Ketika Allah Menempatkan Ibrahim di Tempat Baitullah

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Hajj ayat 26

0
117

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Hajj ayat 26. Ketika Allah menempatkan Ibrahim di tempat Baitullah. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَإِذْ بَوَّأْنَا لإبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ (٢٦)

Dan (ingatlah), ketika Kami tempatkan Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan), “Janganlah engkau mempersekutukan Aku dengan apa pun dan sucikanlah rumah-Ku bagi orang-orang yang thawaf, orang yang beribadah  dan orang yang ruku’ dan sujud.  (Q.S. Al-Hajj : 26)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa idz bawwa’nā li ibrāhīma (dan [ingatlah] ketika Kami menunjukkan kepada Ibrahim), yakni menjelaskan kepada Ibrahim a.s.

Makānal baiti (tempat Baitullah), yakni Baitul Haram dengan awan yang berhenti di hadapannya. Kemudian Ibrahim a.s. membangun Baitullah persis di tempat awan itu. Dan Kami mewahyukan kepadanya:

Al lā tusyrik bī syai-an (“Janganlah kamu mempersekutukan Aku dengan sesuatu pun), yakni dengan satu berhala pun.

Wa thahhir baitiya (dan sucikanlah rumah-Ku ini), yakni Masjid-Ku ini dari berhala-berhala.

Lith thā-ifīna (untuk orang-orang yang tawaf) di sekelilingnya.

Wal qā-imīna (dan orang-orang yang berdiri [beribadah]), yakni orang-orang yang tinggal di dalamnya.

War rukka’is sujūd (serta orang-orang yang rukuk dan sujud), yakni serta bagi orang-orang yang berdatangan dari berbagai penjuru negeri untuk menunaikan shalat.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. [31]Dan (ingatlah), ketika Kami tempatkan Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan), “Janganlah engkau mempersekutukan Aku dengan apa pun dan sucikanlah rumah-Ku[32] bagi orang-orang yang thawaf, orang yang beribadah[33] dan orang yang ruku’ dan sujud[34].

[31] Di ayat ini, Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan kemuliaan Baitullah al Haram dan kemuliaan pembangunnya, yaitu kekasih Ar Rahman, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam.

[32] Baik dari syirk maupun maksiat, dari najis maupun kotoran. Allah hubungkan rumah tersebut kepada Diri-Nya karena keutamaannya, kelebihannya dan agar kecintaan manusia kepadanya sangat dalam di hati.

[33] Seperti dzikr, membaca Al-Qur’an, mendalami agama dan mengajarkannya, dan berbagai bentuk ibadah lainnya.

[34] Yakni yang mengerjakan shalat. Maksudnya adalah sucikanlah rumah itu untuk orang-orang yang utama tersebut, di mana perhatian mereka adalah taat dan mengabdi Tuhan mereka, mendekatkan diri kepada-Nya di sisi rumah-Nya. Mereka ini berhak dimuliakan, dan termasuk memuliakan mereka adalah membersihkan Baitullah untuk mereka, demikian pula membersihkannya dari suara keras yang mengganggu ibadah mereka.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan) ingatlah (ketika Kami jelaskan) Kami terangkan (kepada Ibrahim tempat Baitullah) supaya ia membangunnya kembali karena Baitullah itu telah diangkat sejak zaman banjir besar yakni zamannya Nabi Nuh, kemudian Kami perintahkan kepada Ibrahim, (“Janganlah kamu menyekutukan Aku dengan sesuatu pun dan sucikanlah rumah-Ku ini) dari berhala-berhala (bagi orang-orang yang tawaf dan orang-orang yang bermukim) yakni orang-orang yang tinggal di sekitarnya (dan orang-orang yang rukuk dan sujud”) Rukka’is-sujuud adalah bentuk jamak dari kata Raaki ‘iin dan Saajidin, maksudnya adalah orang-orang yang salat.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Di dalam ayat ini, terkandung makna yang mengecam dan mencela orang-orang yang menyembah selain Allah dan mempersekutukan-Nya dengan yang lain dari kalangan Quraisy; yang justru hal itu dilakukan di negeri yang pada mulanya dibangun untuk tujuan mengesakan Allah dan menyembah-Nya semata, tiada sekutu bagi-Nya. Kemudian Allah menyebutkan bahwa Dia telah menempatkan Ibrahim di suatu tempat di Baitullah, yakni Allah memberinya petunjuk ke tempat itu dan menyerahkannya kepada dia serta mengizinkannya untuk membangun rumah di tempat tersebut. Kebanyakan ulama menjadikan ayat ini sebagai dalil yang menunjukkan bahwa sesungguhnya Ibrahim a.s. adalah orang yang pertama membangun Baitul Atiq (Ka’bah), dan bahwa sebelum itu Ka’bah tidak ada yang membangunnya.

Disebutkan di dalam kitab sahihnya melalui Abu Zar yang mengatakan bahwa:

قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ مَسْجِدٍ وُضعَ أَوَّلُ؟ قَالَ: الْمَسْجِدُ الْحَرَامُ. قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: بَيْتُ الْمَقْدِسِ. قُلْتُ كَمْ بَيْنَهُمَا؟ قَالَ: أَرْبَعُونَ سَنَةً

ia bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, masjid manakah yang pertama dibangun?” Rasulullah menjawab, “Masjidil Haram.” Ia bertanya lagi, “Lalu masjid mana lagi?” Rasulullah menjawab, “Baitul Muqaddas.” Ia bertanya, “Berapakah jarak di antara keduanya?” Rasulullah menjawab.”Empat puluh tahun.”

Allah Swt. telah berfirman:

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ. فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيم

Sesungguhnya rumah yang pertama dibangun untuk (tempat beribadah) manusia ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkati. (Ali-Imran: 96), hingga akhir ayat berikutnya.

Dan Allah Swt. telah berfirman:

وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, i’tikaf, rukuk, dan yang sujud.” (Al-Baqarah: 125)

Dalam pembahasan terdahulu telah disebutkan semua hadis dan asar yang sahih-sahih yang menceritakan tentang pembangunan Baitullah, sehingga dalam pembahasan ini tidak perlu diulangi lagi.

Dalam ayat ini disebutkan oleh firman-Nya:

Janganlah kamu memperserikatkan sesuatu pun dengan Aku. (Al-Hajj: 26)

Yakni bangunlah Baitullah dengan menyebut nama-Ku semata.

dan sucikanlah rumah-Ku ini. (Al-Hajj: 26)

Qatadah dan Mujahid mengatakan, maksudnya yaitu menyucikannya dari segala kemusyrikan.

bagi orang-orang yang tawaf, dan orang-orang yang beribadat, dan orang-orang yang rukuk, dan sujud. (Al-Hajj: 26)

Maksudnya, jadikanlah Baitullah ini khusus untuk mereka yang menyembah Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Orang yang bertawaf di Baitullah sudah dikenal dengan istilah Ta’if (tawaf) yang merupakan ibadah khusus hanya dilakukan di Baitullah, karena sesungguhnya ibadah seperti itu tidak boleh dilakukan di tempat yang lain kecuali di Baitullah.

Al-qa-imina, yakni orang-orang yang salat.

Ar-rukka’is sujud, orang-orang yang rukuk dan bersujud.

Penyebutan tawaf diiringi dengan penyebutan salat, karena kedua jenis ibadah ini tidaklah disyariatkan kecuali khusus di Baitullah; ibadah tawaf dilakukan di sekelilingnya, dan salat dilakukan dengan menghadap kepadanya dalam kebanyakan keadaan. Terkecuali di kala salat dikerjakan dalam medan perang saat sulit untuk menghadap ke arah kiblat, juga dikecualikan dalam salat sunat di perjalanan (di atas kendaraan).

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 .

«««« juz 16 ««««      «««« juz 17 ««««      «««« juz 18 ««««