Turunnya Kitab Taurat

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Anbiya ayat 48-50

0
142

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Anbiya ayat 48-50. Kisah Nabi Musa dan Nabi Harun ‘alaihimas salam dan turunnya kitab Taurat. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى وَهَارُونَ الْفُرْقَانَ وَضِيَاءً وَذِكْرًا لِلْمُتَّقِينَ (٤٨) الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ وَهُمْ مِنَ السَّاعَةِ مُشْفِقُونَ (٤٩) وَهَذَا ذِكْرٌ مُبَارَكٌ أَنْزَلْنَاهُ أَفَأَنْتُمْ لَهُ مُنْكِرُونَ (٥٠)

Dan sungguh, Kami telah memberikan kepada Musa dan Harun, furqan (kitab Taurat) dan penerangan  serta pelajaran  bagi orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang takut (azab) Tuhannya, sekalipun mereka tidak melihat-Nya, dan mereka merasa takut akan (peristiwa) hari kiamat. Dan ini (Al-Qur’an) adalah suatu peringatan yang mempunyai berkah yang telah Kami turunkan. Maka apakah kamu mengingkarinya? (Q.S. Al-Anbiya : 48-40)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa la qad ātainā (dan sungguh telah Kami berikan), yakni telah menganugerahkan.

Mūsā wa hārūnal furqāna (kepada Musa dan Harun pembeda), yakni yang menerangkan maksud hal-hal yang masih samar. Ada yang berpendapat, kemenangan dan kekuasaan atas Fir‘aun.

Wa dliyā-an (dan penerangan), yakni penjelasan dari kesesatan.

Wa dzikran (serta pengajaran), yakni nasihat.

Lil muttaqīn (bagi orang-orang yang bertakwa), yakni bagi orang-orang yang menjauhi kekafiran, kemusyrikan, dan perbuatan-perbuatan buruk.

Alladzīna yakh-syauna rabbahum ([yaitu] orang-orang yang takut kepada Rabb mereka), yakni orang-orang yang beramal demi Rabb mereka.

Bil ghaibi (sedang mereka tidak melihat-Nya), yakni walaupun mereka tidak melihat Dia.

Wa hum minas sā‘ati musyfiqūn (dan mereka merasa takut akan saat kiamat), yakni akan adanya azab pada hari kiamat.

Wa hādzā (dan ini), yakni Al-Qur’an ini.

Dzikrum mubārakun (adalah suatu peringatan yang diberkati), yakni yang mengandung rahmat dan ampunan bagi orang-orang yang beriman kepadanya.

Aηzalnāhu (yang telah Kami turunkan), yakni Kami telah menurunkan Jibril untuk membawanya.

A fa aηtum (maka mengapakah kalian), hai penduduk Mekah.

Lahū mungkirūn (mengingkarinya), yakni menyangkalnya?

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. [1]Dan sungguh, Kami telah memberikan kepada Musa dan Harun, furqan (kitab Taurat)[2] dan penerangan[3] serta pelajaran[4] bagi orang-orang yang bertakwa[5],

[1] Syaikh As Sa’diy berkata, “Sering sekali Allah Subhaanahu wa Ta’aala menggabung dua kitab yang agung ini, di mana tidak pernah datang ke dunia kitab yang lebih utama daripada keduanya, lebih agung namanya dan lebih berkah, serta lebih agung petunjuk dan penjelasannya, yaitu Taurat dan Al-Qur’an. Allah memberitahukan, bahwa Dia telah memberikan kepada Musa pada asalnya, dan Harun mengikuti, yaitu al Furqan yang membedakan antara yang hak dengan yang batil, petunjuk dan kesesatan…dst.”

[2] Furqan artinya yang membedakan antara yang hak dengan yang batil, dan antara yang halal dengan yang haram.

[3] Yakni cahaya yang dipakai petunjuk untuk menerangi jalan hidup, dan dengannya diketahui hukum-hukum, dibedakan antara yang halal dan yang haram, serta sebagai penerang di gelapnya kesesatan.

[4] Yakni nasehat. Dengannya mereka dapat mengingat hal yang bermanfaat bagi mereka dan hal yang membahayakan, dan dengannya mereka dapat mengingat kebaikan dan keburukan.

[5] Disebutkan secara khusus orang-orang yang bertakwa, karena merekalah yang dapat mengambil manfaat daripadanya, baik sebagai ilmu maupun amal. Pada ayat selanjutnya diterangkan tentang siapakah orang-orang yang bertakwa.

  1. (yaitu) orang-orang yang takut (azab) Tuhannya, sekalipun mereka tidak melihat-Nya[6], dan mereka merasa takut akan (peristiwa) hari kiamat.

[6] Bisa juga diartikan, di saat manusia tidak melihatnya atau di saat sepi. Jika di saat sepi saja mereka merasa takut kepada azab Tuhan mereka, bagaimana pada saat berada di hadapan manusia? Tentu lebih takut lagi. Oleh karena itu, mereka menjaga diri dari apa yang diharamkan dan mengerjakan apa yang diwajibkan.

  1. Dan ini (Al-Qur’an) adalah suatu peringatan[7] yang mempunyai berkah[8] yang telah Kami turunkan. Maka apakah kamu mengingkarinya?

[7] Dengan Al-Qur’an, teringatlah semua tuntutan, seperti dapat mengenal Allah dengan nama-nama, sifat-Nya dan perbuatan-Nya, mereka dapat pula mengenal sifat-sifat para rasul, wali, dan keadaan mereka. Demikian pula, mereka dapat mengenal hukum-hukum syara’ berupa ibadah, mu’amalah, dsb. Mengenal pula hukum-hukum tentang pembalasan, surga, dan neraka. Demikian pula, dengan Al-Qur’an manusia dapat mengenal berbagai masalah dan dalil-dalil yang ‘aqli (akal) maupun naqli (wahyu). Allah menamai Al-Qur’an dengan dzikr, yang artinya ingat, karena ia mengingatkan apa yang Allah tanam dalam akal dan fitrah manusia berupa membenarkan berita-berita yang benar, perintah mengerjakan yang baik dan larangan mengerjakan yang buruk.

[8] Yakni banyak kebaikannya, berkembang lagi bertambah. Tidak ada sesuatu pun yang lebih besar berkahnya daripada Al-Qur’an ini. Hal itu, karena setiap kebaikan dan nikmat, maka disebabkan olehnya dan pengaruh dari mengamalkannya. Oleh karena Al-Qur’an merupakan peringatan yang mempunyai berkah, maka wajib diterima dan diikuti serta bersyukur kepada Allah atas nikmat ini, dijunjung, dan digali keberkahannya dengan mempelajari lafaz-lafaz dan maknanya. Adapun menyikapinya dengan berpaling atau bahkan mengingkari serta tidak beriman kepadanya, maka yang demikian termasuk kekafiran yang paling besar, kebodohan dan kezaliman yang paling besar. Oleh karena itulah, Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman, “Maka apakah kamu mengingkarinya?”

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepada Musa dan Harun kitab Taurat) kitab yang memisahkan antara perkara yang hak dan perkara yang batil dan antara perkara yang halal dan perkara yang haram (dan penerangan) sebagai penerang (serta pengajaran) sebagai pengajaran (bagi semua orang yang bertakwa).
  2. (Yaitu orang-orang yang takut kepada Rabb mereka sekalipun mereka menyendiri) jauh dari khalayak ramai, (dan mereka terhadap hari kiamat) yakni kengerian-kengeriannya (merasa takut) mereka merasa khawatir.
  3. (Dan ini) yakni Alquran ini (adalah suatu kitab peringatan yang mempunyai berkah yang telah Kami turunkan. Maka mengapa kalian mengingkarinya?) Istifham atau kata tanya di sini mengandung pengertian mencemoohkan.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Dalam pembahasan yang terdahulu telah kami peringatkan bahwa Allah Swt. sering membarengkan sebutan Musa dengan Muhammad ﷺ beserta kitabnya masing-masing. Maka dalam ayat ini pun disebutkan oleh firman-Nya:

Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa dan Harun kitab Taurat. (Al-Anbiya: 48)

Mujahid mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Al-Furqdn dalam ayat ini ialah Kitab.

Abu Saleh mengatakan, makna yang dimaksud ialah kitab Taurat.

Menurut Qatadah yaitu kitab Taurat yang di dalamnya diterangkan halal dan haram, serta dibedakan antara perkara yang hak dan perkara yang batil.

Ibnu Zaid mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah pertolongan.

Kesimpulan dari semua pendapat mengenai hal ini ialah bahwa semua Kitab samawi di dalamnya terkandung pemisah antara perkara yang hak dan perkara yang batil, jalan hidayah dan jalan sesat, kekeliruan dan kebenaran, halal dan haram. Sebagaimana kitab samawi pun mengandung cahaya penerang bagi hati, hidayah, membangkitkan rasa takut, dan berserah diri kepada Allah. Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:

kitab Taurat dan penerangan serta pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (Al-Anbiya: 48)

Yakni sebagai peringatan dan pengajaran buat mereka. Kemudian Allah menyifati mereka yang bertakwa melalui firman-Nya, yaitu:

orang-orang yang takut akan (azab) Tuhan mereka, sedangkan mereka tidak melihat-Nya. (Al-Anbiya: 49)

Sama halnya dengan firman Allah Swt. yang mengatakan:

مَنْ خَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُنِيبٍ

(Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, sedangkan Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertobat. (Qaf: 33)

إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ

Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya Yang tidak tampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar. (Al-Mulk: 12)

Adapun firman Allah Swt.:

dan mereka merasa takut akan (tibanya) hari kiamat. (Al-Anbiya: 49)

Maksudnya, takut dan gentar terhadapnya.

Firman Allah Swt.:

Dan Al-Qur’an ini adalah suatu kitab (peringatan) yang mempunyai berkah yang telah Kami turunkan. (Al-Anbiya: 50)

Yaitu Al-Qur’an yang tidak datang kepadanya kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Mahabijaksana lagi Maha Terpuji.

Maka mengapakah kalian mengingkarinya? (Al-Anbiya: 50)

Yakni apakah kalian mengingkari kebenaran Al-Qur’an, padahal Al-Qur’an begitu jelas dan gamblang?

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 .

«««« juz 16 ««««      «««« juz 17 ««««      «««« juz 18 ««««