Peristiwa Api dan Tongkat Serta Tangannya

Tafsir Al-Qur’an: Surah Thaahaa ayat 40

0
87

Tafsir Al-Qur’an: Surah Thaahaa ayat 40. (Sebelumnya….) Setelah Musa berjalan membawa keluarganya dan terjadilah peristiwa api dan tongkat serta tangannya, seperti apa yang telah disebutkan kisahnya oleh Allah Swt. kepadamu di dalam Al-Qur’an, maka Musa mengadu kepada Tuhannya tentang apa yang ia takuti dari Fir’aun dan bala tentaranya menyangkut peristiwa pembunuhan yang dilakukannya. Musa  pun mengadu kepada Tuhannya tentang kekakuan lidahnya, karena sesungguhnya lisan (lidah) Musa mengalami kekakuan yang membuatnya tidak dapat berbicara terlalu banyak. Dan Musa meminta kepada Tuhannya agar ia dibantu oleh saudaranya (yaitu Harun) yang kelak akan menjadi juru terjemahnya terhadap banyak perkataan yang ia tidak dapat mengungkapkannya secara fasih.

Maka Allah mengabulkan permintaannya dan melepaskan kekakuan lidahnya, lalu Allah menurunkan wahyu kepada Harun dan memerintahkan kepada Musa agar menemui Harun. Maka Musa berangkat dengan membawa tongkatnya sampai bersua dengan Harun a.s., setelah itu keduanya berangkat menuju negeri tempat Fir’aun berada.

Keduanya sampai di depan pintu istana Fir’aun dan berdiam selama beberapa lama karena tidak di beri izin untuk masuk, kemudian keduanya diberi izin sesudah mendapat rintangan yang sangat keras. Lalu keduanya berkata, seperti yang diceritakan oleh firman-Nya:

Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Tuhanmu. (Thaha: 47)

Fir’aun bertanya, “Siapakah Tuhan kamu berdua?” Keduanya menjawab Fir’aun dengan jawaban seperti yang dikisahkan oleh Allah di dalam Al-Qur’an kepada kita.

Fir’aun bertanya, “Lalu apakah yang kamu berdua inginkan?” Fir’aun teringat akan peristiwa pembunuhan yang telah dilakukan oleh Musa, tetapi ia tidak dapat mengatakannya karena pembicaraan telah mengarah ke topik lain. Musa menjawab, “Saya menginginkan agar engkau beriman kepada Allah dan melepaskan kaum Bani Israil untuk pergi bersama kami.”

Fir’aun menolak permintaan Musa dan berkata, “Datangkanlah suatu tanda (mukjizat jika engkau termasuk orang-orang yang benar.” Maka Musa melemparkan tongkatnya, tiba-tiba tongkatnya berubah ujud menjadi ular yang besar seraya mengangakan mulutnya merayap dengan cepat menuju ke arah Fir’aun.

Ketika Fir’aun melihat ular besar itu menuju ke arahnya, ia takut dan lari dari singgasananya, lalu meminta tolong kepada Musa agar menahan ular itu supaya tidak menyerangnya. Musa melakukan apa yang diminta oleh Fir’aun, kemudian Musa mengeluarkan tangannya dari kantongnya; maka tangan Musa kelihatan putih bersinar bukan karena penyakit. Lalu Musa mengembalikan tangannya ke dalam kantongnya, maka warna tangannya kembali seperti semula.

Fir’aun bermusyawarah dengan para pejabat yang ada di sekitarnya, menanggapi apa yang telah dilihatnya. Maka mereka berkata kepada Fir’aun, seperti yang diceritakan oleh Firman-Nya:

يُرِيدَانِ أَنْ يُخْرِجَاكُمْ مِنْ أَرْضِكُمْ بِسِحْرِهِمَا وَيَذْهَبَا بِطَرِيقَتِكُمُ الْمُثْلَى

Dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kalian dari negeri kalian dengan sihirnya dan hendak melenyapkan kedudukan kamu yang utama. (Thaha: 63)

Yakni bertujuan hendak melenyapkan kerajaan mereka yang menjadi tempat hidup mereka. Fir’aun dan orang-orang terdekatnya menolak, tidak mau memberikan kepada Musa sesuatu pun yang dimintanya. Bahkan mereka berkata kepada Fir’aun, “Kumpulkanlah semua ahli sihir yang banyak didapat di negerimu untuk menghadapi dua orang ini, sampai sihirmu menang atas sihir keduanya.”

Maka Fir’aun mengirimkan utusannya ke berbagai kota besar, dan terhimpunlah semua ahli sihir yang benar-benar pakar, mereka menghadap kepada Fir’aun. Setelah para ahli sihir itu datang di hadapan Fir’aun, maka mereka bertanya,”Perbuatan apakah yang telah dilakukan oleh ahli sihir ini (Musa)?” Fir’aun menjawab, “Dia dapat membuat ular.” Para ahli sihir berkata, “Tidak, demi Tuhan, tiada seorang pun di muka bumi ini yang dapat menyihir tali dan tongkat menjadi ular seperti yang biasa kami lakukan. Maka imbalan apakah yang akan engkau berikan kepada kami jika kami menang?” Fir’aun berkata kepada mereka, “Kalian akan menjadi orang-orang terdekatku dan kuanggap kalian sebagai kerabatku, dan aku akan memenuhi segala sesuatu yang kalian sukai.” Maka Musa dan para ahli sihir itu mengadakan suatu janji pertemuan pada hari raya, dan hendaknya pertandingan mereka disaksikan oleh semua orang di waktu duha.

Sa’id ibnu Jubair mengatakan, Ibnu Abbas mengatakan kepadanya bahwa yang dimaksud dengan hari raya itu adalah hari Asyura; pada hari itu Allah Swt. memenangkan Musa atas Fir’aun dan para ahli sihirnya.

Setelah mereka bertemu di suatu lapangan yang luas, maka orang-orang yang menyaksikan sebagian dari mereka mengatakan kepada sebagian yang lain, “Marilah kita berangkat untuk menyaksikan pertandingan ini.”

semoga kita mengikuti ahli-ahli sihir jika mereka adalah orang-orang yang menang. (Asy-Syu’ara: 40)

Yang mereka maksudkan dengan ahli sihir ialah Musa dan Harun. Mereka katakan kalimat ini dengan nada memperolok-olokkan keduanya.

إِمَّا أَنْ تُلْقِيَ وَإِمَّا أَنْ نَكُونَ نَحْنُ الْمُلْقِينَ. قَالَ أَلْقُوا فَلَمَّا أَلْقَوْا سَحَرُوا أَعْيُنَ النَّاسِ وَاسْتَرْهَبُوهُمْ وَجَاءُوا بِسِحْرٍ عَظِيمٍ

Ahli-ahli sihir berkata, “Hai Musa, kamukah yang akan melemparkan lebih dahulu, ataukah kami yang akan melemparkan?” Musa menjawab, “Lemparkanlah (lebih dahulu)” Maka tatkala mereka melemparkan, mereka menyulap mata orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar (menakjubkan). (Al-A’raf: 115-116)

Musa menyaksikan hasil dari sihir mereka, dan dalam hatinya ia merasa takut, lalu Allah mewahyukan kepadanya, “Lemparkanlah tongkatmu!” Setelah Musa melemparkan tongkatnya, tiba-tiba tongkatnya berubah menjadi ular yang sangat besar sedang mengangakan mulutnya.

Maka tongkat-tongkat dan tali-tali tukang sihir itu menjadi satu membentuk suatu untaian dan menuju ke arah ular besar, lalu masuk ke dalam mulutnya, sehingga tiada suatu tongkat pun dan tiada seutas tali pun dari rekayasa tukang-tukang sihir Fir’aun melainkan ditelan oleh ular besar Nabi Musa. Melihat pemandangan tersebut para ahli sihir berkata, “Seandainya apa yang dibuat oleh Musa ini adalah sihir, tentulah ia tidak akan sampai melakukan demikian terhadap sihir kami. Tetapi hal ini tiada lain dari Allah Swt. belaka, maka kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang disampaikan oleh Musa dari sisi Allah, dan kami bertobat kepada Allah dari segala perbuatan kami terhadap Musa.”

Allah mematahkan tulang punggung Fir’aun di tempat tersebut, demikian pula para pendukungnya. Perkara hak telah menang, dan batallah semua upaya yang telah mereka lakukan.

فَغُلِبُوا هُنَالِكَ وَانْقَلَبُوا صَاغِرِينَ

Maka mereka kalah di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina. (Al-A’raf: 119)

Saat itu istri Fir’aun tampak dengan pakaian yang merendahkan diri, berdoa kepada Allah untuk kemenangan Musa atas Fir’aun dan para pembantunya. Tetapi orang dari kalangan keluarga Fir’aun yang melihatnya pasti menduga bahwa istri Fir’aun sedang berdoa untuk kemenangan Fir’aun serta para pembantunya, dan sesungguhnya kesedihan dan kesusahan yang dialaminya hanyalah semata-mata karena kasihan kepada Musa.

Sudah cukup lama Musa menanti-nanti janji Fir’aun yang selalu dusta. Manakala Musa mendatangkan suatu mukjizat atas permintaan Fir’aun yang menjanjikan kepadanya bahwa jika mukjizat itu diperlihatkan, maka ia bersedia melepaskan kepergian Bani Israil bersamanya; tetapi bila mukjizat itu telah ditampakkan, Fir’aun mengingkari janjinya.

Fir’aun berkata kepada Musa, “Apakah Tuhanmu mampu mem-perbuat hal selain ini?” Maka Allah mengirimkan pada kaum Fir’aun banjir, belalang, kutu, katak, dan darah sebagai tanda-tanda kekuasaan Allah yang jelas. Setiap kali datang suatu mukjizat, Fir’aun mengadu kepada Musa agar melenyapkan mukjizat tersebut dan berjanji kepadanya akan melepaskan kepergian Bani Israil bersamanya. Tetapi bila telah dilenyapkan, Fir’aun kembali mengingkari janjinya. Hingga akhirnya Allah memerintahkan kepada Musa agar membawa pergi kaum Bani Israil bersamanya. Maka Musa berangkat membawa mereka di malam hari.

Pada keesokan harinya Fir’aun melihat bahwa kaum Bani Israil telah pergi. Maka ia mengumpulkan semua prajuritnya dari kota-kota besar, lalu ia mengejar Musa dan kaumnya dengan membawa pasukan yang besar.  Allah mewahyukan kepada laut, ‘Apabila hamba-Ku Musa memukulmu dengan tongkatnya, membelahlah kamu menjadi dua belas belahan, agar Musa dan orang-orang yang bersamanya dapat melaluimu. Setelah itu menyatulah kamu dengan menenggelamkan orang-orang yang datang sesudah mereka, yaitu Fir’aun dan pasukannya.”

Musa lupa memukul laut itu dengan tongkatnya. Ketika ia sampai di tepi laut itu, saat itu laut bergelombang besar karena ketakutan akan dipukul oleh Musa dengan tongkatnya, padahal Musa lupa. Dengan demikian, berarti Musa melanggar perintah Allah.

Ketika kedua golongan saling melihat dan keduanya makin mendekat, teman-teman Musa berkata, “Sesungguhnya kita sekarang hampir terkejar, maka lakukanlah apa yang telah diperintahkan oleh Tuhanmu, sesungguhnya Dia tidak berdusta dan kamu pun bukan pendusta.”

Musa berkata, “Tuhanku telah menjanjikan kepadaku bahwa jika aku sampai di tepi laut, maka laut akan membelah menjadi dua belas jalan agar aku dapat melewatinya.” Saat itulah Musa ingat akan tongkatnya, lalu ia pukulkan ke laut itu di saat bagian depan pasukan Fir’aun telah berada di dekat bagian belakang kaum Musa. Maka laut itu terbelah seperti apa yang telah diperintahkan oleh Tuhannya dan seperti yang telah dijanjikan oleh Musa.

Setelah Musa dan orang-orang yang bersamanya telah melalui laut itu, dan Fir’aun bersama pasukannya telah masuk ke dalam laut, maka laut menyatu kembali, menenggelamkan mereka sesuai dengan apa yang telah diperintahkan oleh Allah. Setelah Musa melewati laut itu, teman-temannya berkata, “Sesungguhnya kami merasa khawatir bila Fir’aun masih belum ditenggelamkan dan kami masih belum percaya bahwa ia telah ditenggelamkan.”

Maka Musa berdoa kepada Tuhannya, dan Allah mengeluarkan tubuh Fir’aun yang telah mati dari laut itu sehingga mereka percaya akan kematiannya. Sesudah mereka selamat dari kejaran Fir’aun dan bala tentaranya, mereka melewati suatu kaum. Kaum itu sedang melakukan penyembahan kepada berhala mereka.

قَالُوا يَا مُوسَى اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ إِنَّ هَؤُلاءِ مُتَبَّرٌ مَا هُمْ فِيهِ وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Bani Israil berkata, “Hai Musa. buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala).” Musa menjawab.”Sesungguhnya kalian ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan).” Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya. (Al-A’raf: 138-139), hingga akhir ayat.

Kalian telah melihat dan mendengar pelajaran-pelajaran yang cukup untuk dijadikan pegangan bagi kalian.

(Selanjutnya ….)