Memperoleh Derajat yang Tinggi

Tafsir Al-Qur’an: Surah Thaahaa ayat 75-76

0
102

Tafsir Al-Qur’an: Surah Thaahaa ayat 75-76. Para pesihir Fir’aun menjadi orang-orang yang beriman setelah melihat kebenaran, dan teguhnya mereka di atas keimanan meskipun disakiti. Barang siapa datang dalam keadaan beriman, maka ia memperoleh derajat yang tinggi. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَمَنْ يَأْتِهِ مُؤْمِنًا قَدْ عَمِلَ الصَّالِحَاتِ فَأُولَئِكَ لَهُمُ الدَّرَجَاتُ الْعُلَى (٧٥) جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ جَزَاءُ مَنْ تَزَكَّى (٧٦)

Tetapi barang siapa datang kepada-Nya dalam keadaan beriman, dan telah beramal saleh, maka mereka itulah orang yang memperoleh derajat yang tinggi (mulia), (yaitu) surga-surga ‘adn, yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah balasan bagi orang yang menyucikan diri (dari kekafiran dan kemaksiatan). (Q.S. Thaahaa : 75-76)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa may ya’tihī (dan barangsiapa menghadap Rabb-nya) pada hari kiamat.

Mu’minan (sebagai seorang mukmin) yang benar dalam keimanannya.

Qad ‘amilash shālihāti (yang sungguh-sungguh telah mengerjakan amal-amal saleh), yakni berbagai kebajikan yang berhubungan dengan Rabb-nya.

Fa ulā-ika lahumud darajātul ‘ulā (maka mereka itulah orang-orang yang meraih derajat-derajat tinggi), yakni derajat yang luhur di dalam surga-surga.

Lalu Allah Ta‘ala menjelaskan surga-surga yang diperuntukkan bagi mereka. Dia berfirman:

Jannātu ‘adnin (yaitu surga-surga ‘Adn) yang merupakan Dārur rahmān yang Dia ciptakan dengan tangan dan kekuatan-Nya dan terletak di tengah-tengah surga. Dan di sekitar surga-surga itu.

Tajrī miη tahtihā (yang mengalir dari bawahnya), yakni dari bawah pepohonan dan tempat-tempat tinggalnya.

Al-anhāru (sungai-sungai), yaitu sungai madu, sungai susu, sungai air, dan sungai khamar.

Khālidīnā fīhā (mereka kekal di dalamnya), yakni mereka langgeng di dalam surga itu, tidak akan pernah mati dan tidak akan pernah dikeluarkan dari dalamnya.

Wa dzālika (dan itulah), yakni surga-surga dan kelanggengan itulah.

Jazā-u maη tazakkā (balasan bagi orang-orang yang suci), yakni pahala bagi orang-orang yang bertauhid dan berbuat baik.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Tetapi barang siapa datang kepada-Nya dalam keadaan beriman, dan telah beramal saleh[36], maka mereka itulah orang yang memperoleh derajat yang tinggi (mulia)[37],

[36] Yang wajib maupun yang sunat.

[37] Mereka berada di tempat-tempat yang tinggi, ruangan-ruangan yang indah, kenikmatan yang kekal, dan dalam kebahagiaan.

  1. (yaitu) surga-surga ‘adn, yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah balasan bagi orang yang menyucikan diri (dari kekafiran dan kemaksiatan)[38].

[38] Baik yang tidak melakukannya maupun yang pernah melakukannya lalu bertobat. Tidak hanya itu, ia pun membina dirinya dengan iman dan amal saleh. Yang demikian, karena tazkiyah (penyucian) memiliki dua makna: pertama, pembersihan dan penghilangan kotoran. Kedua, bertambahnya kebaikan.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan barang siapa yang datang kepada Rabbnya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh telah beramal saleh) mengerjakan amal-amal fardu dan amal-amal sunah (maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh kedudukan-kedudukan yang tinggi) lafal Al ‘Ulaa adalah bentuk jamak daripada lafal Al ‘Ulyaa muannats daripada lafal Al A’laa artinya yang paling tinggi.
  2. (Yaitu surga Adn) sebagai tempat tinggalnya, lafal Jannaatu ‘Adnin merupakan penjelasan daripada kedudukan tadi (yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Dan itu adalah balasan bagi orang yang bersih) daripada dosa-dosa.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Swt.:

Dan barang siapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh telah beramal saleh. (Thaha: 75)

Yakni barang siapa menghadap kepada Tuhannya kelak di hari kiamat dalam keadaan iman hatinya dan apa yang ada di dalam hatinya dibenarkan oleh perbuatan dan ucapannya.

maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia). (Thaha: 75).

Yang dimaksud dengan tempat-tempat yang mulia ialah surga yang mempunyai tangga yang tinggi-tinggi dan kamar-kamar yang tenang serta rumah-rumah yang baik.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا عَفَّانُ، أَنْبَأَنَا هَمَّام، حَدَّثَنَا زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ، عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الْجَنَّةُ مِائَةُ دَرَجَةٍ، مَا بَيْنَ كُلِّ دَرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، وَالْفِرْدَوْسُ أَعْلَاهَا دَرَجَةً وَمِنْهَا تَخْرُجُ الْأَنْهَارُ الْأَرْبَعَةُ، وَالْعَرْشُ فَوْقَهَا، فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kapada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Hammam, telah menceritakan kepada kami Zaid ibnu Aslam, dari Ata ibnu Yasar, dari Ubadah ibnus Samit, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda: Surga itu memiliki seratus tingkatan, jarak di antara dua tingkatan (satu sama lainnya) sama dengan jarak antara langit dan bumi. Firdaus adalah tingkatan surga yang paling tinggi, darinyalah keluar sungai-sungai surga yang empat. Di atas Firdaus adalah ‘Arasy; maka apabila kalian meminta kepada Allah, mintalah kepada-Nya surga Firdaus.

Imam Turmuzi meriwayatkannya melalui hadis Yazid ibnu Harun, dari Hammam dengan sanad yang sama.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Abdur Rahman Ad-Dimasyqi, telah menceritakan kepada kami Khalid ibnu Yazid ibnu Abu Malik, dari ayahnya yang mengatakan bahwa menurut suatu pendapat, surga itu mempunyai seratus tingkatan, dan setiap tingkatan memiliki seratus tingkatan lagi; jarak antara dua tingkatan sama dengan jarak antara langit dan bumi, padanya terdapat yaqut dan berbagai macam perhiasan. Pada tiap-tiap tingkatan terdapat amirnya sendiri yang dihormati dan disegani oleh mereka (penduduk surga lainnya).

Di dalam kitab Sahihain disebutkan:

أَنَّ أَهْلَ عِلِّيِّينَ لَيَرَوْنَ مَنْ فَوْقَهُمْ كَمَا تَرَوْنَ الْكَوْكَبَ الْغَابِرَ فِي أُفُقِ السَّمَاءِ، لِتَفَاضُلِ مَا بَيْنَهُمْ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، تِلْكَ مَنَازِلُ الْأَنْبِيَاءِ؟ قَالَ: بَلَى وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، رِجَالٌ آمَنُوا بِاللَّهِ وصدقوا المرسلين

Sesungguhnya ahli surga yang berada di tingkatan yang paling tinggi benar-benar dapat melihat orang-orang yang berada di atas mereka, sebagaimana kalian melihat bintang-bintang yang bertaburan di cakrawala langit, karena adanya kelebihan keutamaan di antara mereka. Para sahabat bertanya, “Wahai  Rasulullah, itu adalah kedudukan para nabi.” Rasulullah bersabda, “Bahkan demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman-Nya, (juga) orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan para rasul.”

Di dalam kitab Sunan disebutkan bahwa:

وَإِنَّ أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ لَمِنْهُمْ وَأَنْعَمَا

sesungguhnya Abu Bakar dan Umar benar-benar termasuk di antara mereka, keduanya beroleh kenikmatan.

Firman Allah Swt.:

(yaitu) surga ‘Adn. (Thaha: 76)

Yakni sebagai tempat tinggalnya. Lafaz ayat ini berkedudukan sebagai badal dari ad-darajatul ‘ulla.

yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. (Thaha: 76)

Artinya, mereka tinggal di dalam surga untuk selama-lamanya.

Dan itu adalah balasan bagi orang yang bersih (dari kekafiran dan kemaksiatan). (Thaha: 76)

Yaitu membersihkan dirinya dari kotoran, najis, dan kemusyrikan serta menyembah Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan mengikuti para rasul melalui apa yang disampaikan oleh mereka berupa kebaikan dan kewajiban.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

«««« juz 15 ««««      «««« juz 16 ««««      «««« juz 17 ««««