Allah Tidak Menerima Amal Kecuali yang Ikhlas Karena-Nya

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Hajj ayat 31

0
74

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Hajj ayat 31. Allah tidak menerima amal kecuali yang ikhlas karena-Nya tanpa mempersekutukan-Nya. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka seakan-akan dia jatuh dari langit lalu disambar oleh burung. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

حُنَفَاءَ لِلَّهِ غَيْرَ مُشْرِكِينَ بِهِ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ (٣١)

(Beribadahlah) dengan ikhlas kepada Allah, tanpa mempersekutukan-Nya dengan sesuatu. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka seakan-akan dia jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh. (Q.S. Al-Hajj : 31)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Hunafā-a lillāhi (ikhlas karena Allah), yakni jadilah kalian orang-orang yang ikhlas melaksanakan talbiah dan haji karena Allah Ta‘ala.

Ghaira musyrikīna bih (dan tidak mempersekutukan-Nya), yakni tidak mempersekutukan Allah Ta‘ala dalam talbiah dan haji.

Wa may yusyrik billāhi fa ka-annamā kharra minas samā-i fa takh-thafuhu. (dan barangsiapa mempersekutukan Allah, maka seolah-olah ia telah terjatuh dari langit lalu disambar), yakni diambil.

Ath-thairu (burung), dan dibawanya ke mana ia suka.

Au tahwī (atau diterbangkan), yakni dibawa.

Bihir rīhu fī makāniη sahīq (angin ke tempat yang jauh).

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. (Beribadahlah) dengan ikhlas kepada Allah[7], tanpa mempersekutukan-Nya dengan sesuatu. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka seakan-akan dia jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh[8].

[7] Yakni menghadapkan diri dan beribadah hanya kepada-Nya serta berpaling dari selain-Nya.

[8] Iman ibarat langit yang terjaga dan tinggi di atas. Orang yang meninggalkan keimanan, maka sama saja jatuh dari langit siap menerima musibah dan malapetaka, di mana jika sudah jatuh, maka ia bisa disambar oleh burung lalu dibuat anggota badannya tercerai berai. Demikianlah orang musyrik, apabila meninggalkan keimanan, maka setan akan menyantapnya dari segala penjuru, merobek-robeknya, dan menjauhkan dia dari agama dan dunianya.

 .

Tafsir Jalalain

  1. (Dengan ikhlas kepada Allah) yakni berserah diri kepada-Nya serta berpaling dari semua agama selain dari agama-Nya (tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia) kalimat ayat ini mengukuhkan makna kalimat yang sebelumnya dan keduanya itu merupakan Hal atau kata keterangan dari dhamir Wawu. (Barang siapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah terjungkal) yakni jatuh (dari langit lalu disambar oleh burung) diambil dengan cepat (atau diterbangkan oleh angin yang melemparkannya) yang menjatuhkannya (ke tempat yang jauh sekali) sangat jauh sehingga tidak dapat diharapkan lagi keselamatannya.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Swt.:

dengan ikhlas kepada Allah. (Al-Hajj: 31) .

Yakni dengan mengikhlaskan niat dalam beragama karena Allah, menyimpang dari kebatilan menuju ke jalan yang hak. Karena itulah dalam firman Allah Swt. selanjutnya disebutkan:

tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. (Al-Hajj: 31)

Kemudian Allah Swt. membuatkan tamsil (perumpamaan) perihal orang musyrik dalam hal kesesatannya dan kebinasaannya dan kejauhannya dari jalan hidayah. Untuk itu Allah Swt. berfirman:

Barang siapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka ia seolah-olah jatuh dari langit, lalu disambar oleh burung. (Al-Hajj: 31)

Maksudnya, terjatuh dari ketinggian, lalu disambar oleh burung selagi masih di udara.

atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh. (Al-Hajj: 31)

Yaitu jauh lagi membinasakan setiap orang yang terjatuh padanya. Karena itu, telah disebutkan di dalam hadis Al-Barra yang menyebutkan bahwa sesungguhnya orang kafir itu apabila dimatikan oleh malaikat pencabut nyawa, mereka langsung membawa naik rohnya ke langit. Akan tetapi, semua pintu langit tidak dibukakan untuknya. Akhirnya rohnya dilemparkan dari langit (ke tempat yang jauh). Kemudian Al-Barra membaca ayat ini. Hadis ini telah disebutkan berikut semua teks dan jalur-jalur periwayatannya di dalam tafsir surat Ibrahim.

Allah Swt. telah membuat perumpamaan lainnya bagi orang-orang musyrik di dalam surah Al-An’am, yaitu melalui firman-Nya:

قُلْ أَنَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُنَا وَلا يَضُرُّنَا وَنُرَدُّ عَلَى أَعْقَابِنَا بَعْدَ إِذْ هَدَانَا اللَّهُ كَالَّذِي اسْتَهْوَتْهُ الشَّيَاطِينُ فِي الأرْضِ حَيْرَانَ لَهُ أَصْحَابٌ يَدْعُونَهُ إِلَى الْهُدَى ائْتِنَا قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى

Katakanlah, “Apakah kita akan menyeru selain dari Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan kepada kita dan tidak (pula) mendatangkan kemudaratan kepada kita dan (apakah) kita akan dikembalikan ke belakang, sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita, seperti orang yang telah disesatkan oleh setan di pesawangan yang menakutkan; dalam keadaan bingung, dia mempunyai kawan-kawan yang memanggilnya kepada jalan yang lurus (dengan mengatakan), ‘Marilah ikuti kami, Katakanlah, ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk‘ (Al-An’am: 71), hingga akhir ayat.”

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 .

«««« juz 16 ««««      «««« juz 17 ««««      «««« juz 18 ««««