Seandainya Kebenaran itu Menuruti Keinginan

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Mu’minun ayat 71-72

0
505

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Mu’minun ayat 71-72. Seandainya kebenaran itu menuruti keinginan mereka, pasti binasalah langit dan bumi, dan semua yang ada di dalamnya. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ بَلْ أَتَيْنَاهُمْ بِذِكْرِهِمْ فَهُمْ عَنْ ذِكْرِهِمْ مُعْرِضُونَ  (٧١) أَمْ تَسْأَلُهُمْ خَرْجًا فَخَرَاجُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ (٧٢)

Dan seandainya kebenaran itu menuruti keinginan mereka, pasti binasalah langit dan bumi, dan semua yang ada di dalamnya. Bahkan Kami telah memberikan peringatan kepada mereka, tetapi mereka berpaling dari peringatan itu. Atau engkau (Muhammad) meminta imbalan kepada mereka? Sedangkan imbalan dari Tuhanmu  lebih baik, karena Dia pemberi rezeki yang terbaik. (Q.S. Al-Mu’minun : 71-72)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa lawittaba‘al haqqu ahwā-ahum (seandainya kebenaran itu mengikuti hawa nafsu mereka), yakni seandainya konsep tuhan sesuai dengan hawa nafsu mereka, yakni bahwa di langit ada tuhan dan di bumi ada tuhan yang lain.

La fasadatis samāwātu wal ardlu wa maη fīhinn (niscaya rusaklah langit dan bumi serta semua yang ada di dalamnya), yakni semua makhluk yang ada di dalamnya.

Bal ataināhum bi dzikrihim (sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kehormatan mereka), yakni sebenarnya Kami telah Menurunkan Jibril kepada nabi mereka dengan membawa Al-Qur’an yang dapat mengantarkan mereka kepada kemulian dan kehormatan.

Fa hum ‘aη dzikrihim (tetapi dari kehormatan itu mereka), yakni dari kemuliaan dan kehormatan mereka itu.

Mu‘ridlūn (berpaling), yakni mendustakan.

Am tas-aluhum (ataukah kamu meminta kepada mereka), yakni ataukah kamu, hai Muhammad, meminta kepada penduduk Mekah.

Kharjan (upah), hingga mereka tidak mau merespons kamu.

Fa kharāju rabbika (maka upah dari Rabb-mu itu), yakni pahala dari Rabb kamu di dalam surga itu.

Khairun (lebih baik), yakni lebih utama ketimbang upah yang mereka berikan di dunia.

Wa huwa khairur rāziqīn (dan Dia-lah sebaik-baik Pemberi rezeki), yakni Pemberi yang paling utama, baik di dunia maupun di akhirat.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. [19]Dan seandainya kebenaran itu menuruti keinginan mereka, pasti binasalah langit dan bumi, dan semua yang ada di dalamnya[20]. Bahkan Kami telah memberikan peringatan kepada mereka, tetapi mereka berpaling dari peringatan itu[21].

[19] Jika seorang bertanya, “Mengapa kebenaran itu tidak selalu sesuai dengan keinginan mereka agar mereka beriman dan segera tunduk?” Maka jawabannya adalah ayat di atas.

[20] Bagaimana tidak binasa dan hancur jika yang satu berkeinginan begini, sedangkan yang satu lagi berkeinginan begitu. Di samping itu, hawa nafsu atau keinginan mereka cenderung untuk bersenang-senang tidak memperhatikan maslahat kedepan, pengetahuan mereka terbatas, bahkan nafsu itu biasanya menyuruh kepada kejahatan dan kezaliman, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Allah. Oleh karena itu, jika kebenaran itu menuruti keinginan mereka tentu hancurlah dunia.

[21] Ada pula yang mengartikan, “Bahkan Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan dan kemuliaan (Al-Qur’an) mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.” Sehingga maksudnya, jika mereka mau mengikuti Al-Qur’an, maka keadaan mereka menjadi tinggi, mulia dan terhormat. Al-Qur’an merupakan nikmat besar yang Allah berikan kepada hamba-Nya, namun mereka membalasnya dengan menolak dan berpaling, maka bukannya mereka menjadi tinggi dan terhormat, bahkan menjadi rendah dan terhina, lagi memperoleh kerugian.

  1. Atau engkau (Muhammad) meminta imbalan kepada mereka[22]? Sedangkan imbalan dari Tuhanmu[23] lebih baik, karena Dia pemberi rezeki yang terbaik.

[22] Maksudnya, apakah yang menghalangi mereka untuk mengikutimu adalah karena engkau meminta imbalan dari mereka? Padahal engkau tidak meminta imbalan dari mereka. Dengan demikian, mereka tidak memiliki alasan yang dapat dipertanggungjawabkan untuk menolak yang hak.

[23] Yang dimaksudkan imbalan dari Allah adalah rezeki yang dianugrahkan Allah di dunia, dan pahala di akhirat.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Andaikata kebenaran itu menuruti) artinya Al-Qur’an itu menuruti (hawa nafsu mereka) seumpamanya Al-Qur’an itu dating dengan membawa hal-hal yang mereka sukai, seperti menisbatkan sekutu dan anak kepada Allah, padahal Allah Maha Suci dari hal tersebut (pasti binasalah langit dan bumi dan semua yang ada di dalamnya) yakni menyimpang dari tatanan yang sebenarnya dan tidak seperti apa yang disaksikan sekarang, hal itu disebabkan adanya dua pengaruh kekuasaan yang saling tarik-menarik. (Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka) yaitu Alquran yang di dalamnya terkandung sebutan dan kemuliaan mereka (tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu).
  2. (Atau kamu meminta upah kepada mereka) sebagai imbalan dari apa yang kamu datangkan buat mereka yaitu masalah keimanan (maka upah Rabbmu) adalah pahala, upah dan rezeki-Nya (adalah lebih baik) dan menurut qiraat yang lain dibaca Kharjan dalam dua tempat tadi; tetapi menurut qiraat yang lainnya lagi dibaca Kharaajan pada keduanya (dan Dia adalah Pemberi rezeki Yang Paling Baik) Pengupah Yang Paling Utama.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Swt.:

Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi dan semua yang ada di dalamnya. (Al Mu’minun: 71)

Mujahid dan Abu Saleh serta As-Saddi mengatakan, yang dimaksud dengan al-haq ialah Allah Swt.

Dan makna yang dimaksud ialah bahwa sekiranya Allah menuruti kemauan hawa nafsu mereka dan mensyariatkan peraturan hukum sesuai dengan keinginan mereka.

pasti binasalah langit dan bumi dan semua yang ada di dalamnya (Al-Mu’minun: 71)

Yakni binasa karena hawa nafsu mereka dan keinginan mereka yang berbeda-beda, seperti yang diceritakan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya menyitir kata-kata mereka:

لَوْلا نزلَ هَذَا الْقُرْآنُ عَلَى رَجُلٍ مِنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيمٍ

Mengapa Al-Qur’an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Taif) ini. (Az-Zukhruf: 31)

Kemudian dijawab oleh Allah Swt. melalui firman selanjutnya:

أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَةَ رَبِّكَ

Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? (Az-Zukhruf: 32)

Dan firman Allah Swt.:

قُلْ لَوْ أَنْتُمْ تَمْلِكُونَ خَزَائِنَ رَحْمَةِ رَبِّي إِذًا لأمْسَكْتُمْ خَشْيَةَ الإنْفَاقِ وَكَانَ الإنْسَانُ قَتُورًا

Katakanlah,  “Kalau seandainya kalian menguasai per­bendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kalian tahan karena takut membelanjakannya.” (Al-Isra: 100), hingga akhir ayat.

أَمْ لَهُمْ نَصِيبٌ مِنَ الْمُلْكِ فَإِذًا لَا يُؤْتُونَ النَّاسَ نَقِيرًا

Ataukah ada bagi mereka bagian dari kerajaan (kekuasaan)? Kendatipun ada, mereka tidak akan memberikan sedikit pun (Kebajikan) kepada manusia. (An-Nisa: 53)

Dalam hal ini jelas terkandung pengertian yang menerangkan tentang ketidakmampuan manusia, perbedaan pendapat, dan keinginan hawa nafsu mereka. Dan bahwa hanya Allah sajalah Yang Maha Sempurna dalam semua sifat, ucapan, perbuatan, syariat, takdir, dan pengaturan terhadap makhluk-Nya. Maha Suci Allah, tiada Tuhan selain Dia dan tiada Rabb selain Dia. Karena itulah disebutkan dalam firman selanjutnya:

Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka. (Al Mu’minun: 71)

Yang dimaksud dengan kebanggaan mereka adalah Al-Qur’an.

tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu. (Al Mu’minun: 71)

Adapun firman Allah Swt.:

Atau kamu meminta upah kepada mereka? (Al Mu’minun: 72)

Menurut Al-Hasan, yang dimaksud dengan kharjan ialah upah.

Sedangkan menurut Qatadah yaitu imbalan.

maka upah dari Tuhanmu adalah lebih baik. (Al Mu’minun: 72)

Yakni kamu tidak meminta suatu upah pun dari mereka, tidak pula suatu imbalan pun atau sesuatu yang lain sebagai balasan dari dakwahmu kepada mereka yang menyeru mereka kepada petunjuk. Bahkan engkau-hanya mengharapkan imbalan dari Allah semata atas hal tersebut, yaitu pahala yang berlimpah dari-Nya. Seperti yang disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat lain:

قُلْ مَا سَأَلْتُكُمْ مِنْ أَجْرٍ فَهُوَ لَكُمْ إِنْ أَجْرِيَ إِلا عَلَى اللَّهِ

Katakanlah, “Upah apa pun yang aku minta kepada kalian, maka itu untuk kalian. Upahku hanyalah dari Allah.” (Saba: 47)

قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُتَكَلِّفِينَ

Katakanlah, “Aku tidak meminta upah sedikit pun kepada kalian atas dakwahku; dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan.” (Shad: 86)

قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَى

Katakanlah, “Aku tidak meminta kepada kalian suatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.” (Asy-Syura: 23)

Dan firman Allah Swt.:

وَجَاءَ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ رَجُلٌ يَسْعَى قَالَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِينَ اتَّبِعُوا مَنْ لَا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُمْ مُهْتَدُونَ

Dan datanglah dari ujung kota seorang laki-laki (Habib An-Najjar) dengan bergegas-gegas ia berkata, “Hai kaumku, ikuti­lah utusan-utusan itu, ikutilah orang yang tiada minta balasan kepada kalian.” (Yasin: 20-21)

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

«««« juz 17 ««««      «««« juz 18 ««««      «««« juz 19 ««««