Menggabungkan Kebaikan dan Rasa Takut kepada Allah

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Mu’minun ayat 57-59

0
113

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Mu’minun ayat 57-59. Untuk siapakah penyegeraan kebaikan-kebaikan itu? Sesungguhnya orang mukmin itu dalam dirinya menggabungkan kebaikan dan rasa takut kepada Allah. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

إِنَّ الَّذِينَ هُمْ مِنْ خَشْيَةِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ (٥٧) وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُونَ (٥٨) وَالَّذِينَ هُمْ بِرَبِّهِمْ لا يُشْرِكُونَ (٥٩)

Sungguh, orang-orang yang karena takut (azab) Tuhannya, mereka sangat berhati-hati. dan mereka yang beriman dengan ayat-ayat Tuhannya (Al-Qur’an), dan mereka yang tidak mempersekutukan Tuhannya, (Q.S. Al-Mu’minun : 57-59)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Innal ladzīna hum min khasyyati rabbihim musyfiqūn (sesungguhnya orang-orang yang karena takut kepada Rabb-nya, mereka berhati-hati), yakni orang-orang yang takut terhadap azab Rabb-nya, mereka akan memperoleh penyegeraan kebaikan dari Kami.

Wal ladzīna hum bi āyāti rabbihim yu’minūn (dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Rabb-nya), yakni kepada Nabi Muhammad ﷺ dan Al-Qur’an, mereka akan memperoleh penyegeraan kebaikan dari Kami.

Wal ladzīna hum bi rabbihim lā yusyrikūn (dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Rabb-nya), yakni yang tidak mempersekutukan Rabb-nya dengan berhala-berhala, mereka pun akan memperoleh penyegeraan kebaikan dari Kami.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. [14]Sungguh, orang-orang yang karena takut (azab) Tuhannya, mereka sangat berhati-hati[15],

[14] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan orang-orang yang menggabung antara sikap buruk dengan merasa aman, yaitu orang-orang yang menyangka pemberian Allah kepada mereka di dunia menunjukkan bahwa mereka di atas kebaikan dan keutamaan, maka Allah menyebutkan orang-orang yang berbuat ihsan dan memiliki rasa takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

[15] Mereka takut jika Allah meletakan keadilan-Nya kepada mereka, sehingga tidak tersisa lagi kebaikan bagi mereka, dan mereka menyangka bahwa mereka belum memenuhi hak Allah Ta’ala, mereka pun takut jika iman mereka hilang. Karena mereka kenal Tuhan mereka, dan keberhakan-Nya dimuliakan dan diagungkan serta takut kepada-Nya, maka yang demikian membuat mereka menahan diri dari dosa dan meremehkan kewajiban.

  1. dan mereka yang beriman dengan ayat-ayat Tuhannya (Al-Qur’an)[16],

[16] Apabila ayat-ayat itu dibacakan kepada mereka, maka keimanan mereka bertambah, mereka pun memikirkan dan mentadabburi ayat-ayat-Nya, sehingga jelaslah bagi mereka makna-makna Al-Qur’an, keagungannya, kesesuaiannya dan tidak ada yang bertentangan, demikian pula ajakannya untuk mengenal Allah, takut dan berharap kepada-Nya serta keadaan tentang pembalasan, yang dari sana muncul bagi mereka rincian keimanan yang tidak mungkin diungkapkan oleh lisan. Di samping itu, mereka juga mentafakkuri ayat-ayat Allah yang ada di alam semesta.

  1. dan mereka yang tidak mempersekutukan Tuhannya[17],

[17] Baik syirk besar, seperti menyembah selain Allah, maupun syirk kecil seperti riya’, dsb. Bahkan mereka ikhlas dalam ibadahnya karena Allah, baik dalam perkataan mereka, perbuatan maupun semua keadaan mereka.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Sesungguhnya orang-orang yang karena perasaan khasyyah mereka kepada Rabb mereka) disebabkan mereka takut kepada-Nya (mereka merasa takut sekali) kepada azab-Nya.
  2. (Dan orang-orang yang terhadap ayat-ayat Rabb mereka) Al-Qur’an (mereka beriman) sangat percaya kepadanya.
  3. (Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Rabb mereka) sesuatu apa pun.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Swt.:

Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka. (Al Mu’minun: 57)

Yakni keadaan mereka yang selalu mengerjakan perbuatan yang baik dan beriman serta mengamalkan perbuatan yang saleh, juga mereka takut kepada Allah dan selalu dicekam oleh rasa khawatir akan tertimpa tipu daya Allah. Seperti yang dikatakan oleh Al-Hasan Al-Basri, bahwa sesungguhnya orang mukmin itu menggabungkan dalam dirinya kebaikan dan rasa takut kepada Allah. Dan sesungguhnya orang munafik itu menggabungkan dalam dirinya keburukan dan merasa aman dari azab Allah.

dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka. (Al Mu’minun: 58)

Maksudnya, mereka beriman kepada ayat-ayat (tanda-tanda)-Nya, baik yang bersifat alami maupun yang bersifat hukum syar’i, seperti yang disebutkan di dalam firman Allah Swt. yang menceritakan tentang Maryam a.s.:

وَصَدَّقَتْ بِكَلِمَاتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِ

dan dia membenarkan kalimat Tuhannya dan kitab-kitab-Nya. (At-Tahrim: 12)

Yaitu Maryam merasa yakin bahwa sesungguhnya apa yang terjadi pada dirinya (mengandung tanpa suami) tiada lain merupakan takdir dan keputusan Allah dan syariat yang telah ditetapkan-Nya. Syariat Allah itu jika berupa perintah, berarti subyeknya disukai dan diridai-Nya. Dan jika berupa larangan, berarti subyeknya dibenci dan ditolak-Nya. Dan jika kebaikan, berarti subyeknya adalah perkara yang hak. Seperti yang disebutkan oleh firman-Nya:

Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apa pun). (Al Mu’minun: 59)

Yakni mereka tidak menyembah selain-Nya bersama Dia, melainkan mengesakan-Nya dan mengamalkan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah semata, bergantung kepada-Nya segala sesuatu, tidak beristri, dan tidak beranak, dan bahwa Dia tiada tandingan dan tiada yang menyamai-Nya.

Dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

«««« juz 17 ««««      «««« juz 18 ««««      «««« juz 19 ««««