Kekurangan dan Kelebihan Suatu Teks Ulasan

0
233

Halo sobat. Andai kita mendiskusikan tentang kekurangan dan kelebihan suatu teks ulasan, maka setidaknya akan muncul beberapa pertanyaan seperti:

  1. Apakah unsur-unsur pada struktur teks itu sudah lengkap?
  2. Apakah unsur-unsur pada struktur teks itu sudah tersusun secara sistematis?
  3. Apakah ada konjungsi penerang di dalam teks itu?
  4. Apakah ada konjungsi temporal di dalam teks itu?
  5. Apakah ada konjungsi penyebab di dalam teks itu?
  6. Apakah ada kesalahan pemilihan kata di dalamnya?
  7. Apakah isinya jelas?
  8. Apabila ada pernyataan-pernyataan yang berupa saran atau rekomendasi, apakah pernyataan-pernyataan yang berupa saran tersebut tepat?

Untuk mengingatkan kembali, bahwa teks ulasan dibangun oleh struktur yang unsur-unsurnya adalah:

  1. Identitas karya
  2. Orientasi
  3. Sinopsis
  4. Analisis
  5. Evaluasi

Selain itu, sering pula disertai rekomendasi yang berisikan saran-saran kepada pembaca.

Unsur-unsur tersebut harus ada dan harus disusun secara sistematis. Kekurangan salah satu unsur saja dapat mengakibatkan pemahaman pembaca tentang teks tidak utuh dan terhambat. Dan apa yang terjadi kalau unsur-unsurnya kurang lengkap ditambah dengan susunan yang tidak sistematis?

Sebagai contoh dalam rangka menjelaskan maksud tersebut. Perhatikan kembali teks ulasan berikut!

Contoh Resensi Film

Film “Laskar Pelangi” adalah sebuah adaptasi dari novel Andrea Hirata dengan judul yang sama. Film ini berlokasi di Belitong, Sumatra. Film ini diawali dengan tokoh Ikal dewasa (Lukman Sardi) yang kembali ke tanah kelahirannya setelah merantau. Dia lalu flash back ke masa kecilnya dulu sewaktu masih di SD Muhammadiyah yang sederhana dengan dua guru yang bersahaja, Bu Muslimah (Cut Mini) dan Pak Harfan (Ikranagara).

Lima tahun berlalu dan film bercerita tentang anggota Laskar Pelangi kelimanya duduk di kelas V, melalui sudut pandang Ikal kecil (Zulfani). Selain Ikal, ada juga tokoh Lintang (Ferdian) yang amat jenius dan Mahar (Verrys Yamarno) yang menunjukkan bakat seni luar biasa. Tokoh-tokoh yang lain adalah Akiong, Harun, Sahara, dan Kucai.

Keputusan penting sutradara Riri Riza dan produser Mira Lesmana yang memilih anak-anak asli Belitong sebagai pemain ternyata tepat. Mereka bisa menyelami karakter masing-masing walaupun tidak punya pengalaman acting sebelumnya. Memang, Riri dan Mira terkenal akan kemampuannya mengorbitkan bakat-bakat baru seperti yang terjadi pada Rachel Maryam.

Zulfani dan Ferdian menunjukkan penampilan yang luar biasa sebagai orang baru dalam dunia akting tanpa pengalaman. Kepolosan mereka terasa sangat natural, berbeda dengan bintang-bintang cilik lain yang sering mondar-mandir di layar televisi kita. Anda pasti tanpa sadar tersenyum saat menyaksikan kisah cinta Ikal dengan seorang gadis Tionghoa yang ditemuinya di pasar, menunjukkan betapa naturalnya penampilan dia.

Inti dari film ini, secara emosional, sebenarnya Lintang. Penonton langsung jatuh cinta sejak kemunculan pertama Ikal di layar. Sebagai anak termiskin dari sebuah komunitas miskin, gayanya yang terengah-engah menggenjot sepeda yang terlalu besar untuknya adalah sebuah scene tak terlupakan. Sementara itu, aktor veteran Ikranagara, memberikan penampilan memukau sebagai Pak Harfan. Dia sukses membawakan karakter guru senior yang bersemangat, baik hati, dan sanggup mengambil hati anak-anak asuhannya.

Skenarionya agak berbeda dibanding cerita di novel dengan penambahan beberapa karakter guru yang tidak dituliskan oleh Andrea. Sebuah hal yang wajar, tentu saja. Memang ini film lawas keluaran 2008. Akan tetapi, tidak ada ruginya menonton ”Laskar Pelangi” berkali-kali karena film ini memang “beda” dan berani melawan arus utama sinema Indonesia.

(resensi film bagus.blogspot.com. dengan beberapa penyesuaian)

Kekurangan teks ulasan bisa terjadi pada strukturnya yang tidak lengkap. Mari kita telaah teks ulasan film “Laskar Pelangi”

Apakah ada identitas karya yang ditanggapi? Jawabnya teks tersebut tidak mencantumkan identitas berikut:

  • Judul
  • Bintang
  • Sutradara
  • Produser
  • Skenario
  • Fotografi
  • Produksi
  • Durasi

Teks tersebut langsung pada orientasi dan analisis. Sinopsis tentang isi film itu sendiri tidak jelas. Oleh karena itu, pemahaman kita terhadap teks tersebut tidaklah lengkap dan tidak utuh. Tetapi pada paragraf akhir, kita dapat memperoleh rekomendasi yang dipaparkan setelah adanya evaluasi singkat.

Demikian halnya dengan teks ulasan berikut.

Contoh Teks Ulasan untuk Album Lagu

Sensual! Itu adalah kata yang tepat untuk menggambarkan nyawa musik yang dibawa oleh band asal Malang ini. Band tersebut hadir kembali meramaikan kancah musik lokal, Atlesta mengusung nuansa percampuran musik pop, RnB dengan jazz dalam dua belas lagu besutan Fifan Christa dan kawan-kawan ini.

Album kedua berjudul Sensation dimulai dengan lagu berjudul “Aroma”. Lirik yang singkat dengan sayup-sayup vokal perempuan, membiarkan pendengarnya berimajinasi dalam track pemanasan ini. Tak cukup sampai di situ, lagu kedua berjudul “Paris Weekend” juga membawa pada imajinasi seolah-olah berada dalam perjalanan panjang menuju ke suasana romantis bersama musik bernuansa jazz 80-an. Dalam lagu kedua ini sekilas melemparkan ingatan kita pada musik yang diusung oleh grup band Earth Wind and Fire.

Melompat ke lagi selanjutnya adalah “Oh You”. Jika di album sebelumnya kesan seksi nan nakal ditonjolkan oleh Fifan dan kawan-kawan, barangkali lagu inilah yang mewakili perubahan kesan seksi-nakal ke seksi-elegan. Hal itu terlihat dari pemilihan diksi yang jauh lebih halus tanpa meninggalkan kesan sensual.

“Oh you, just feel the night // Alright, just turn me right // Oh you, turn off the light // Anybody alright, take it all to say.” Melodinya catchy, dijamin sekali mendengarkan kita tidak akan kesulitan untuk mengingat lagu ini.

Coba dengarkan lagu berjudul “Sensation”. Pada lagu ini nuansa RnB lebih terasa dengan ketukan unik.

Album yang dikemas dengan dominan warna hitam ini menyuguhkan dua instrumen. Pertama adalah “Sunset” didominasi oleh gitar. Nuansa itu sekilas terdengar ala Kings of Convenience ini. Sementara itu, pada lagu ke Sembilan kita dibawa mendengarkan dentingan piano yang menenangkan setelah diajak menggoyangkan tubuh pada lagu sebelumnya, “Cadillac Model”.

Jika kamu pecinta musik sekaligus penikmat fotografi, di album ini kita bisa menikmati keduanya sekaligus karena Atlesta mengemas lirik-lirik dalam album Sensation itu ke dalam empat belas lembar foto menarik. Sayangnya lirik-lirik tersebut tidak semuanya tercetak dengan baik, dengan font handwriting yang cukup sulit untuk dibaca.

Secara umum, album ini sebenarnya sudah mampu mendekati apa yang dikerja Atlesta, yakni kesan klasik. Atlesta jauh lebih matang, penuh gairah dan namun tetap catchy. Sangat layak album itu untuk dikoleksi tentunya!

(Winda Carmelita, kapan lagi. com dengan beberapa penyesuaian)

Teks ulasan untuk album lagu ini pun tidak menyertakan identitas isi album. Hal itu menjadikan pemahaman terhadap teks tersebut menjadi terhambat.

Kekurangan teks ulasan selain bisa terjadi pada strukturnya yang tidak lengkap. Kekurangannya itu, mungkin pula terdapat pada isinya yang tidak jelas.

Perhatikan kutifan teks berikut:

Sensual! Itu adalah kata yang tepat untuk menggambarkan nyawa musik yang dibawa oleh band asal Malang ini. Band tersebut hadir kembali meramaikan kancah musik lokal, Atlesta mengusung nuansa percampuran musik pop, RnB dengan jazz dalam dua belas lagu besutan Fifan Christa dan kawan-kawan ini.

Pada paragraf tersebut terdapat penyebutan nama grup yang tidak dikenal. Bagi saya atau mungkin pembaca lain, ini dirasakan mengganggu pemahaman pada isinya.

Kekurangan suatu teks mungkin pula dijumpai pada pilihan katanya.

Perhatikan kutifan teks berikut:

Jika kamu pecinta musik sekaligus penikmat fotografi, di album ini kita bisa menikmati keduanya sekaligus karena Atlesta mengemas lirik-lirik dalam album Sensation itu ke dalam empat belas lembar foto menarik. Sayangnya lirik-lirik tersebut tidak semuanya tercetak dengan baik, dengan font handwriting yang cukup sulit untuk dibaca.

Secara umum, album ini sebenarnya sudah mampu mendekati apa yang dikerja Atlesta, yakni kesan klasik. Atlesta jauh lebih matang, penuh gairah dan namun tetap catchy. Sangat layak album itu untuk dikoleksi tentunya!

Untuk kata-kata font handwriting dan catchy ada baiknya dicarikan padanan kata dalam bahasa Indonesia. Karena kata-kata tersebut kemungkinan sulit dipahami oleh para pembaca.

Disamping kekurangan tentu sebuah teks ulasan mimiliki banyak kelebihan. Kelebihan teks ulasan  bisa terkait dengan kejelasan penyampaiannya, penggunaan bahasa, dan kelebihan pada aspek-aspek yang lain.

Demikian yang dapat saya sampaikan. Semoga ada manfaatnya,

Sumber: Buku Bahasa Indonesia SMP/MTs. Kelas VIII Edisi Revisi 2017.

.

Penelusuran yang Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here