Yang Berhak Mendapatkan Pujian Secara Mutlak

Tafsir Al-Qur’an: Surah Saba’ (Kaum Saba)

0
94

Tafsir Al-Qur’an: Surah Saba’ (Kaum Saba). Surah ke-34. 54 ayat. Makkiyyah kecuali ayat 2 Madaniyyah. Turun sesudah surah Luqman. Ayat 1-2: Penjelasan bahwa yang berhak mendapatkan pujian secara mutlak adalah Allah Subhaanahu wa Ta’aala, dan bahwa Dia Yang Mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

  الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي الآخِرَةِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ (١) يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الأرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ الرَّحِيمُ الْغَفُورُ (٢)

Segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan segala puji di akhirat bagi Allah. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Teliti. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi, apa yang keluar darinya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dialah Yang Maha Penyayang lagi Maha Pengampun. (Q.S. Saba’ : 1-2)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Al-hamdu lillāhi (segala puji bagi Allah), yakni segala syukur kepunyaan Allah Ta‘ala. Dia-lah yang telah membuat segala kenikmatan bagi makhluk-Nya, maka sepatutnyalah mereka memuji-Nya.

Alladzī lahū mā fis samāwāti (yang memiliki segala apa yang ada di langit), yakni semua makhluk yang ada di langit.

Wa mā fil ardli (dan segala apa yang ada di bumi), yakni semua makhluk yang ada di bumi.

Wa lahul hamdu (dan kepunyaan-Nya-lah segala puji), yakni segala karunia.

Fil ākhirah (di akhirat), yakni (yang ia berikan) kepada penguhi surga di dalam surga.

Wa huwal hakīmu (dan Dia-lah Yang Maha Bijaksana) dalam segala perintah dan ketetapan-Nya. Dia telah memerintahkan agar tidak beribadah kepada selain-Nya.

Al-khabīr (lagi Maha mengetahui) semua makhluk dan amal-amalnya.

Ya‘lamu mā yaliju fil ardli (Dia mengetahui apa pun yang masuk ke dalam bumi), seperti hujan, air, mayat, dan harta terpendam.

Wa yakhruju minhā (dan apa pun yang keluar darinya), yakni dan Dia juga mengetahui segala sesuatu yang keluar dari bumi, seperti tumbuh-tumbuhan, air, orang-orang mati, dan harta yang terpendam.

Wa mā yaηzilu minas samā-i (serta apa pun yang turun dari langit), seperti hujan, rezeki, dan lain sebagainya.

Wa mā ya‘ruju fīhā (dan apa pun yang naik padanya), yakni dan Dia pun mengetahui segala sesuatu yang naik ke langit, seperti para malaikat dan Malaikat Hafazhah yang membawa catatan amal hamba.

Wa huwar rahīmu (dan Dia-lah Yang Maha Penyayang) kepada kaum mukminin.

Al-ghafūr (lagi Maha Pengampun) kepada orang-orang yang bertobat.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Segala puji[1] bagi Allah yang memiliki apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi[2] dan segala puji di akhirat bagi Allah[3]. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana[4] lagi Maha Teliti[5].

[1] Yakni segala puji bagi Allah karena sifat-sifat-Nya yang terpuji dan perbuatan-Nya yang baik, karena semua sifat-Nya terpuji, di mana semua sifat-Nya adalah sifat sempurna, dan perbuatan-perbuatan-Nya juga terpuji karena berjalan di antara karunia-Nya yang patut dipuji dan disyukuri serta di antara keadilan yang patut dipuji dan diakui hikmah-Nya. Dalam ayat ini, Allah Subhaanahu wa Ta’aala memuji Diri-Nya karena milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi.

[2] Yakni milik-Nya, hamba-Nya dan ciptaan-Nya, Dia bertindak kepada mereka dengan segala pujian untuk-Nya.

[3] Karena di akhirat jelas sekali terpujinya Dia melebihi ketika di dunia. Oleh karena itu, ketika Allah Subhaanahu wa Ta’aala memutuskan masalah di antara makhluk, lalu manusia semua melihat keputusan-Nya, sempurnanya keadilan-Nya dan hikmah (kebijaksanaan)-Nya, maka mereka semua memuji-Nya karena hal tersebut, bahkan orang-orang yang berhak mendapatkan siksa, tidaklah mereka memasuki neraka kecuali hati mereka dipenuhi pujian untuk-Nya, dan bahwa hal itu merupakan balasan terhadap amal mereka, dan bahwa Dia Maha Adil dalam ketetapan-Nya memberi mereka hukuman. Adapun tampak jelas pujian untuk-Nya di surga, maka sudah masyhur dan sesuai dalil sam’i (naqli) dan ‘aqli (akal), karena penghuni surga ketika melihat nikmat Allah yang datang bertutur-turut dan melimpahnya kebaikan-Nya, banyak keberkahan-Nya dan luas pemberian-Nya, di mana tidak ada satu pun angan-angan dan harapan penghuni surga kecuali segera diberikan, bahkan diberikan melebihi angan-angan dan harapannya. Mereka diberi kebaikan yang tidak terbatas sesuai dengan yang mereka angan-angankan dan yang belum pernah terlintas di hati mereka. Lalu bagaimana menurutmu tentang pujian mereka kepada Tuhan mereka dalam menikmati kesenangan yang hakiki itu? Dan lagi, di surga telah hilang segala penghalang dan pemisah yang memisahkan penghuninya dari mengenal Allah, mencintai-Nya dan memuji-Nya. Tentu saja, yang demikian lebih dicintai mereka daripada setiap kenikmatan. Oleh karena itulah, ketika mereka melihat Allah Ta’ala, mendengarkan firman-Nya saat Dia berbicara kepada mereka, membuat mereka lupa dari semua kenikmatan. Bahkan dzikrullah di surga seperti bernafas dan berlanjut terus sepanjang waktu, di samping itu ketika di surga jelas sekali keagungan Allah, kemuliaan-Nya, keindahan-Nya dan luasnya kesempurnaan-Nya yang menghendaki sempurnanya pujian dan sanjungan untuk-Nya.

[4] Dalam kerajaan dan pengaturan-Nya, serta bijaksana dalam perintah dan larangan-Nya.

[5] Yakni yang mengetahui perkara yang rahasia dan tersembunyi. Oleh karena itulah di ayat selanjutnya disebutkan lebih rinci pengetahuan-Nya.

  1. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi[6], apa yang keluar darinya[7], apa yang turun dari langit[8] dan apa yang naik kepadanya[9]. [10]Dan Dialah Yang Maha Penyayang lagi Maha Pengampun.

[6] Seperti air, biji, hewan yang tinggal di dalam tanah dan lainnya.

[7] Seperti tumbuhan, hewan yang keluar dari sarangnya di bawah tanah dan lainnya.

[8] Seperti hujan dan lainnya.

[9] Seperti malaikat, ruh dan amal saleh.

[10] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan makhluk-makhluk-Nya dan kebijaksanaan-Nya terhadap mereka serta pengetahuan-Nya terhadap keadaan-keadaan mereka, maka Dia menyebutkan ampunan dan rahmat-Nya untuk makhluk-Nya. Ampunan dan rahmat-Nya adalah sifat-Nya, dan atsar (pengaruhnya) senantiasa turun kepada hamba-hamba-Nya di setiap waktu sesuai yang mereka kerjakan dari penghendaknya (sebabnya).

.

Tafsir Jalalain

  1. (Segala puji bagi Allah) Allah swt. memuji diri-Nya dengan kalimat ini, maksudnya ialah pujian berikut apa yang terkandung di dalamnya yaitu pujian yang bersifat tetap. Memuji Allah artinya menyanjung-Nya dengan sebutan-sebutan yang baik (yang memiliki apa yang di langit dan apa yang di bumi) sebagai milik dan makhluk-Nya (dan bagi-Nya pula segala puji di akhirat) sebagaimana di dunia, yaitu Dia dipuji oleh kekasih-kekasih-Nya bilamana mereka telah berada di dalam surga. (Dan Dialah Yang Maha Bijaksana) di dalam perbuatan-Nya (lagi Maha Mengetahui) tentang makhluk-Nya.
  2. (Dia mengetahui apa yang masuk) yang meresap (ke dalam bumi) seperti air dan lain-lainnya (dan apa yang keluar daripadanya) seperti tumbuh-tumbuhan dan lain-lainnya (dan apa yang turun dari langit) berupa rezeki atau hujan dan lainlainnya (dan apa yang naik) yakni yang terangkat (kepadanya) berupa amal perbuatan dan lain-lainnya. (Dan Dialah Yang Maha Penyayang) kepada kekasih-kekasih-Nya (lagi Maha Pengampun) kepada mereka.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Swt. menceritakan perihal diri-Nya Yang Maha Mulia, bahwa bagi-Nyalah segala puji yang mutlak di dunia dan di akhirat. Karena Dialah Yang Memberi nikmat dan karunia kepada penduduk dunia dan akhirat, Yang memiliki semuanya itu, dan Yang menguasai kesemuanya. Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui, firman-Nya.

وَهُوَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ لَهُ الْحَمْدُ فِي الأولَى وَالآخِرَةِ وَلَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Dan Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, bagi-Nyalah segala puji didunia dan Akhirat dan bagi-Nyalah segala penentuan dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan. (Al-Qasas: 70)

Karena itulah disebutkan dalam surat ini oleh firman-Nya:

Segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang di langit dan apa yang di bumi. (Saba: 1)

Yakni semuanya adalah milik-Nya dan hamba-hamba-Nya, serta berada di bawah kekuasaan dan pengaturan-Nya. Sebagaimana yang disebutkan oleh firman-Nya:

وَإِنَّ لَنَا لَلآخِرَةَ وَالأولَى

dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia. (Al-Lail: 13)

Kemudian Allah Swt. berfirman:

dan bagi-Nya (pula) segala puji di akhirat. (Saba: 1)

Dialah yang berhak disembah selamanya lagi Yang dipuji sepanjang masa.

Firman Allah Swt.:

Dan Dialah Yang Maha Bijaksana. (Saba: 1)

dalam semua ucapan, perbuatan, syariat, dan takdir-Nya.

lagi Maha mengetahui. (Saba: 1)

Tiada sesuatu pun yang tersembunyi lagi samar bagi-Nya, dan tiada sesuatu pun yang gaib (tidak kelihatan) oleh-Nya.

Malik telah meriwayatkan dari Az-Zuhri, bahwa makna yang dimaksud ialah Allah Maha mengetahui makhluk-Nya lagi Maha Bijaksana dalam perintah-Nya. Karena itulah disebutkan dalam firman selanjutnya:

Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi, apa yang keluar darinya. (Saba: 2)

Dia mengetahui bilangan tetesan air hujan yang tersebar di permukaan bumi, juga mengetahui bilangan biji-bijian yang ditanam di seluruh permukaan bumi, dan mengetahui apa yang bakal keluar darinya bilangannya, caranya, dan spesifikasinya.

apa yang turun dari langit, dan apa yang naik kepadanya. (Saba: 2)

Allah mengetahui hujan yang turun dari langit dan rezeki, dan mengetahui pula amal-amal saleh dan lain-lainnya yang naik ke langit.

Dan Dialah Yang Maha Penyayang lagi Maha Pengampun. (Saba: 2)

Yakni Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya, maka Dia tidak menyegerakan siksaan-Nya terhadap orang-orang yang durhaka; dan Maha Pengampun terhadap dosa-dosa orang-orang yang mau bertobat kepada-Nya dan bertawakal kepada-Nya.

Subhaanallah, Ya Allah. Segala puji bagi-Mu.

.

««««« juz 21 ««««      «««« juz 22 ««««      «««« juz 23 «««««