Tuhanku Tidak Akan Salah Ataupun Lupa

Tafsir Al-Qur’an: Surah Thaahaa ayat 49-52

0
204

Tafsir Al-Qur’an: Surah Thaahaa ayat 49-52. Dialog Nabi Musa dan Nabi Harun ‘alaihimas salam dengan Fir’aun, penegakkan dalil-dalil terhadap keberadaan Allah Subhaanahu wa Ta’aala. Dan Tuhanku tidak akan salah ataupun lupa. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

قَالَ فَمَنْ رَبُّكُمَا يَا مُوسَى (٤٩) قَالَ رَبُّنَا الَّذِي أَعْطَى كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَى (٥٠) قَالَ فَمَا بَالُ الْقُرُونِ الأولَى (٥١) قَالَ عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي فِي كِتَابٍ لا يَضِلُّ رَبِّي وَلا يَنْسَى (٥٢)

Dia (Fir’aun) berkata, “Siapakah Tuhanmu berdua, wahai Musa?” Musa menjawab, “Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan bentuk kejadian kepada segala sesuatu, kemudian memberinya petunjuk. Fir’aun berkata, “Lalu bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu?” Musa menjawab, “Pengetahuan tentang itu ada pada Tuhanku, di dalam sebuah kitab, Tuhanku tidak akan salah ataupun lupa; (Q.S. Thaahaa : 49-52)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Qāla (dia berkata), yakni Fir‘aun.

Fa mar rabbukumā yā mūsā (“Lalu siapakah Rabb kalian itu, hai Musa”).

Qāla rabbunal ladzī a‘thā kulla syai-in khalaqahū (Musa berkata, “Rabb kami adalah yang telah memberi tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya), yakni yang telah memberi bentuk manusia untuk manusia, bentuk unta untuk unta, bentuk keledai untuk keledai, dan bentuk kambing untuk kambing.

Tsumma hadā (kemudian memberi petunjuk”), yakni kemudian Dia mengilhamkan keinginan makan, minum, dan jimak.

Qāla (dia berkata), yakni Fir‘aun bertanya kepada Musa a.s.

Fa mā bālul qurūnil ūlā (“Lalu bagaimanakah keadaan umat-umat terdahulu”), yakni bagaimana berita tentang umat-umat terdahulu. Menurutmu, mengapa mereka bisa binasa?

Qāla (dia menjawab), yakni Musa a.s.

‘Ilmuhā (“Pengetahuan tentang itu), yakni pengetahuan tentang kebinasaan mereka itu.

‘Iηda rabbi (ada di sisi Rabb-ku), yakni termaktub di sisi Rabb-ku.

Fī kitābin (dalam sebuah kitab), yakni di Lauh Mahfuzh.

Lā yadlillu rabbī (Rabb-ku tidak akan pernah salah), yakni tidak akan pernah keliru, dan urusan mereka tidak akan luput dari-Nya.

Wa lā yaηsā (dan tidak akan pernah lupa) terhadap urusan mereka, dan tidak akan pula mengabaikan hukuman bagi mereka.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Dia (Fir’aun) berkata, “Siapakah Tuhanmu berdua, wahai Musa?”.
  2. Musa menjawab, “Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan bentuk kejadian kepada segala sesuatu[25], kemudian memberinya petunjuk[26].

[25] Yakni Dia yang menciptakan semua makhluk dan memberikan kepada setiap makhluk ciptaan yang cocok baginya, di mana hal itu menunjukkan bagusnya ciptaan-Nya, ada yang berbadan besar dan ada yang kecil dan ada pula yang pertengahan, dan Dia memberikan pula sifatnya.

[26] Maksudnya, memberikan akal, instink (naluri) dan kodrat alamiyah untuk kelanjutan hidupnya masing-masing. Oleh karena itu, kita dapat menyaksikan semua makhluk berusaha untuk memperoleh manfaat dan terhindar dari bahaya.

  1. [27]Fir’aun berkata, “Lalu bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu[28]?”

[27] Oleh karena dalil yang disampaikan Musa adalah benar, maka untuk menolaknya Fir’aun beralih kepada masalah lain dan menyimpang dari maksud dan tujuan.

[28] Seperti kaum Nuh, kaum Hud, kaum Luth, dan kaum Shalih, di mana mereka telah mendahului kami mengingkari-Nya?

  1. Musa menjawab, “Pengetahuan tentang itu ada pada Tuhanku, di dalam sebuah kitab[29], Tuhanku tidak akan salah ataupun lupa[30];

[29] Maksudnya, Lauh Mahfuzh. Dia menghitung secara teliti amal mereka, baik atau buruk dan mencatatnya dalam Lauh Mahfuzh yang kemudian akan diberi-Nya balasan pada hari kiamat.

[30] Maksud jawaban Musa ini adalah, bahwa umat-umat terdahulu itu sudah mengerjakan yang telah mereka kerjakan dan mereka tinggal menunggu pembalasan, oleh karena itu tidak ada gunanya kamu bertanya tentang mereka wahai Fir’aun! Mereka adalah umat yang telah berlalu, balasan untuknya sesuai apa yang dia kerjakan dan dosanya akan mereka tangung. Jika dalil yang kami kemukakan dan ayat yang kami perlihatkan itu sudah membuktikan kebenaran kami dan seperti itulah kenyataannya, maka tunduklah kepada kebenaran dan tinggalkanlah kekafiran dan kezaliman serta terlalu banyak membantah dengan kebatilan. Jika engkau masih meragukannya, maka pintu untuk mengkajinya tidaklah tertutup dan jalannya terbuka, inilah maksud jawaban Musa ‘alaihis salam, wallahu a’lam. Kemudian Nabi Musa ‘alaihis salam melanjutkan dengan menyebutkan nikmat-nikmat yang diberikan Allah dan ihsan-Nya sebagaimana dijelaskan dalam ayat selanjutnya.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Berkata Firaun, “Maka siapakah Rabbmu berdua, hai Musa?”) ungkapan ini ditujukan kepada Nabi Musa, karena dialah asal pembawa risalah Allah dan yang mendapatkan pemeliharaan dari-Nya.
  2. (Musa berkata, “Rabb kami ialah yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu) yakni tiap-tiap makhluk (bentuk kejadiannya) yang membedakannya daripada makhluk yang lain (kemudian memberinya petunjuk”) sehingga mengetahui makanan, minuman dan cara mengembangkan keturunannya serta hal-hal lain yang menyangkut kehidupannya.
  3. (Berkatalah ia) yakni Firaun, (“Maka bagaimanakah) keadaan (umat-umat) yakni bangsa-bangsa (yang dahulu?”) seperti kaum Nabi Nuh, kaum Nabi Hud, kaum Nabi Luth dan kaum Nabi Saleh, tentang penyembahan mereka kepada berhala-berhala.
  4. (Ia berkata) yakni Nabi Musa, (“Pengetahuan tentang itu) pengetahuan mengenai keadaan mereka berada (di sisi Rabbku, di dalam sebuah kitab) yaitu Lauh Mahfuzh; Dia akan membalas mereka kelak di hari kiamat. (Tidak akan salah) tidak akan lenyap (dari Rabbku) segala sesuatu (dan tidak pula lupa) akan sesuatu.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Swt. menceritakan tentang Fir’aun, bahwa ia berkata kepada Musa dengan nada yang ingkar kepada Tuhan yang menciptakan segala sesuatu, Tuhan segala sesuatu dan Yang menguasai serta memiliki semuanya, Fir’aun berkata, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya:

Maka siapakah Tuhanmu berdua, hai Musa? (Thaha: 49)

Maksudnya, siapakah yang mengutusmu itu; karena sesungguhnya aku tidak mengenal-Nya. dan aku tidak mengetahui adanya tuhan bagi kalian selain aku sendiri.

Musa berkata, “Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.” (Thaha: 50)

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah Allah menciptakan bagi tiap-tiap sesuatu pasangannya masing-masing.

Ad-Dahhak telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Allah menciptakan manusia dalam bentuknya sendiri, keledai dalam bentuknya sendiri, dan kambing dalam bentuknya sendiri.

Lais ibnu Abu Sulaim telah meriwayatkan dari Mujahid, bahwa Allah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuknya masing-masing.

Ibnu Abu Nujaih telah meriwayatkan dari Mujahid, bahwa Allah menyempurnakan penciptaan segala sesuatu.

Sa’id ibnu Jubair telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian membennya petunjuk. (Thaha: 50) Yakni Allah memberikan kepada tiap-tiap makhluk bentuk yang pantas baginya, maka Dia tidak menjadikan manusia berbentuk hewan, dan  hewan ternak tidak berbentuk seperti anj ing, anj ing pun tidaklah berbentuk seperti kambing. Dan Allah memberikan kepada masing-masing apa yang diperlukannya untuk mengembangbiakkan keturunannya dan segala bentuknya untuk tujuan itu. Tiada sesuatu pun dari tiap-tiap jenis yang menyerupai lainnya dalam hal bentuk, rezeki (makanan), dan cara mengembangbiakkan keturunannya.

Sebagian ulama tafsir mengatakan bahwa Allah memberikan pada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk. Semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَى

dan yang menentukan kadar (masing-masing; dan memberi petunjuk. (Al-Ala: 3)

Yaitu telah menentukan kadar masing-masing dan memberikan petunjuk kepada makhluk-Nya untuk mengerjakannya. Dengan kata lain, Allah telah menetapkan semua amal perbuatan, ajal, dan rezekinya masing-masing, kemudian semua makhluk berjalan menurut apa yang telah digariskan-Nya; mereka tidak dapat menyimpang darinya, dan tidak ada seorang pun yang mampu menyimpang dari ketentuan tersebut. Disebutkan bahwa Tuhan kamilah yang menciptakan makhluk dan menetapkan kadar, serta menciptakan watak masing-masing sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya.

Berkata Fir’aun, “Maka bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu?” (Thaha: 51)

Menurut pendapat yang paling sahih sehubungan dengan makna ayat ini, tatkala Fir’aun mendapat berita dari Musa bahwa Tuhan yang mengutusnya adalah Tuhan yang menciptakan makhluk, memberinya rezeki dan menentukan kadar masing-masing serta memberi petunjuk, maka Fir’aun berdalihkan dengan umat-umat terdahulu. Dengan kata lain, umat-umat terdahulu yang tidak menyembah Allah. Yakni mengapa mereka jika kenyataannya demikian tidak menyembah Tuhanmu, bahkan mereka menyembah selain-Nya?

Musa berkata kepada Fir’aun, menjawab ucapannya yang demikian itu, bahwa sekalipun mereka tidak menyembah Allah, sesungguhnya amal perbuatan mereka dicatat di sisi Allah, dan kelak Allah akan memberikan balasannya kepada mereka. Catatan yang dimaksud ialah Lauh Mahfuz dan catatan usia segala sesuatu.

Tuhan kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa. (Thaha: 52)

Yakni tiada sesuatu pun yang menyimpang dari ketetapan-Nya, dan tiada sesuatu pun yang luput dari pengetahuan-Nya, baik yang kecil maupun yang besar, dan Dia tidak pernah lupa kepada sesuatu pun Dengan kata lain, Musa menggambarkan tentang pengetahuan Allah, bahwa sesungguhnya pengetahuan Allah meliputi segala sesuatu, dan bahwa Dia tidak pernah lupa terhadap sesuatu pun, Mahasuci dan Mahatinggi Allah. Sesungguhnya pengetahuan makhluk itu masih ada kekurangannya; dua hal yang terpenting di antaranya yaitu pengetahuannya terhadap sesuatu tidak meliputi, dan yang lain ialah lupa sesudah mengetahuinya. Maka Allah menyucikan diri-Nya dari kekurangan ini.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

«««« juz 15 ««««      «««« juz 16 ««««      «««« juz 17 ««««