Kebenaran Berita Al-Qur’an Tentang Peristiwa yang Akan Terjadi

Tafsir Al-Qur’an: Surah Ar-Ruum ayat 4-5

0
123

Tafsir Al-Qur’an: Surah Ar-Ruum ayat 4-5. Kebenaran berita Al-Qur’an tentang peristiwa yang akan terjadi, berita kemenangan Bangsa Romawi terhadap Bangsa Persia yang musyrik. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

فِي بِضْعِ سِنِينَ لِلَّهِ الأمْرُ مِنْ قَبْلُ وَمِنْ بَعْدُ وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ (٤) بِنَصْرِ اللَّهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ (٥)

Dalam beberapa tahun lagi. Bagi Allah-lah urusan sebelum dan setelah (mereka menang). Dan pada hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. (Q.S. Ar-Rum : 4-5)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Fī bidl‘i sinīn (dalam beberapa tahun lagi), yakni tujuh tahun lagi. Setelah turunnya ayat ini, Abu Bakr mengadakan taruhan sepuluh ekor unta dengan Ubay bin Khalaf al-Jumahi yang musyrik (hal ini ia lakukan sebelum adanya pengharaman judi).

Lillāhil amru (kepunyaan Allah-lah urusan), yakni kemenangan dan kekuasaan hanya untuk Nabi Muhammad ﷺ.

Ming qablu (sebelum), yakni sebelum Persia mengalahkan Romawi.

Wa mim ba‘du (dan sesudahnya), yakni sesudah Romawi mengalahkan Persia. Menurut pendapat yang lain, sebelum kemenangan Romawi atas Persia dan sesudah kemenangan Romawi atas Persia. Ada yang berpendapat,

lillāhil amru (Kepunyaan Allah-lah urusan), yakni pengetahuan, kekuasaan, dan kehidupan;

ming qablu (sebelum), yakni sebelum dimulainya penciptaan makhluk;

wa mim ba‘du (dan sesudahnya), yakni sesudah kebinasaan semua makhluk. Ada pula yang berpendapat, Allah Ta‘ala adalah yang memerintah sebelum ada yang diperintah dan sesudah tiadanya yang diperintah. Dia Pencipta sebelum ada yang dicipta, Pemberi rezeki sebelum ada yang diberi rezeki, serta Dia-lah Pencipta dan Pemberi rezeki sesudah kebinasaan yang dicipta dan yang diberi rezeki. Dia adalah Penguasa sebelum adanya yang dikuasai dan sesudah binasanya yang dikuasai, sebagaimana Firman Allah Ta‘ala, “Yang menguasai hari pembalasan (Q.S. 1 al-Fātihah:4)”, dan juga sesudah hari pembalasan.

Wa yauma-idzin (dan pada hari itu), yakni pada hari kemenangan Romawi atas Persia dan kemenangan Nabi Muhammad ﷺ atas penduduk Mekah, yaitu pada Perang Badr, atau menurut yang lain pada Peristiwa Hudaibiyyah.

Yafrahul mu’minūn (bersukacitalah kaum Mukminin).

Bi nashrillāh (karena pertolongan Allah) kepada Nabi Muhammad ﷺ dalam menghadapi musuh-musuhnya dan kemenangan Romawi terhadap Persia.

Yaηshuru may yasyā’ (Dia menolong siapa saja yang dikehendaki-Nya), yakni Allah Ta‘ala menolong Nabi Muhammad ﷺ.

Wa huwal ‘azīzu (dan Dia-lah Yang Maha Perkasa) menimpakan hukuman kepada Abu Jahl dan kawan-kawannya pada Perang Badr.

Ar-rahīm (lagi Maha Penyayang) kepada orang-orang yang beriman kepada Nabi Muhammad ﷺ dan para shahabatnya.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. dalam beberapa tahun lagi[5]. Bagi Allah-lah urusan sebelum dan setelah (mereka menang)[6]. Dan pada hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman[7],

[5] Ialah antara tiga sampai sembilan tahun. Waktu antara kekalahan bangsa Romawi (tahun 614-615) dengan kemenangannya (tahun 622 M) kira-kira tujuh tahun.

[6] Kemenangan dan kekalahan adalah dengan kehendak Alah dan qadar-Nya, bukan karena adanya sebab.

[7] Sedangkan orang-orang musyrik berduka cita. Meskipun bangsa Romawi juga orang-orang kafir, namun sebagian keburukannya lebih ringan daripada bangsa Persia.

  1. karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Perkasa[8] lagi Maha Penyayang[9].

[8] Dengan keperkasaan-Nya Dia tundukkan semua makhluk, Dia memberikan kerajaan kepada siapa yang Dia kehendaki dan mencabut kerajaan dari siapa yang Dia kehendaki, Dia memuliakan siapa yang Dia kehendaki dan menghinakan siapa yang Dia kehendaki.

[9] Kepada hamba-hamba-Nya yang mukmin, di mana Dia telah menetapkan segala sebab yang membahagiakan mereka dan memenangkan mereka.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dalam beberapa tahun lagi) pengertian lafal bidh’u siniina adalah mulai dari tiga tahun sampai dengan sembilan atau sepuluh tahun. Kedua pasukan itu bertemu kembali pada tahun yang ketujuh sesudah pertempuran yang pertama tadi. Akhirnya dalam pertempuran ini pasukan Romawi berhasil mengalahkan pasukan kerajaan Persia. (Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudahnya) yakni sebelum bangsa Romawi menang dan sesudahnya. Maksudnya, pada permulaannya pasukan Persia dapat mengalahkan pasukan Romawi, kemudian pasukan Romawi menang atas mereka dengan kehendak Allah. (Dan di hari itu) yakni di hari kemenangan bangsa Romawi (bergembiralah orang-orang yang beriman).
  2. (Karena pertolongan Allah) kepada mereka atas pasukan Persia; orang-orang Mukmin merasa gembira mendengar berita ini, dan mereka mengetahui berita ini melalui malaikat Jibril yang turun memberitahukannya ketika mereka sedang dalam perang Badar. Kegembiraan mereka menjadi bertambah setelah mereka mendapat kemenangan atas orang-orang musyrik di dalam perang Badar (Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Yang Maha Perkasa) Maha Menang (lagi Maha Penyayang) kepada orang-orang Mukmin.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Swt.:

Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). (Ar-Rum: 4)

Maksudnya, sebelum dan sesudah peristiwa kemenangan itu; hal ini diungkapkan dengan mabnidam karena diputuskan dari idafah-nya.

Dan di hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. (Ar-Rum: 4-5)

Yakni ditolong-Nya orang-orang Romawi pasukan kaisar raja negeri Syam atas pasukan Persia pendukung Kisra yang Majusi. Kemenangan pasukan Romawi atas pasukan Persia bertepatan dengan terjadinya Perang Badar, menurut pendapat sebagian besar ulama, seperti Ibnu Abbas, As-Sauri, As-Saddi, dan lain-lainnya.

Disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Turmuzi, Ibnu Jarir, Abu Hatim, dan Al-Bazzar melalui hadis Al-A’masy, dari Atiyyah, dari Abu Sa’id yang telah menceritakan bahwa ketika Perang Badar terjadi, bertepatan dengan itu bangsa Romawi beroleh kemenangan atas bangsa Persia. Maka kaum mukmin gembira mendengar berita tersebut, dan Allah menurunkan firman-Nya: Dan di hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. (Ar-Rum: 4-5)

Ulama lainnya mengatakan bahwa kemenangan bangsa Romawi atas bangsa Persia justru terjadi di tahun ditandatanganinya Perjanjian Hudaibiyah. Demikianlah menurut pendapat Ikrimah, Az-Zuhri, dan Qatadah serta yang lainnya yang bukan hanya seorang. Sebagian dari mereka yang berpendapat demikian mengemukakan alasannya untuk mendukung pendapatnya ini, bahwa kaisar telah bernazar bahwa bila Allah memberikan kemenangan kepadanya atas Kisra, dia benar-benar akan berjalan kaki dari Himsa ke Yerussalem yaitu berziarah ke Baitul Maqdis sebagai ungkapan rasa syukurnya kepada Allah Swt. dan nazarnya itu benar-benar ia kerjakan.

Setelah berada di Baitul Maqdis dan belum lagi ia meninggalkannya, datanglah surat Rasulullah ﷺ yang beliau kirimkan melalui Dihyah ibnu Khalifah. Dihyah menyerahkan surat itu kepada gubernur Basrah, lalu gubernur Basrah menyerahkannya kepada kaisar.

Setelah kaisar membaca surat Rasulullah ﷺ, ia meminta agar dapat berbicara dengan orang-orang Arab Hijaz yang sedang ada di negeri Syam. Saat itu Abu Sufyan alias Sakhr ibnu Harb Al-Umawi sedang berada di Gazzah bersama sejumlah orang Quraisy dalam misi dagangnya. Maka mereka dipanggil menghadap kaisar dan duduk di hadapannya.

Lalu kaisar bertanya, “Siapakah di antara kalian yang paling dekat hubungan nasabnya dengan lelaki ini (maksudnya Nabi ﷺ) yang mengakui dirinya sebagai seorang nabi?” Abu Sufyan menjawab, “Saya.”

Kaisar berkata kepada pembantu-pembantunya, “Persilakanlah mereka untuk duduk di belakang orang ini, karena sesungguhnya aku akan menanyainya tentang lelaki itu. Jika dia dusta, tentu mereka akan memprotesnya.” Abu Sufyan berkata (dalam hatinya), “Demi Allah, seandainya mereka tidak menekanku agar jangan berdusta, tentulah aku akan berdusta.”

Kemudian Heraklius Kaisar Romawi menanyai Abu Sufyan tentang nasab lelaki itu dan sifatnya. Pertanyaannya antara lain, “Apakah dia pernah ingkar janji?” Abu Sufyan menjawab, “Tidak pernah. Kami sekarang berada dalam ikatan perjanjian dengannya, dan kami tidak mengetahui apakah yang akan dia lakukan terhadap perjanjian tersebut.” Yang dimaksud Abu Sufyan adalah Perjanjian Hudaibiyah yang telah ditandatangani oleh Rasulullah ﷺ dan orang-orang kafir Quraisy untuk gencatan senjata selama sepuluh tahun.

Berdasarkan kisah ini mereka menyimpulkan bahwa kemenangan bangsa Romawi atas bangsa Persia terjadi di tahun Perjanjian Hudaibiyah, sebab kaisar baru memenuhi nazarnya setelah Perjanjian Hudaibiyah. Hanya Allah-lah Yang Maha mengetahui.

Akan tetapi, bagi orang-orang yang berpendapat seperti pendapat pertama dapat mengemukakan alasannya, bahwa saat usai perang tentu saja negeri kaisar dalam keadaan rusak dan berantakan sehingga ia belum sempat memenuhi nazarnya sebelum memperbaiki apa yang telah rusak dari negerinya, ia sibuk memeriksa semua kawasan negerinya dan membangunnya kembali seperti semula. Setelah berlalu masa empat tahun seusai kemenangannya itu, barulah ia memenuhi nazarnya. Hanya Allah jualah Yang Maha mengetahui.

Masalah ini tidaklah sulit. Yang jelas ketika bangsa Persia beroleh kemenangan atas bangsa Romawi orang-orang mukmin merasa sedih dengan berita tersebut. Dan ketika bangsa Romawi beroleh kemenangan atas bangsa Persia, orang-orang mukmin gembira dengan berita tersebut. Karena bangsa Romawi secara garis besarnya adalah Ahli kitab, dan mereka lebih dekat dengan orang-orang mukmin dibandingkan dengan orang-orang yang beragama Majusi, sebagaimana yang disebutkan oleh firman-Nya:

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُمْ مَوَدَّةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَى ذَلِكَ بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيسِينَ وَرُهْبَانًا وَأَنَّهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ. وَإِذَا سَمِعُوا مَا أُنزلَ إِلَى الرَّسُولِ تَرَى أَعْيُنَهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُوا مِنَ الْحَقِّ يَقُولُونَ رَبَّنَا آمَنَّا فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ

Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.” (Al-Maidah: 82) sampai dengan firman-Nya: Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al-Qur’an dan kenabian Muhammad ﷺ). (Al-Maidah: 83)

Dan dalam surat ini disebutkan oleh firman-Nya:

Dan di hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. (Ar-Rum: 4-5)

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar’ah, telah menceritakan kepada kami Safwan, telah menceritakan kepada kami Al-Walid, telah menceritakan kepadaku Usaid Al-Kilabi yang menceritakan bahwa ia pernah mendengar Al-Ala ibnuz Zubair Al-Kilabi menceritakan dari ayahnya yang mengatakan bahwa ia menyaksikan kemenangan bangsa Persia atas bangsa Romawi, kemudian menyaksikan pula kemenangan bangsa Romawi atas bangsa Persia. Lalu ia menyaksikan pula kemenangan kaum muslim atas bangsa Persia dan bangsa Romawi; semuanya itu terjadi dalam kurun waktu yang lamanya lima belas tahun.

Firman Allah Swt.:

Dialah Yang Maha Perkasa. (Ar-Rum: 5)

dalam pertolongan dan pembalasan-Nya terhadap musuh-musuh-Nya.

lagi Maha Penyayang. (Ar-Rum: 5)

terhadap hamba-hamba-Nya yang beriman.

Wallahu a’lam dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

«««« juz 20 ««««      «««« juz 21 ««««      «««« juz 22 ««««