Kerajaan Semuanya Milik Allah Subhaanahu wa Ta’aala

Tafsir Al-Qur’an: Surah Thaahaa ayat 6

0
123

Tafsir Al-Qur’an: Surah Thaahaa ayat 6. Al-Qur’an sebagai sumber kebahagiaan bagi Rasulullah ﷺ dan umatnya semua, Allah Subhaanahu wa Ta’aala bersemayam di atas ‘Arsyi-Nya, kerajaan semuanya milik Allah Subhaanahu wa Ta’aala, dan bahwa Dia memiliki nama-nama yang paling indah. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ الثَّرَى (٦)

Milik-Nya-lah apa yang ada di langit, apa yang di bumi, apa yang ada di antara keduanya dan apa yang ada di bawah tanah. (Q.S. Thaahaa : 6)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Lahū mā fis samāwāti wa mā fil ardli wa mā bainahumā (Kepunyaan-Nya-lah segala apa yang ada di langit, segala apa yang ada di bumi, segala apa yang ada di antara keduanya), yakni semua makhluk dan hal-hal yang menakjubkan.

Wa mā tahtats tsarā (dan segala apa yang ada di bawah tanah), yakni Allah Ta‘ala mengetahui segala sesuatu yang ada di bawah tanah.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Milik-Nya-lah apa yang ada di langit, apa yang di bumi, apa yang ada di antara keduanya[6] dan apa yang ada di bawah tanah[7].

[6] Seperti malaikat, manusia, jin, hewan, benda mati, dan tumbuhan.

[7] Semuanya milik Allah Ta’ala, hamba-Nya yang diatur dan ditundukkan di bawah qadha’ dan tadbir (pengurusan)-Nya. Mereka tidak memiliki kerajaan sedikit pun, tidak berkuasa menarik manfaat, menimpakan bahaya, tidak mampu mematikan, menghidupkan dan tidak mampu membangkitkan.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Kepunyaan-Nyalah semua yang ada di langit, semua yang ada di bumi, semua yang ada di antara keduanya) yakni makhluk-makhluk yang ada di antara keduanya (dan semua yang di bawah tanah) yaitu lapisan tanah yang masih basah, yang dimaksud adalah di bawah semua lapisan bumi yang tujuh, karena lapisan bumi yang berjumlah tujuh itu berada di bawah lapisan tanah yang basah.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Swt.:

Kepunyaan-Nyalah semua yang ada di langit dan yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah. (Thaha: 6)

Yakni semua adalah milik Allah, berada dalam genggaman kekuasaan-Nya, dan berada dalam pengaturan-Nya, kehendak dan keinginan serta hukum-Nya. Dialah Yang menciptakan semuanya, Yang memilikinya, dan yang menjadi Tuhannya; tiada Tuhan selain Dia.

Firman Allah Swt.:

dan semua yang di bawah tanah. (Thaha: 6)

Muhammad ibnu Ka’b mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah semua yang ada di bawah bumi lapis ketujuh.

Al-Auza’i mengatakan, sesungguhnya Yahya ibnu Abu Kasir pernah menceritakan kepadanya bahwa Ka’b pernah ditanya, “Apakah yang ada di bawah bumi ini?” Ka’b menjawab, “Air.” Ditanyakan lagi, “Apakah yang ada di bawah air?” Ka’b menjawab.”Tanah.” Ditanyakan lagi.”Apakah yang ada di bawah tanah?” Ka’b menjawab, “Air.” Ditanyakan lagi, “Apakah yang ada di bawah air?” Ka’b menjawab, “Tanah.” Ditanyakan lagi, “Apakah yang ada di bawah tanah?” Ka’b menjawab, “Air.” Ditanyakan lagi, “Apakah yang ada di bawah air?” Ka’b menjawab, “Tanah.” Ditanyakan lagi, “Apakah yang ada di bawah tanah?” Ka’b menjawab, “Air.” Ditanyakan lagi, “Apakah yang ada di bawah air?” Ka’b menjawab, “Tanah.” Ditanyakan lagi, “Apakah yang ada di bawah tanah?” Ka’b menjawab, “Batu besar.” Ditanyakan lagi, “Apakah yang ada di bawah batu besar?” Ka’b menjawab, “Malaikat”. Ditanyakan lagi, “Apakah yang ada di bawah Malaikat?” Ka’b menjawab, “Ikan yang menggantungkan buntutnya ke ‘ Arasy.” Ditanyakan lagi, “Apakah yang ada di bawah ikan itu?” Ka’b menjawab, “Udara dan kegelapan,” lalu terputuslah pengetahuannya sampai di sini.

قَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا أَبُو عُبَيْدِ الله بن أخي بن وَهْبٍ، حَدَّثَنَا عَمِّي، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَيَّاش، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سُلَيْمَانَ عَنْ دَرَّاج، عَنْ عِيسَى بْنِ هِلَالٍ الصَّدَفي، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ الْأَرَضِينَ بَيْنَ كُلِّ أَرْضٍ وَالَّتِي تَلِيهَا مَسِيرَةُ خَمْسِمِائَةِ عَامٍ، وَالْعُلْيَا مِنْهَا عَلَى ظَهْرِ حُوتٍ، قَدِ الْتَقَى طَرَفَاهُ فِي السَّمَاءِ، وَالْحُوتُ عَلَى صَخْرَةٍ، وَالصَّخْرَةُ بِيَدِ الْمَلَكِ، وَالثَّانِيَةُ سِجْنُ الرِّيحِ، وَالثَّالِثَةُ فِيهَا حِجَارَةُ جَهَنَّمَ، وَالرَّابِعَةُ فِيهَا كِبْرِيتُ جَهَنَّمَ، وَالْخَامِسَةُ فِيهَا حَيَّاتُ جَهَنَّمَ وَالسَّادِسَةُ فِيهَا عَقَارِبُ جَهَنَّمَ، وَالسَّابِعَةُ فِيهَا سَقَر، وَفِيهَا إِبْلِيسُ مُصَفّد بالحديد، يد أمامه ويد خلفه، فَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ أَنْ يُطْلِقَهُ لِمَا يَشَاءُ أَطْلَقُهُ

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Ubaidillah keponakanku, telah menceritakan kepada kami pamanku, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Ayyasy, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Sulaiman, dari Darij, dari Isa ibnu Hilal As-Sadfi, dari Abdullah ibnu Amr yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda, “Sesungguhnya bumi itu berlapis-lapis; jarak antara satu lapis dengan lapis lainnya sama dengan perjalanan lima ratus tahun. Lapisan yang paling atas darinya berada di atas punggung ikan besar yang kedua sisinya (ekor dan kepalanya) bertemu di langit, sedangkan ikan itu berada di atas batu yang maha besar, dan batu besar berada di tangan malaikat. Lapis yang kedua adalah tempat penahanan angin, lapis yang ketiga mengandung batu-batuan Jahanam, lapis yang keempat mengandung kibrit (fosfor) neraka Jahanam, lapis yang kelima dihuni oleh ular-ular Jahanam, lapis yang keenam dihuni oleh kalajengking Jahanam, dan lapis yang ketujuh terdapat saqar dan juga iblis yang dibelenggu dengan besi; salah satu dari tangannya dikedepankan, sedangkan yang satunya lagi dikebelakangkan; apabila Allah bermaksud melepaskannya untuk sesuatu yang dikehendaki-Nya, maka Dia melepaskannya.”

Hadis ini berpredikat garib sekali. Mengenai predikat marfu’-nya masih diragukan.

قَالَ الْحَافِظُ أَبُو يَعْلَى فِي مُسْنَدِهِ: حَدَّثَنَا أَبُو مُوسَى الْهَرَوِيُّ، عَنِ الْعَبَّاسِ بْنِ الْفَضْلِ [قَالَ] : قُلْتُ: ابْنُ الْفَضْلِ الْأَنْصَارِيُّ؟ قَالَ: نَعَمْ، [عَنِ الْقَاسِمِ] بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيٍّ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ، فَأَقْبَلْنَا رَاجِعِينَ فِي حَرٍّ شَدِيدٍ، فَنَحْنُ مُتَفَرِّقُونَ بَيْنَ وَاحِدٍ وَاثْنَيْنِ، مُنْتَشِرِينَ، قَالَ: وَكُنْتُ فِي أَوَّلِ الْعَسْكَرِ: إِذْ عَارَضَنَا رَجُلٌ فَسَلّم ثُمَّ قَالَ: أَيُّكُمْ مُحَمَّدٌ؟ وَمَضَى أَصْحَابِي وَوَقَفْتُ مَعَهُ، فَإِذَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قد أَقْبَلَ فِي وَسَطِ العَسْكَر عَلَى جَمَلٍ أَحْمَرَ، مُقَنَّع بِثَوْبِهِ عَلَى رَأْسِهِ مِنَ الشَّمْسِ، فَقُلْتُ: أَيُّهَا السَّائِلُ، هَذَا رَسُولُ اللَّهِ قَدْ أَتَاكَ. فَقَالَ: أَيُّهُمْ هُوَ؟ فَقُلْتُ: صَاحِبُ البَكْر الْأَحْمَرِ. فَدَنَا مِنْهُ، فَأَخَذَ بِخِطَامِ رَاحِلَتِهُ، فَكَفَّ عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فقال: أَنْتَ مُحَمَّدٌ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أَسْأَلَكَ عَنْ خِصَالٍ، لَا يَعْلَمُهُنَّ أَحَدٌ مِنْ أَهْلِ الْأَرْضِ إِلَّا رَجُلٌ أَوْ رَجُلَانِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: سَلْ عَمَّا شِئْتَ. فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، أَيَنَامُ النَّبِيُّ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: تَنَامُ عَيْنَاهُ وَلَا يَنَامُ قَلْبُهُ. قَالَ: صَدَقْتَ. ثُمَّ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ، مِنْ أَيْنَ يُشْبِهُ الْوَلَدُ أَبَاهُ وَأُمَّهُ؟ قَالَ مَاءَ الرَّجُلِ أَبْيَضُ غَلِيظٌ، وَمَاءُ الْمَرْأَةِ أَصْفَرُ رَقِيقٌ، فَأَيُّ الْمَاءَيْنِ غَلَبَ عَلَى الْآخَرِ نَزَعَ الْوَلَدُ. فَقَالَ صَدَقْتَ. فَقَالَ: مَا لِلرَّجُلِ مِنَ الْوَلَدِ وَمَا لِلْمَرْأَةِ مِنْهُ؟ فَقَالَ: لِلرَّجُلِ الْعِظَامُ وَالْعُرُوقُ وَالْعَصَبُ، وَلِلْمَرْأَةِ اللَّحْمُ وَالدَّمُ وَالشَّعْرُ قَالَ: صَدَقْتَ. ثُمَّ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ، مَا تَحْتَ هَذِهِ، يَعْنِي الْأَرْضَ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: خَلْقٌ. فَقَالَ: فَمَا تَحْتَهُمْ؟ قَالَ: أَرْضٌ. قَالَ: فَمَا تَحْتَ الْأَرْضِ؟ قَالَ الْمَاءُ قَالَ: فَمَا تَحْتَ الْمَاءِ؟ قَالَ: ظُلْمَةٌ. قَالَ: فَمَا تَحْتَ الظُّلْمَةِ؟ قَالَ: الْهَوَاءُ. قَالَ: فَمَا تَحْتَ الْهَوَاءِ؟ قَالَ: الثَّرَى. قَالَ: فَمَا تَحْتَ الثَّرَى؟ فَفَاضَتْ عَيْنَا رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْبُكَاءِ، وَقَالَ: انْقَطَعَ عِلْمُ الْمَخْلُوقِينَ عِنْدَ عِلْمِ الْخَالِقِ، أَيُّهَا السَّائِلُ، مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ: فَقَالَ: صَدَقْتَ، أَشْهَدُ أَنَّكَ رَسُولَ اللَّهِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّهَا النَّاسُ، هَلْ تَدْرُونَ مَنْ هَذَا؟  قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: هَذَا جِبْرِيلُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Al-Hafiz Abu Ya’la mengatakan di dalam kitab Musnad-nya, bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Musa Al-Harawi, dari Al-Abbas ibnul Fadl. Abu Ya’la bertanya, “Apakah dia adalah Ibnul Fadl Al-Ansari?” Abu Musa Al-Harawi menjawab, “Ya.” Dia meriwayatkan dari Al-Qasim yang mengatakan bahwa ia pernah bersama Rasulullah ﷺ dalam perang Tabuk. Ketika kaum muslim yang terlibat dalam perang tabuk itu pulang di hari yang panas sekali, dan kaum muslim berjalan secara berpencar. Perawi saat itu berada di bagian paling depan dari pasukan kaum muslim. Tiba-tiba ada seorang lelaki berpapasan dengan kami, lalu lelaki itu bertanya, “Siapakah di antara kalian yang bernama Muhammad?” Teman-temanku meneruskan perjalanannya, sedangkan aku berhenti meladeni lelaki itu. Tiba-tiba Rasulullah ﷺ muncul di tengah pasukan kaum muslim dengan mengendarai unta merah seraya menutupi kepalanya dari sengatan panas matahari yang terik. Lalu saya berkata kepada lelaki itu, “Hai kamu yang bertanya, inilah Rasulullah ﷺ telah tiba menuju ke arahmu!” Lelaki itu bertanya, “Siapakah dia di antara mereka?” Aku menjawab, “orang yang mengendarai unta merah.” Lelaki itu mendekatinya dan memegang tali kendali untanya. Maka unta yang dikendarai oleh Nabi ﷺ berhenti, dan lelaki itu bertanya, “Engkaukah yang bernama Muhammad?” Nabi ﷺ menjawab, “Ya.” Lelaki itu berkata, “Sesungguhnya aku hendak bertanya kepadamu tentang beberapa perkara yang tiada seorang pun dari kalangan penduduk bumi mengetahuinya kecuali hanya seorang atau dua orang saja.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Tanyakanlah apa yang kamu kehendaki!” Lelaki itu berkata, “Hai Muhammad, apakah seorang nabi tidur?” Rasulullah ﷺ menjawab, “Kedua matanya tidur, tetapi hatinya tidak tidur.” Si lelaki berkata, “Engkau benar.” Kemudian lelaki itu bertanya, “Hai Muhammad, mengapa anak itu mirip ayahnya dan (adakalanya) mirip ibunya?” Rasulullah ﷺ menjawab: Air mani lelaki putih lagi kental, sedangkan air mani wanita kuning lagi encer. Maka mana saja di antara kedua air mani itu yang mengalahkan lainnya, anak tersebut akan lebih mirip kepadanya. Lelaki itu berkata, “Engkau benar.” Lalu ia bertanya, “Apa sajakah yang di-ciptakan dari air mani lelaki dan air mani perempuan dalam tubuh anaknya?” Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Air mani laki-laki membentuk tulang dan urat-urat serta otot-otot, sedangkan air mani wanita membentuk daging, darah, dan rambut. Lelaki itu berkata, “Engkau benar.” Kemudian lelaki itu bertanya, “Hai Muhammad, apakah yang ada di bawah tanah ini?” Rasulullah ﷺ menjawab, “Makhluk.” Lelaki itu bertanya, Di bawah mereka itu ada apa?” Rasulullah ﷺ menjawab, “Bumi.” Lelaki itu bertanya, “Apakah yang ada di bawah bumi itu?” Rasulullah ﷺ menjawab, “Air.” Ia bertanya, “Lalu apakah yang ada di bawah air itu?” Rasulullah ﷺ menjawab, “Kegelapan.” Ia bertanya, “Lalu apakah yang ada di bawah kegelapan itu?” Rasulullah ﷺ menjawab, “Udara.” Ia bertanya, “Apakah yang ada di bawah udara itu?” Rasulullah ﷺ menjawab, “Bumi.” Ia bertanya, “Lalu apakah yang ada di bawah bumi itu?” Rasulullah ﷺ menangis dan bersabda, “Hanya sampai di situlah pengetahuan makhluk bila dibandingkan dengan pengetahuan Pencipta. Hai orang yang bertanya, tidaklah orang yang ditanya lebih mengetahui daripada orang yang bertanya.” Lelaki itu berkata, “Engkau benar, saya bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Hai manusia, tahukah kalian siapakah orang ini?” Mereka menjawab,” Hanya Allah dan Rasul-Nyalah yang lebih mengetahui.” Rasulullah ﷺ bersabda,”Orang ini adalah Jibril a.s.

Hadis berpredikat garib sekali, dan konteksnya sangat aneh, ia hanya diriwayatkan oleh Al-Qasim ibnu Abdur Rahman. Yahya ibnu Mu’in mengatakan tentangnya, bahwa ia adalah orang yang tidak pantas menjadi rawi hadis. Abu Hatim Ar-Razi menilainya daif; sedangkan menurut Ibnu Addi, Al-Qasim ibnu Abdur Rahman adalah perawi yang tidak dikenal.

Menurut kami hadis ini bercampur aduk, sesuatu dimasukkan ke dalam sesuatu yang lain, dan suatu hadis dimasukkan ke dalam hadis  lainnya menjadi satu. Dapat dikatakan bahwa perawinya sengaja melakukan pencampuradukan itu atau memasukkan ke dalamnya sesuatu yang lain.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 .

«««« juz 15 ««««      «««« juz 16 ««««      «««« juz 17 ««««