Ingatlah Kaum ‘Aad dan Tsamud juga Fir’aun dan Haman

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-‘Ankabut ayat 38-40

0
127

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-‘Ankabut ayat 38-40. Akibat yang dialami negeri-negeri yang zalim; ingatlah kaum ‘Aad dan Tsamud juga Fir’aun dan Haman, dan bagaimana mereka diberi hukuman karena dosa-dosanya. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

  وَعَادًا وَثَمُودَ وَقَدْ تَبَيَّنَ لَكُمْ مِنْ مَسَاكِنِهِمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَكَانُوا مُسْتَبْصِرِينَ (٣٨) وَقَارُونَ وَفِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مُوسَى بِالْبَيِّنَاتِ فَاسْتَكْبَرُوا فِي الأرْضِ وَمَا كَانُوا سَابِقِينَ (٣٩) فَكُلا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الأرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ (٤٠)

juga (ingatlah) kaum ‘Aad dan Tsamud, sungguh telah nyata bagi kamu (kehancuran mereka) dari (puing-puing) tempat tinggal mereka, setan telah menjadikan terasa indah bagi mereka perbuatan (buruk) mereka, sehingga menghalangi mereka dari jalan (Allah), sedangkan mereka adalah orang-orang berpandangan tajam, dan (juga) Karun, Fir’aun dan Haman. Sungguh, telah datang kepada mereka Musa dengan (membawa) keterangan-keterangan yang nyata. Tetapi mereka berlaku sombong di bumi, dan mereka orang-orang yang tidak luput (dari azab Allah). Maka masing-masing (mereka itu) Kami azab karena dosa-dosanya, di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan ada pula yang Kami tenggelamkan. Allah sama sekali tidak hendak menzalimi mereka, akan tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri. (Q.S. Al-‘Ankabut : 38-40)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa ‘ādan (dan kaum ‘Aad), yakni dan Kami telah membinasakan kaum Nabi Hud.

Wa tsamūda (dan juga Tsamud), yakni dan Kami juga telah membinasakan kaum Nabi Shalih.

Wa qad tabayyana lakum (dan sungguh telah nyata bagi kalian), hai penduduk Mekah.

Mim masākinihim (dari tempat-tempat tinggal mereka), yakni dari puing-puing tempat tinggal mereka (kalian dapat melihat) akibat tindakan Allah Ta‘ala yang ditimpakan kepada mereka.

Wa zayyana lahumusy syaithānu a‘mālahum (dan setan telah membuat mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka) yang musyrik, serta sikap mereka dalam menghadapi kesulitan dan kemakmuran.

Fa shaddahum (lalu ia menghalang-halangi mereka), yakni setan memalingkan mereka dengan cara tersebut.

‘Anis sabīli (dari Jalan [Allah]), yakni dari kebenaran dan petunjuk.

Wa kānū mustabshirīn (padahal mereka adalah orang-orang yang berpikiran), yakni mereka memandang bahwa mereka berada dalam kebenaran, padahal sebenarnya mereka tidak berada dalam kebenaran.

Wa qārūna (dan juga Qarun), yakni Kami pun telah membinasakan Qarun.

Wa fir‘auna wa hāmāna (Fir‘aun, dan Haman), yakni wazir (menteri) Fir‘aun.

Wa la qad jā-ahum mūsā bil bayyināti (dan sungguh Musa telah datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata), yakni dengan membawa perintah, larangan, dan tanda-tanda yang nyata.

Fastakbarū fil ardli (namun, mereka merasa takabur di bumi), yakni merasa takabur untuk beriman, dan tidak mengimani tanda-tanda Kekuasaan Allah itu.

Wa mā kānū sābiqīn (dan tiadalah mereka itu orang-orang yang dapat mendahului), yakni yang dapat luput dari Azab Allah Ta‘ala.

Fa kullan (maka masing-masing), yakni maka setiap kaum.

Akhādznā bi dzambihī (telah Kami Siksa disebabkan dosanya) dalam kemusyrikan.

Fa minhum man arsalnā ‘alaihi hāshiban (maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu). Mereka adalah kaum Nabi Luth.

Wa minhum man akhadzat-hush shaihatu (dan di antara mereka ada yang ditimpa suara yang menggelegar) sebagai azab. Mereka adalah kaum Nabi Syu‘aib dan Nabi Shalih.

Wa minhum man khasafnā bihil ardla (dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi), yakni ditelan bumi. Mereka adalah Qarun dan yang sekelompok dengannya.

Wa minhum man aghraqnā (dan di antara mereka juga ada yang Kami tenggelamkan) ke dalam laut. Mereka adalah Fir‘aun dan kaumnya.

Wa mā kānallāhu li yazhlimahum (dan sekali-kali tidaklah Allah hendak Berlaku zalim terhadap mereka) dengan pembinasaan mereka itu.

Wa lāking kānū aηfusahum yazhlimūn (tetapi merekalah yang berlaku zalim terhadap diri mereka sendiri) dengan mengerjakan kekufuran, kemusyrikan, dan mendustakan rasul.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. juga (ingatlah) kaum ‘Aad dan Tsamud, sungguh telah nyata bagi kamu (kehancuran mereka) dari (puing-puing) tempat tinggal mereka[12], setan telah menjadikan terasa indah bagi mereka perbuatan (buruk) mereka[13], sehingga menghalangi mereka dari jalan (Allah), sedangkan mereka adalah orang-orang berpandangan tajam,

[12] Di Hijr dan Yaman.

[13] Berupa kekafiran dan kemaksiatan, sehingga mereka menyangka bahwa perbuatan mereka itu lebih baik daripada apa yang dibawa para rasul.

  1. dan (juga) Karun, Fir’aun dan Haman. Sungguh, telah datang kepada mereka Musa dengan (membawa) keterangan-keterangan yang nyata. Tetapi mereka berlaku sombong di bumi[14], dan mereka orang-orang yang tidak luput (dari azab Allah).

[14] Mereka tidak mau mengikuti kebenaran yang dibawa Musa ‘alaihis salam dan mereka merendahkan hamba-hamba Allah.

  1. Maka masing-masing (mereka itu) Kami azab karena dosa-dosanya[15], di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil[16], ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur[17], ada yang Kami benamkan ke dalam bumi[18], dan ada pula yang Kami tenggelamkan[19]. Allah sama sekali tidak hendak menzalimi mereka[20], akan tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri[21].

[15] Yakni sesuai ukuran dosanya dan diberi hukuman yang sesuai.

[16] Seperti kaum Luth. Ada pula yang mengatakan seperti kaum ‘Aad, yaitu ketika mereka berkata, “Siapakah yang lebih kuat daripada kami?” Maka datang kepada mereka angin topan yang sangat dingin yang membawa kerikil-kerikil lalu ditimpakan kepada mereka, mengangkat mereka dari bumi sampai tinggi ke atas, lalu dijungkirbalikkan ke bawah, sehingga kepalanya pecah dan mereka dalam keadaan berbadan tanpa kepala seperti batang-batang kurma yang telah kosong (lapuk), lihat tafsir Ibnu Katsir.

[17] Seperti kaum Saleh (Tsamud).

[18] Seperti Karun.

[19] Seperti kaum Nuh dan Fir’aun bersama bala tentaranya.

[20] Dia tidak akan mengazab mereka, kecuali karena mereka berdosa.

[21] Mereka tidak mengerjakan tugas mereka, di mana mereka diciptakan untuk beribadah, bahkan menyibukkan diri mereka untuk selain itu, mereka sibukkan diri mereka untuk memuaskan hawa nafsu dan berbuat maksiat, sehingga mereka merugikan diri mereka serugi-ruginya.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan) Kami binasakan (kaum ‘Aad dan Tsamud) lafal tsamuuda dapat pula dibaca tsamuudan dengan memakai harakat tanwin, maksudnya adalah nama kabilah (dan sungguh telah nyata bagi kalian) kebinasaan mereka (dari puing-puing tempat tinggal mereka) di daerah Al-Hijr dan negeri Yaman. (Dan setan menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka) seperti kekafiran dan kemaksiatan (lalu ia menghalangi mereka dari jalan) yang benar (sedangkan mereka adalah orang-orang yang berpandangan tajam) yakni memiliki pandangan tentang perkara hak itu tetapi mereka tidak mau mengikutinya.
  2. (Dan) telah Kami binasakan pula (Qarun, Firaun dan Haman. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka) sebelumnya (Musa dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata) hujah-hujah yang jelas dan gamblang. (Akan tetapi mereka berlaku sombong di muka bumi dan tiadalah mereka orang-orang yang luput) dari azab Kami.
  3. (Maka masing-masing) dari orang-orang yang telah disebutkan di atas tadi (Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil) yaitu angin topan yang dibarengi dengan batu-batu kerikil, sebagaimana azab yang telah menimpa kaum Nabi Luth (dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur) seperti azab yang menimpa kaum Tsamud (dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi) sebagaimana yang dialami oleh Qarun (dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan) seperti yang menimpa kaum Nabi Nuh dan Firaun beserta kaumnya (dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka) maksudnya tidak akan mengazab mereka dengan tanpa dosa (akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri) disebabkan mereka telah melakukan dosa.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Swt. menceritakan tentang umat-umat yang mendustakan rasul-rasul, bahwa Allah telah membinasakan mereka dengan berbagai macam azab sebagai pembalasan Allah Swt. terhadap mereka.

‘Aad adalah kaum Nabi Hud a.s. Mereka tinggal di daerah Ahqaf (bukit-bukit pasir) yang letaknya dekat dengan Hadramaut di negeri Yaman. Samud adalah kaum Nabi Saleh, mereka tinggal di kota Al-Hijr yang letaknya dekat dengan Wadil Qura. Orang-orang Arab mengenal benar tempat-tempat tinggal mereka karena mereka biasa melaluinya dalam perjalanan niaga mereka.

Qarun pemilik harta yang berlimpah dan kunci-kunci perbendaharaan yang berat-berat, saking banyaknya harta. Juga Fir’aun Raja Mesir di masa Nabi Musa berikut patihnya (yaitu Haman), keduanya adalah bangsa Egypt yang kafir kepada Allah dan rasul-Nya.

Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya. (Al-‘Ankabut: 40)

Yakni siksaan yang ditimpakan kepada masing-masing sesuai dengan dosanya.

maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil. (Al-‘Ankabut: 40)

Mereka adalah kaum ‘Aad, demikian itu karena mereka mengatakan, “Siapakah yang lebih kuat daripada kami?” Maka datanglah angin puyuh yang sangat dingin lagi sangat kuat tiupannya; angin tersebut menerbang¬kan semua batu kerikil dan menerbangkan mereka tinggi-tinggi ke udara, lalu mereka dijatuhkan dengan kepala di bawah sehingga hancurlah kepala mereka, yang tertinggal adalah badan mereka saja tanpa kepala, seakan-akan keadaan mereka bagaikan pokok-pokok kurma yang tumbang.

dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur. (Al-‘Ankabut: 40)

Mereka adalah kaum Tsamud. Hujah Allah telah ditegakkan terhadap mereka dan bukti kebenaran telah ditampakkan kepada mereka melalui unta betina yang muncul dari sebuah batu besar, sesuai dengan apa yang dimintakan oleh mereka kepada Nabi Saleh. Tetapi sekalipun demikian mereka tetap tidak beriman, bahkan mereka tetap tenggelam di dalam kekafiran dan perbuatan mereka yang melampaui batas. Mereka juga mengancam Nabi Saleh bersama orang-orang yang beriman kepadanya, bahwa Saleh dan para pengikutnya akan diusir oleh mereka dari negerinya dan akan dirajam dengan batu. Maka datanglah pekikan keras yang mengguntur menimpa mereka sehingga mereka tiada bersuara lagi dan binasalah mereka semuanya.

dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi. (Al-‘Ankabut: 40)

Dia adalah Qarun yang kelewat batas, bersikap sewenang-wenang, zalim, serta durhaka kepada Allah Swt. Dia berjalan di muka bumi dengan langkah-langkah yang sombong dan angkuh serta bertindak sewenang-wenang, dan ia menduga bahwa dirinya lebih utama daripada orang lain serta berjalan dengan penuh kebanggaan dan keangkuhan, maka Allah membenamkan dirinya berikut rumahnya. Dia terus terbenam ke dalam bumi sampai hari kiamat.

dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan. (Al-‘Ankabut: 40)

Dia adalah Fir’aun dan patihnya yang bernama Haman beserta bala tentara keduanya, semuanya ditenggelamkan dalam waktu yang singkat, tiada seorang pun dari mereka yang selamat.

dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka. (Al-‘Ankabut: 40)

dalam perbuatan-Nya terhadap mereka.

akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (Al-‘Ankabut: 40)

Sesungguhnya Kami melakukan hal itu terhadap mereka hanyalah sebagai balasan yang setimpal dari apa yang dilakukan oleh diri mereka sendiri. Tafsir yang telah kami kemukakan di atas sesuai dengan makna lahiriah konteks ayat; ungkapan ini dinamakan Al-laf dan nasyr. Yaitu pada mulanya Allah menyebutkan perihal umat-umat yang mendustakan, kemudian berfirman:

Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya. (Al-‘Ankabut: 40)

Yakni masing-masing dari mereka yang telah disebutkan di atas.

Sesungguhnya kami sengaja mengingatkan hal ini karena ada riwayat Ibnu Jarir yang menyebutkan bahwa Ibnu Abbas pernah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil. (Al-‘Ankabut: 40) Yaitu kaumnya Nabi Luth. dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan. (Al-‘Ankabut: 40) Yakni kaumnya Nabi Nuh.

Riwayat ini munqati’ dari Ibnu Abbas, karena sesungguhnya Ibnu Juraij tidak menjumpai masa Ibnu Abbas. Kemudian Allah pun menyebutkan dalam surat ini perihal kebinasaan kaum Nuh oleh banjir besar dan kaum Lut oleh azab dari langit. Lalu disebutkan keterangan dengan panjang lebar lagi terinci dengan adanya perbedaan antara tafsir ini dengan tafsir yang sebelumnya.

Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil. (Al-‘Ankabut: 40) Bahwa yang dimaksud adalah kaum Nabi Lut. dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur. (Al-‘Ankabut: 40) Bahwa yang dimaksud adalah kaumnya Nabi Syu’aib.

Pendapat ini pun jauh dari kebenaran karena alasan yang telah disebutkan di atas,

Wallahu a’lam dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

«««« juz 19 ««««      «««« juz 20 ««««      «««« juz 21 ««««