Iblis

Tafsir Al-Qur’an: Surah Saba’ ayat 20-21

0
219

Tafsir Al-Qur’an: Surah Saba’ ayat 20-21. Peringatan agar tidak mengikuti setan, Iblis telah dapat meyakinkan terhadap mereka kebenaran sangkaannya. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَلَقَدْ صَدَّقَ عَلَيْهِمْ إِبْلِيسُ ظَنَّهُ فَاتَّبَعُوهُ إِلا فَرِيقًا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ (٢٠) وَمَا كَانَ لَهُ عَلَيْهِمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلا لِنَعْلَمَ مَنْ يُؤْمِنُ بِالآخِرَةِ مِمَّنْ هُوَ مِنْهَا فِي شَكٍّ وَرَبُّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ (٢١)

Dan sungguh, Iblis telah dapat meyakinkan terhadap mereka kebenaran sangkaannya, lalu mereka mengikutinya, kecuali sebagian dari orang-orang mukmin. Dan tidak ada kekuasaan (Iblis) terhadap mereka, melainkan hanya agar Kami dapat membedakan siapa yang beriman kepada adanya akhirat dan siapa yang masih ragu-ragu tentang (akhirat) itu. Dan Tuhanmu Maha memelihara segala sesuatu. (Q.S. Saba’ : 20-21)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa laqad shaddaqa ‘alaihim iblīsu zhannahū (dan sesungguhnya iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka), yakni iblis pernah mengatakan sesuatu, dan ternyata ucapannya memang benar.

Fattaba‘ūhu (lalu mereka mengikutinya) dalam kekafiran.

Illā farīqam minal mu’minīn (kecuali segolongan orang-orang yang beriman), yakni kelompok orang-orang yang beriman.

Wa mā kāna lahū (dan tidaklah ia mempunyai), yakni iblis tidak mempunyai.

‘Alaihim (terhadap mereka), yakni terhadap Bani Adam.

Miη sulthānin (kekuasaan), yakni kemampuan dan pemaksaan perintah.

Illā li na‘lama (melainkan agar Kami mengetahui), yakni melainkan hanya agar Kami dapat melihat dan membedakan.

May yu’minu bil ākhirati (siapa-siapa yang beriman kepada akhirat), yakni siapa saja yang telah Kuketahui sejak dahulu akan beriman kepada adanya kebangkitan sesudah mati.

Mimman huwa minhā (dari siapa-siapa yang tentang hal itu), yakni tentang terjadinya kiamat.

Fī syakk (ada dalam keraguan), yakni dalam kesangsian.

Wa rabbuka (dan Rabb-mu), hai Muhammad!

‘Alā kulli syai-in hafīzh (Maha memelihara segala sesuatu), yakni Maha mengetahui amal-amal kalian.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. [17]Dan sungguh, Iblis telah dapat meyakinkan terhadap mereka kebenaran sangkaannya, lalu mereka mengikutinya, kecuali sebagian dari orang-orang mukmin[18].

[17] Selanjutnya Allah menyebutkan, bahwa kaum Saba’ telah membenarkan persangkaan Iblis, di mana dia pernah berkata, “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, Kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka.” (lihat Al Hijr: 39-40) Ini adalah sangkaan Iblis, tidak secara yakin, karena ia tidak mengetahui yang gaib, dan tidak datang kepadanya berita dari Allah bahwa ia akan menyesatkan manusia semua kecuali orang-orang yang ia kecualikan. Oleh karena itu, mereka yang kufur kepada Allah termasuk orang-orang yang membenarkan sangkaan iblis dan terbawa bujukan dan rayuannya.

[18] Maka mereka tidak mengikutinya. Bisa jadi kisah kaum Saba’ sampai pada firman Allah Ta’ala, “Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang bersabar dan bersyukur.” Sedangkan ayat setelahnya merupakan ayat yang baru, sehingga ayat tersebut umum mengena kepada semua orang yang mengikuti Iblis.

  1. Dan tidak ada kekuasaan (Iblis) terhadap mereka[19], melainkan hanya agar Kami dapat membedakan siapa yang beriman kepada adanya akhirat dan siapa yang masih ragu-ragu tentang (akhirat) itu[20]. Dan Tuhanmu Maha Memelihara segala sesuatu[21].

[19] Yakni Iblis tidak berkuasa memaksa mereka mengikuti keinginannya, ia hanya bisa membujuk dan mengajak manusia.

[20] Yakni agar tegak ujian, di mana dengannya dapat diketahui siapa yang benar dan siapa yang berdusta. Demikian pula dapat diketahui orang yang imannya benar yang kokoh ketika mendapatkan ujian dan dapat melawan syubhat-syubhat setan dengan orang yang imannya tidak teguh dan mudah goncang oleh syubhat yang datang meskipun kecil. Oleh karena itu, Allah menjadikan Iblis sebagai ujian, di mana dengannya Dia menguji hamba-hamba-Nya agar tampak siapa yang baik dan siapa yang buruk.

[21] Dia menjaga hamba, menjaga amal mereka, menjaga balasannya dan nanti Dia akan memberikan secara sempurna untuk mereka.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan sesungguhnya telah membuktikan kebenaran) dapat dibaca Shadaqa atau Shaddaqa (terhadap mereka) terhadap orang-orang kafir, antara lain adalah penduduk negeri Saba (iblis akan kebenaran sangkaannya) bahwasanya apabila ia menggoda mereka, maka niscaya mereka akan mengikutinya (lalu mereka mengikutinya) maka benarlah dugaan iblis itu atau nyata benarlah apa yang diduga oleh iblis itu (kecuali) tetapi (sebagian dari orang-orang yang beriman) yang benar-benar beriman, tidak mau mengikuti iblis.
  2. (Dan tidak ada kekuasaan iblis terhadap mereka) maksudnya iblis tidak mempunyai kekuasaan apa-apa terhadap mereka (melainkan hanyalah agar Kami dapat mengetahui) yakni menyatakan (siapa yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat dan siapa yang ragu-ragu tentang itu) maka kelak Kami akan membalasnya kepada masing-masing. (Dan Rabbmu Maha Memelihara segala sesuatu) yakni Maha Mengawasi.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Setelah menceritakan perihal negeri Saba dan akibat yang diterima mereka karena mengikuti hawa nafsu dan setan, lalu Allah menceritakan perihal orang-orang yang semisal dengan mereka dari kalangan orang-orang yang mengikuti iblis, hawa nafsu, dan menentang kebenaran serta jalan petunjuk. Untuk itu Allah Swt.menyebutkan dalam firman-Nya:

Dan sesungguhnya iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka. (Saba: 20)

Ibnu Abbas r.a. dan lain-lainya mengatakan sehubungan dengan makna ayat ini, bahwa makna ayat ini sama dengan kisah Allah tentang iblis ketika membangkang tidak mau sujud kepada Adam a.s. padahal Dia telah memerintahkan kepadanya untuk melakukan hal itu. Kemudian iblis berkata, seperti yang disitir oleh firman-Nya:

أَرَأَيْتَكَ هَذَا الَّذِي كَرَّمْتَ عَلَيَّ لَئِنْ أَخَّرْتَنِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لأحْتَنِكَنَّ ذُرِّيَّتَهُ إِلا قَلِيلا

Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebagian kecil (Al-Isra: 62)

Dan firman-Nya:

ثُمَّ لآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

kemudian saya akan datangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau-tidak akan mendapatkan sebagian besar dari mereka bersyukur (taat). (Al-A’raf: 17)

Ayat-ayat yang menceritakan hal ini cukup banyak.

Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa ketika Allah menurunkan Adam a.s. dari surga disertai dengan Hawa, iblis merasa gembira dengan musibah yang menimpa keduanya. Lalu iblis berkata, “jika kedua orang tua itu dapat saya goda, maka terlebih lagi keturunannya, pasti lebih lemah.” Hal ini adalah dugaan sepihak dari iblis. Maka Allah menurunkan firman-Nya: Dan sesungguhnya iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka, lalu mereka mengikutinya, kecuali sebahagian orang-orang yang beriman. (Saba: 20). Saat itu juga iblis berkata, “Aku tidak akan berpisah dari anak Adam selama di dalam tubuhnya masih terdapat roh. Aku akan mengumbar janji dan memberikan angan-angan kepadanya dan akan kutipu dia.” Maka Allah Swt. menjawab, “Demi Keagungan dan Kemuliaan-Ku, Aku tidak akan menutup pintu tobat-Ku darinya selama nyawanya masih belum meregang, dan tidak sekali-kali dia berdoa kepada-Ku melainkan Aku mencintainya, dan tidak sekali-kali dia meminta kepada-Ku melainkan Aku memberinya, dan tidak sekali-kali dia meminta ampun kepada-Ku melainkan Kuberikan ampunan baginya.” Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim.

Firman Allah Swt.:

Dan tidak adalah kekuasaan iblis terhadap mereka. (Saba: 21)

Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahwa makna sultan ialah hujah.

Al-Hasan Al-Basri mengatakan, “Demi Allah, iblis tidak memukul mereka dengan tongkat dan tidak pula memaksa mereka untuk mengerjakan sesuatu, tiada yang dilakukan oleh iblis kecuali tipuan, dan melalui angan-angan yang diembuskannya kepada mereka untuk mengerjakannya, lalu mereka mengikutinya.”

Firman Allah Swt.:

melainkan hanyalah agar Kami dapat membedakan siapa yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat dan siapa yang ragu-ragu. (Saba: 21)

Sesungguhnya Kami membiarkan iblis menggoda mereka tiada lain agar tampak nyata perkara mereka, siapakah yang beriman kepada hari kemudian, adanya hari kiamat, dan hisab serta pembalasan. Yang karena itu ia menyembah Tuhannya dengan baik di dunia, dan siapakah yang meragukan hal tersebut di antara mereka.

Firman Allah Swt.:

Dan Tuhanmu Maha memelihara segala sesuatu. (Saba: 21)

Yakni sekalipun Dia telah memelihara, tetapi masih ada juga yang sesat, yaitu orang-orang yang mengikuti jejak iblis. Dan berkat pemeliharaan-Nya, maka selamatlah orang-orang mukmin yang ditakdirkan selamat, yaitu mereka yang mengikuti jejak rasul-rasul-Nya.

Wallahu a’lam dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

««««« juz 21 ««««      «««« juz 22 ««««      «««« juz 23 «««««