Nabi Musa ‘Alaihis Salam di Dalam Al-Qur’an

Tafsir Al-Qur’an: Surah Maryam ayat 51-52

0
37

Tafsir Al-Qur’an: Surah Maryam ayat 51-52. Nabi Musa ‘alaihis salam di dalam Al-Qur’an. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ مُوسَى إِنَّهُ كَانَ مُخْلَصًا وَكَانَ رَسُولا نَبِيًّا (٥١) وَنَادَيْنَاهُ مِنْ جَانِبِ الطُّورِ الأيْمَنِ وَقَرَّبْنَاهُ نَجِيًّا (٥٢)

Dan ceritakanlah (Muhammad), kisah Musa di dalam kitab (Al-Qur’an). Dia benar-benar orang yang terpilih, seorang rasul dan nabi. Dan Kami telah memanggilnya dari sebelah kanan gunung (Sinai) dan Kami dekatkan dia untuk bercakap-cakap. (Q.S. Maryam : 51-52)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wadz kur fil kitābi mūsā (dan tuturkanlah olehmu di dalam al-Kitab tentang Musa), yakni kisah tentang Musa a.s.

Innahū kāna mukhlashan (sesungguhnya dia adalah seorang yang dipilih), yakni seorang yang dipelihara dari kekafiran, kemusyrikan, dan perbuatan-perbuatan keji. Menurut pendapat yang lain, jika lafazh mukhlashan dibaca mukhlishan, maka artinya, seorang yang ikhlas dalam beribadah dan bertauhid.

Wa kāna rasūlan (serta seorang rasul) kepada Bani Israil.

Nabiyyā (dan nabi) yang menyampaikan kabar dari Allah Ta‘ala.

Wa nādaināhu miη jānibith thūril aimani (dan Kami telah memanggilnya dari sisi Gunung Thur sebelah kanan), dari arah sebelah kanan Musa a.s.

Wa qarrabnāhu najiyyā (dan Kami telah mendekatkannya kepada Kami saat sedang bermunajat), yakni Kami mendekatkan Musa a.s. hingga dia bisa mendengar suara

Qalam (pena). Ada pendapat, Kami berbicara dengannya dari dekat.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Dan ceritakanlah (Muhammad)[27], kisah Musa di dalam kitab (Al-Qur’an). Dia benar-benar orang yang terpilih[28], seorang rasul dan nabi[29].

[27] Dengan menunjukkan kemuliaannya, mengenalkan kedudukannya dan akhlaknya yang mulia.

[28] Mukhlas di ayat tersebut boleh dibaca mukhlis, yang artinya orang yang ikhlas dalam beribadah. Sedangkan mukhlas, berarti orang yang dipilih Allah di antara sekian makhluk-Nya.

[29] Untuk menambah pengetahuan, perlu kiranya kami terangkan perbedaan antara nabi dan rasul.

Rasul adalah seorang yang mendapatkan wahyu dan dikirim kepada orang-orang yang menyimpang atau orang-orang kafir, mengajak manusia kepada syari’at baru yang dibawanya, terkadang ia memiliki kitab dan terkadang tidak. Seorang rasul sudah tentu nabi, sedangkan seorang nabi belum tentu rasul.

Nabi adalah seorang yang mendapatkan wahyu dan dikirim kepada orang-orang yang sudah beriman, di mana ia mengajak kepada syari’at sebelumnya, menghidupkannya dan menggunakan hukum dengan syari’at sebelumnya. terkadang ia menerima kitab.

  1. Dan Kami telah memanggilnya dari sebelah kanan gunung (Sinai)[30] dan Kami dekatkan dia untuk bercakap-cakap.

[30] Ketika beliau sedang mengadakan perjalanan.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan ceritakanlah kisah Musa di dalam Al-Qur’an ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang mukhlis) dapat dibaca Mukhlishan dan Mukhlashan, artinya seorang yang ikhlas di dalam beribadah dan Allah membersihkan dirinya dari hal-hal yang kotor (di samping ia adalah seorang rasul dan nabi).
  2. (Dan Kami telah memanggilnya) melalui firman-Nya, “Hai Musa! Sesungguhnya Aku adalah Allah…” (Q.S. Al-Qashash : 30). (dari arah Thur) nama sebuah bukit (sebelah kanan) yakni dari sebelah kanan Nabi Musa ketika ia baru datang dari negeri Madyan (dan Kami telah mendekatkannya kepada Kami waktu dia munajat) bermunajat, yaitu Allah memperdengarkan Kalam-Nya kepadanya.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Setelah disebutkan kisah mengenai Ibrahim dan pujian kepadanya, lalu disebutkan pula mengiringinya kisah tentang orang yang telah diajak berbicara langsung oleh Allah Swt., yaitu Nabi Musa. Untuk itu Allah berfirman:

Dan ceritakanlah kisah Musa di dalam Al-Kitab (Al-Qur’an) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang dipilih. (Maryam: 5 l)

Sebagian ulama membacanya mukhlisan, berasal dari kata ikhlas, yakni ikhlas dalam beribadah kepada Allah.

As-Sauri telah meriwayatkan dari Abdul Aziz ibnu Rafi’, dari Abu Lubabah yang mengatakan bahwa kaum Hawariyyin pernah bertanya kepada Isa, “Wahai Ruhullah, ceritakanlah kepada kami siapakah orang yang ikhlas kepada Allah itu?” Nabi Isa menjawab,” Orang yang beramal karena Allah, tidak suka manusia memujinya.”

Sebagian ulama lain membacanya dengan mukhlasan yang artinya orang yang terpilih, sama pengertiannya dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

إِنِّي اصْطَفَيْتُكَ عَلَى النَّاسِ

Sesungguhnya Aku memilih kamu lebih dari manusia yang lain (di masamu). (Al-A’raf: 144)

Firman Allah Swt.:

Dan seorang rasul dan nabi. (Maryam: 51)

Allah Swt. menghimpunkan dua sifat bagi Musa a.s. Musa termasuk salah seorang rasul yang besar dan termasuk salah seorang dari ulul ‘azmi dari kalangan para rasul yang jumlahnya ada lima orang, yaitu Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad; semoga salawat dan salam Allah terlimpahkan kepada mereka semua, dan kepada semua nabi.

Firman Allah Swt.:

Dan Kami telah memanggilnya dari sebelah kanan Gunung Tur. (Maryam: 52)

Yakni yang ada di sebelah kanan Musa saat ia pergi mencari nyala api dari api yang dilihatnya itu. Ia melihat adanya nyala api, maka ia pergi mencarinya. Maka ia menjumpai nyala api itu berada di sebelah kanan Gunung Tur, yakni di sebelah baratnya, di tepi lembah. Lalu Allah mengajak bicara langsung dengannya dan menyerunya serta mendekatkannya, maka Musa bermunajat kepada-Nya.

Ibnu Jarir meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnul Qattan, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Ata ibnu Yasar, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: dan Kami telah mendekatkannya kepada Kami diwaktu dia bermunajat (kepada Kami). (Maryam: 52) Bahwa Nabi Musa didekatkan kepada-Nya hingga ia dapat mendengar guratan suara qalam.

Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, Abul Aliyah serta lain-lainnya, yang pada garis besarnya mereka mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah guratan qalam yang sedang menulis kitab Taurat.

As-Saddi mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan Kami telah mendekatkannya kepada Kami di waktu dia munajat (kepada Kami). (Maryam: 52) Bahwa Musa dimasukkan ke langit, lalu diajak bicara secara langsung oleh Allah. Disebutkan dari Mujahid hal yang semisal.

Abdur Razzaq telah meriwayatkan dari Ma’mar, dari Qatadah sehubungan dengan makna firman-Nya: dan Kami telah mendekatkannya kepada Kami di waktu dia munajat (kepada Kami). (Maryam: 52) Bahwa Musa diselamatkan karena berkat kejujurannya.

Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Abdul Jabbar ibnu Asim, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Salamah Al-Harrani, dari Abu Wasil, dari Syahr ibnu Hausyab, dari Amr ibnu Ma’di Kariba yang mengatakan bahwa ketika Musa didekatkan kepada Allah untuk bermunajat kepada-Nya di Bukit Tur yang terletak di semenanjung Sinai, Allah berfirman, “Hai Musa, apabila Aku ciptakan buatmu hati yang bersyukur, lisan yang selalu berzikir menyebut-Ku dan istri yang membantumu dalam kebaikan, berarti Aku tidak menyimpan sesuatu kebaikan pun darimu. Karena barang siapa yang Aku sembunyikan hal tersebut darinya, berarti Aku tidak membukakan suatu kebaikan pun baginya.”

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

«««« juz 15 ««««      «««« juz 16 ««««      «««« juz 17 ««««