Kisah Nabi Saleh ‘Alaihis Salam dengan Kaumnya Tsamud

Tafsir Al-Qur’an: Surah Asy-Syu’araa ayat 141-152

0
181

Tafsir Al-Qur’an: Surah Asy-Syu’araa ayat 141-152. Kisah Nabi Saleh ‘alaihis salam dengan kaumnya Tsamud, dan keadaan kaumnya yang tidak beriman kepadanya sehingga mereka dibinasakan. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

كَذَّبَتْ ثَمُودُ الْمُرْسَلِينَ (١٤١) إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ صَالِحٌ أَلا تَتَّقُونَ (١٤٢) إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ (١٤٣) فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ (١٤٤) وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ (١٤٥) أَتُتْرَكُونَ فِي مَا هَا هُنَا آمِنِينَ (١٤٦) فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (١٤٧) وَزُرُوعٍ وَنَخْلٍ طَلْعُهَا هَضِيمٌ (١٤٨) وَتَنْحِتُونَ مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا فَارِهِينَ (١٤٩) فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ (١٥٠) وَلا تُطِيعُوا أَمْرَ الْمُسْرِفِينَ (١٥١) الَّذِينَ يُفْسِدُونَ فِي الأرْضِ وَلا يُصْلِحُونَ (١٥٢)

Kaum Tsamud telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka Saleh berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak bertakwa? Sungguh, aku ini seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu,  maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku tidak meminta sesuatu imbalan kepadamu atas ajakan itu, imbalanku hanyalah dari Tuhan seluruh alam. Apakah kamu (mengira) akan dibiarkan tinggal di sini (di negeri kamu ini) dengan aman, di dalam kebun-kebun dan mata air, dan tanaman-tanaman dan pohon-pohon kurma yang mayangnya lembut. dan kamu pahat dengan terampil sebagian gunung-gunung untuk dijadikan rumah-rumah; maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku; dan janganlah kamu menaati perintah orang-orang yang melampaui batas, yang berbuat kerusakan di bumi dan tidak mengadakan perbaikan.” (Q.S. Asy-Syu’araa : 141-152)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Kadz-dzabat tsamūdul mursalīn (kaum Tsamud telah mendustakan para rasul), yakni kaum Nabi Shalih telah mendustakan Nabi Shalih a.s. dan sejumlah rasul yang dia utarakan kepada mereka.

Idz qāla lahum akhūhum shālihun (tatkala saudara mereka, Shalih, berkata kepada mereka), yakni ketika Nabi Shalih a.s. berkata kepada mereka.

A lā tattaqūn (mengapa kalian tidak mau bertakwa), yakni tidak mau menjauhi penyembahan kepada selain Allah Ta‘ala.

Innī lakum (sesungguhnya aku [yang diutus] kepada kalian), dari Allah Ta‘ala.

Rasūlun amīn (adalah seorang rasul yang dapat dipercaya) dalam mengemban risalah.

Fattaqullāha (karena itu, bertakwalah kalian kepada Allah), yakni yakni takutlah kepada Allah Ta‘ala jika tidak melaksanakan tobat dan keimanan, (seperti) yang telah aku perintahkan kepada kalian.

Wa athī‘un (dan taatlah kepadaku), yakni ikutilah perintah dan agamaku.

Wa mā as-alukum ‘alaihi (dan untuk itu aku sama sekali tidak meminta kepada kalian), yakni untuk seruan(ku) agar (kalian) bertauhid itu.

Min ajrin (upah), yakni bayaran dan pemberian.

In ajriya (tiadalah upahku), yakni pahalaku.

Illā ‘alā rabbil ‘ālamīn (melainkan dari Rabb semesta alam).

A tutrakūna fī mā hāhunā (apakah kalian akan dibiarkan berada dalam segala apa yang ada di sini), yakni dalam segala kenikmatan.

Āminīn (dengan aman) dari kematian, kehilangan, dan azab.

Fi jannātiw wa ‘uyūn (di dalam kebun-kebun dan mata air-mata air), yakni air yang bersih.

Wa zurū‘in (dan tanam-tanaman), yakni ladang-ladang.

Wa nakhliη thal‘uhā (dan pohon-pohon kurma yang mayangnya), yakni buahnya.

Hadlīm (lembut), yakni lunak, halus, dan matang.

Wa tanhitūna minal jibāli (dan kalian memahat sebagian gunung-gunung), yakni memahat gunung-gunung.

Buyūtaη fārihīn (untuk dijadikan rumah-rumah dengan mahir), yakni dengan pandai. Menurut satu pendapat, apabila lafazhfārihīn dibaca farihīn (tanpa alip sesudah fa’) maka artinya, disertai sikap ujub dan takabur terhadap pekerjaan kalian.

Fattaqullāha (karena itu, bertakwalah kalian kepada Allah), yakni hendaklah kalian takut kepada Allah Ta‘ala berkaitan dengan apa yang aku perintahkan kepada kalian.

Wa athī‘ūn (dan taatlah kepadaku), yakni ikutilah perintah dan pesanku.

Wa lā tuthī‘ū amral musrifīn (dan janganlah kalian mematuhi perintah orang-orang yang melampaui batas), yakni mengikuti ucapan orang-orang musyrik.

Alladzīna yufsidūna fil ardli ([yaitu] orang-orang yang membuat kerusakan di bumi) dengan melalakukan kekafiran, kemusyrikan, dan memohon kepada selain Allah Ta‘ala.

Wa lā yushlihūn (dan tidak mengadakan perbaikan), yakni tidak menyuruh pada kemaslahatan.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Kaum Tsamud[1] telah mendustakan para rasul.

[1] Tsamud adalah nama kabilah yang terkenal di kota-kota Hijr.

  1. Ketika saudara mereka[2] Saleh berkata kepada mereka[3], “Mengapa kamu tidak bertakwa[4]?

[2] Senasab.

[3] Dengan lembut dan bicara yang baik.

[4] Kepada Allah, dengan meninggalakn syirk dan maksiat.

  1. Sungguh, aku ini seorang rasul[5] kepercayaan[6] (yang diutus) kepadamu,

[5] Yakni dari Allah Tuhan kamu, Dia mengutusku kepadamu karena kelembutan dan rahmat-Nya kepada kamu. Oleh karena itu, terimalah rahmat-Nya dan tunduklah kepada-Nya.

[6] Yakni yang menghendaki kamu untuk beriman kepadaku dan kepada yang aku bawa.

  1. maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.
  2. Dan aku tidak meminta sesuatu imbalan kepadamu atas ajakan itu[7], imbalanku hanyalah dari Tuhan seluruh alam.

[7] Sehingga kamu mengatakan, “Yang menghalangi kami untuk mengikutimu adalah karena kamu meminta imbalan.”

  1. Apakah kamu (mengira) akan dibiarkan tinggal di sini (di negeri kamu ini)[8] dengan aman,

[8] Memperoleh berbagai kesenangan dan dibiarkan begitu saja tidak mendapat perintah dan larangan, dan menggunakan nikmat-nikmat itu untuk bermaksiat kepada-Nya.

  1. di dalam kebun-kebun dan mata air,
  2. dan tanaman-tanaman dan pohon-pohon kurma yang mayangnya lembut.
  3. dan kamu pahat dengan terampil sebagian gunung-gunung untuk dijadikan rumah-rumah;
  4. maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku;
  5. dan janganlah kamu menaati perintah orang-orang yang melampaui batas,
  6. yang berbuat kerusakan di bumi[9] dan tidak mengadakan perbaikan[10].”

[9] Dengan kemaksiatan. Di tengah-tengah kaum Tsamud ada sembilan orang yang menghasut kaumnya agar tidak beriman kepada Nabi Saleh dan mengajak manusia kepada kekafiran dan kemaksiatan, bahkan mereka hendak mencelakan Nabi Saleh dan keluarganya (lihat surah An Naml: 48-49), maka Nabi Saleh mengingatkan kaumnya agar tidak tertipu oleh beberapa orang itu karena sikapnya yang melampaui batas; yang mengadakan kerusakan di bumi dan tidak mengadakan perbaikan. Namun nasehat Nabi Saleh tidak bermanfaat bagi mereka, bahkan mereka mengatakan, “Sungguh, engkau hanyalah termasuk orang yang kena sihir,”

[10] Dengan ketaatan kepada Allah.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Kaum Tsamud telah mendustakan Rasul-Rasul).
  2. (Ketika saudara mereka Saleh, berkata kepada mereka, “Mengapa kalian tidak bertakwa?).
  3. (Sesungguhnya aku adalah seorang Rasu1 kepercayaan yang diutus kepada kalian).
  4. (Maka bertakwalah kalian kepada Allah dan taatlah kalian kepadaku).
  5. (Dan aku sekali-kali tidak meminta upah atas ajakan itu, tiada lain) (upahku hanyalah dari Rabb semesta alam).
  6. (Adakah kalian akan dibiarkan tinggal di sini bergelimangan) dengan kebaikan-kebaikan (dengan aman).
  7. (Di dalam kebun-kebun serta mata air).
  8. (Dan tanaman-tanaman dan pohon-pohon kurma yang mayangnya lembut) yakni lemah lembut
  9. (Dan kalian pahat sebagian dari gunung-gunung untuk dijadikan rumah-rumah dengan rajin) dengan penuh semangat; menurut suatu qiraat dibaca Farihina, artinya, dengan penuh keangkuhan.
  10. (Maka bertakwalah kalian kepada Allah dan taatlah kepadaku) dengan mengerjakan apa yang telah kuperintahkan kepada kalian untuk melakukannya.
  11. (Dan janganlah kalian menaati perintah orang-orang yang melewati batas).
  12. (Yang membuat kerusakan di muka bumi) dengan melakukan perbuatan-perbuatan durhaka (dan tidak mengadakan perbaikan.”) yakni menjalankan ketaatan kepada Allah.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Berikut ini adalah kisah dari Allah Swt. tentang hamba dan Rasul-Nya Saleh a.s. bahwa Dia telah mengutusnya kepada kaumnya, yaitu Samud. Kaum Samud adalah bangsa Arab yang bertempat tinggal di kota Hajar yang terletak di antara Lembah Qura dan negeri Syam. Bekas tempat tinggal mereka telah dikenal dan termasyhur. Dalam pembahasan terdahulu (yaitu dalam tafsir surat Al-A’raf) telah disebutkan hadis-hadis yang menceritakan tentang berlalunya Rasulullah ﷺ di bekas tempat kediaman mereka pada saat beliau hendak menyerang negeri Syam. Beliau sampai di Tabuk, kemudian kembali lagi ke Madinah untuk melakukan persiapan guna menghadapi tujuan tersebut. Kaum Samud adalah kaum sesudah kaum ‘Ad, tetapi sebelum masa Nabi Ibrahim a.s.

Nabi mereka (yaitu Saleh a.s.) menyeru mereka untuk menyembah Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya; dan hendaknya mereka menaati apa yang dia sampaikan kepada mereka sebagai risalah dari Tuhannya. Akan tetapi, mereka menolak dan mendustakannya serta menentangnya, sekalipun dia telah menceritakan kepada mereka bahwa dia tidak meminta upah dari mereka atas seruan yang ia berikan kepada mereka; sesungguhnya ia hanya mengharapkan pahala tersebut dari Allah Swt. semata. Lalu Saleh mengingatkan kepada mereka akan nikmat-nikmat Allah yang telah diberikan kepada mereka.

Nabi Saleh berkata kepada mereka seraya menasehati dan memperingatkan mereka akan siksaan Allah yang akan menimpa mereka, sekaligus mengingatkan mereka akan nikmat-nikmat Allah yang telah diberikan kepada mereka melalui rezeki yang berlimpah, dan Allah menjadikan mereka aman dari bahaya, ditumbuhkan-Nyalah bagi mereka kebun-kebun, dan dialirkan-Nya bagi mereka mata air-mata air, serta dikeluar-kan-Nyalah bagi mereka tanam-tanaman dan buah-buahan. Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:

dan pohon-pohon kurma yang mayangnya lembut. (Asy-Syu’ara’: 148)

Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa yang dimaksud dengan Hadim ialah mekar dan masak.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: dan pohon-pohon kurma yang mayangnya lembut. (Asy-Syu’ara’: 148) Yakni yang subur.

Ismail ibnu Abu Khalid telah meriwayatkan dari Amr ibnu Abu Amr yang menjumpai masa sahabat dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: dan pohon-pohon kurma yang mayangnya lembut. (Asy-Syu’ara’: 148) Yaitu bila telah masak dan bergayutan; diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim. Kemudian Abu Hatim mengatakan, telah diriwayatkan hal yang semisal dari Abu Saleh.

Abu Ishaq telah meriwayatkan dari Abul Ala sehubungan dengan makna firman-Nya: dan pohon-pohon kurma yang mayangnya lembut. (Asy-Syu’ara’: 148) Maksudnya, mayang kurma yang berekor (karena isinya yang banyak).

Mujahid mengatakan bahwa hadim ialah bila kering banyak buahnya sehingga berserakan.

Ibnu Juraij mengatakan, ia pernah mendengar Abdul Karim mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Umayyah yang telah mengatakan bahwa ia pernah mendengar Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan pohon-pohon kurma yang mayangnya lembut. (Asy-Syu’ara’: 148) Yakni saat mayang tersebut muncul mengatup dan menutupi buahnya, maka buahnya yang masih basah itu dinamakan hadim. Sedangkan kurma yang kering bila terkatup oleh mayangnya, maka buahnya yang kering itu dinamakan hasyim.

Ikrimah mengatakan demikian pula Qatadah, bahwa hadim artinya buah kurma yang lembut. Ad-Dahhak mengatakan bahwa apabila tandan kurma banyak buahnya sehingga buahnya sebagian di antaranya bertumpang tindih dengan sebagian yang lain, maka dinamakan hadim. Murrah mengatakan bahwa hadim ialah mayang kurma saat mekar dan kelihatan hijau (yakni subur buahnya).

Al-Hasan Al-Basri mengatakan, hadim ialah buah kurma yang tidak ada bijinya.

Abu Sakhr mengatakan, “Manakala engkau melihat mayang kurma mekar, lalu engkau lihat buahnya bersusun-susun, maka itulah yang dinamakan hadim.

Firman Allah Swt.:

Dan kamu pahat sebagian dari gunung-gunung untuk dijadikan rumah-rumah dengan rajin. (Asy-Syu’ara’: 149)

Ibnu Abbas dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang mengatakan bahwa farihin artinya dengan cerdik. Tetapi menurut riwayat lain yang juga bersumber dari Ibnu Abbas, artinya tamak lagi jahat. Pendapat yang terakhir inilah yang dipilih oleh Mujahid dan sejumlah ulama. Tidak ada pertentangan di antara kedua pendapat tersebut, karena sesungguhnya mereka membuat rumah-rumah pahatan di gunung-gunung itu dengan tujuan kesombongan, ketamakan, dan main-main, bukan karena keperluan untuk tempat tinggal. Dan mereka adalah Orang-orang yang ahli dalam hal pahat-memahat seperti yang dapat disaksikan dari bekas peninggalan mereka. Karena itulah nabi mereka berkata kepada mereka:

maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. (Asy-Syu’ara’: 150)

Yaitu terimalah apa yang manfaatnya kembali kepada kalian di dunia dan di akhirat ini, yaitu menyembah Tuhan kalian yang telah menciptakan dan memberi rezeki kalian. Maksudnya, sembahlah Allah dan esakanlah Dia serta bertasbihlah kepada-Nya setiap pagi dan petang.

dan janganlah kamu menaati perintah orang-orang yang melewati batas, yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan. (Asy-Syu’ara’: 151-152)

Yakni para pemimpin dan para pembesar mereka yang menyeru mereka untuk berbuat kemusyrikan, kekufuran, dan menentang kebenaran.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

«««« juz 18 ««««      «««« juz 19 ««««      «««« juz 20 ««««