Yang Memberi Rezeki

Tafsir Al-Qur’an: Surah Saba’ayat 24-25

0
50

Tafsir Al-Qur’an: Surah Saba’ayat 24-25. Yang memberi rezeki adalah Allah Subhaanahu wa Ta’aala, tingginya kalimat yang hak dan rendahnya kalimat kebatilan, serta umumnya risalah Nabi Muhammad ﷺ. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

  قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ قُلِ اللَّهُ وَإِنَّا أَوْ إِيَّاكُمْ لَعَلَى هُدًى أَوْ فِي ضَلالٍ مُبِينٍ (٢٤) قُلْ لا تُسْأَلُونَ عَمَّا أَجْرَمْنَا وَلا نُسْأَلُ عَمَّا تَعْمَلُونَ (٢٥)

Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?” Katakanlah, “Allah,” dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata. Katakanlah, “Kamu tidak akan dimintai tanggung jawab atas apa yang kami kerjakan dan kami tidak dimintai tanggung jawab atas apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Saba’ : 24-25)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Qul (katakanlah) kepada orang-orang kafir Mekah, hai Muhammad!

May yarzuqukum minas samāwāti (siapakah yang memberi kalian rezeki dari langit) berupa hujan.

Wal ardl (dan bumi) berupa tumbuh-tumbuhan. Pasti mereka akan menjawab, “Allah”. Namun, jika tidak.

Qulillāhu (katakanlah, “Allah) yang memberi kalian rezeki.

Wa innā au iyyākum (dan sesungguhnya kami atau kalian), wahai penduduk Mekah!

La ‘alā hudan au fī dlalālim mubīn (benar-benar berada dalam petunjuk atau dalam kesesatan yang nyata”) berkenaan dengan Rezeki Allah. Ada yang berpendapat,

wa innā (dan sesungguhnya kami), yakni segenap kaum Mukminin;

la ‘alā hudan (benar-benar berada dalam petunjuk);

au iyyākum (atau kalian), wahai penduduk Mekah;

fī dlalālim mubīn (dalam kesesatan yang nyata), yakni dalam kekafiran dan kekeliruan yang nyata.

Qul (katakanlah) kepada mereka, hai Muhammad!

Lā tus-alūna ‘ammā ajramnā (kalian tidak akan ditanyai tentang dosa yang kami lakukan), yakni perbuatan dosa kami.

Wa lā nus-alu ‘ammā ta‘malūn (dan kami pun tidak akan ditanyai tentang apa yang kalian perbuat) dalam kekafiran kalian. Kemudian ayat ini dinasakh dengan āyatus saif (ayat tentang perang).

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. [31]Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit[32] dan dari bumi[33]?” Katakanlah, “Allah, [34]” dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata[35].

[31] Allah Subhaanahu wa Ta’aala memerintahkan Nabi-Nya Muhammad ﷺ berkata kepada orang-orang yang menyekutukan Allah dan bertanya tentang alasan kemusyrikannya.

[32] Seperti hujan.

[33] Seperti tanaman dan tumbuhan.

[34] Mereka tentu akan mengatakan Allah, dan kalau pun mereka tidak mengatakannya tidak ada jawaban selain itu. Jika telah jelas, bahwa Allah saja yang memberikan rezeki kepada kita dari langit dan dari bumi maka mengapa yang disembah malah selain-Nya yang tidak memberikan rezeki dan tidak memberikan manfaat apa-apa.

[35] Ini merupakan kelembutan dalam berdakwah. Ucapan ini diucapkan dari orang yang telah jelas kebenaran baginya dan dapat memastikan kebenaran yang dipegang olehnya, sedangkan musuhnya di atas kebatilan. Maksud ayat ini adalah, bahwa kami telah menerangkan dalil-dalil yang ada pada kami dan ada pada kamu di mana dengannya dapat diketahui secara yakin siapakah yang hak dan siapa yang batil, siapa yang mendapatkan petunjuk dan siapa yang tersesat? Sehingga menentukan siapa yang benar sudah tidak ada faedahnya lagi. Hal itu, karena jika anda membandingkan antara orang yang mengajak menyembah Allah yang mencipta semua makhluk, yang mengaruniakan berbagai nikmat dan menghindarkan berbagai bencana yang segala puji bagi-Nya dan kerajaan milik-Nya, yang berkuasa memberikan manfaat dan menghindarkan bahaya, yang mampu menghidupkan dan mematikan dengan orang yang mendekatkan diri kepada patung dan berhala atau kuburan yang tidak menciptakan dan memberikan rezeki, tidak berkuasa memberikan manfaat bagi dirinya apalagi bagi yang menyembahnya, tidak mampu menghidupkan dan mematikan, yang tidak memiliki bagian kekuasaan di alam semesta dan tidak memiliki peran apa-apa, yang tidak dapat dapat menolong dan memberikan syafaat, maka siapakah yang mendapatkan petunjuk dan siapakah yang tersesat, siapakah yang berbahagia dan siapakah yang sengsara? Tidak perlu dijelaskan siapa yang mendapat petunjuk dan bahagia, karena keadaannya lebih jelas daripada sekedar diucapkan.

  1. Katakanlah, “Kamu tidak akan dimintai tanggung jawab atas apa yang kami kerjakan dan kami tidak dimintai tanggung jawab atas apa yang kamu kerjakan[36].

[36] Yakni masng-masing dari kami dan kamu untuknya amalnya, kamu tidak dimintai tanggung jawab atas apa yang kami kerjakan, dan kami tidak dimintai tanggung jawab atas apa yang kamu kerjakan. Oleh karena itu, hendaknya tujuan kami dan kamu adalah mencari kebenaran dan menempuh jalan yang adil, dan jangan sampai menghalangi kamu dari mengikuti yang hak, karena hukum-hukum dunia berjalan sesuai yang tampak, yang diikuti di sana adalah yang hak dan yang dijauhi adalah yang batil. Adapun urusan amal, maka ada tempat lagi yang lain, di mana yang memutuskannya adalah hakim yang sebaik-baiknya dan seadil-adilnya, yaitu Allah Subhaanahu wa Ta’aala.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Katakanlah! “Siapakah yang memberi rezeki kepada kalian dari langit) melalui hujan (dan dari bumi?”) melalui tumbuhtumbuhan (Katakanlah! “Allah”) jika mereka tidak mengatakan demikian, maka tidak akan ada jawaban lain yang benar (dan sesungguhnya kami atau kalian) yakni salah satu di antara kedua golongan (pasti berada dalam petunjuk atau dalam kesesatan yang nyata) nyata sesatnya, apakah kami atau kalian orang-orang kafir. Dikatakan dengan ungkapan yang samar demi untuk melunakkan hati orang yang kafir, dengan maksud menyeru mereka kepada iman, yaitu apabila mereka sesuai dengan Nabi ﷺ.
  2. (Katakanlah! “Kalian tidak akan ditanya tentang dosa yang kami perbuat) tentang dosa-dosa kami (dan kami tidak akan ditanya pula tentang apa yang kalian perbuat”) karena sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Swt. menetapkan keesaan-Nya dalam hal penciptaan dan memberi rezeki, juga keesaan-Nya sebagai Tuhan yang wajib disembah. Sebagaimana mereka mengakui bahwa tidak ada yang memberi mereka rezeki dari langit dan dari bumi melalui hujan yang diturunkan dan tanam-tanaman yang ditumbuhkan, selain dari Allah Swt., maka hendaklah mereka mengetahui pula bahwa tidak ada Tuhan selain Dia.

Firman Allah Swt.:

dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik) pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata. (Saba: 24)

Ungkapan ini termasuk ke dalam Bab “Sindiran”. Dengan kata lain, dapat disebutkan bahwa salah satu pihak pasti ada yang batil, dan pihak yang lain benar. Tidak mungkin dikatakan bahwa antara kalian dan kami berada dalam jalan petunjuk atau berada dalam kesesatan, tetapi salah satu dari kita sajalah yang benar. Dan sebagaimana yang telah kalian ketahui (hai orang-orang musyrik), kami telah mengemukakan bukti yang membenarkan keesaan Tuhan. Hal ini merupakan bukti yang jelas yang membuktikan kebatilan akidah kalian yang mempersekutukan Allah Swt. dengan sesuatu. Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya: dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik) pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata. (Saba: 24)

Qatadah mengatakan bahwa sesungguhnya yang mengatakan demikian adalah sahabat Nabi Muhammad ﷺ kepada orang-orang musyrik, yaitu: “Demi Allah, tiadalah kami dan kalian berada dalam satu jalan, dan sesungguhnya salah satu dari kita benar-benar berada dalam jalan petunjuk.”

Ikrimah dan Ziad ibnu Abu Maryam mengatakan, makna yang dimaksud ialah, “Sesungguhnya kami benar-benar berada pada jalan petunjuk, dan sesungguhnya kalian benar-benar berada dalam kesesatan yang jelas.”

Firman Allah Swt.:

Katakanlah, “Kamu tidak akan ditanya (bertanggung jawab) tentang dosa yang kami perbuat dan kami tidak akan ditanya (pula) tentang apa yang kamu perbuat.” (Saba: 25)

Makna yang dimaksud ayat ini ialah pernyataan berlepas diri dari apa yang dilakukan oleh mereka (orang-orang musyrik). Dengan kata lain, dapat disebutkan bahwa kalian bukanlah termasuk golongan kami, sebagaimana kami pun bukan termasuk golongan kalian, bahkan kami menyeru kalian untuk menyembah Allah semata dan mengesakan-Nya. Maka jika kalian memenuhi seruan kami, berarti kalian termasuk golongan kami dan kami termasuk golongan kalian. Tetapi jika kalian mendustakan seruan kami, maka kami berlepas diri dari kalian sebagaimana kalian pun berlepas diri dari kami. Makna ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

وَإِنْ كَذَّبُوكَ فَقُلْ لِي عَمَلِي وَلَكُمْ عَمَلُكُمْ أَنْتُمْ بَرِيئُونَ مِمَّا أَعْمَلُ وَأَنَا بَرِيءٌ مِمَّا تَعْمَلُونَ

Jika mereka mendustakan kamu, maka katakanlah, “Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan aku berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan.” (Yunus: 41)

Dan firman Allah Swt.:

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ. لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ. وَلا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ. وَلا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ. وَلا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ. لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

Katakanlah, “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku.” (Al-Kafirun: 1-6)

Wallahu a’lam dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

««««« juz 21 ««««      «««« juz 22 ««««      «««« juz 23 «««««