Menyombongkan Diri

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Mu’minun ayat 67

0
94

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Mu’minun ayat 67. Penjelasan keadaan kaum musyrik yang mendustakan dan berpaling dari iman serta terus-menerus di atas kekafiran, dengan menyombongkan diri dan mengucapkan perkataan-perkataan keji. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

مُسْتَكْبِرِينَ بِهِ سَامِرًا تَهْجُرُونَ (٦٧)

Dengan menyombongkan diri dan mengucapkan perkataan-perkataan keji terhadapnya (Al- Qur’an dan Nabi) pada waktu kamu bercakap-cakap pada malam hari. (Q.S. Al-Mu’minun : 67)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Mustakbirīna bihī (dengan membangga-banggakannya), yakni membangga-banggakan Baitullah. Mereka mengatakan bahwa mereka adalah pemilik Baitullah.

Sāmiran (sambil berbincang-bincang pada malam hari), yakni mereka mengadakan perbincangan di sekitar Baitullah.

Tahjurūn (kalian mengucapkan perkataan-perkataan keji), yakni mencaci maki Nabi Muhammad ﷺ para sahabat beliau, dan Al-Qur’an.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Dengan menyombongkan diri[12] dan mengucapkan perkataan-perkataan keji terhadapnya (Al-Qur’an dan Nabi) pada waktu kamu bercakap-cakap pada malam hari[13].

[12] Ada yang berpendapat, bahwa maksudnya mereka menyombongkan diri dengan merasa bahwa mereka lebih berhak terhadap baitullah dan tanah haram, sedangkan selain mereka tidak berhak, sehingga mereka lebih utama daripada orang lain.

[13] Jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang mendustakan adalah berpaling dari Al-Qur’an dan satu sama lain saling mengingatkan agar tidak mendengarkan Al-Qur’an dan menimbulkan kegaduhan ketika Al-Qur’an dibacakan, lihat Fushshilat: 26. Mereka berkumpul membicarakan yang buruk, sehingga sudah sepantasnya mereka ditimpa azab, dan jika azab itu sudah datang, maka mereka tidak memiliki penolong yang menolong mereka dari azab serta ditambah mendapat celaan karena perbuatan itu seperti yang disebutkan pada ayat 64 dan 65.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dengan menyombongkan diri) tidak mau beriman (akan keakuan kalian) yakni membanggakan Ka’bah atau tanah suci yang kalian tempati, maksudnya kalian beranggapan bahwa diri kalian adalah penduduknya, oleh karena itu kalian merasa dalam keadaan aman dari azab Allah, berbeda dengan kaum-kaum yang lain di tempat tinggal mereka selain dari tanah suci (dan seraya bergadang) lafal Samiran menjadi Hal, artinya mereka berkumpul membentuk suatu kelompok sambil berbincang-bincang di waktu malam hari; hal ini mereka lakukan di sekeliling Kakbah (kalian mengucapkan perkataan-perkataan yang keji terhadapnya”) lafal Tahjuruuna ini jika berasal dari Fi’il Tsulatsi artinya tidak menganggap Al-Qur’an. Jika berasal dari Fi’il Ruba’I berarti mereka membuat-buat perkataan yang keji tanpa hak terhadap diri Nabi ﷺ dan Al-Qur’an.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Adapun firman Allah Swt.:

dengan menyombongkan diri terhadap Al-Qur’an itu dan mengucapkan perkataan-perkataan keji terhadapnya di waktu kalian bercakap-cakap di malam hari. (Al Mu’minun: 67)

Mengenai tafsir ayat ini ada dua pendapat.

Salah satunya mengatakan, bahwa mustakbirin berkedudukan menjadi kata keterangan keadaan saat mereka berpaling ke belakang dari perkara yang hak, dan mereka menolaknya karena kesombongan mereka terhadap perkara yang hak itu; mereka menganggap rendah perkara yang hak dan orang-orang yang mengikutinya. Berdasarkan pendapat ini damir bihi yang ada padanya mengandung tiga pengertian:

Pertama, damir merujuk kepada tanah suci, yakni Mekah. Mereka dicela karena mereka begadang di malam hari di tanah suci tanpa berbicara sepatah kata pun (menunjukkan kesombongan mereka).

Kedua, damir merujuk kepada Al-Qur’an. Mereka melakukan begadang, memperbincangkan tentang Al-Qur’an dengan sebutan yang keji. Mereka mengatakan bahwa Al-Qur’an itu adalah sihir, sesungguhnya Al-Qur’an itu syair, dan sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah ramalan dan perkataan-perkataan keji lainnya.

Ketiga, damir kembali kepada Nabi Muhammad ﷺ. Mereka menjadikannya bahan pergunjingan mereka di malam hari dengan sebutan-sebutan yang keji, dan mereka membuat perumpamaan-perumpamaan yang batil terhadapnya, bahwa dia adalah seorang penyair, atau tukang ramal atau pendusta atau gila atau penyihir. Semuanya itu batil belaka, bahkan sesungguhnya dia adalah hamba dan rasul Allah yang Allah akan memenangkannya atas mereka, dan dia bakal mengusir mereka dari tanah suci dalam keadaan hina dan rendah.

Menurut pendapat yang lain, makna firman-Nya: dengan menyombongkan diri terhadapnya. (Al Mu’minun: 67) Yakni menyombongkan dirinya di Baitullah dengan keyakinan bahwa diri merekalah para pengurusnya, padahal kenyataannya tidaklah demikian.

Seperti yang dikatakan oleh Imam Nasai di dalam kitab tafsir bagian dari kitab sunannya, bahwa telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Ubaidillah, dari Israil, dari Abdul A’la; ia pernah mendengar Sa’id ibnu Jubair menceritakan hadis be­rikut dari Ibnu Abbas yang telah mengatakan bahwa sesungguhnya begadang itu dimakruhkan sejak ayat berikut diturunkan, yaitu firman Allah Swt.: dengan menyombongkan diri terhadapnya dan mengucapkan perkataan-perkataan yang keji di waktu kamu bercakap-cakap di malam hari. (Al Mu’minun: 67) Yakni mereka membanggakan dirinya dengan Baitullah seraya mengatakan bahwa diri merekalah yang tiada hentinya sepanjang siang dan malam mengurusnya. Ibnu Abbas menceritakan bahwa mereka membangga-banggakan dirinya dan begadang di dalamnya, tidak memakmurkannya, dan mereka mengucapkan perkataan-perkataan yang keji di dalamnya.

Imam Ibnu Abu Hatim sehubungan dengan hal ini telah membahasnya dalam pembahasan yang cukup panjang, yang ringkasnya adalah seperti yang telah disebutkan di atas.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

«««« juz 17 ««««      «««« juz 18 ««««      «««« juz 19 ««««