِّي شَقِيًّا (٤٨) فَلَمَّا اعْتَزَلَهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَكُلا جَعَلْنَا نَبِيًّا (٤٩) وَوَهَبْنَا لَهُمْ مِنْ رَحْمَتِنَا وَجَعَلْنَا لَهُمْ لِسَانَ صِدْقٍ عَلِيًّا (٥٠)

Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang engkau sembah selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku.” Maka ketika dia (Ibrahim) sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya Ishak dan Ya’qub. Dan masing-masing Kami angkat menjadi nabi. Dan Kami anugerahkan kepada mereka sebagian dari rahmat Kami dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik dan mulia. (Q.S. Maryam : 48-50)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa a‘tazilukum (dan aku akan menjauhkan diri dari kalian), yakni aku akan meninggalkan kalian.

Wa mā tad‘ūna (dan apa yang kalian seru), yakni dan apa yang kalian sembah.

Miη dūnillāhi (selain Allah), yaitu berhala-berhala.

Wa ad‘ū rabbī (dan aku akan berdoa kepada Rabb-ku), yakni aku akan beribadah kepada Rabb-ku.

‘Asā (mudah-mudahan). Lafazh ‘Asā yang diungkapkan Allah Ta‘ala berarti keniscayaan.

Allā akūna bi du‘ā-i rabbī syaqiyyā (aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Rabb-ku), yakni tidak akan rugi dengan beribadah kepada Rabb-ku.

Fa lamma‘tazalahum (maka setelah Ibrahim menjauhkan diri dari mereka), yakni meninggalkan mereka.

Wa mā ya‘budūna miη dūnillāhi (dan apa yang mereka sembah selain Allah), yaitu berhala-berhala.

Wahabnā lahū is-hāqa (Kami karuniakan kepadanya Ishaq) yang suka tersenyum.

Wa ya‘qūb (dan Ya‘qub) sebagai cucu.

Wa kullan (dan masing-masing), yaitu Ibrahim a.s., Is-haq a.s., dan Ya‘qub a.s.

Ja‘alnā nabiyyā (Kami Jadikan sebagai nabi), yakni Kami Muliakan dengan kenabian dan Islam.

Wa wahabnā lahum mir rahmatinā (dan Kami karuniakan kepada mereka sebagian dari rahmat Kami), yakni sebagian nikmat Kami berupa anak saleh dan kekayaan yang halal.

Wa ja‘alnā lahum lisāna shidqin ‘aliyyā (dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik lagi tinggi), yakni Kami muliakan mereka dengan sanjungan yang baik.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. [19]Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang engkau sembah selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku[20], mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku[21].”

[19] Ketika Nabi Ibrahim melihat bahwa kaumnya dan ayahnya tidak dapat lagi diharapkan keimanannya.

[20] Bisa juga diartikan, “dan aku hanya beribadah kepada Tuhanku (saja).”

[21] Sebagaimana kalian kecewa ketika berdoa kepada patung-patung.

Inilah tugas da’i yang melihat bahwa orang yang didakwahkannya tidak bisa diharapkan lagi, yaitu ketika mereka mengikuti hawa nafsunya, nasehat tidak lagi berguna, dan mereka terombang-ambing dalam kesesatan, hendaknya ia menyibukkan diri memperbaiki dirinya, mengharap kepada Tuhannya agar amalnya diterima, menjauhi keburukan dan orang-orangnya (‘uzlah), lihat pula surah Al Maa’idah: 105.

  1. [22]Maka ketika dia (Ibrahim) sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah[23], Kami anugerahkan kepadanya Ishak dan Ya’qub. Dan masing-masing Kami angkat menjadi nabi.

[22] Oleh karena meninggalkan kampung halaman, keluarga dan kaumnya adalah sesuatu yang paling berat bagi seseorang, dan Nabi Ibrahim meninggalkan semua itu karena Allah, maka Allah menggantinya dengan yang lebih baik darinya, Allah menganugerahkan kepadanya seorang anak, yaitu Ishak, dan daripadanya lahir Ya’kub.

[23] Dengan pergi menuju negeri yang disucikan (muqaddas).

  1. Dan Kami anugerahkan kepada mereka[24] sebagian dari rahmat Kami[25] dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik dan mulia[26].

[24] Yakni Ibrahim dan anak-anaknya.

[25] Yaitu ilmu yang bermanfaat, amal yang saleh, dan keturunan yang banyak, di mana banyak yang menjadi nabi dan wali, serta diberikan kecukupan rezeki.

[26] Di setiap umat. Mereka adalah para pemimpin orang-orang yang berbuat ihsan, Allah tebarkan pujian yang baik lagi tinggi di tengah-tengah manusia, nama mereka disebut-sebut, mereka pun dijadikan teladan, dan dicintai oleh manusia. Oleh karenanya, banyak manusia yang menamai anak-anak mereka dengan nama para nabi dan rasul.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan aku akan menjauhkan diri daripada kalian dan daripada apa yang kalian seru) yang kalian sembah (selain Allah, dan aku akan berdoa) yakni aku akan menyembah (kepada Rabbku, mudah-mudahan aku dengan berdoa kepada Rabbku) dengan beribadah kepada-Nya (tidak akan kecewa)” sebagaimana kalian kecewa karena menyembah berhala-berhala itu.
  2. (Ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah) dia pergi ke tanah suci (Kami anugerahkan kepadanya) dua orang putra yang menjadi penghibur hatinya (Ishak dan Yakub. Dan masing-masingnya) di antara keduanya (Kami angkat menjadi nabi).
  3. (Dan Kami anugerahkan kepada mereka) bertiga Nabi Ibrahim, Nabi Ishak, dan Nabi Yakub (sebagian dari rahmat Kami,) berupa harta benda dan anak-anak (dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik lagi tinggi) mereka selalu menjadi pujian dan sanjungan semua pemeluk agama.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Adapun firman Allah Swt.:

Dan aku akan menjauhkan diri dari kalian dan dari apa yang kalian seru selain dari Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku. (Maryam: 48)

Maksudnya, aku akan menjauhi kalian, berlepas diri dari kalian dan sembahan-sembahan yang kalian sembah selain dari Allah.

dan aku akan berdoa kepada Tuhanku. (Maryam: 48)

Yakni aku akan menyembah Tuhanku semata, tiada sekutu bagi-Nya.

Mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku. (Maryam: 48)

Maksudnya, mudah-mudahan doaku diperkenankan dengan pasti. Doa Nabi Ibrahim pasti diterima, karena sesungguhnya dia adalah penghulu para nabi sesudah Nabi Muhammad Saw.

Allah Swt. menceritakan bahwa setelah Nabi Ibrahim menjauh dari ayahnya dan kaumnya demi karena Allah, maka Allah menggantikan baginya orang-orang yang lebih baik daripada mereka dan Allah menganugerahkan kepadanya Ishaq dan Ya’qub, yakni seorang putra dan cucu. Seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

dan Ya’qub sebagai suatu anugerah (dari Kami). (Al-Anbiya: 72)

Dan firman Allah Swt. yang mengatakan:

dan sesudah Ishaq (lahir pula) Ya’qub. (Hud: 71)

Tidak diperselisihkan lagi bahwa Ishaq adalah orang tua Ya’qub, dan hal ini disebutkan secara jelas oleh nas Al-Qur’an di dalam surat Al-Baqarah, yaitu firman-Nya:

أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ

Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya, “Apakah yang kalian sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail, dan Ishaq.” (Al-Baqarah: 133)

Karena itulah disebutkan dalam ayat ini Ishaq dan Ya’qub. Dengan kata lain, Allah berfirman bahwa Kami jadikan bagi Ibrahim anak dan keturunannya yang kelak menjadi nabi-nabi. Hal ini dimaksudkan untuk menyenangkan hati Nabi Ibrahim semasa hidupnya, karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:

Dan masing-masingnya Kami angkat menjadi nabi. (Maryam: 49)

Seandainya Ya’qub tidak diberitakan menjadi nabi semasa Nabi Ibrahim masih hidup, tentulah dia tidak akan disebutkan, dan yang disebutkan tentulah cucunya (yaitu Yusuf) karena sesungguhnya dia pun adalah seorang nabi. Seperti yang disebutkan oleh Rasulullah Saw. dalam sebuah hadis yang telah disepakati kesahihannya, yaitu di saat beliau ditanya mengenai orang yang paling baik, maka Rasul ﷺ menjawab dengan nada yang penuh rendah diri (karena kenyataannya hanya beliaulah makhluk Allah yang paling baik secara mutlak, pent.):

يُوسُفُ نَبِيُّ اللَّهِ، ابْنُ يَعْقُوبَ نَبِيِّ اللَّهِ، ابْنِ إِسْحَاقَ نَبِيِّ اللَّهِ، ابْنِ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلِ اللَّهِ

Yusuf Nabi Allah putra Ya’qub nabi Allah putra Ishaq nabi Allah putra Ibrahim kekasih Allah.

Menurut lafaz yang lain disebutkan sebagai berikut:

إِنَّ الْكَرِيمَ ابْنَ الْكَرِيمِ ابْنِ الْكَرِيمِ ابْنِ الْكَرِيمِ: يوسفُ بْنُ يَعْقُوبَ بْنِ إِسْحَاقَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ

Sesungguhnya orang yang mulia, putra orang yang mulia putra orang yang mulia putra orang yang mulia ialah Yusuf ibnu Ya’qub ibnu Ishaq ibnu Ibrahim.

Firman Allah Swt.:

Dan Kami anugerahkan kepada mereka sebagian dari rahmat Kami dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik lagi tinggi. (Maryam: 50)

Ali ibnu AbuTalhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna ayat ini, bahwa makna yang dimaksud ialah buah tutur yang baik. Hal yang sama telah dikatakan oleh As-Saddi dan Malik ibnu Anas.

Ibnu Jarir mengatakan, sesungguhnya Allah Swt. menyebutkan ‘Aliyyan tiada lain karena semua agama dan millah menyebutkan Ibrahim dengan sebutan dan pujian yang baik.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

«««« juz 15 ««««      «««« juz 16 ««««      «««« juz 17 ««««