Tertulis dalam Kitab yang Jelas

Tafsir Al-Qur’an: Surah Saba’ ayat 3

0
31

Tafsir Al-Qur’an: Surah Saba’ ayat 3. Hari Kiamat itu Pasti datang. Tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya sekalipun sebesar zarrah baik yang di langit dan yang di bumi. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, penanya lebih dulu berjalan, dan tertulis dalam kitab yang jelas. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

  وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لا تَأْتِينَا السَّاعَةُ قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتَأْتِيَنَّكُمْ عَالِمِ الْغَيْبِ لا يَعْزُبُ عَنْهُ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلا فِي الأرْضِ وَلا أَصْغَرُ مِنْ ذَلِكَ وَلا أَكْبَرُ إِلا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ (٣)

Dan orang-orang yang kafir berkata, “Hari Kiamat itu tidak akan datang kepada kami.” Katakanlah, “Pasti datang, demi Tuhanku yang mengetahui yang gaib, Kiamat itu pasti akan datang kepadamu. Tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya sekalipun sebesar zarrah baik yang di langit dan yang di bumi, yang lebih kecil dari itu atau yang lebih besar, semuanya (tertulis) dalam kitab yang jelas (Lauh Mahfuzh),” (Q.S. Saba’ : 3)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa qālal ladzīna kafarū (dan berkatalah orang-orang kafir), yakni orang-orang kafir Mekah: Abu Jahl dan kawan-kawannya.

Lā ta’tīnas sā‘ah (“Saat kiamat itu tidak akan datang kepada kami”), yakni hari kiamat.

Qul (katakanlah) kepada mereka, hai Muhammad!

Balā wa rabbī (“Pasti datang, demi Rabb-ku), yakni Allah Ta‘ala bersumpah dengan Diri-Nya sendiri.

La ta’tiyannakum (sungguh hal itu benar-benar akan datang kepada kalian), yakni hari kiamat itu benar-benar akan datang kepada kalian.

‘Ālimil ghaibi (yang Mengetahui segala yang gaib), yakni Dia pasti mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi dari hamba-Nya.

Lā ya‘zubu ‘anhu (tidak ada yang tersembunyi dari-Nya), yakni tidak ada yang tersembunyi dari Allah Ta‘ala.

Mitsqālu dzarratin (seberat zarah pun), yakni seberat seekor semut pun. Yang dimaksud adalah semut merah yang kecil.

Fis samāwāti wa lā fil ardli (baik yang ada di langit maupun yang ada di bumi), begitu pula dengan amal para hamba.

Wa lā ashgharu (dan tidak ada yang lebih kecil), yakni yang lebih ringan.

Miη dzālika wa lā akbaru (daripada itu, dan tidak pula yang lebih besar), yakni yang lebih berat daripada itu.

Illā fī kitābim mubīn (melainkan terdapat di dalam Kitab yang nyata), yakni termaktub di dalam Lauh Mahfuzh, dan akan diperhitungkan terhadap mereka.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. [11]Dan orang-orang yang kafir[12] berkata, “Hari Kiamat itu tidak akan datang kepada kami[13].” Katakanlah, “Pasti datang, demi Tuhanku yang mengetahui yang gaib, Kiamat itu pasti akan datang kepadamu. Tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya sekalipun sebesar zarrah[14] baik yang di langit dan yang di bumi, yang lebih kecil dari itu atau yang lebih besar, semuanya (tertulis) dalam kitab yang jelas (Lauh Mahfuzh)[15],”

[11] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta’aala menerangkan keagungan diri-Nya dengan menyebutkan sifat diri-Nya, di mana hal ini mengharuskan Dia untuk dibesarkan, disucikan dan dan diimani, maka Dia menyebutkan, bahwa di antara manusia ada segolongan orang yang tidak mengagungkan Tuhannya dengan pengagungan yang semestinya, bahkan mereka kafir kepada-Nya, mengingkari kekuasaan-Nya untuk mengembalikan orang-orang yang sudah mati, dan mengingkari adanya hari Kiamat. Di samping itu, mereka juga menentang para rasul-Nya.

[12] Kepada Allah, Rasul-Nya, dan kepada apa yang mereka bawa dari sisi Allah.

[13] Maksud mereka, tidak ada kehidupan selain kehidupan dunia, di mana kita hidup kemudian mati setelah itu selesai. Maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala memerintahkan Rasul-Nya membantah ucapan mereka dan bersumpah tentang benarnya kebangkitan, dan bahwa Kiamat akan datang kepada mereka. Untuk menguatkannya dipakai dalil di mana orang yang mengakuinya, mesti membenarkan kebangkitan, yaitu ilmu (pengetahuan) Allah Subhaanahu wa Ta’aala yang luas lagi merata, Dia berfirman, “Yang mengetahui yang gaib,” yakni perkara-perkara yang gaib dari penglihatan dan pengetahuan kita. Jika yang gaib saja diketahuinya, lalu bagaimana dengan yang tampak. Selanjutnya diperkuat pengetahuan-Nya, bahwa tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya seberat dzarrah pun di langi maupun di bumi, semuanya diketahui-Nya.

[14] Yaitu semut terkecil.

[15] Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, penanya lebih dulu berjalan, dan tertulis dalam kitab yang jelas, yaitu Lauh Mahfuzh. Oleh karena itu, Tuhan yang mengetahui segala yang tersembunyi meskipun seberat dzarrah pun dan mengetahui orang-orang yang telah mati serta bagian mana saja yang masih tersisa dari jasadnya tentu mampu membangkitkan mereka, dan hal itu tidaklah mengherangkan bagi Tuhan yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan orang-orang yang kafir berkata, “Hari terakhir itu tidak akan datang kepada kami”) yakni hari kiamat. (Katakanlah) kepada mereka, (“Pasti datang, demi Rabbku Yang mengetahui yang gaib, sesungguhnya kiamat itu pasti akan datang kepada kalian) kalau dibaca ‘Aalimil Ghaibi berarti menjadi sifat dari lafal Rabbii. Kalau dibaca ‘Aalimul Ghaibi berarti menjadi Khabar dari Mubtada, sehingga artinya menjadi seperti berikut, Ya, pasti datang, demi Rabbku, hari kiamat itu pasti akan dating kepada kalian; Dia mengetahui yang gaib. Bacaan yang kedua ini lebih sesuai dengan kalimat yang sesudahnya, yaitu, (tidak ada yang tersembunyi) tiada yang tidak tampak (bagi-Nya seberat) sebesar (zarah pun) zarah artinya semut yang paling kecil (yang ada di langit dan yang ada di bumi, dan tidak ada pula yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan semuanya tercatat dalam Kitab yang nyata.) Kitab yang jelas, yang dimaksud adalah Lauh Mahfuzh.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Ini merupakan salah satu dari ketiga ayat yang tidak ada keempatnya yang melaluinya Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya untuk menegaskan dengan memakai sumpah menyebut nama Tuhannya bahwa hari berbangkit itu (hari kiamat) benar-benar akan terjadi. Diperintahkan demikian pada saat orang-orang kafir dan orang-orang yang ingkar akan hari kiamat mengingkarinya.

Salah satu dari ketiga ayat tersebut disebutkan dalam surat Yunus melalui firman-Nya:

وَيَسْتَنْبِئُونَكَ أَحَقٌّ هُوَ قُلْ إِي وَرَبِّي إِنَّهُ لَحَقٌّ وَمَا أَنْتُمْ بِمُعْجِزِينَ

Dan mereka menanyakan kepadamu, “Benarkah (azab yang dijanjikan) itu? Katakanlah, “Ya, demi Tuhanku, sesungguhnya azab itu adalah benar dan kamu sekali-kali tidak bisa luput (darinya).” (Yunus: 53)

Yang kedua adalah ayat dalam surat ini, yaitu firman-Nya:

Dan orang-orang yang kafir berkata, “Hari berbangkit itu tidak akan datang kepada kami.” Katakanlah, “Pasti datang, demi Tuhanku, sesungguhnya kiamat itu pasti akan datang kepadamu.” (Saba: 3)

Dan yang ketiga terdapat di dalam surat At-Tagabun melalui firman-Nya:

زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ لَنْ يُبْعَثُوا قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ وَذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah, “Memang, demi Tuhanku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (At-Tagabun: 7)

Untuk itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:

Katakanlah, “Pasti datang, demi Tuhanku, sesungguhnya kiamat itu pasti akan datang kepadamu. (Saba: 3)

Kemudian disebutkan sifat Allah Swt. yang mengukuhkan dan memperkuat hal ini. Untuk itu disebutkan dalam firman selanjutnya:

(Dialah Allah) Yang mengetahui yang gaib. Tidak ada tersembunyi dari-Nya seberat zarrah pun yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut di dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz). (Saba: 3)

Mujahid dan Qatadah telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Tidak ada tersembunyi dari-Nya. (Saba: 3) Yakni tidak ada yang gaib dari-Nya.

Dengan kata lain, semuanya berada di bawah pengetahuan-Nya, maka tiada sesuatu pun yang samar bagi-Nya. Semua tulang itu sekalipun telah bercerai-berai dan lenyap serta tercabik-cabik dagingnya, Dia mengetahui ke mana perginya tulang-tulang itu dan tercerai-berai ke mana. Dia mampu mengembalikannya sebagaimana Dia menciptakannya pada yang pertama kali. Sesungguhnya Dia Maha mengetahui segala sesuatu.

Dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

««««« juz 21 ««««      «««« juz 22 ««««      «««« juz 23 «««««