Para Jin Bekerja untuk Nabi Sulaiman

Tafsir Al-Qur’an: Surah Saba’ ayat 13

0
111

Tafsir Al-Qur’an: Surah Saba’ ayat 13. Nikmat-nikmat Allah Subhaanahu wa Ta’aala kepada Nabi Sulaiman ‘alaihis salam, sebagian mukjizat yang Allah berikan kepadanya.  Para jin bekerja untuk Nabi Sulaiman ‘alaihis salam sesuai dengan apa yang dikehendakinya. Pentingnya bersyukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

  يَعْمَلُونَ لَهُ مَا يَشَاءُ مِنْ مَحَارِيبَ وَتَمَاثِيلَ وَجِفَانٍ كَالْجَوَابِ وَقُدُورٍ رَاسِيَاتٍ اعْمَلُوا آلَ دَاوُدَ شُكْرًا وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ (١٣)

Mereka (para jin itu) bekerja untuk Sulaiman sesuai dengan apa yang dikehendakinya di antaranya (membuat) gedung-gedung yang tinggi, patung-patung, piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah wahai keluarga Dawud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.  (Q.S. Saba’ : 13)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Ya‘malūna lahū mā yasyā-u mim mahārība (jin-jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya berupa bangunan-bangunan yang tinggi), yakni mesjid-mesjid.

Wa tamātsīla (dan patung-patung) dalam rupa para malaikat, nabi, dan hamba (Allah), agar dapat dilihat oleh orang-orang hingga terdorong untuk beribadah seperti mereka.

Wa jifāning kal jawābi (dan piring-piring [yang besarnya] seperti kolam), yakni mangkuk-mangkuk besar yang tak bergerak, sebesar kolam untuk unta.

Wa qudurir rāsiyāt (dan periuk-periuk yang tetap [di atas tungku]), yakni periuk-periuk berukuran besar yang tak dapat diangkat. Seribu orang makan dari periuk itu.

I‘malū āla dāwūda (bekerjalah, hai keluarga Daud), yakni Sulaiman.

Syukrā (sebagai rasa syukur [kepada Allah]) yang berkesinambungan atas karunia yang diberikan kepada kalain. Bekerjalah kalian! Sebab, dengan bekerja berarti kalian mensyukuri nikmat yang telah dianugerahkan kepada kalian.

Wa qalīlum min ‘ibādiyasy syakūr (dan sedikit hamba-hamba-Ku yang bersyukur), yakni hamba-hamba-Ku yang menunaikan syukur.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Mereka (para jin itu) bekerja untuk Sulaiman sesuai dengan apa yang dikehendakinya di antaranya (membuat) gedung-gedung yang tinggi, patung-patung[45], piring-piring yang (besarnya) seperti kolam[46] dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). [47]Bekerjalah wahai keluarga Dawud[48] untuk bersyukur (kepada Allah)[49]. Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur[50].

[45] Ketika itu tidak haram membuat patung. Adapun dalam syariat Nabi Muhammad ﷺ hal itu diharamkan dengan tegas karena menjadi sarana kepada kesyirkkan.

[46] Mereka membuatnya untuk Sulaiman, yakni untuk makan, karena Beliau membutuhkan yang tidak dibutuhkan selain Beliau.

[47] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan nikmat-Nya kepada mereka, Dia memerintahkan mereka mensyukuri-Nya.

[48] Mereka adalah Dawud, keluarga dan istrinya, karena nikmat itu mengena kepada semuanya, dan maslahatnya kembali kepada mereka semua.

[49] Atas pemberian itu.

[50] Yakni kebanyakan mereka tidak bersyukur kepada Allah Ta’ala atas nikmat yang diberikan itu.

Syukur adalah mengakui dengan hatinya nikmat Allah, menerima karena butuh kepada-Nya, mengalihkannya untuk ketaatan kepada Allah dan menjaganya dari mengalihkan untuk maksiat.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi) bangunan-bangunan tinggi yang memakai tangga untuk orang yang mau memasukinya (dan patung-patung) lafal Tamaatsiil adalah bentuk jamak dari lafal Timtsaalun, yaitu segala sesuatu yang dibuat menurut gambaran objek yang dipahatnya. Maksudnya adalah patung-patung yang terbuat dari tembaga, ada pula yang terbuat dari kaca serta batu pualam. Perlu diketahui bahwa membuat patung atau gambar tidak diharamkan menurut syariat Nabi Sulaiman (dan piring-piring besar) lafal Jifaanin bentuk jamak dari lafal Jafnah (yang besarnya seperti kolam) lafal Jawaabii bentuk jamak dari lafal Jaabiyah artinya kolam yang besar; piring besar itu dapat dipakai untuk makan seribu orang (dan periuk yang tetap) berada di atas tungkunya serta tidak bergerak dari tempatnya karena saking besarnya. Periuk tersebut terbuat dari bukit negeri Yaman dan bagi orang yang memasak harus menaiki tangga, demikian pula bagi orang yang mau mengambil makanan daripadanya. Dan Kami berfirman, (“Bekerjalah kalian) hai (keluarga Daud) untuk taat kepada Allah (sebagai tanda syukur) kepada-Nya atas apa yang telah Dia limpahkan kepada kalian berupa nikmat-nikmat. (Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.”) yang mau bekerja untuk taat kepada-Ku sebagai ungkapan rasa syukurnya kepada-Ku atas nikmat-nikmat yang telah Kuberikan kepadanya.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Swt.:

Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung. (Saba: 13)

Yang dimaksud dengan maharib ialah bagian yang paling baik dan paling mewah di dalam rumah (tempat tinggal).

Mujahid mengatakan bahwa yang dimaksud dengan maharib ialah bangunan-bangunan, tetapi bukan berupa istana.

Ad-Dahhak mengatakan maharib adalah masjid-masjid. Qatadah mengatakan bahwa maharib ialah gedung-gedung dan masjid-masjid. Menurut Ibnu Zaid adalah tempat-tempat tinggal.

Adapun yang dimaksud dengan tamasil menurut Atiyyah Al-Aufi, Ad-Dahhak, dan As-Saddi artinya patung-patung. Menurut Mujahid patung-patung yang terbuat dari tembaga, sedangkan menurut Qatadah patung-patung yang terbuat dari tanah liat dan kaca.

Firman Allah Swt.:

dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk-periuk yang tetap (berada di atas tungkunya). (Saba: 13)

Jawab adalah bentuk jamak dari jabiyah, artinya kolam tempat penampungan air. Sebagaimana pengertian yang diucapkan oleh Maimun ibnu Qais alias Al-A’sya dalam salah satu bait syairnya:

تَرُوحُ عَلَى آلِ المَحَلَّق جَفْنَةٌ … كَجَابِيَة الشَّيخ العِراقي تَفْهَق

Dikirimkan kepada Ali Al-Muhallaq periuk besar di petang hari, yang besarnya seperti tempat penampungan air milik Syekh Iraqi yang penuh dengan air.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya “Al-jawab “yakni seperti kubangan.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa makna yang dimaksud ialah seperti kolam-kolam besarnya.

Hal yang sama telah dikatakan pula oleh Mujahid, Al-Hasan, Qatadah, Ad-Dahhak dan lain-lainnya.

Yang dimaksud dengan al-qudurur rasiyat ialah periuk-periuk yang sangat besar sehingga harus tetap berada di atas tungkunya, tidak dipindah-pindahkan karena sangat berat.

Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, Ad-Dahhak, dan selain keduanya.

Menurut Ikrimah termasuk ke dalam pengertian qudurur rasiyat ialah belanga.

Firman Allah Swt.:

Bekerjalah, hai keluarga Daud, untuk bersyukur (kepada Allah). (Saba: 13)

Yakni dan Kami katakan kepada mereka, “Bekerjalah sebagai ungkapan rasa syukur yang telah dilimpahkan Allah kepada kalian untuk kepentingan agama dan dunia kalian.”

Syukran adalah bentuk masdar tanpa fi’il, atau menjadi maf’ullah. Berdasarkan kedua hipotesis ini terkandung pengertian yang menunjukkan bahwa syukur itu adakalanya dengan perbuatan, adakalanya pula dengan lisan dan niat, sebagaimana yang dikatakan oleh salah seorang penyair:

أفَادَتْكُمُ النّعْمَاء منِّي ثَلاثةً: … يدِي، ولَسَاني، وَالضَّمير المُحَجَّبَا …

Telah kulimpahkan tiga macam nikmat dariku kepada kalian (sebagai rasa terima kasihku), yaitu melalui tanganku, lisanku, dan hatiku yang tidak kelihatan.

Abu Abdur Rahman As-Sulami telah mengatakan bahwa shalat adalah ungkapan rasa syukur, puasa juga ungkapan rasa syukur, serta semua amal kebaikan yang engkau kerjakan karena Allah Swt. merupakan ungkapan rasa syukurmu (kepada-Nya). Dan syukur yang paling utama ialah membaca Hamdalah. Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.

Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkan sebuah asar yang bersumber dari Muhammad ibnu Ka’b Al-Qurazi yang mengatakan bahwa syukur ialah bertakwa kepada Allah Swt. dan mengerjakan amal saleh. Hal ini dikatakan terhadap orang yang mengungkapkannya melalui perbuatan. Dan demikianlah keadaan yang dilakukan oleh keluarga Nabi Daud a.s. di masa silam, mereka bersyukur kepada Allah melalui perbuatan di antara lisan mereka.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Abu Bakar, telah menceritakan kepada kami Ja’far ibnu Sulaiman, dari Sabit Al-Bannani yang mengatakan bahwa Daud a.s. telah membagi-bagi tugas salat kepada keluarganya, anak-anaknya, dan istri-istrinya. Dan tersebutlah bahwa tiada suatu saat pun, baik di malam hari atau siang hari, melainkan ada seseorang dari keluarga Daud a.s. yang sedang berdiri menunaikan salat, sehingga rahmat terlimpahkan kepada mereka melalui apa yang disebutkan oleh firman-Nya: Bekerjalah, hai keluarga Daud, untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih. (Saba: 13)

Di dalam kitab Sahihain disebutkan dari Rasulullah ﷺ yang telah bersabda:

إِنْ أَحَبَّ الصَّلَاةِ إِلَى اللَّهِ صلاةُ داودَ، كَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ، وَأَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ، كَانَ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا. وَلَا يَفر إِذَا لَاقَى

Sesungguhnya shalat yang paling disukai oleh Allah adalah salatnya Nabi Daud; dia tidur hingga pertengahan malam, lalu berdiri (salat) sepertiganya dan tidur seperenamnya. Dan puasa yang paling disukai Allah adalah puasanya Nabi Dawud; dia puasa sehari dan berbuka sehari, dan apabila berperang Dawud tidak pernah lari dari medan perang.

وَقَدْ رَوَى أَبُو عَبْدِ اللَّهِ بْنُ مَاجَهْ مِنْ حَدِيثِ سُنيْد بْنِ دَاوُدَ، حَدَّثَنَا يُوسُفُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ المُنْكَدِر، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَابِرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى الله عليه وسلم: قَالَتْ أُمُّ سُلَيْمَانَ بْنِ دَاوُدَ لِسُلَيْمَانَ: يَا بُنَيَّ، لَا تُكْثِرِ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ، فَإِنَّ كَثْرَةَ النَّوْمِ بِاللَّيْلِ تَتْرُكُ الرَّجُلَ فَقِيرًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Abu Abdullah ibnu Majah telah meriwayatkan melalui hadis Sa’id ibnu Daud. Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Muhammad ibnul Munkadir, dari ayahnya, dari Jabir r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Ibu Nabi Sulaiman ibnu Dawud a.s. berkata kepada putranya Sulaiman, “Wahai anakku, janganlah kamu memperbanyak tidur di malam hari, karena sesungguhnya banyak tidur di malam hari membiarkan seseorang (pelakunya) menjadi orang fakir kelak di hari kiamat.”

Ibnu Abu Hatim sehubungan dengan hal ini telah meriwayatkan sebuah asar yang garib lagi panjang sekali menceritakan perihal Nabi Daud a.s. Ibnu Abu Hatim mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Imran ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Abu Zaid Qubaisah ibnu Ishaq Ar-Ruqqi yang mengatakan bahwa Fudail pernah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Bekerjalah, hai keluarga Dawud, untuk bersyukur (kepada Allah). (Saba: 13). Bahwa Daud a.s. berkata, “Ya Tuhanku, bagaimanakah saya harus bersyukur kepada Engkau, sedangkan bersyukur itu sendiri adalah merupakan nikmat dari-Mu?” Maka Allah Swt. menjawabnya melalui firman-Nya, “Sekarang engkau telah bersyukur kepada-Ku karena engkau telah mengetahui bahwa nikmat itu dari-Ku.”

Firman Allah Swt.:

Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih. (Saba: 13)

Hal ini merupakan berita tentang kenyataannya.

Wallahu a’lam dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

««««« juz 21 ««««      «««« juz 22 ««««      «««« juz 23 «««««