Membuat Baju Besi dengan Dianyam

Tafsir Al-Qur’an: Surah Saba’ ayat 11

0
126

Tafsir Al-Qur’an: Surah Saba’ ayat 11. Nikmat-nikmat Allah Subhaanahu wa Ta’aala kepada Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman ‘alaihimas salam, sebagian mukjizat yang Allah berikan kepada keduanya dan pentingnya bersyukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala. Nabi Dawud adalah orang yang mula-mula membuat baju besi dengan dianyam. Dan sesungguhnya sebelum itu baju besi-hanya berupa lempengan-lempengan. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

  أَنِ اعْمَلْ سَابِغَاتٍ وَقَدِّرْ فِي السَّرْدِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ (١١)

(yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah amal yang saleh. Sungguh, Aku Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Saba’ : 11)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Ani‘mal sābighātin ([Kami berfirman], “Buatlah baju-baju besi yang sempurna), yakni baju besi yang longgar-longgar.

Wa qaddir fis sardi (dan ukurlah lubangnya), yakni buatlah lingkaran sebesar paku tetapi jangan terlalu besar, agar paku itu tidak bisa melewati lingkaran ketika kamu mengetoknya, dan jangan pula terlalu sempit supaya tidak retak.

Wa‘ malū shālihā (dan kerjakanlah amal saleh), yakni amal yang ikhlas.

Innī bimā ta‘malūna bashīr (sesungguhnya Aku Maha melihat apa yang kalian kerjakan), yakni Maha mengetahui kebaikan dan keburukan yang kalian kerjakan.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. [40](yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah amal yang saleh. Sungguh, Aku Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

[40] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan nikmat-Nya kepada Dawud dan keluarganya, Allah memerintahkan mereka untuk bersyukur dan beramal saleh, merasakan pengawasan dari Allah dengan memperbaiki dan menjaga amalnya dari hal yang merusak, karena Dia melihat amal mereka, mengetahuinya dan tidak ada sesuatu pun yang samar bagi-Nya.

.

Tafsir Jalalain

  1. Dan kami berfirman pula, (“Buatlah) dari besi itu (baju besi yang besar-besar) yang menutupi tubuh pemakainya, sehingga terseret ke tanah karena besarnya (dan ukurlah anyamannya) anyamlah baju besi itu, oleh karenanya pembuat baju besi dinamakan Sarrad. Maksudnya jadikanlah baju besi itu sehingga sesuai dengan ukuran pemakainya (dan kerjakanlah oleh kalian) oleh keluarga Dawud bersama-sama Dawud sendiri (amalan yang saleh. Sesungguhnya Aku melihat apa yang kalian kerjakan.”) maka, Aku akan membalasnya kepada kalian.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Swt:

buatlah baju besi yang besar-besar. (Saba: 11)

Yaitu baju-baju besi yang dianyam lagi besar-besar.

Qatadah mengatakan bahwa Dawud adalah orang yang mula-mula membuat baju besi dengan dianyam. Dan sesungguhnya sebelum itu baju besi-hanya berupa lempengan-lempengan.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain, telah menceritakan kepada kami Ibnu Sama’ah, telah menceritakan kepada kami Ibnu Damrah, dari Ibnu Syauzab yang mengatakan bahwa Daud a.s. setiap hari dapat membuat sebuah baju besi, lalu ia menjualnya dengan harga enam ribu dirham; dua ribu untuk dirinya dan keluarganya, sedangkan yang empat ribu dia belikan makanan pokok untuk memberi makan kaum Bani Israil.

dan ukurlah anyamannya. (Saba: 11)

Ini merupakan petunjuk dari Allah Swt. kepada Dawud dalam mengajarinya cara membuat baju besi.

Mujahid telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan ukurlah anyamannya. (Saba: 11) Janganlah kamu menjadikan pakunya kecil karena akan membuatnya longgar pada lingkaran. Jangan pula kamu menjadikannya besar karena mengalami keausan, tetapi pakailah paku yang berukuran sedang.

Al-Hakam ibnu Uyaynah mengatakan, bahwa janganlah engkau memakai paku yang besar karena akan aus, jangan pula memakai paku kecil karena longgar. Hal yang sama telah diriwayatkan dari Qatadah dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa yang dimaksud dengan as-sard ialah lingkaran besi. Sebagian dari mereka mengatakan bahwa bila dikatakan baju besi yang dianyam, istilah Arabnya ialah dar’un masrudah.

Sebagai dalilnya ialah ucapan seorang penyair yang mengatakan:

وَعَليهما مَسْرُودَتَان قَضَاهُما … دَاودُ أَوْ صنعَ السَّوابغ تُبّعُ …

Keduanya memakai baju besi yang dianyam, sebagaimana baju besi buatan Nabi Dawud atau baju besi yang biasa dipakai oleh Tubba’ (buatan negeri Yaman).

Al-Hafiz Ibnu Asakir mengatakan dalam biografi Daud a.s. melalui jalur Ishaq ibnu Bisyr yang di dalamnya terdapat kisah dari Abul Yas, dari Wahb ibnu Munabbih, yang kesimpulannya seperti berikut:

Bahwa Dawud a.s. keluar dengan menyamar, lalu ia menanyakan tentang dirinya kepada kafilah-kafilah yang datang. Maka tidaklah ia menanyai seseorang, melainkah orang tersebut memujinya dalam hal ibadah dan sepak terjangnya.

Wahb ibnu Munabbih melanjutkan, bahwa pada akhirnya Allah mengutus malaikat dalam rupa seorang lelaki. Kemudian lelaki itu dijumpai oleh Daud a.s. lalu Dawud menanyakan kepadanya dengan pertanyaan yang biasa ia kemukakan kepada orang lain. Maka malaikat itu menjawab, “Dia adalah seorang yang paling baik buat dirinya sendiri dan buat orang lain, hanya saja di dalam dirinya terdapat suatu pekerti yang seandainya pekerti itu tidak ada pada dirinya, tentulah dia adalah seorang yang kamil.” Daud bertanya, “Pekerti apakah itu?” Malaikat menjawab, “Dia makan dan menafkahi anak-anaknya dari harta kaum muslim.’ yakni baitul mal.

Maka pada saat itu juga Nabi Dawud a.s. menghadapkan diri kepada Tuhannya seraya berdoa, semoga Dia mengajarkan kepadanya suatu pekerjaan yang dilakukan tangannya sendiri sehingga menjadi orang yang berkecukupan dan dapat membiayai anak-anak dan keluarganya. Lalu Allah melunakkan besi baginya dan mengajarkan kepadanya cara membuat baju besi. lalu Daud dikenal sebagai pembuat baju besi; dia adalah orang yang mula-mula membuat baju besi.

Allah Swt. telah berfirman: buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya (Saba: 11) Yang dimaksud dengan sard ialah pakunya lingkaran besi yang dipakai sebagai anyaman baju besi.

Wahb ibnu Munabbih mengatakan bahwa Dawud bekerja sebagai pembuat baju besi. Apabila telah selesai, maka ia jual; sepertiga dari hasil penjualan itu dia sedekahkan, sepertiganya lagi ia belikan keperluan hidup untuk mencukupi keluarga dan anak-anaknya, sedangkan yang sepertiganya lagi ia pegang untuk ia sedekahkan setiap harinya, hingga selesai dari membuat baju besi lainnya.

Wahb ibnu Munabbih melanjutkan bahwa sesungguhnya Allah telah memberi sesuatu kepada Dawud yang belum pernah Dia berikan kepada orang lain, yaitu berupa suara yang bagus. Disebutkan bahwa sesungguhnya apabila Dawud membaca kitab Zabur, maka semua hewan liar berkumpul kepadanya, sehingga Dawud dapat memegang lehernya, sedangkan hewan liar itu tidak lari darinya (jinak). Dan tidaklah setan membuat seruling dan alat musik tiup lainnya, melainkan berdasarkan nada suara yang dikeluarkan oleh Dawud a.s. Dan Nabi Daud a.s. adalah seorang yang tekun dan pekerja keras. Dan tersebutlah bahwa apabila ia membuka kitab Zabur untuk dibacanya, maka suaranya seakan-akan seperti suara buluh perindu. Disebutkan bahwa Dawud telah dianugerahi tujuh puluh suara buluh perindu di tenggorokannya.

Firman Allah Swt.:

dan kerjakanlah amalan yang saleh. (Saba: 11)

Artinya, gunakanlah nikmat-nikmat yang telah diberikan oleh Allah kepadamu untuk mengerjakan amal saleh.

Sesungguhnya Aku melihat apa yang kamu kerjakan. (Saba: 11)

Yakni mengawasi kalian dan melihat semua amal perbuatan dan ucapan kalian, tiada sesuatu pun darinya yang samar bagi Allah Swt.

Dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

««««« juz 21 ««««      «««« juz 22 ««««      «««« juz 23 «««««