Betapa Celaka

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Anbiya ayat 11-15

0
163

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Anbiya ayat 11-15. Peringatan dan ancaman serta menyebutkan kebinasaan orang-orang terdahulu dan betapa celaka mereka. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَكَمْ قَصَمْنَا مِنْ قَرْيَةٍ كَانَتْ ظَالِمَةً وَأَنْشَأْنَا بَعْدَهَا قَوْمًا آخَرِينَ (١١) فَلَمَّا أَحَسُّوا بَأْسَنَا إِذَا هُمْ مِنْهَا يَرْكُضُونَ (١٢) لا تَرْكُضُوا وَارْجِعُوا إِلَى مَا أُتْرِفْتُمْ فِيهِ وَمَسَاكِنِكُمْ لَعَلَّكُمْ تُسْأَلُونَ (١٣) قَالُوا يَا وَيْلَنَا إِنَّا كُنَّا ظَالِمِينَ (١٤) فَمَا زَالَتْ تِلْكَ دَعْوَاهُمْ حَتَّى جَعَلْنَاهُمْ حَصِيدًا خَامِدِينَ (١٥)

Dan berapa banyak (penduduk) negeri yang zalim yang teIah Kami binasakan, dan Kami jadikan generasi yang lain setelah mereka itu (sebagai penggantinya). Maka ketika mereka merasakan azab Kami, tiba-tiba mereka melarikan diri dari (negeri)nya itu. Janganlah kamu lari tergesa-gesa; kembalilah kamu kepada kesenangan hidupmu dan tempat-tempat kediamanmu (yang baik), agar kamu ditanya. Mereka berkata, “Betapa celaka kami, sungguh, kami orang-orang yang zaIim.” Maka demikianlah keluhan mereka berkepanjangan, sehingga mereka Kami jadikan sebagai tanaman yang telah dituai, yang tidak dapat hidup lagi. (Q.S. Al-Anbiya’ : 11-15)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa kam qashamnā (dan berapa banyak Kami telah membinasakan), yakni telah menghancurkan.

Ming qaryatin (negeri), yakni penduduk negeri.

Kānat zhālimatun (yang zalim), yakni yang penduduknya kafir dan musyrik.

Wa aηsya’nā (dan Kami menjadikan), yakni Kami menciptakan.

Ba‘dahā (sesudahnya), yakni sesudah kebinasaan mereka.

Qauman ākharīn (kaum yang lain), yang kemudian mendiami negeri-negeri mereka.

Fa lammā ahassū ba’sanā (maka tatkala mereka merasakan siksaan Kami), yakni tatkala mereka melihat siksa Kami yang akan membinasakan mereka.

Idzā hum minhā (tiba-tiba mereka darinya), yakni dari siksaan Kami itu.

Yarkudlūn ([berusaha] melarikan diri), yakni berusaha menghindarinya dan kabur. Para malaikat berkata kepada mereka:

Lā tarkudlū (janganlah kalian melarikan diri), yakni janganlah kalian menghindar dan melarikan diri.

War ji‘ū ilā mā utriftum fīhi (dan kembalilah kepada kemewahan yang telah kalian rasakan itu), yakni kepada kenikmatan yang telah kalian rasakan.

Wa masākinikum (dan ke tempat-tempat tinggal kalian), yakni ke rumah-rumah kalian.

La‘allakum tus-alūn (supaya kalian ditanyai), yakni supaya kalian ditanya tentang keimanan. Menurut yang lain, supaya kalian ditanya tentang pembunuhan nabi.

Qālū (mereka berkata) ketika pembunuhan dan azab itu.

Yā wailanā innā kunnā zhālimīn (“Duhai celakalah kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim”) karena telah membunuh nabi kami.

Fa mā zālat tilka (maka tetaplah demikian), yakni kecelakaan itu.

Da‘wāhum (keluhan mereka), yakni ucapan mereka.

Hattā ja‘alnāhum hashīdan (hingga Kami menjadikan mereka sebagai tanaman yang dituai), yakni seperti tanaman yang dibabat pedang.

Khāmidīn (mati), yakni mati dan tidak bergerak lagi .

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. [1]Dan berapa banyak (penduduk) negeri yang zalim[2] yang teIah Kami binasakan, dan Kami jadikan generasi yang lain setelah mereka itu (sebagai penggantinya).

[1] Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman memperingatkan orang-orang yang zalim ketika itu yang mendustakan Rasulullah ﷺ, dengan perbuatan-Nya terhadap umat-umat terdahulu yang mendustakan rasul.

[2] Yakni kafir.

  1. Maka ketika mereka merasakan azab Kami[3], tiba-tiba mereka melarikan diri dari (negeri)nya itu.

[3] Yakni merasa akan dibinasakan dan sudah tidak mungkin lagi kembali atau bertobat.

  1. Janganlah kamu lari tergesa-gesa[4]; kembalilah kamu kepada kesenangan hidupmu dan tempat-tempat kediamanmu (yang baik), agar kamu ditanya[5].

[4] Yani tidak ada faedahnya kamu melarikan diri dan menyesal.

[5] Maksudnya, orang yang zalim itu di waktu merasakan azab Allah melarikan diri dalam keadaan menyesal, lalu orang-orang yang beriman (ada pula yang berpendapat, bahwa malaikat) mengatakan kepada mereka dengan cemooh agar mereka tetap di tempat semula dengan menikmati kelezatan-kelezatan hidup sebagaimana biasa untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang akan dihadapkan kepada mereka tentang sikap mereka terhadap nikmat-nikmat itu.

  1. Mereka berkata, “Betapa celaka kami, sungguh, kami orang-orang yang zaIim[6].”

[6] Dengan melakukan kekafiran. Allah Maha Adil, di mana Dia tidaklah membinasakan suatu negeri kecuali karena penduduknya berlaku zalim.

  1. Maka demikianlah keluhan mereka berkepanjangan[7], sehingga mereka Kami jadikan sebagai tanaman yang telah dituai[8], yang tidak dapat hidup lagi[9].

[7] Mereka ulang terus kata-kata itu.

[8] Mereka dibunuh dengan pedang sebagaimana tanaman dituai.

[9] Oleh karena itu, berhati-hatilah dari tetap terus mendustakan rasul yang paling mulia (Nabi Muhammad ﷺ), sehingga nantinya Dia akan menimpakan azab kepada kamu sebagaimana yang menimpa umat-umat sebelum kamu.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan berapa banyaknya Kami telah binasakan) kami hancurkan (beberapa negeri) yakni penduduk-penduduknya (yang penduduknya zalim) berbuat kekafiran (dan Kami adakan sesudah mereka itu kaum yang lain).
  2. (Maka tatkala mereka merasakan azab Kami) penduduk negeri-negeri tersebut merasakan kebinasaannya telah dekat (tiba-tiba mereka lari tergesa-gesa daripadanya) mereka berupaya melarikan diri secepatnya.
  3. Kemudian berkatalah para Malaikat pembawa azab kepada mereka dengan nada mengejek, (“Janganlah kalian lari tergesa-gesa, kembalilah kalian kepada kemewahan yang telah kalian rasakan) kepada nikmat yang telah diberikan kepada kalian (dan kepada tempat-tempat kediaman kalian, supaya kalian ditanya”) tentang sesuatu dari keduniaan milik kalian, sebagaimana biasanya.
  4. (Mereka berkata, “Aduhai) huruf Ya di sini menunjukkan makna penyesalan (celakalah kami) binasalah kami (sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim”) disebabkan kami kafir.
  5. (Maka tetaplah demikian) kalimat-kalimat itu sebagai (keluhan mereka) yang mereka serukan dan mereka ulang-ulang (sehingga Kami jadikan mereka sebagai tanaman yang telah dituai) bagaikan tanaman yang dipanen dengan sabit; seumpamanya mereka dibunuh dengan memakai pedang (yang tidak dapat hidup lagi) mereka mati bagaikan padamnya nyala api bila dimatikan.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Adapun firman Allah Swt:

Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri-negeri yang zalim yang telah Kami binasakan. (Al-Anbiya: 11)

Lafaz “kam” mengandung makna banyak. Seperti makna yang terdapat di dalam ayat lain, yaitu:

وَكَمْ أَهْلَكْنَا مِنَ الْقُرُونِ مِنْ بَعْدِ نُوحٍ

Dan berapa banyaknya kaum sesudah Nuh telah Kami binasakan. (Al-Isra: 17)

فَكَأَيِّنْ مِنْ قَرْيَةٍ أَهْلَكْنَاهَا وَهِيَ ظَالِمَةٌ فَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا وَبِئْرٍ مُعَطَّلَةٍ وَقَصْرٍ مَشِيدٍ

Berapa banyak kota yang Kami telah membinasakannya, yang penduduknya dalam keadaan zalim, maka (tembok-tembok) kota itu roboh menutupi atap-atapnya. (Al-Hajj: 45), hingga akhir ayat.

Firman Allah Swt.:

dan Kami adakan sesudah mereka itu kaum yang lain. (Al-Anbiya: 11)

Artinya, Kami gantikan mereka dengan kaum yang lain sesudah mereka binasa.

Maka tatkala mereka merasakan azab Kami. (Al-Anbiya: 12)

Yakni mereka merasa yakin bahwa azab bakal menimpa mereka sebagai suatu kepastian sesuai dengan apa yang diancamkan oleh nabi mereka.

tiba-tiba mereka melarikan diri dari negerinya. (Al-Anbiya: 12)

Maksudnya, mereka melarikan diri dari azab itu.

Janganlah kamu lari tergesa-gesa, kembalilah kamu kepada nikmat yang telah kamu rasakan dan kepada tempat-tempat kediaman kalian (yang baik). (Al-Anbiya: 13)

Ungkapan ini mengandung nada memperolok-olokkan mereka. Yakni dikatakan kepada mereka dengan nada meremehkan, “Janganlah kalian lari terbirit-birit karena turunnya azab, kembalilah kalian kepada kenikmatan yang kalian bergelimang di dalamnya dan kepada kehidupan serta tempat-tempat tinggal kalian yang baik-baik itu.” Menurut Qatadah, ungkapan ini mengandung nada ejekan terhadap mereka.

supaya kalian ditanya. (Al-Anbiya: 13)

Yaitu dimintai pertanggungjawaban tentang perbuatan kalian, apakah kalian telah mensyukuri nikmat-nikmat yang kalian peroleh?

Mereka berkata, “Aduhai, celaka kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim.”(Al-Anbiya: 14)

Mereka mengakui dosa-dosa mereka (saat azab akan menimpa mereka), tetapi nasi sudah menjadi bubur, hal itu tiada bermanfaat bagi mereka.

Maka tetaplah demikian keluhan mereka, sehingga Kami jadikan mereka sebagai tanaman yang telah dituai, yang tidak dapat hidup lagi. (Al-Anbiya: 15)

Yakni alasan itulah yang terus menerus mereka ucapkan hingga Kami tuai mereka sehabis-habisnya, dan binasalah mereka tanpa bisa bergerak dan bersuara lagi.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 .

«««« juz 16 ««««      «««« juz 17 ««««      «««« juz 18 ««««