Sungguh, Janji Allah Itu Pasti Ditepati

Tafsir Al-Qur’an: Surah Maryam ayat 60-61

0
54

Tafsir Al-Qur’an: Surah Maryam ayat 60-61. Perselisihan manusia setelah kedatangan para nabi, di antara mereka ada yang berpaling dan mengikuti hawa nafsunya, dan di antara mereka ada yang beriman sehingga ia beruntung dengan surga ‘Adn yang telah dijanjikan. Sekalipun surga itu tidak tampak. Sungguh, janji Allah itu pasti ditepati. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

إِلا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلا يُظْلَمُونَ شَيْئًا (٦٠) جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدَ الرَّحْمَنُ عِبَادَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّهُ كَانَ وَعْدُهُ مَأْتِيًّا (٦١)

Kecuali orang yang bertobat, beriman dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dizalimi (dirugikan) sedikit pun, yaitu surga ‘Adn yang telah dijanjikan oleh Tuhan Yang Maha Pengasih kepada hamba-hamba-Nya, sekalipun (surga itu) tidak tampak. Sungguh, janji Allah itu pasti ditepati. (Q.S. Maryam : 60-61)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Illā maη tāba (kecuali orang yang bertobat) di antara orang-orang Yahudi.

Wa āmana (dan beriman) kepada Nabi Muhammad ﷺ dan Al-Qur’an.

Wa ‘amila shālihan (dan beramal saleh), yakni amal yang berhubungan dengan Rabb-nya secara ikhlas.

Fa ulā-ika yadkhulūnal jannata wa lā yuzhlamūna syai-ā (maka mereka akan masuk surga dan tidak akan dizalimi sedikit pun), yakni kebaikan-kebaikan mereka tidak akan dikurangi dan keburukan-keburukan mereka tidak akan ditambah. Kemudian Allah Ta‘ala berfirman menjelaskan surga seperti apa yang akan diberikan kepada mereka:

Jannāti ‘adninil latī wa‘adar rahmānu ‘ibādahū bil ghaib (yaitu surga-surga ‘Adn yang telah dijanjikan oleh Yang Maha Pengasih kepada hamba-hamba-Nya, walau tidak tampak), yakni tidak terlihat oleh mereka.

Innahū kāna wa‘duhū ma’tiyyā (sesungguhnya janji Allah pasti ditepati), yakni pasti terjadi.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Kecuali orang yang bertobat[11], beriman[12] dan beramal saleh[13], maka mereka itu[14] akan masuk surga dan tidak dizalimi (dirugikan) sedikit pun[15],

[11] Dari meninggalkan shalat atau dari syirk, bid’ah dan maksiat yang dilakukannya. Ia berhenti darinya dan menyesal terhadapnya serta berniat keras untuk tidak mengulanginya.

[12] Kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir dan qadar-Nya.

[13] Yaitu amal yang disyari’atkan Allah melalui lisan Rasul-Nya disertai ikhlas dalam mengerjakannya.

[14] Yang menggabung antara tobat, iman dan amal saleh.

[15] Yakni pahala mereka, bahkan pahalanya akan mereka dapatkan secara sempurna.

  1. yaitu surga ‘Adn[16] yang telah dijanjikan oleh Tuhan Yang Maha Pengasih[17] kepada hamba-hamba-Nya[18], sekalipun (surga itu) tidak tampak[19]. Sungguh, janji Allah itu pasti ditepati.

[16] Yakni surga yang menjadi tempat bermukim, di mana mereka tidak akan pindah daripadanya. Yang demikian karena tempatnya yang luas, dan banyak kebaikan dan kesenangannya.

[17] Dihubungkannya surga dengan nama-Nya Ar Rahman (Yang Maha Pengasih) karena di dalamnya terdapat rahmat dan ihsan-Nya yang tidak pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dan terlintas di hati manusia, bahkan Allah menamai surga-Nya itu dengan rahmat-Nya. Dia berfirman, “Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah (surga); mereka kekal di dalamnya.” (Terj. Ali Imran: 107) Di samping itu, dihubungkannya surga dengan rahmat-Nya menunjukkan tetap terusnya kesenangan itu dan akan kekal sebagaimana kekal rahmat-Nya, dan surga merupakan atsar (pengaruh) dari rahmat-Nya.

[18] Yakni hamba-hamba-Nya yang beribadah hanya kepada-Nya dan mengikuti syariat-Nya, sehingga sifat ubudiyyah (kehambaan) dimiliki mereka.

[19] Gaib di sini bisa terkait dengan surga, yakni keadaannya yang masih gaib. Bisa juga terkait dengan hamba-hamba-Nya, di mana mereka beribadah kepada Tuhan mereka ketika mereka tidak terlihat dan ketika mereka tidak melihat kepada-Nya. Bisa juga maknanya, bahwa surga yang dijanjikan Ar Rahman termasuk perkara yang tidak ditangkap oleh sifat-sifat, dan tidak ada yang mengetahuinya selain Allah. Semua makna ini adalah benar, namun yang lebih dekat adalah makna yang pertama, yakni “sekalipun surga itu tidak tampak.”

.

Tafsir Jalalain

  1. (Kecuali) yakni berbeda halnya dengan (orang yang bertobat, beriman dan beramal saleh, mereka itu akan masuk surga dan mereka tidak dianiaya) tidak dirugikan (barang sedikit pun) dari pahala mereka.
  2. (Yaitu surga Adn) menjadi tempat tinggal mereka. Lafaz ‘Adn menjadi Badal daripada lafal Jannatin (yang telah dijanjikan oleh Tuhan Yang Maha Pemurah kepada hamba-hamba-Nya, sekalipun surga itu tidak tampak). Lafal Bil Ghaibi menjadi Hal, maksudnya walaupun surga itu tidak kelihatan oleh mereka. (Sesungguhnya janji Allah itu) yakni apa yang telah dijanjikan oleh-Nya (pasti akan ditepati). Lafal Ma’tiyyan maknanya Aatiyan; asalnya adalah Ma’tiwyun. Yang dimaksud dengan janji-Nya adalah surga yang akan ditempati oleh orang-orang yang berhak memasukinya.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Swt.:

kecuali orang yang bertobat, beriman, dan beramal saleh. (Maryam: 60)

Yakni kecuali orang yang bertobat, tidak meninggalkan salat lagi, dan tidak lagi memperturutkan hawa nafsunya; maka sesungguhnya Allah menerima tobatnya dan menjadikan baginya akhir yang baik, serta menjadikannya sebagai salah seorang yang berhak menghuni surga yang penuh dengan kenikmatan. Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:

maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikit pun. (Maryam: 60)

Dikatakan demikian karena tobat itu menghapuskan dosa-dosa yang sebelumnya. Di dalam hadis yang lain disebutkan:

التَّائِبَ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ

Orang yang bertobat dari dosa, sama halnya dengan orang yang tidak punya dosa.

Karena itulah mereka yang bertobat tidak dikurangi dari amal kebajikan mereka barang sedikit pun, tidak pula dibandingkan dengan dosa yang sebelumnya yang menyebabkan amal perbuatan sesudahnya dikurangi. Demikian itu karena dosa yang telah dilakukannya dianggap sia-sia dan dilupakan serta dihapuskan sama sekali, sebagai karunia dari Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Penyantun terhadap hamba-hamba-Nya yang bertobat. Pengecualian ini sama pengertiannya dengan apa yang disebutkan di dalam surat Al-Furqan melalui firman-Nya:

وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلا بِالْحَقِّ

Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar. (Al-Furqan: 68)

Sampai dengan firman-Nya:

وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-Furqan: 70)

Tafsir Surat Maryam, ayat 61-63

Allah Swt. menyebutkan bahwa surga yang kelak akan dimasuki oleh orang-orang yang bertobat dari dosa-dosanya adalah surga ‘Adn, yakni sebagai tempat tinggal mereka yang telah dijanjikan oleh Tuhan Yang Maha Pemurah kepada hamba-hamba-Nya secara gaib. Bahwa surga itu termasuk perkara gaib yang diimani oleh mereka keberadaannya, sekalipun mereka tidak melihatnya. Demikian itu karena kuatnya keyakinan dan iman mereka yang telah berakar di dalam kalbu mereka.

Firman Allah Swt.:

Sesungguhnya janji Allah itu pasti akan ditepati. (Maryam: 61)

Kalimat ayat ini menguatkan pengertian kalimat sebelumnya, bahwa hal itu pasti terjadi dan telah ditetapkan; karena sesungguhnya Allah tidak akan mengingkari janji-Nya, tidak akan pula menggantinya. Makna ayat ini sama dengan apa yang terdapat di dalam firman-Nya:

كَانَ وَعْدُهُ مَفْعُولا

Adalah janji Allah itu pasti terlaksana. (Al-Muzzammil: 18)

Yakni pasti terjadi

Yang dimaksud dengan makna firman-Nya, “Ma’tiyyan” (pasti akan ditepati) ialah bahwa semua hamba akan kembali kepada-Nya dan pasti menghadap kepada-Nya. Sebagian lainnya mengartikannya sama dengan lafaz atiyan yang artinya datang (sedangkan kalau ma’tiyyan artinya didatangkan). Dikatakan demikian karena sesuatu hal yang menimpamu berarti datang kepadamu. Sama halnya dengan kata-kata orang-orang Arab, “Atat ‘alayya khamsima sematan, ” dan ‘Ataitu ‘ala khamsina sanatan, ” artinya sama saja, yakni saya telah berusia lima puluh tahun.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 .

«««« juz 15 ««««      «««« juz 16 ««««      «««« juz 17 ««««