Ketika Mengutus Seorang Rasul

Tafsir Al-Qur’an: Surah Saba’ ayat 34

0
102

Tafsir Al-Qur’an: Surah Saba’ ayat 34. Allah Subhaanahu wa Ta’aala ketika mengutus seorang rasul di satu tempat selalu saja diingkari oleh orang-orang yang hidup mewah lagi menyombongkan diri.  Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

  وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ (٣٤)

Dan setiap Kami mengutus seorang pemberi peringatan kepada suatu negeri, orang-orang yang hidup mewah (di negeri itu) berkata, “Kami benar-benar mengingkari apa yang kamu sampaikan sebagai utusan.” (Q.S. Saba’ : 34)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa mā arsalnā fī qaryatin (dan tidaklah Kami mengutus kepada suatu negeri), yakni kepada penduduk suatu negeri.

Min nadzīrin (seorang pemberi peringatan pun), yakni seorang rasul yang menyampaikan ancaman.

Illā qāla mutrafūhā (melainkan orang-orang yang diberi kemewahan di negeri itu berkata), yakni orang-orang zalim dan orang-orang kaya.

Innā bi mā ursiltum bihī kāfirūn (“Sesungguhnya kami kafir kepada [risalah] yang kalian diutus untuk [menyampaikan]nya”), yakni ingkar.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. [11]Dan setiap Kami mengutus seorang pemberi peringatan kepada suatu negeri, orang-orang yang hidup mewah (di negeri itu) berkata, “Kami benar-benar mengingkari apa yang kamu sampaikan sebagai utusan.”

[11] Allah Subhaanahu wa Ta’aala memberitahukan keadaan umat-umat terdahulu yang mendustakan para rasul bahwa keadaannya sama seperti orang-orang yang pada saat itu mendustakan Rasul mereka Muhammad ﷺ, di mana Allah Subhaanahu wa Ta’aala ketika mengutus seorang rasul di satu tempat selalu saja diingkari oleh orang-orang yang hidup mewah lagi menyombongkan diri.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatan pun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata) yakni para pemimpinnya hidup bergelimang dengan kemewahan, (“Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya.”)

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Swt. menghibur Nabi-Nya seraya memerintahkan kepadanya agar mengambil pelajaran dari para rasul yang telah mendahuluinya, dan Allah memberitahukan kepadanya bahwa tidak sekali-sekali Dia mengutus seorang nabi ke suatu penduduk negeri, melainkan penduduk negeri itu mendustakannya. Pelaku pertamanya adalah orang-orang hartawan mereka, kemudian diikuti oleh kaum lemah mereka, seperti apa yang dikatakan oleh kaum Nabi Nuh a.s.:

أَنُؤْمِنُ لَكَ وَاتَّبَعَكَ الأرْذَلُونَ

Mereka berkata, “Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?” (Asy-Syu’ara: 111)

Dan firman Allah Swt.:

وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلا الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ

Dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikutimu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja. (Hud: 27)

Dan orang-orang besar dari kalangan kaum Nabi Saleh mengatakan:

لِلَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا لِمَنْ آمَنَ مِنْهُمْ أَتَعْلَمُونَ أَنَّ صَالِحًا مُرْسَلٌ مِنْ رَبِّهِ قَالُوا إِنَّا بِمَا أُرْسِلَ بِهِ مُؤْمِنُونَ. قَالَ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا بِالَّذِي آمَنْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ

kepada orang-orang yang dianggap lemah yang telah beriman di antara mereka, “Tahukah kamu bahwa Saleh diutus (menjadi rasul) oleh Tuhannya?.” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu, yang Saleh diutus untuk menyampaikannya.” Orang-orang yang menyombongkan diri berkata, “Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani.” (Al-A’raf: 75-76)

Dan firman Allah Swt.:

وَكَذَلِكَ فَتَنَّا بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لِيَقُولُوا أَهَؤُلاءِ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنْ بَيْنِنَا أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَعْلَمَ بِالشَّاكِرِينَ

Dan demikianlah telah Kami uji sebagian mereka (orang-orang yang kaya) dengan sebagian mereka (orang-orang yang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata, “Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah kepada mereka?” (Allah berfirman), “Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya) “ (Al-An’am: 53)

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا فِي كُلِّ قَرْيَةٍ أَكَابِرَ مُجْرِمِيهَا لِيَمْكُرُوا فِيهَا

Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri pembesar-pembesar yang jahat agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. (Al-An’am: 123)

وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا [فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ

Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah), tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu. Maka sudah sepantasnya berlaku terhadap mereka perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. (Al-Isra: 16)

Dan dalam surat ini disebutkan oleh firman-Nya:

Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatan pun. (Saba: 34)

Yakni seorang nabi atau seorang rasul.

melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata. (Saba: 34)

Mereka adalah orang-orang yang hidup senang, terpandang, hartawan, dan memegang kendali kepemimpinan.

Menurut Qatadah, mereka adalah orang-orang yang bertindak sewenang-wenang di kalangan mereka, yang juga pemimpin mereka dalam kejahatan.

Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya. (Saba: 34)

Yakni kami tidak akan beriman dan tidak akan mengikutinya.

قَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ الحسين، حَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ إِسْحَاقَ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْوَهَّابِ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ عَاصِمٍ، عَنْ أَبِي رَزِين قَالَ: كَانَ رَجُلَانِ شَرِيكَانِ خَرَجَ أَحَدُهُمَا إِلَى السَّاحِلِ وَبَقِيَ الْآخَرُ، فَلَمَّا بُعِثَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَتَبَ إِلَى صَاحِبِهِ يَسْأَلُهُ: مَا فَعَلَ؟ فَكَتَبَ إِلَيْهِ أَنَّهُ لَمْ يَتْبَعْهُ أَحَدٌ مِنْ قُرَيْشٍ، إِنَّمَا اتَّبَعَهُ أَرَاذِلُ النَّاسِ وَمَسَاكِينُهُمْ. قَالَ: فَتَرَكَ تِجَارَتَهُ ثُمَّ أَتَى صَاحِبَهُ فَقَالَ: دُلَّنِي عَلَيْهِ -قَالَ: وَكَانَ يَقْرَأُ الْكُتُبَ، أَوْ بَعْضَ الْكُتُبِ-قَالَ: فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِلَامَ تَدْعُو؟ قَالَ: إِلَى كَذَا وَكَذَا. قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ. قَالَ: وَمَا عِلْمُكَ بِذَلِكَ؟  قَالَ: إِنَّهُ لَمْ يُبْعَثْ نَبِيٌّ إِلَّا اتَّبَعَهُ رُذَالة النَّاسِ وَمَسَاكِينُهُمْ. قَالَ: فَنَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ: {وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ} ] الْآيَاتِ] ، قَالَ: فَأَرْسَلَ إِلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَنْزَلَ تَصْدِيقَ مَا قُلْتَ

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain, telah menceritakan kepada kami Harun ibnu Ishaq, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdul Wahhab, dari Sufyan, dari Asim, dari Abu Rajin yang menceritakan bahwa pernah ada dua orang yang berteman, salah seorang dari keduanya keluar menuju ke pantai, sedangkan yang lain tinggal di rumahnya. Ketika Nabi ﷺ diutus, maka teman yang ada di pantai berkirim surat kepada temannya yang ada di tempat menanyakan perihal Nabi ﷺ. Lalu temannya yang ada di tempat membalas suratnya dengan mengatakan bahwa Muhammad itu tidak ada seorang pun dari kalangan Quraisy yang mengikutinya, sesungguhnya yang mengikutinya hanyalah orang-orang yang lemah dan kaum fakir miskin. Kemudian temannya yang sedang mengembara itu meninggalkan perniagaannya, lalu mendatangi temannya dan berkata kepadanya, “Tunjukkanlah aku kepada Muhammad.” Ternyata si pengembara itu sering membaca kitab atau sebagian dari kitab-kitab terdahulu. Ketika sampai kepada Nabi ﷺ ia bertanya, “Engkau menyeru kepada apa?” Nabi ﷺ menjawabnya, bahwa beliau menyeru manusia untuk berbuat anu dan anu (kebenaran). Maka si pengembara itu langsung berkata, “Aku bersaksi bahwa Engkau adalah utusan Allah.” Nabi ﷺ bertanya, “Mengapa engkau mengetahui sampai sejauh itu?” Pengembara itu menjawab, bahwa sesungguhnya tidak sekali-sekali seorang nabi diutus melainkan yang menjadi pengikutnya adalah orang-orang yang lemah dan orang-orang miskin dari kalangan kaumnya. Lalu turunlah ayat ini, yaitu firman-Nya: Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatan pun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata, “Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya.” (Saba: 34) Lalu Nabi ﷺ mengirimkan utusan kepada si pengembara untuk menyampaikan sabdanya: sesungguhnya Allah Swt. telah menurunkan wahyu yang membenarkan ucapanmu.

Hal yang sama telah dikatakan oleh Heraklius kepada Abu Sufyan, ketika Heraklius menanyainya tentang perihal Nabi ﷺ. Heraklius antara lain mengatakan, Dan aku bertanya kepadamu, “Apakah hanya orang-orang yang lemah yang menjadi pengikutnya, ataukah orang-orang terhormat mereka?” Lalu kami jawab, “Memang sebenarnya hanya orang-orang yang lemah sajalah pengikut para rasul itu.”

Wallahu a’lam dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

««««« juz 21 ««««      «««« juz 22 ««««      «««« juz 23 «««««