Allah Lenyapkan Penyakit yang Ada Padanya

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Anbiya’ ayat 84

0
152

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Anbiya’ ayat 84. Ujian Nabi Ayyub ‘alaihis salam dan Allah lenyapkan penyakit yang ada padanya. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَى لِلْعَابِدِينَ (٨٤)

Maka Kami kabulkan (doa)nya, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan (Kami lipat gandakan jumlah mereka) sebagai suatu rahmat dari Kami  dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Kami. (Q.S. Al-Anbiya’ : 84)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Fastajabnā lahū (maka Kami pun mengabulkannya), yakni mengabulkan doanya.

Fa kasyafnā (lalu Kami menghilangkan), yakni melenyapkan.

Mā bihī miη dlurrin (mudarat yang ada padanya), yakni kesulitan (penyakit) yang ia derita.

Wa ātaināhu (dan Kami kembalikan kepadanya), yakni berikan kepadanya.

Ahlahū (keluarganya) di dalam surga, yakni keluarganya yang telah mati di dunia.

Wa mitslahum ma‘ahum (ditambah lagi yang seperti mereka), yakni ia dikaruniai anak ketika di dunia, sejumlah anaknya yang telah meninggal dunia.

Rahmatan (sebagai rahmat), yakni sebagai nikmat.

Min ‘iηdinā wa dzikra lil ‘ābidīn (dari sisi Kami dan peringatan bagi orang-orang yang beribadah kepada Allah), yakni sebagai nasihat bagi kaum Mukminin.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Maka Kami kabulkan (doa)nya, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya[26], dan (Kami lipat gandakan jumlah mereka) sebagai suatu rahmat dari Kami[27] dan untuk menjadi peringatan[28] bagi semua yang menyembah Kami[29].

[26] Menurut Ibnu Abbas adalah dengan dihidupkan kembali dan dikembalikan hartanya kepadanya. Menurut Wahab bin Munabbih, “Allah mewahyukan kepada Ayyub (yang isinya), “Aku telah mengembalikan keluarga dan hartamu kepadamu dan melipatgandakan jumlahnya, maka mandilah dengan air ini, karena di sana terdapat penyembuh bagimu, berkurbanlah untuk sahabat-sahabatmu dan mintakanlah ampunan untuk mereka, karena mereka telah bermaksiat kepada-Ku dalam masalah kamu.”

Rasulullah ﷺ bersabda:

بَيْنَا أَيُّوبُ يَغْتَسِلُ عُرْيَاناً ،فَخَرَّ عَلَيْهِ جَرَادٌ مِنْ ذَهَبٍ ، فَجَعَلَ أَيُّوبُ يَحْتَثِى فِى ثَوْبِهِ ، فَنَادَاهُ رَبُّهُ : يَا أَيُّوبُ ، أَلَمْ أَكُنْ أَغْنَيْتُكَ عَمَّا تَرَى ؟ قَالَ : بَلَى وَعِزَّتِكَ وَلَكِنْ لاَ غِنَى بِى عَنْ بَرَكَتِكَ

“Ketika Ayyub sedang mandi dalam keadaan telanjang, tiba-tiba ada seekor belalang dari emas jatuh, lalu Ayyub mengeruknya ke dalam bajunya, kemudian Tuhannya memanggilnya, “Wahai Ayyub, bukankah Aku telah mencukupkan kamu daripada apa yang kamu lihat?” Ia menjawab, “Benar, demi keperkasaan-Mu. Akan tetapi, aku tetap merasa butuh dengan keberkahan-Mu.” (HR. Bukhari)

Menurut Mujahid, “Dikatakan kepada Ayyub, “Wahai Ayyub, sesungguhnya keluargamu di surga. Jika engkau mau, kami dapat mendatangkan mereka kepadamu, dan jika engkau mau, kami biarkan mereka di surga dan kami menggantikan untukmu yang serupa dengan mereka.” Ayyub menjawab, “Tidak (perlu engkau bawa kepadaku), aku biarkan mereka di surga.” Maka keluarganya yang dahulu dibiarkan di surga, dan digantikan untuknya yang serupa dengan mereka di dunia.”

[27] Yakni karena dia bersabar dan ridha, maka Allah membalasnya dengan pahala yang disegerakan sebelum pahala akhirat.

[28] Yakni pelajaran dan teladan.

[29] Agar mereka tetap bersabar sehingga memperoleh pahala.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Maka Kami pun memperkenankan seruannya) doanya (lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya) yakni semua anak-anaknya baik yang laki-laki maupun yang perempuan, dengan cara menghidupkan mereka kembali. Jumlah anaknya ada tiga atau tujuh orang (dan Kami lipat gandakan bilangan mereka) bilangan anak-anaknya yang dilahirkan dari istrinya dan istrinya pun dimudakan-Nya. Nabi Ayub mempunyai dua buah lumbung; yang satu untuk tempat gandum dan yang satu lagi untuk tempat jewawut. Kemudian Allah mengirimkan dua kelompok awan; yang satu menurunkan hujan emas pada lumbung tempat gandum dan yang satunya lagi menurunkan hujan perak pada lumbung tempat jewawut, sehingga kedua lumbung itu penuh dengan emas dan perak (sebagai suatu rahmat) lafal Rahmatan ini menjadi Maf’ul Lah (dari sisi Kami) lafal Min ‘Indinaa ini berkedudukan menjadi kata sifat (dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah) supaya mereka bersabar, yang karenanya mereka akan mendapatkan pahala.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Swt.:

dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka. (Al-Anbiya: 84)

Telah disebutkan riwayat dari Ibnu Abbas yang menyebutkan bahwa Allah berfirman (kepada para malaikat-Nya), “Kembalikanlah kepadanya semua miliknya dalam keadaan utuh.”

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Al-Aufi, dari Ibnu Abbas. Telah diriwayatkan pula dari Ibnu Mas’ud, juga dari Mujahid. Hal yang sama telah dikatakan oleh Al-Hasan dan Qatadah.

Sebagian orang mengatakan bahwa istri Ayub bernama Rahmah. Jika pendapat ini bersumber dari konteks ayat, sesungguhnya pendapat ini jauh dari kebenaran. Jika bersumber dari berita Ahli Kitab dan memang terbukti berasal dari mereka, maka termasuk ke dalam Bab “Tidak Boleh Dipercayai dan Tidak Boleh pula Didustakan.” Akan tetapi, Ibnu Asakir telah menyebutnya di dalam kitab Tarikh-nya dengan sebutan Rahmatullah.

Ibnu Asakir mengatakan bahwa menurut suatu pendapat, nama istri Ayub ialah Layya binti Minsya ibnu Yusuf ibnu Ya’qub ibnu Ishaq ibnu Ibrahim. Ibnu Asakir mengatakan pula bahwa menurut pendapat lainnya, nama istri Ayub ialah Layya binti Ya’qub a.s, ia hidup bersamanya di negeri Sanyah.

Mujahid mengatakan bahwa dikatakan kepada Ayub, “Hai Ayub, sesungguhnya keluargamu Kami masukkan ke dalam surga. Jika kamu suka, Kami dapat mendatangkan mereka kepadamu. Dan jika kamu menghendaki, Kami dapat membiarkan mereka di dalam surga, lalu menggantikan buatmu orang-orang sejumlah mereka menjadi keluargamu.” Ayub menjawab, “Tidak, biarkanlah mereka di dalam surga.”Maka mereka dibiarkan di dalam surga dan diberikan kepada Ayub orang-orang sejumlah mereka di dunia sebagai keluarganya.

Hammad ibnu Zaid telah meriwayatkan dari Abu Imran Al-Juni, dari Nauf Al-Bakkali yang mengatakan bahwa diberikan kepada Ayub pahala kesabaran karena ditinggal mereka kelak di akhirat, dan diberikan kepadanya keluarga baru yang bilangannya sama dengan mereka di dunia. Hammad ibnu Zaid mengatakan bahwa ia menceritakan kisah ini kepada Mutarrif. Maka Mutarrif menjawab,”Saya belum pernah mengetahui jalur periwayatannya sebelum ini.” Hal yang sama telah diriwayatkan dari Qatadah, As-Saddi, dan lain-lainnya dari kalangan ulama Salaf. Hanya Allah-lah yang mengetahui kebenarannya.

Firman Allah Swt.:

sebagai suatu rahmat dari sisi Kami. (Al-Anbiya: 84)

Yakni Kami lakukan hal itu kepada Ayub sebagai rahmat dari sisi Kami buatnya.

Firman Allah Swt.:

dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah. (Al-Anbiya: 84)

Kami jadikan kisah Ayub ini sebagai suri teladan agar orang-orang yang tertimpa musibah jangan beranggapan bahwa sesungguhnya Kami lakukan cobaan itu kepada mereka tiada lain karena mereka hina dalam pandangan Kami. Dan agar mereka meniru kesabaran Ayub dalam menghadapi takdir Allah dan cobaan-Nya terhadap hamba-hamba-Nya dengan berbagai macam cobaan yang dikehendaki-Nya.

Hanya Dia sajalah yang mengetahui hikmah yang tersembunyi di balik semuanya itu. Dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 .

«««« juz 16 ««««      «««« juz 17 ««««      «««« juz 18 ««««