Rayap yang Memakan Tongkatnya

Tafsir Al-Qur’an: Surah Saba’ ayat 14

0
215

Tafsir Al-Qur’an: Surah Saba’ ayat 14. Nikmat-nikmat Allah Subhaanahu wa Ta’aala kepada Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman ‘alaihimas salam, sebagian mukjizat yang Allah berikan kepada keduanya, ketika Allah Subhaanahu wa Ta’aala menetapkan kematian atas Nabi Sulaiman ‘alaihis salam, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

  فَلَمَّا قَضَيْنَا عَلَيْهِ الْمَوْتَ مَا دَلَّهُمْ عَلَى مَوْتِهِ إِلا دَابَّةُ الأرْضِ تَأْكُلُ مِنْسَأَتَهُ فَلَمَّا خَرَّ تَبَيَّنَتِ الْجِنُّ أَنْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ الْغَيْبَ مَا لَبِثُوا فِي الْعَذَابِ الْمُهِينِ (١٤)

Maka ketika Kami telah menetapkan kematian atasnya (Sulaiman), tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka ketika dia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa sekiranya mereka mengetahui yang gaib tentu mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan. (Q.S. Saba’ : 14)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Fa lammā qadlainā ‘alaihi (maka tatkala Kami menetapkan atasnya), yakni atas Sulaiman a.s.

Al-mauta (kematian). Sulaiman a.s. wafat dalam keadaan berdiri di mihrabnya selama satu tahun.

Mā dallahum ‘alā mautihī (tak ada yang menunjukkan kematiannya itu kepada mereka), yakni kematian Sulaiman a.s..

Illā dābbatul ardli ta’kulu miηsā-atahū (kecuali rayap tanah yang menggerogoti tongkatnya). Menurut yang lain, tombak kecil miliknya.

Fa lammā kharra (kemudian setelah ia tersungkur), yakni setelah Sulaiman a.s. terjatuh.

Tabayyanatil jinnu (jelaslah jin itu), yakni jelaslah bagi manusia bahwa jin itu tidaklah mengetahui.

Al lau kānū ya‘lamūnal ghaiba mā labitsū fil ‘adzābil muhīn (bahwa andaikata mereka mengetahui yang gaib, tentulah mereka tidak tetap dalam azab yang menghinakan), yakni azab yang keras berupa kerja paksa.  Sebelumnya manusia beranggapan bahwa bangsa jin mengetahui hal-hal gaib. Setelah kejadian itu, jelaslah bagi manusia bahwa bangsa jin tidaklah mengetahuinya.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. [51]Maka ketika Kami telah menetapkan kematian atasnya (Sulaiman), tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka ketika dia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa sekiranya mereka mengetahui yang gaib[52] tentu mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan[53].

[51] Setan senantiasa bekerja keras untuk Nabi Sulaiman ‘alaihis salam membuat bangunan dan lain-lain. Ketika itu, mereka menipu manusia dengan memberitahukan, bahwa mereka mengetahui yang gaib dan mengetahui hal-hal yang tersembunyi, maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala ingin memperlihatkan kepada hamba-hamba-Nya kedustaan dakwaan mereka, karena tidak tahu yang gaib mereka tetap bekerja keras padahal Allah telah menaqdirkan Nabi-Nya Sulaiman ‘alaihis salam wafat ketika shalat di mihrabnya dengan bersandar di atas tongkatnya, sehingga ketika mereka (para jin) melewati Beliau, mereka melihat bahwa Beliau sedang bersandar di atas tongkat, mereka mengira bahwa Beliau masih hidup dan mereka merasa takut kepadanya. Beliau wafat dalam keadaan bersandar dengan tongkatnya selama setahun, sedangkan jin bekerja keras sebagaimana biasanya tanpa menyadari wafatnya Beliau sampai rayap memakan tongkatnya, lalu jatuhlah jasad Beliau. Ketika itu setan berpencar dan manusia pun mengetahui bahwa jin itu tidak mengetahui yang gaib. Karena jika mereka mengetahui yang gaib, tentu mereka tidak tetap di atas siksaan atau kerja keras yang menghinakan itu.

[52] Maka tidaklah tersembunyi bagi mereka tentang wafatnya Beliau.

[53] Yani pekerjaan yang berat untuk kepentingan Nabi Sulaiman ‘alaihis salam.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Maka tatkala Kami telah menetapkan terhadapnya) terhadap Sulaiman (kematian) ia mati dalam keadaan diam berdiri bertopang pada tongkatnya selama setahun penuh. Para jin masih tetap melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berat sebagaimana biasanya, karena mereka tidak menduga bahwa Nabi Sulaiman telah mati. Ketika rayap menggerogoti tongkatnya lalu tongkat itu patah, kemudian Nabi Sulaiman jatuh terjungkal maka menjadi nyatalah kematiannya di mata para jin itu (tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap) lafal Al Ardhu adalah bentuk Mashdar dari lafal Uridhatul Khasyabatu, artinya kayu itu digerogoti oleh rayap (yang memakan tongkatnya) lafal Minsa-atahuu dapat pula dibaca Minsaatahuu, yakni tongkatnya, dinamakan demikian karena tongkat itu dipakai untuk mengusir dan menghardik. (Maka, tatkala ia telah tersungkur) dalam keadaan telah mati (tahulah jin itu) yakni jelaslah bagi mereka (bahwa) “an” berasal dari Anna yang kemudian ditakhfifkan, asalnya Annahum (kalau sekiranya mereka mengetahui yang gaib) antara lain ialah apa yang gaib di mata mereka tentang kematian Nabi Sulaiman (tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan) kerja berat yang selama ini mereka lakukan, karena mereka menduga bahwa Nabi Sulaiman masih tetap hidup, berbeda halnya jika mereka mengetahui ilmu gaib. Mereka baru mengetahui kematiannya setelah satu tahun berdasarkan perhitungan masa yang diperkirakan jika sebuah tongkat dimakan rayap, sejak sehari semalam sesudah kematiannya.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Swt. menceritakan perihal kematian Sulaiman a.s. dan bagaimana Allah Swt. menyembunyikan kematiannya terhadap makhluk jin yang telah Dia tundukkan baginya untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan berat. Dan sesungguhnya Sulaiman saat kematiannya dalam keadaan sedang bertopang pada tongkatnya, berdiri tegak. Ibnu Abbas r.a. Mujahid, Al-Hasan dan Qatadah serta yang lain-lainnya yang bukan hanya seorang telah menyebutkan bahwa Nabi Sulaiman dalam keadaan begitu selama kurang lebih satu tahun. Ketika tongkatnya dimakan oleh rayap tanah, maka tongkat penopangnya rapuh dan akhirnya jasad Nabi Sulaiman jatuh. Pada saat itu barulah diketahui bahwa ia telah meninggal dunia, dan sebelum itu dalam waktu yang cukup lama tidak diketahui kematiannya. Dengan demikian, maka diketahui pulalah bahwa makhluk jin itu tidak mengetahui perkara yang gaib, tidak seperti apa yang didugakan dan disangkakan-oleh manusia selama itu.

Sehubungan dengan hal itu ada sebuah hadis marfu’ yang menceritakannya, tetapi kesahihannya masih diragukan.

قَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنْصُورٍ، حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ مَسْعُودٍ أَبُو حُذَيْفَةَ، حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ طَهْمَان، عَنْ عَطَاءٍ، عَنْ السَّائِبِ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: كَانَ سُلَيْمَانُ نَبِيُّ اللَّهِ، عَلَيْهِ السَّلَامُ، إِذَا صَلَّى رَأَى شَجَرَةً نَابِتَةً بَيْنَ يَدَيْهِ فَيَقُولُ لَهَا: مَا اسْمُكِ؟ فَتَقُولُ: كَذَا. فَيَقُولُ: لِأَيِّ شَيْءٍ أَنْتِ؟ فَإِنْ كَانَتْ لِغَرْسٍ غُرِسَتْ، وَإِنْ كَانَتْ لِدَوَاءٍ كُتِبَتْ. فَبَيْنَمَا هُوَ يُصَلِّي ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ رَأَى شَجَرَةً بَيْنَ يَدَيْهِ، فَقَالَ لَهَا: مَا اسْمُكِ؟ قَالَتْ: الْخَرُّوبُ. قَالَ: لِأَيِّ شَيْءٍ أَنْتِ؟ قَالَتْ: لِخَرَابِ هَذَا الْبَيْتِ. فَقَالَ سُلَيْمَانُ: اللَّهُمَّ، عَمّ عَلَى الْجِنِّ مَوْتَتِي حَتَّى يَعْلَمَ الْإِنْسُ أَنَّ الْجِنَّ لَا يَعْلَمُونَ الْغَيْبَ. فَنَحَتَهَا عَصًا، فَتَوَكَّأَ عَلَيْهَا حَوْلًا مَيِّتًا، وَالْجِنُّ تَعْمَلُ. فَأَكَلَتْهَا الْأَرَضَةُ، فَتَبَيَّنَتِ الْإِنْسُ أَنَّ الْجِنَّ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ الْغَيْبَ مَا لَبِثُوا [حَوْلًا] فِي الْعَذَابِ الْمُهِينِ

قَالَ: وَكَانَ ابْنُ عَبَّاسٍ يَقْرَؤُهَا كَذَلِكَ قَالَ: فَشَكَرَتِ الْجِنُّ الْأَرَضَةَ ، فَكَانَتْ تَأْتِيهَا بِالْمَاءِ

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Mansur, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Mas’ud, telah menceritakan kepada kami Abu Huzaifah, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Tahman, dari Ata, dari As-Sa-ib ibnu Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas r.a., dari Nabi ﷺ yang menceritakan bahwa: Nabi Sulaiman apabila shalat selalu melihat pohon yang tumbuh di hadapannya, lalu ia bertanya kepada pohon itu, “Siapakah namamu?” Maka pohon itu menjawab dengan bahasanya sendiri, “Namaku anu.” Ia bertanya lagi, “Apakah kegunaanmu?” Jika pohon itu untuk ditanam, maka ia ditanam; dan jika untuk obat, maka dicatat. Ketika Nabi Sulaiman sedang shalat di suatu hari, tiba-tiba ia melihat sebuah pohon ada di hadapannya, maka Sulaiman bertanya, “Apakah namamu?” Pohon itu menjawab bahwa namanya adalah Al-Kharub. Sulaiman bertanya, “Apakah kegunaanmu?” Pohon itu menjawab, “Untuk merusak Bait ini (Baitul Maqdis).” Maka Nabi Sulaiman a.s. berdoa, “Ya Allah, butakanlah jin dari kematianku, sehingga manusia mengetahui bahwa jin itu tidak mengetahui hal yang gaib.” Lalu Nabi Sulaiman mengukir pohon tersebut menjadi sebuah tongkat, kemudian ia berdiri seraya bersandar pada tongkat itu selama satu tahun dalam keadaan telah wafat, sedangkan jin selama itu tetap bekerja seperti biasanya. Pada akhirnya tongkat itu dimakan oleh rayap (dan robohlah Sulaiman a.s. ke tanah). Maka jelaslah bagi manusia saat itu bahwa seandainya jin itu mengetahui perkara yang gaib, tentulah mereka tidak akan tinggal selama satu tahun dalam siksaan kerja paksa yang menghinakan.

Perawi mengatakan bahwa Ibnu Abbas membaca ayat ini dengan bacaan tafsirnya memakai kata haulan. Lalu jin berterima kasih kepada rayap, lalu jin dengan sukarela mendatangkan air kepada rayap.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim melalui hadis Ibrahim ibnu Tuhman dengan sanad yang sama, tetapi predikat marfu ‘nya masih diragukan, karena garib dan munkar.

Hal yang benar bila dikatakan sebagai hadis mauquf karena Ata ibnu Abu Muslim Al-Khurrasani mempunyai banyak hadis yang garib dan pada sebagian hadisnya terdapat hal-hal yang diingkari. Menurut As-Saddi, di dalam hadisnya terdapat hal-hal yang diingkari.

As-Saddi telah mengetengahkan sebuah riwayat yang bersumber dari Abu Malik, dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas, dari Murrah Al-Hamdani, dari Ibnu Mas’ud r.a. dari seorang sahabat Rasulullah ﷺ yang mengatakan bahwa Nabi Sulaiman sering beribadah di dalam Baitul Muqaddas selama satu atau dua tahun, atau sebulan atau dua bulan; adakalanya kurang dari itu dan adakalanya lebih. Jika ia masuk ke dalam Baitullah untuk beribadah, maka ia membawa serta pula makanan dan minumannya. Akhirnya masuklah ia ke dalam Baitul Maqdis di suatu hari yang dia wafat padanya. Sejak semula tiada suatu pagi hari pun bila Sulaiman a.s. berada di dalam Baitul Maqdis melainkan Allah menumbuhkan sebuah pohon di dalamnya, lalu Sulaiman mendatanginya dan menanyai namanya. Lalu dijawab oleh pohon itu bahwa namanya adalah anu dan anu. Jika pohon itu untuk ditanam, maka Sulaiman menanamnya; dan jika untuk obat, maka dijadikan untuk obat. Hingga pada akhirnya tumbuhlah sebuah pohon yang dikenal dengan nama Kharubah, lalu Sulaiman menanyainya, “Siapakah namamu?” Pohon itu menjawab, “Aku adalah Kharubah” Sulaiman bertanya, “Untuk apakah kegunaanmu?” Pohon itu menjawab, “Aku adalah tumbuh-tumbuhan yang ditumbuhkan untuk merusak masjid ini.” Maka Sulaiman berkata,, “Allah tidak sekal-kali akan merusak masjid ini, sedangkan saya masih hidup. Jadi, engkaulah pertanda sudah dekat masa kematianku dan hancurnya Baitul Maqdis ini.” Lalu Nabi Sulaiman mencabutnya dan menanamnya di salah satu kebun miliknya. Kemudian ia masuk ke dalam mihrab dan berdiri melakukan salat seraya bertopang pada tongkatnya, di saat itulah ia meninggal dunia. Setan-setan tidak ada yang mengetahui kematiannya. Mereka mengira bahwa Sulaiman masih hidup dan mereka takut kepadanya. Karena itu, mereka terus bekerja untuknya. Mereka tidak berani membangkang karena takut bila Sulaiman a.s. mendatangi mereka dan menghukum mereka. Setan-setan bekerja di sekitar mihrab, dan mihrab Sulaiman mempunyai lubang yang terletak di hadapan dan di belakangnya. Dan tersebutlah bahwa ada setan yang hendak kabur berkata, “Bukankah aku ini sakti? Jika aku ingin, dapat saja menembus tembok ini dan keluar dari sebelah lainnya.” Lalu ia menembus tembok itu dan keluar dari sisi lain. Ternyata tidak terjadi sesuatu pun padanya. Sebelum itu tidak ada satu setan pun yang berani memandang Nabi Sulaiman a.s. yang sedang berada di mihrabnya karena ia pasti akan terbakar. Kemudian salah satu dari setan itu menembus tembok itu dan kembali, ternyata ketika di dalam ia tidak mendengar suara Nabi Sulaiman. Lalu ia penasaran dan masuk lagi, kemudian kembali dalam keadaan tidak terbakar. Lalu ia kembali lagi masuk ke dalam Baitul Maqdis, dan ternyata dirinya tidak terbakar, dan ia melihat Sulaiman terjatuh dalam keadaan tidak bernyawa lagi. Kemudian setan itu keluar dan memberitahukan kepada manusia bahwa Sulaiman telah meninggal dunia, lalu mereka mengeluarkannya. Ternyata mereka menjumpai tongkat Nabi Sulaiman yang dijadikan sandaran olehnya telah dimakan oleh rayap. Mereka tidak mengetahui sejak kapan Nabi Sulaiman meninggal dunia, akhirnya mereka letakkan rayap itu di atas tongkat dan mereka biarkan rayap itu memakannya hari demi hari dengan menahannya tetap dalam keadaan demikian. Akhirnya mereka menyimpulkan setelah berlalu masa satu tahun, bahwa Nabi Sulaiman telah wafat sejak setahun yang silam. Karena itulah di dalam qiraat sahabat Abdullah ibnu Mas’ud disebutkan ma labisu haulan fil ‘adzabil muhin, dengan memakai kata haulan. Lalu orang-orang tinggal selama satu tahun penuh sesudah kepergian Nabi Sulaiman seraya merasa berutang jasa kepadanya. Dan sejak saat itulah manusia mengetahui bahwa sebelumnya jin adalah tukang berdusta kepada mereka; dan seandainya jin mengetahui perkara gaib, tentulah jin mengetahui kematian Nabi Sulaiman, dan tentulah mereka tidak tinggal dalam siksaan selama satu tahun dalam kerja paksa untuknya. Yang demikian itulah yang dimaksud oleh firman-Nya: tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang gaib, tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan. (Saba: 14) Maka jelaslah perkara jin itu bagi manusia bahwa mereka dahulu selalu membohongi manusia. Kemudian setan berkata kepada rayap, “Seandainya kamu pemakan makanan, niscaya akan kudatangkan kepadamu makanan yang paling enak; dan jika kamu minum, niscaya aku datangkan kepadamu minuman yang terbaik. Tetapi mengingat keadaanmu, maka aku akan mendatangkan air dan tanah kepadamu.” Maka setan-setan itulah yang menyuplai air kepada rayap di mana pun rayap-rayap berada. Jika kamu lihat tanah yang ada di dalam kayu, maka tanah itulah yang didatangkan oleh setan-setan untuk rayap yang ada di dalamnya sebagai rasa terima kasih mereka kepadanya.

Asar ini hanya Allah Yang Maha Mengetahui, tiada lain termasuk hal-hal yang dinukil dari ulama Ahli Kitab. Maka sikap kita terhadapnya abstain, tidaklah kita membenarkannya kecuali jika sesuai dengan kebenaran, dan tidaklah kita mendustakannya kecuali terhadap apa yang bertentangan dengan kebenaran. Sedangkan terhadap sisanya kita tidak boleh membenarkannya, tidak boleh pula mendustakannya.

Ibnu Wahb dan Asbag Ibnul Faraj telah menceritakan dari Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam sehubungan dengan makna firman-Nya: tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. (Saba: 14) Sulaiman pernah berkata kepada malaikat maut, “Jika engkau diperintahkan untuk mencabut nyawaku, maka beritahukanlah terlebih dahulu kepadaku.” Maka malaikat maut datang kepadanya dan mengatakan, “Hai Sulaiman, sesungguhnya aku telah diperintahkan untuk mencabut nyawamu, dan engkau masih punya kesempatan kurang dari sesaat.” Lalu Sulaiman a.s. memanggil setan-setan dan memerintahkan kepada mereka untuk membangun menara kaca untuknya yang tidak ada pintunya. Lalu Sulaiman a.s. berdiri mengerjakan salatnya seraya bersandar pada tongkatnya. Malaikat maut masuk ke dalam menara kaca itu dan menemuinya, lalu mencabut nyawanya, sedangkan ia (Sulaiman a.s.) dalam keadaan bertopang pada tongkatnya. Sulaiman a.s. melakukan demikian bukan karena lari dari maut. Dan jin terus bekerja di hadapannya seraya memandang ke arahnya dengan dugaan bahwa Sulaiman masih tetap hidup. Lalu Allah Swt. mengirimkan rayap rayap adalah pemakan kayu, lalu rayap masuk ke dalam tongkatnya dan memakannya. Setelah rayap memakan bagian dalam tongkat itu, maka rapuhlah tongkat itu dan tidak kuat menyangga tubuh Nabi Sulaiman, akhirnya jasad Nabi Sulaiman ambruk ke tanah. Ketika jin melihat peristiwa tersebut, maka mereka bubar dan pergi. Hal inilah yang dimaksud di dalam firman-Nya: tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. (Saba: 14)

Asbag mengatakan bahwa telah sampai suatu riwayat kepadanya dari orang lain yang mengatakan bahwa rayap itu tinggal di dalam tongkat tersebut dan memakaninya selama satu tahun, sebelum Sulaiman a.s. jatuh tersungkur.

Dan ulama Salaf yang bukan hanya seorang menyebutkan hal yang semisal,

Wallahu a’lam dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

««««« juz 21 ««««      «««« juz 22 ««««      «««« juz 23 «««««