Petunjuk bagi Manusia kepada Jalan Allah

Tafsir Al-Qur’an: Surah Saba’ ayat 6

0
36

Tafsir Al-Qur’an: Surah Saba’ ayat 6. Menetapkan bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu Nabi Muhammad ﷺ itulah yang benar dan memberi petunjuk bagi manusia kepada jalan Allah. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

  وَيَرَى الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ الَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ هُوَ الْحَقَّ وَيَهْدِي إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ (٦)

Dan orang-orang yang diberi ilmu (Ahli Kitab) berpendapat bahwa (wahyu) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu itulah yang benar dan memberi petunjuk (bagi manusia) kepada jalan (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (Q.S. Saba’ : 6)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa yara (dan berpendapat), yakni supaya melihat.

Alladzīna ūtul ‘ilma (orang-orang yang diberi ilmu [ahli kitab]), yakni yang dikaruniai pengetahuan tentang Taurat: ‘Abdullah bin Salam dan teman-temannya.

Alladzī uηzila ilaika mir rabbika huwal haqqu (bahwa [wahyu] yang diturunkan kepadamu dari Rabb-mu itulah yang benar), yakni Al-Qur’an.

Wa yahdī ilā shirāthil ‘azīzi (dan menunjukkan ke Jalan [Allah] Yang Maha Perkasa), yakni menunjukkan pada agama (Allah) Yang Maha Perkasa menimpakan hukuman kepada siapa pun yang tidak beriman kepada-Nya.

Al-hamīd (lagi Maha Terpuji) bagi orang-orang yang mengesakan-Nya.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. [23]Dan orang-orang yang diberi ilmu (Ahli Kitab)[24] berpendapat bahwa (wahyu) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu itulah yang benar dan [25]memberi petunjuk (bagi manusia) kepada jalan (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.

[23] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan keingkaran orang-orang yang mengingkari kebangkitan, di mana mereka berpendapat, bahwa apa yang diturunkan kepada rasul-Nya tidak benar, maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan tentang orang-orang yang diberi taufik oleh Allah di antara hamba-hamba-Nya. Mereka inilah Ahli Ilmu. Mereka berpendapat, bahwa apa yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya adalah benar, demikian pula kandungannya, sedangkan yang menyelisihinya dan bertentangan dengannya adalah batil. Pengetahuan mereka telah mencapai derajat yakin. Di samping itu, mereka (Ahli ilmu) juga berpendapat, bahwa perintah dan larangannya menunjukkan kepada jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. Yang demikian adalah karena mereka membenarkannya karena berbagai sisi; sisi pengetahuan mereka tentang benarnya yang memberitakannya, sisi kesesuaiannya dengan kenyataan, sisi kesesuaiannya dengan kitab-kitab terdahulu, sisi berita yang mereka saksikan yang terjadi di hadapan mereka secara langsung, sisi ayat-ayat yang besar yang mereka saksikan yang menunjukkan kebenarannya baik di berbagai ufuk maupun dalam diri mereka sendiri, dan dari sisi kesesuaiannya dengan yang ditunjukkan oleh nama-nama dan sifat-Nya.

[24] Menurut sebagian mufassir, yang dimaksud orang-orang yang diberi ilmu di sini adalah orang-orang yang beriman dari kalangan Ahli Kitab, seperti Abdullah bin Salam dan kawan-kawannya.

[25] Mereka (Ahli Ilmu) juga berpendapat tentang perintah dan larangan, bahwa perintah dan larangannya menunjukkan ke jalan yang lurus, mengandung perintah kepada setiap sifat yang menyucikan jiwa, menumbuhkan pahala, memberi faedah bagi orang yang mengamalkannya dan selainnya, seperti perintah bersikap jujur, ikhlas, berbakti kepada kedua orang tua, menyambung tali silauturrahim, berbuat ihsan kepada semua makhluk, dsb. Demikian pula melarang setiap sifat tercela yang menodai jiwa, menghapuskan pahala, menghendaki dosa, seperti syirk, zina, riba, berlaku zalim terhadap darah, harta dan kehormatan. Ini adalah keutamaan Ahli ilmu dan kelebihannya serta tandanya, di mana setiap kali ilmu seseorang semakin dalam dan selalu membenarkan berita yang dibawa rasul serta semakin dalam pengetahuannya terhadap perintah dan larangan, maka ia termasuk Ahli Ilmu yang Allah jadikan sebagai hujjah terhadap yang dibawa Rasul, di mana Allah menjadikan mereka sebagai hujjah terhadap orang-orang yang mendustakan lagi membangkang sebagaimana dalam ayat ini.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan berpendapat) yakni telah mengetahui (orang-orang yang diberi ilmu) yang dimaksud adalah orang-orang yang beriman dari kalangan ahli kitab, seperti Abdullah bin Salam dan teman-temannya (bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu) yakni Al-Qur’an (itulah) keputusan (yang benar dan menunjuki manusia kepada jalan) tuntunan (Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji) Allah yang memiliki keperkasaan lagi terpuji.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Adapun firman Allah Swt.:

Dan orang-orang yang diberi ilmu (Ahli Kitab) berpendapat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itulah yang benar. (Saba: 6)

Ini pun merupakan hikmah lain yang dikaitkan dengan konteks sebelumnya, yaitu bahwa apabila orang-orang yang beriman kepada apa yang telah diturunkan kepada para rasul menyaksikan hari kiamat, dan orang-orang yang bertakwa serta orang-orang yang durhaka mendapat balasannya masing-masing melalui pengetahuan yang mereka peroleh dari kitab-kitab Allah sewaktu di dunia, maka pada saat itu mereka menyaksikan dengan mata kepala sendiri dan ‘ainul yakin. Maka pada saat itu mereka mengatakan seperti yang diceritakan oleh firman-Nya:

لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ

Sesungguhnya rasul-rasul Tuhan kami telah datang membawa kebenaran. (Al-A’raf: 43)

Disebutkan pula oleh firman-Nya:

هَذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمَنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُونَ

Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah rasul-rasul-(Nya). (Yasin: 52)

Dan firman Allah Swt.:

لَقَدْ لَبِثْتُمْ فِي كِتَابِ اللَّهِ إِلَى يَوْمِ الْبَعْثِ فَهَذَا يَوْمُ الْبَعْثِ

Sesungguhnya kamu telah berdiam (dalam kubur) menurut ketetapan Allah, sampai hari berbangkit; maka inilah hari berbangkit itu. (Ar-Rum: 56)

Adapun firman Allah Swt.:

Dan orang-orang yang diberi ilmu (Ahli Kitab) berpendapat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itulah yang benar dan menunjuki (manusia) kepada jalan Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji. (Saba: 6)

Al-‘Aziz artinya Yang Mahaperkasa Zat-Nya, yang tidak dapat dikalahkan dan tidak dapat pula dihalang-halangi, bahkan Dia mengalahkan segala sesuatu dan menguasainya, lagi Maha Terpuji dalam semua ucapan, syariat dan takdir-Nya, dan Dia Maha Terpuji dalam semuanya itu.

Wallahu a’lam.

.

««««« juz 21 ««««      «««« juz 22 ««««      «««« juz 23 «««««