Mukjizat Nabi Dawud ‘Alaihis Salam

Tafsir Al-Qur’an: Surah Saba’ ayat 10

0
151

Tafsir Al-Qur’an: Surah Saba’ ayat 10. Nikmat-nikmat Allah Subhaanahu wa Ta’aala kepada Nabi Dawud ‘alaihis salam, sebagian mukjizat Nabi Dawud ‘alaihis salam dan pentingnya bersyukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

  وَلَقَدْ آتَيْنَا دَاوُدَ مِنَّا فَضْلا يَا جِبَالُ أَوِّبِي مَعَهُ وَالطَّيْرَ وَأَلَنَّا لَهُ الْحَدِيدَ (١٠)

Dan sungguh, telah Kami berikan kepada Dawud karunia dari kami. (Kami berfirman), “Wahai gunung-gunung dan burung-burung! Bertasbihlah berulang-ulang bersama Dawud,” dan Kami telah melunakkan besi untuknya, (Q.S. Saba’ : 10)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa laqad ātainā (dan sungguh Kami telah memberikan), yakni telah menganugerahkan.

Dāūda minnā fadllā (kepada Dawud karunia dari Kami), yakni kerajaan dan kenabian.

Yā jibālu (wahai gunung-gunung), yakni dan Kami berfirman, “Wahai gunung-gunung,”

Awwibī ma‘ahū (bertasbihlah bersamanya), yakni bertasbihlah bersama Dawud a.s.

Wath thairu (dan burung-burung), yakni dan Kami juga menundukkan burung-burung untuknya.

Wa alannā (dan Kami telah melunakkan), yakni telah melembekkan.

Lahul hadīdā (besi untuknya), yakni Dawud a.s. bisa membuat apa saja dari besi sebagaimana dia bisa membuatnya dari tanah.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Dan sungguh, telah Kami berikan kepada Dawud karunia dari kami[38]. (Kami berfirman), “Wahai gunung-gunung dan burung-burung! Bertasbihlah berulang-ulang bersama Dawud,” dan Kami telah melunakkan besi untuknya[39],

[38] Yakni Kami telah memberikan nikmat kepada hamba dan Rasul Kami Dawud ‘alaihis salam dengan kenabian dan kitab. Kami telah memberikan karunia kepadanya ilmu yang bermanfaat dan amal yang saleh, nikmat agama dan dunia. Termasuk nikmat-Nya kepadanya adalah apa yang Allah istimewakan kepada Beliau berupa perintah-Nya kepada benda-benda mati, seperti gunung, dan makhluk hidup seperti burung-burung untuk mengulang-ulang tasbih dan tahmid bersama Beliau. Dalam hal ini terdapat nikmat kepada Beliau, karena termasuk keistimewaannya yang belum pernah diberikan kepada seorang pun sebelum Beliau dan seorang pun setelahnya dan bahwa hal itu dapat mendorongnya dan mendorong yang lain untuk bertasbih ketika melihat benda mati dan benda hidup ini saling bersahut-sahutan untuk bertasbih, bertahmid dan bertakbir, sehingga membantu dzikrullah. Di samping itu, sebagaimana dikatakan banyak ulama, bahwa hal itu karena gembira mendengarkan suara Dawud, di mana Alah telah memberinya suara yang indah yang melebihi orang lain. Oleh karena itu, apabila Beliau mengulang-ulang tasbih, tahlil (ucapan Laailaahaillallah) dan tahmid dengan suara yang merdu itu, maka bergembiralah dengan riang setiap yang mendengarnya, baik manusia, jin, bahkan burung-burung dan gunung-gunung. Mereka bertasbih dengan memuji Tuhannya. Bisa juga agar Beliau memperoleh pahala tasbihnya, karena ia yang menjadi sebab, sehingga yang lain mengikuti tasbihnya.

[39] Termasuk keutamaan yang Allah berikan untuk Beliau adalah dilunakkan-Nya besi untuk Beliau untuk membuat baju besi yang besar-besar. Alah juga mengajarkan kepada Beliau bagaimana cara membuatnya dan mengukur anyamannya. Oleh karena itu, menurut sebagian mufassir, besi di tangan Beliau seperti adonan.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Dawud karunia dari Kami) berupa kenabian dan Kitab Zabur. Dan Kami berfirman, (“Hai gunung-gunung! Lakukanlah berulang-ulang) yakni ulang-ulanglah (bersama Daud) melakukan tasbih; maksudnya bertasbihlah berulang-ulang bersamanya (dan burung-burung”) dibaca Nashab karena di’athafkan secara Mahall pada lafal Al Jibaalu maksudnya Kami menyeru mereka supaya bertasbih bersamanya (dan Kami telah melunakkan besi untuknya) sehingga besi di tangan Nabi Dawud bagaikan adonan roti lunaknya.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Swt. menceritakan tentang nikmat yang telah Dia karuniakan kepada hamba dan rasul-Nya Dawud a.s., yaitu Dia telah memberinya keutamaan yang jelas, menghimpunkan baginya antara kenabian dan kerajaan yang kokoh, dan bala tentara yang berperalatan lengkap serta banyak bilangannya, Allah juga telah memberinya suara yang indah apabila ia bertasbih, maka ikut bertasbih pula bersamanya gunung-gunung yang terpancang dengan kokohnya lagi tinggi-tinggi itu, dan semua burung yang terbang terhenti karenanya, lalu menjawab tasbihnya dengan berbagai bahasa.

Di dalam kitab sahih disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ mendengar suara Abu Musa Al-Asy’ari r.a. di malam hari sedang membaca Al-Qur’an. Maka beliau berhenti dan mendengarkan bacaannya, kemudian bersabda:

لَقَدْ أُوتِيَ هَذَا مِزْمَارًا مِنْ مَزَامِيرِ آلِ دَاوُدَ

Sesungguhnya orang ini benar-benar telah dianugrahi sebagian dari suara merdunya keluarga Daud.

Abu Usman An-Nahdi mengatakan bahwa ia belum pernah mendengar suara alat musik apa pun (di masanya) yang lebih indah dan lebih merdu daripada suara Abu Musa Al-Asy’ari r a.

Firman Allah Swt:

bertasbihlah berulang-ulang. (Saba: 10)

Menurut Ibnu Abbas, Mujahid, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang artinya ialah bertasbihlah.

Abu Maisarah menduga bahwa awwibi berasal dari bahasa Habsyah yang artinya bertasbihlah, tetapi kebenarannya masih diragukan, karena ta-wib menurut istilah bahasa Arab artinya menjawab, yakni gunung-gunung dan burung-burung diperintahkan untuk menjawab tasbihnya Nabi Dawud menurut caranya masing-masing.

Abul Qasim alias Abdur Rahman Ibnu Ishaq Az-Zujaji mengatakan di dalam kitabnya yang berjudul Al-Jumal, Bab “Nida”, sehubungan dengan makna firman-Nya: Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Dawud. (Saba: 10) Yakni berjalanlah bersamanya di siang hari sepenuhnya, karena makna التَّأْوِيبُ ialah berjalan di siang hari seluruhnya, sedangkan kebalikannya ialah الْإِسْآدُ yang artinya berjalan di malam hari seluruhnya.

Demikianlah teks pendapat Abul Qasim. Tetapi pendapatnya ini aneh sekali, kami tidak menemukannya pada yang lain, sekalipun bila ditinjau dari segi lugah (bahasa) ada alasan yang mendukungnya. Akan tetapi, jauh dari makna yang dimaksud oleh ayat ini. Pendapat yang benar adalah makna yang pertama tadi, yaitu bertasbihlah bersama Daud. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Firman Allah Swt:

dan kami telah melunakkan besi untuknya. (Saba: 10)

Al-Hasan Al-Basri, Qatadah, Al-A’masy, dan lain-lainnya mengatakan bahwa untuk melunakkan besi bagi Nabi Dawud tidak perlu memasukkannya ke dalam tungku api, dan tidak perlu palu untuk membentuknya, tetapi Dawud dapat memintalnya dengan tangannya seperti halnya memintal kapas untuk menjadi benang.

Wallahu a’lam dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

««««« juz 21 ««««      «««« juz 22 ««««      «««« juz 23 «««««