Kisah Nabi Ismail ‘Alaihis Salam di Dalam Al-Qur’an

Tafsir Al-Qur’an: Surah Maryam ayat 54

0
33

Tafsir Al-Qur’an: Surah Maryam ayat 54. Kisah Nabi Ismail ‘alaihis salam di dalam Al-Qur’an. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولا نَبِيًّا (٥٤)

Dan ceritakanlah (Muhammad), kisah Ismail di dalam kitab (Al-Qur’an). Dia benar-benar seorang yang benar janjinya, seorang rasul dan nabi. (Q.S. Maryam : 54)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wadz kur fil kitābi ismā‘īla (dan tuturkanlah olehmu tentang Ismail di dalam al-Kitab), yakni kisah tentang Ismail a.s.

Innahū kāna shādiqal wa‘di (sesungguhnya dia adalah seorang yang benar dalam berjanji), yakni apabila berjanji, dia senantiasa menepatinya.

Wa kāna rasūlan (dan dia adalah seorang rasul) yang diutus kepada kaumnya.

Nabiyyā (dan nabi) yang menyampaikan kabar dari Allah Ta‘ala.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Dan ceritakanlah (Muhammad), kisah Ismail[32] di dalam kitab (Al-Qur’an). Dia benar-benar seorang yang benar janjinya[33], seorang rasul[34] dan nabi.

[32] Di mana dari Beliau lahir bangsa Arab.

[33] Yakni selalu menepati janji, baik janji dengan Allah maupun janji dengan manusia. Oleh karena itu, ketika beliau berjanji siap untuk disembelih, beliau berkata kepada ayahnya, “Engkau akan mendapatiku insya Allah termasuk orang yang sabar.” Beliau memenuhi janjinya dan mempersilahkan bapaknya menyembelihnya, yang kemudian Allah tebus dengan kambing sebagai ganti Ismail, di mana di dalam kisah beliau banyak pelajaran yang dapat diambil, salah satunya adalah bahwa Allah Subhaanahu wa Ta’aala tidaklah memberikan ujian dengan ujian yang sampai membinasakan dirinya, kalau pun seakan-akan seperti membinasakan dirinya, maka hal itu agar diketahui dengan jelas sejauh mana kesabarannya.

[34] Yang diutus kepada suku Jurhum. Ayat ini menunjukkan keutamaan Nabi Ismail di atas saudaranya, yaitu Ishak, karena Ishaq hanya disifati dengan kenabian saja, sedangkan Ismail disifati dengan kenabian dan kerasulan.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan ceritakanlah kisah Ismail di dalam Al-Qur’an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya) sekali-kali ia tidak menjanjikan sesuatu melainkan ia memenuhinya. Disebutkan bahwa ia pernah menunggu seseorang yang telah berjanji kepadanya, selama tiga hari atau satu tahun, sehingga orang yang berjanji itu datang kepadanya di tempat yang dijanjikan itu, dan ternyata Nabi Ismail masih menunggu di tempat itu (dan dia adalah seorang rasul) untuk kabilah Jurhum (dan nabi).

.

Tafsir Ibnu Katsir

Melalui ayat ini Allah memuji Ismail ibnu Ibrahim a.s. Ismail adalah bapak moyang orang-orang Arab Hijaz, bahwa dia adalah seorang yang benar janjinya. Ibnu Juraij mengatakan bahwa tidak sekali-kali Ismail berjanji kepada Tuhannya sesuatu hal, melainkan dia melaksanakannya. Dengan kata lain, tidak sekali-kali dia menetapkan suatu nazar akan mengerjakan suatu ibadah kepada Tuhannya, melainkan ia pasti menunaikannya dan mengerjakannya dengan sempurna.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Yunus, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Umar ibnul Haris. bahwa Sahl ibnu Aqil pernah bercerita kepadanya bahwa Ismail a.s. pernah menjanjikan kepada seseorang akan bertemu dengannya di suatu tempat. Maka Ismail a.s. datang ke tempat itu, sedangkan lelaki yang berjanji dengannya tadi lupa kepada janji Ismail. Maka Ismail tetap berada di tempat itu dan menginap hingga keesokan harinya. Maka pada keesokan harinya lelaki itu datang dan berkata kepadanya, “Tidakkah engkau tinggalkan tempat ini?” Ismail menjawab, “Tidak.” Lelaki itu berkata ‘Sesungguhnya saya lupa kepada janjimu.” Ismail berkata,”Saya tidak akan meninggalkan tempat ini sebelum kamu datang kepadaku.” Yang demikian itulah yang dimaksud oleh firman-Nya:

ia adalah seorang yang benar janjinya. (Maryam: 54)

Sufyan As-Sauri mengatakan, telah sampai suatu berita kepadaku bahwa Ismail menunggu di tempat itu selama satu tahun penuh, hingga lelaki tersebut datang kepadanya. Ibnu Syauzab mengatakan, telah sampai suatu berita kepadaku bahwa Ismail a.s. membuat rumah di tempat tersebut (selama menunggu lelaki yang berjanji dengannya).

Abu Daud di dalam kitab sunannya dan Abu Bakar Muhammad ibnu Ja’far Al-Kharaiti di dalam kitabnya Makarimul Akhlak telah meriwayatkan melalui jalur Ibrahim Ibnu Tahman, dari Abdullah ibnu Maisarah, dari Abdul Karim ibnu Abdullah ibnu Syaqiq, dari ayahnya, dari Abdullah ibnu Abul Hamsa yang mengatakan bahwa ia pernah melakukan suatu transaksi jual beli dengan Rasulullah ﷺ; sebelum beliau diangkat menjadi utusan. Kemudian masih tersisa lagi sebagian dari piutangnya padaku, maka aku berjanji akan datang kepadanya guna melunasi utangku di tempat tersebut. Akan tetapi, aku lupa akan janjiku hari itu dan keesokan harinya lagi. Pada hari yang ketiga aku teringat dan datang ke tempat tersebut, ternyata beliau masih ada di tempat itu dan bersabda kepadaku:

يَا فَتَى، لَقَدْ شَقَقْتَ عَلَيَّ، أَنَا هَاهُنَا مُنْذُ ثَلَاثٍ أَنْتَظِرُكَ

Hai orang muda, sesungguhnya engkau telah memberatkan diriku, saya tetap menunggumu di tempat ini sejak tiga hari yang lalu.

Lafaz hadis ini menurut Al-Khara’iti, lalu ia mengetengahkan beberapa asar yang baik mengenai masalah ini.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Mandah Abu Abdullah di dalam kitab Ma’rifatus Sahabah dengan sanadnya dari Ibrahim Ibnu Tahman, dari Badil ijbnu Maisarah, dari Abdul Karim dengan sanad yang sama.

Sebagian ulama mengatakan bahwa sesungguhnya dalam ayat ini disebutkan oleh firman-Nya:

orang yang benar janjinya. (Maryam: 54)

Karena Nabi Ismail pernah berkata kepada ayahnya, yaitu Nabi Ibrahim:

سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

insya Allah kamu akan mendapatkanku termasuk orang-orang yang sabar. (Ash-Shaffat: 102)

Ismail a.s. membenarkan apa yang diucapkan itu. Memenuhi janji merupakan sifat yang terpuji, sebagaimana mengingkari janji merupakan sifat yang tercela. Allah Swt. telah berfirman dalam ayat lain:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. (Ash-Shaff: 2-3)

Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

Pertanda orang munafik ada tiga, (yaitu): Apabila bicara, dusta; apabila berjanji, ingkar; dan apabila dipercaya, khianat.

Mengingat apa yang disebutkan di dalam hadis merupakan sifat-sifat orang munafik, maka orang yang menyandang kebalikan dari sifat-sifat tersebut adalah orang yang beriman. Karena itulah maka Allah Swt. memuji hamba dan rasul-Nya (yaitu Nabi Ismail), bahwa dia adalah orang yang benar janjinya. Demikian pula halnya Rasulullah ﷺ, beliau adalah orang yang benar janjinya; tidak sekali-kali beliau menjanjikan sesuatu kepada seseorang, melainkan beliau menunaikannya kepada orang itu.

Nabi ﷺ memuji sikap Abul Ash ibnur Rabi’ (suami putrinya) melalui sabdanya:

حَدَّثَنِي فَصَدَقَنِي، وَوَعَدَنِي فَوَفَى لِي

Dia berbicara kepadaku dan membenarkanku, dan dia berjanji kepadaku dan dia memenuhinya terhadapku.

Setelah Nabi ﷺ wafat, Khalifah Abu Bakar As-Siddiq berkata, bahwa barang siapa yang mempunyai suatu janji dari Rasulullah ﷺ atau suatu piutang baginya, hendaklah ia datang kepadaku, maka aku akan menunaikannya. Maka datanglah Jabir ibnu Abdullah dan mengatakan bahwa sesungguhnya Rasulullah ﷺ pernah berkata kepadanya, “Seandainya telah datang harta dari Bahrain, maka aku akan memberimu sebanyak anu dan anu,” yakni sepenuh kedua telapak tangannya dalam bentuk uang logam. Ketika harta dari Bahrain tiba, maka Khalifah Abu Bakar memerintahkan kepada Jabir untuk mengambilnya. Lalu Jabir meraupkan kedua telapak tangannya, mengambil dari tumpukan harta tersebut. Kemudian Jabir menghitungnya, ternyata berjumlah lima ratus Dirham. Selanjurnya Khalifah Abu Bakar memberinya lagi dua kali lipatnya.

Firman Allah Swt.:

dan dia adalah seorang rasul dan nabi. (Maryam: 54)

Makna ayat ini menunjukkan kemuliaan yang dimiliki oleh Ismail melebihi saudaranya Ishaq, karena Ishaq hanya diberi sifat (predikat) sebagai seorang nabi saja, sedangkan Ismail berpredikat sebagai nabi dan rasul.

Di dalam kitab Sahih Muslim disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى مِنْ وَلَدِ إِبْرَاهِيمَ إِسْمَاعِيلَ … وَذَكَرَ تَمَامَ الْحَدِيثِ

Sesungguhnya Allah telah memilih Ismail dari anak Ibrahim (Sebagai orang pilihan-Nya)

Hadis ini menunjukkan kebenaran dari pendapat yang kami kemukakan.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 .

«««« juz 15 ««««      «««« juz 16 ««««      «««« juz 17 ««««