Keagungan-Nya Membuat Lupa Segalanya

Tafsir Al-Qur’an: Surah Saba’ ayat 9

0
27

Tafsir Al-Qur’an: Surah Saba’ ayat 9. Mengingatkan akan kekuasaan-Nya yang mampu menciptakan langit dan bumi. Keagungan-Nya membuat lupa segalanya.  Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

  أَفَلَمْ يَرَوْا إِلَى مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ إِنْ نَشَأْ نَخْسِفْ بِهِمُ الأرْضَ أَوْ نُسْقِطْ عَلَيْهِمْ كِسَفًا مِنَ السَّمَاءِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِكُلِّ عَبْدٍ مُنِيبٍ (٩)

Maka apakah mereka tidak memperhatikan langit dan bumi yang ada di hadapan dan di belakang mereka? Jika Kami menghendaki, niscaya Kami benamkan mereka di bumi atau Kami jatuhkan kepada mereka kepingan-kepingan dari langit. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap hamba yang kembali (kepada-Nya). (Q.S. Saba’ : 9)

.

Tafsir Ibnu Abbas

A fa lam yarau (maka apakah mereka tidak melihat), yakni apakah orang-orang kafir Mekah tidak melihat.

Ilā mā baina aidīhim (apa yang ada di hadapan mereka), yakni langit dan bumi yang ada di atas dan di bawah mereka.

Wa mā khalfahum (dan apa yang ada di belakang mereka), yakni di atas dan di bawah mereka.

Minas samā-i wal arld, in nasya’ nakhsyif (yaitu langit dan bumi. Jika Kami menghendaki, niscaya Kami akan membenamkan), yakni akan menenggelamkan.

Bihimul ardla au nusqith ‘alaihim kisāfan (mereka ke dalam bumi, atau Kami akan menimpakan kepada mereka gumpalan), yakni lurusan.

Minas samā-i (dari langit), kemudian Kami membinasakan mereka.

Inna fī dzālika (sesungguhnya pada yang demikian itu), yakni pada penjelasan Kami kepada mereka tentang langit dan bumi itu.

La āyatan (benar-benar terdapat ayat), yakni benar-benar terdapat pelajaran.

Li kulli ‘abdim munīb (bagi setiap hamba yang akan kembali), yakni yang akan menghadap kepada Allah Ta‘ala dan menaati-Nya.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. [32]Maka apakah mereka tidak memperhatikan langit dan bumi yang ada di hadapan dan di belakang mereka[33]? Jika Kami menghendaki, niscaya Kami benamkan mereka di bumi atau Kami jatuhkan kepada mereka kepingan-kepingan dari langit[34]. Sungguh, pada yang demikian itu[35] benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah)[36] bagi setiap hamba yang kembali (kepada-Nya)[37].

[32] Selanjutnya Allah mengingatkan mereka terhadap dalil akal yang munjukkan tidak mustahilnya kebangkitan, dan bahwa jika mereka melihat langit dan bumi yang berada di atas dan di bawah mereka, tentu mereka akan mengetahui kekuasaan Allah yang akan membuat tercengang, keagungan-Nya yang membuat lupa segalanya, dan bahwa penciptaan langit dan bumi serta besarnya dan apa yang ada di antara keduanya lebih besar daripada penciptaan manusia setelah mereka matinya. Oleh karena itu, apa yang membuat mereka mendustakan, padahal mereka membenarkan sesuatu yang lebih besar lagi?

[33] Yakni di atas dan di bawah mereka.

[34] Sebagai azab, karena langit dan bumi berada dalam pengatuan Allah. Jika Allah memerintahkan demikian, niscaya keduanya tidak akan mendurhakai. Oleh karena itu, berhati-hatilah jika tetap terus mendustakan sehingga Dia mengazab kamu dengan azab yang keras.

[35] Yakni pada penciptaan langit dan bumi serta makhluk yang berada di antara keduanya.

[36] Yang menunjukkan bahwa Dia mampu membangkitkan.

[37] Oleh karena itu, setiap kali seorang hamba lebih besar kembalinya kepada Allah, maka lebih bisa mengambil manfaat dari ayat-ayat itu, karena orang yang kembali menghadap Tuhannya, keinginan dan perhatiannya tertuju kepada Tuhannya, dan kembali kepada-Nya dalam setiap masalah, sehingga ia pun dekat dengan Tuhannya dan tidak ada yang dipikirkannya selain mencari keridhaan-Nya. Oleh karena itu, pandangannya terhadap makhluk ciptaan-Nya adalah pandangan dengan penuh pemikiran dan mengambil pelajaran, bukan pandangan yang lalai dan tidak bermanfaat apa-apa.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Maka, apakah mereka tidak melihat) tidak memperhatikan (kepada apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka) maksudnya apa yang ada di atas dan di bawah mereka (yaitu langit dan bumi? Jika Kami menghendaki, niscaya Kami benamkan mereka di bumi atau Kami jatuhkan kepada mereka gumpalan) dapat dibaca Kisfan atau Kisafan artinya gumpalan-gumpalan (dari langit) menurut qiraat yang lain lafal Nasya’, Nakhsif, dan Nusqith dibaca Yasya’, Yakhsif dan Yusqith. (Sesungguhnya pada yang demikian itu) hal-hal yang terlihat itu (benar-benar terdapat tanda bagi setiap hamba yang kembali.”) kepada Rabbnya, yaitu tanda yang menunjukkan akan kekuasaan Allah yang mampu membangkitkan hidup kembali dan menciptakan apa yang dikehendaki-Nya.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Kemudian Allah Swt. mengingatkan kepada mereka akan kekuasaan-Nya yang mampu menciptakan langit dan bumi. Untuk itu Allah Swt. berfirman:

Maka apakah mereka tidak melihat langit dan bumi yang ada di hadapan dan di belakang mereka? (Saba: 9)

Yakni ke mana pun mereka pergi, langit tetap menaungi mereka dan bumi berada di bawah mereka. Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat lain, yaitu:

وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ. وَالأرْضَ فَرَشْنَاهَا فَنِعْمَ الْمَاهِدُونَ

Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa. Dan bumi itu Kami hamparkan; maka sebaik-baik yang menghamparkan (adalah Kami). (Az-Zariyat: 47-48)

Abdu ibnu Humaid mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, dari Ma’mar, dari Qatadah sehubungan dengan makna firman-Nya: Maka apakah mereka tidak melihat langit dan bumi yang ada di hadapan dan di belakang mereka? (Saba: 9) Bahwa jika engkau melihat ke arah kanan atau arah kirimu atau memandang ke depanmu atau ke belakangmu, niscaya kamu melihat langit dan bumi.

Firman Allah Swt.:

Jika Kami menghendaki, niscaya Kami benamkan mereka di bumi atau Kami jatuhkan kepada mereka gumpalan dari langit. (Saba: 9)

Yakni seandainya Kami menghendaki hal tersebut, tentulah Kami dapat melakukannya disebabkan kezaliman mereka dan kekuasaan Kami atas mereka. Tetapi Kami sengaja menangguhkan hal tersebut karena sifat penyantun Kami dan sifat pemaaf Kami. Selanjutnya disebutkan oleh firman-Nya:

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Tuhan) bagi setiap hamba yang kembali (kepada-Nya). (Saba: 9)

Menurut Ma’mar dari Qatadah, makna munib ialah bertobat. Sufyan dari Qatadah mengatakan bahwa al-munib artinya kembali kepada jalan Allah Swt.

Dengan kata lain, sesungguhnya seorang hamba yang cerdik pandai lagi banyak mengingat Allah bila memperhatikan penciptaan langit dan bumi benar-benar dapat menyimpulkan kekuasaan Allah Swt. yang dapat membangkitkan jasad-jasad yang telah mati dan menghidupkan mereka kembali. Karena sesungguhnya Tuhan yang mampu menciptakan langit yang begitu tinggi lagi luas, dan yang menciptakan bumi yang terhampar luas, benar-benar mampu pula untuk mengembalikan tubuh dan tulang belulang yang telah bercerai-berai menjadi satu, lalu menghidupkannya kembali. Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

أَوَلَيْسَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأرْضَ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يَخْلُقَ مِثْلَهُمْ بَلَى

Dan Tidakkah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu? Benar, Dia berkuasa. (Yasin: 81)

Dan Firman-Nya:

لَخَلْقُ السَّمَوَاتِ وَالأرْضِ أَكْبَرُ مِنْ خَلْقِ النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ

Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Al-Mu-min: 57)

Wallahu a’lam dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

««««« juz 21 ««««      «««« juz 22 ««««      «««« juz 23 «««««