Kesombongan Kaum Musyrik

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Furqaan ayat 21

0
114

Tafsir Al-Qur’an: Awal Juz 19 Surah Al-Furqaan ayat 21. Kesombongan kaum musyrik sehingga tidak beriman kepada Allah, permintaan agar diturunkan malaikat. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَقَالَ الَّذِينَ لا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا لَوْلا أُنْزِلَ عَلَيْنَا الْمَلائِكَةُ أَوْ نَرَى رَبَّنَا لَقَدِ اسْتَكْبَرُوا فِي أَنْفُسِهِمْ وَعَتَوْا عُتُوًّا كَبِيرًا (٢١)

Dan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami (di akhirat) berkata, “Mengapa bukan para malaikat yang diturunkan kepada kita atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita?” Sungguh, mereka telah menyombongkan diri mereka dan benar-benar telah melampaui batas (dalam melakukan) kezaliman.” (Q.S. Al-Furqaan : 21)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa qālal ladzīna lā yarjūna liqā-anā (dan berkatalah orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami), yakni tidak menghendaki kebangkitan sesudah mati. Mereka adalah Abu Jahl dan kawan-kawannya.

Lau lā uηzila ‘alainal malā-ikatu (“Mengapa tidak diturunkan malaikat kepada kami), lalu mereka mengabarkan kepada kami, bahwa Allah Ta‘ala telah mengutusmu.

Au narā rabbanā (atau kami melihat Rabb kami) lalu menanyai-Nya tentang kamu?”

Laqadistakbarū fī aηfusihim (sesungguhnya mereka telah memandang besar diri mereka) sehingga tidak mau beriman. Menurut pendapat yang lain, karena mereka meminta dapat melihat Tuhan.

Wa ‘atau ‘utuwwang kabīrā (dan mereka telah bersikap angkuh dengan keangkuhan yang besar), yakni mereka sangat enggan beriman. Ada yang berpendapat, mereka telah bersikap sangat lancang saat meminta diturunkannya malaikat kepada mereka.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Dan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami (di akhirat)[1] berkata, “Mengapa bukan para malaikat yang diturunkan kepada kita[2] atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita[3]?” Sungguh, mereka telah menyombongkan diri mereka[4] dan benar-benar telah melampaui batas (dalam melakukan) kezaliman[5].”

[1] Maksudnya, orang-orang yang mendustakan janji dan ancaman Allah, di mana dalam hati mereka tidak ada rasa takut terhadap ancaman Allah dan tidak berharap bertemu dengan Allah.

[2] Sebagai rasul.

[3] Lalu Dia memberitahu kami bahwa Muhammad adalah Rasul-Nya.

[4] Karena permintaan mereka untuk melihat Allah di dunia. Nampaknya mereka tidak berkaca terhadap diri mereka, memangnya mereka siapa sampai meminta untuk melihat Allah dan mengira bahwa kerasulan Muhammad ﷺ benar tidaknya tergantung atas hal itu? Kesombongan apalagi yang lebih besar daripada ini.

[5] Hati mereka lebih keras daripada batu, bahkan lebih keras daripada besi sehingga nasehat dan peringatan tidak bermanfaat, dan mereka tidak mau mengikuti kebenaran ketika pemberi peringatan datang kepada mereka, bahkan mereka menyikapi orang yang paling jujur dan paling tulus kepada orang lain dan menyikapi ayat-ayat Allah dengan berpaling, mendustakan dan menentangnya. Sungguh kelewatan sekali sikap mereka. Oleh karena itu amal-amal mereka akan batal dan mereka akan rugi serugi-ruginya sebagaimana diterangkan dalam ayat 23.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Berkatalah orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuannya dengan Kami,) yakni orang-orang yang tidak takut kepada adanya hari berbangkit dan hari pembalasan (“Mengapakah tidak) (diturunkan kepada kita malaikat) yang menjadi Rasul-rasul kepada kita (atau mengapa kita tidak melihat Rabb kita?”) kemudian kita diberi tahu, bahwa Muhammad adalah Rasul-Nya. Lalu Allah berfirman, (“Sesungguhnya mereka memandang besar) merasa besar (tentang diri mereka dan mereka telah melampaui batas) berlaku sangat kurang ajar (dengan kelewat batas yang sangat besar) disebabkan mereka berani meminta melihat Allah swt. di dunia. Lafal ‘Atauw dengan memakai huruf Wau sesuai dengan kata asalnya, berbeda dengan lafal ‘Ataa yang huruf akhirnya telah diganti menjadi Ya, seperti dalam surah Maryam.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Swt. berfirman, menceritakan tentang kerasnya kekafiran dan keingkaran orang-orang kafir. Hal ini terbaca dari ucapan mereka, seperti yang disitir oleh firman-Nya:

Mengapakah tidak diturunkan malaikat kepada kita. (Al-Furqan: 21)

Yakni untuk membawa risalah sebagaimana risalah diturunkan kepada para nabi, seperti yang diceritakan oleh Allah Swt. dalam ayat lain menyitir ucapan mereka melalui firman-Nya:

قَالُوا لَنْ نُؤْمِنَ حَتَّى نُؤْتَى مِثْلَ مَا أُوتِيَ رُسُلُ اللَّهِ

Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah. (Al-An’am: 124)

Makna ayat ini dapat pula ditakwilkan bahwa maksud mereka yang diutarakan oleh firman-Nya:

Mengapakah tidak diturunkan malaikat kepada kita. (Al-Furqan: 21)

sehingga kita dapat melihat mereka dan mereka memberitahukan kepada kita bahwa Muhammad adalah utusan Allah, seperti pengertian yang terdapat di dalam firman-Nya menceritakan perkataan mereka:

أَوْ تَأْتِيَ بِاللَّهِ وَالْمَلائِكَةِ قَبِيلا

atau kamu datangkan Allah dan malaikat-malaikat berhadapan muka dengan kami. (Al-Isra: 92)

Tafsir atau makna ayat ini telah diterangkan di dalam surat Al-Isra. Karena itu, dalam ayat ini disebutkan bahwa mereka (orang-orang kafir) mengatakan:

atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita? (Al-Furqan: 21)

Dalam firman selanjutnya disebutkan:

Sesungguhnya mereka memandang besar tentang diri mereka dan mereka benar-benar telah melampaui batas (dalam melakukan) kezaliman. (Al-Furqan: 21)

Dalam ayat lain disebutkan oleh firman-Nya:

وَلَوْ أَنَّنَا نزلْنَا إِلَيْهِمُ الْمَلائِكَةَ وَكَلَّمَهُمُ الْمَوْتَى وَحَشَرْنَا عَلَيْهِمْ كُلَّ شَيْءٍ قُبُلا مَا كَانُوا لِيُؤْمِنُوا إِلا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ يَجْهَلُونَ

Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka. (Al-An’am: 111), hingga akhir ayat.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

«««« juz 18 ««««      «««« juz 19 ««««      «««« juz 20 ««««