Seruan Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam untuk Berhaji

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Hajj ayat 27

0
89

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Hajj ayat 27. Seruan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam untuk berhaji. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ (٢٧)

Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh. (Q.S. Al-Hajj : 27)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa adz-dziη fin nāsi (dan umumkanlah kepada manusia), yakni serulah keturunanmu.

Bil hajji ya’tūka (untuk menunaikan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu), yakni hingga mereka datang kepadamu.

Rijālaw wa ‘alā kulli dlāmirin (dengan berjalan kaki dan mengendarai unta kurus), yakni menunggangi setiap unta yang kurus dan lain sebagainya.

Ya’tīna ming kulli fajjin ‘amīq (yang datang dari berbagai penjuru yang jauh), yakni dari setiap jalan dan negeri yang jauh.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji[35], niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki[36], atau mengendarai setiap unta yang kurus[37], mereka datang dari segenap penjuru yang jauh[38],

[35] Yakni beritahukanlah mereka, seru mereka, sampaikan kepada orang yang dekat maupun jauh kewajiban haji dan keutamaannya.

[36] Karena rasa rindu yang begitu mendalam.

[37] Unta yang kurus menggambarkan jauh dan sukarnya yang ditempuh oleh jamaah haji, namun demikian mereka tetap menempuh perjalanan itu.

[38] Maka Nabi Ibrahim ‘alaihis salam melakukan hal itu, demikian pula anak keturunannya, yaitu Nabi Muhammad ﷺ. Ternyata apa yang dijanjikan Allah itu terlaksana, manusia mendatangi Baitullah dengan berjalan kaki atau berkendaraan dari bagian timur bumi maupun baratnya.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan berserulah) serukanlah (kepada manusia untuk mengerjakan haji) kemudian Nabi Ibrahim naik ke puncak bukit Abu Qubais, lalu ia berseru, “Hai manusia! Sesungguhnya Rabb kalian telah membangun Baitullah dan Dia telah mewajibkan kalian untuk melakukan haji, maka sambutlah seruan Rabb kalian ini”. Lalu Nabi Ibrahim menolehkan wajahnya ke kanan dan ke kiri serta ke arah Timur dan ke arah Barat. Maka menjawablah semua orang yang telah ditentukan baginya dapat berhaji dari tulang-tulang sulbi kaum lelaki dan rahim-rahim kaum wanita, seraya mengatakan, “Labbaik allaahumma Labbaika”, artinya: Ya Allah, kami penuhi panggilan-Mu, Ya Allah, kami penuhi panggilan-Mu. Sedangkan Jawab dari Amar yang di muka tadi ialah (niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki) lafal Rijaalan adalah bentuk jamak dari lafal Raajilun, wazannya sama dengan lafal Qaaimun yang bentuk jamaknya adalah Qiyaamun; artinya berjalan kaki (dan) dengan berkendaraan (dengan menaiki unta yang kurus) karena lamanya perjalanan; lafal Dhamirin dapat ditujukan kepada jenis jantan dan betina (mereka datang) yakni unta-unta kurus itu yang dimaksud adalah orang-orang yang mengendarainya (dari segenap penjuru yang jauh) dari daerah yang perjalanannya sangat jauh.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Swt.:

Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji. (Al-Hajj: 27)

Yaitu serukanlah kepada manusia untuk mengerjakan haji ke Baitullah ini yang Kami perintahkan kamu untuk membangunnya.

Menurut suatu pendapat, Nabi Ibrahim berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimanakah saya menyampaikan seruan itu kepada manusia, sedangkan suara saya tidak dapat mencapai mereka?” Allah Swt. berfirman, “Berserulah kamu, dan Akulah yang menyampaikannya.” Maka Ibrahim berdiri di maqamnya.

Menurut pendapat lain di atas sebuah batu. Menurut pendapat yang lainnya di atas Bukit Safa.

Dan menurut pendapat yang lainnya lagi, bahwa Ibrahim menaiki bukit Abu Qubais, lalu berseru, “Hai manusia, sesungguhnya Tuhan kalian telah membuat sebuah rumah (Baitullah), maka berhajilah (berziarahlah) kalian kepadanya.”

Menurut suatu pendapat, setelah Ibrahim mengumandangkan seruan itu semua bukit dan gunung merendahkan dirinya, sehingga suaranya mencapai seluruh permukaan bumi, bayi-bayi yang masih berada di dalam rahim dan tulang sulbi dapat mendengar seruannya dan segala sesuatu yang mendengar suaranya menjawabnya, baik batu-batuan, pohon-pohonan, dan lain sebagainya. Didengar pula oleh semua orang yang telah dicatat oleh Allah bahwa dia akan mengerjakan haji, sampai hari kiamat. Jawaban mereka ialah “Labbaika Allahumma Labbaika (Kami penuhi seruan-Mu, ya Allah. Kami penuhi seruan-Mu, ya Allah).

Demikianlah garis besar dari apa yang telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, dan Sa’id ibnu Jubair serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang dari kalangan ulama Salaf.

Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim mengetengahkan riwayat ini dengan panjang lebar.

Firman Allah Swt.:

niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus. (Al-Hajj: 27), hingga akhir ayat.

Sebagian ulama menjadikan ayat ini sebagai dalilnya untuk mengatakan bahwa ibadah haji dengan berjalan kaki bagi orang yang mampu melakukannya adalah lebih utama daripada berkendaraan, karena sebutan jalan kaki menempati rangking yang pertama dalam ayat ini. Hal ini menunjukkan perhatian Allah yang sangat besar kepada mereka, juga menunjukkan kekuatan tekad serta kerasnya kemauan mereka.

Waki’ telah meriwayatkan dari Abul Umais, dari Abu Halhalah, dari Muhammad ibnu Ka’b, dari Ibnu Abbas yang mengatakan, “Saya tidak melakukan sesuatu yang buruk, kecuali hanya ingin melakukan ibadah haji dengan jalan kaki, karena Allah Swt. telah berfirman: ‘niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki’ (Al-Hajj: 27)

Akan tetapi, pendapat yang dikatakan oleh kebanyakan ulama yaitu melakukan ibadah haji dengan berkendaraan adalah lebih utama karena mengikut perbuatan Rasulullah ﷺ Sesungguhnya beliau ﷺ melakukan ibadah hajinya dengan berkendaraan, padahal kekuatan beliau ﷺ sangat prima.

Firman Allah Swt.:

yang datang dari segenap penjuru yang jauh. (Al-Hajj: 27)

Yang dimaksud dengan kata fajjin ialah jalan atau penjuru. Sama pengertiannya dengan apa yang disebutkan di dalam firman-Nya:

وَجَعَلْنَا فِيهَا فِجَاجًا سُبُلا

dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas (Al-Anbiya: 31)

Firman Allah Swt. yang mengatakan, “Amiq” artinya jauh, menurut Mujahid, Ata, As-Saddi, Qatadah, Muqatil ibnu Hayyan, dan As-Sauri serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang.

Makna ayat ini sama dengan firman Allah Swt. dalam menceritakan perihal Nabi Ibrahim ﷺ yang mengatakan dalam doanya:

فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ

maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka. (Ibrahim: 37)

Maka tiada seorang pun yang memeluk agama Islam, melainkan hatinya rindu ingin melihat Ka’bah dan melakukan tawaf di sekelilingnya, kaum muslim dari segala penjuru dunia bertujuan untuk menziarahinya.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

«««« juz 16 ««««      «««« juz 17 ««««      «««« juz 18 ««««