Akan Menimpa Dirinya Sendiri

Tafsir Al-Qur’an: Surah Saba’ ayat 50

0
37

Tafsir Al-Qur’an: Surah Saba’ ayat 50. Kebaikan itu semuanya dari sisi Allah melalui apa yang diturunkan oleh-Nya berupa wahyu dan kebenaran yang jelas yang di dalamnya terkandung petunjuk, penjelasan, dan bimbingan. Dan barang siapa yang sesat, maka sesungguhnya kemudaratan kesesatannya itu hanya akan menimpa dirinya sendiri karena ulahnya sendiri. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

  بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

قُلْ إِنْ ضَلَلْتُ فَإِنَّمَا أَضِلُّ عَلَى نَفْسِي وَإِنِ اهْتَدَيْتُ فَبِمَا يُوحِي إِلَيَّ رَبِّي إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ (٥٠)

Katakanlah, “Jika aku sesat maka sesungguhnya aku sesat untuk diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk maka itu disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. Sungguh, Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat.” (Q.S. Saba’ : 50)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Qul (katakanlah) kepada mereka, hai Muhammad!

Iη dlalaltu (“Jika aku sesat) dari kebenaran dan petunjuk.

Fa innamā adlillu ‘alā nafsi (maka sesungguhnya aku sesat atas diriku sendiri), yakni hukuman atas kesesatan itu merupakan tanggung jawabku.

Wa inihtadaitu (dan jika aku mendapat petunjuk) pada kebenaran dan petunjuk.

Fa bi mā yūhī ilayya rabbī (maka hal itu disebabkan apa yang diwahyukan Rabb-ku kepadaku), yakni karena aku mendapat petunjuk.

Innahū samī‘un (sesungguhnya Dia Maha Mendengar) siapa pun yang memohon kepada-Nya.

Qarīb (lagi Maha Dekat) mengijabah orang-orang yang mengesakan-Nya.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. [12]Katakanlah, “Jika aku sesat maka sesungguhnya aku sesat untuk diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk maka itu disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku[13]. Sungguh, Dia Maha Mendengar[14] lagi Maha Dekat[15].”

[12] Ketika kebenaran yang didakwahkan Rasulullah ﷺ semakin jelas, sedangkan orang-orang yang mendustakan malah menuduh Beliau sesat, maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala memberitahukan kebenaran itu dan menerangkannya kepada mereka, serta menerangkan kelemahan mereka untuk mengadakan perlawanan kepada kebenaran serta memberitahukan, bahwa tuduhan sesat kepada Beliau tidaklah berpengaruh apa-apa terhadap kebenaran dan tidak dapat membantahnya, dan kalau pun Beliau memang sesat dan tidak mungkin bagi Beliau untuk tersesat, maka akibatnya untuk diri Beliau tidak kepada yang lain, dan jika Beliau mendapatkan petunjuk, maka bukan karena kemampuan Beliau dan kekuatan Beliau, akan tetapi karena wahyu yang Allah berikan kepada Beliau, di mana wahyu tersebut merupakan inti dari hidayah bagi Beliau dan selain Beliau.

[13] Berupa Al-Qur’an dan hikmah (As-Sunnah).

[14] Semua perkataan dan semua suara.

[15] Dengan orang yang berdoa dan meminta kepada-Nya.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Katakanlah! “Jika aku sesat) dari kebenaran (maka sesungguhnya aku sesat atas kemudaratan diriku sendiri) yakni dosa kesesatanku ditanggung oleh diriku (dan jika aku mendapat petunjuk maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Rabbku kepadaku) berupa Alquran dan Hadis Hikmah. (Sesungguhnya Dia Maha mendengar) Maha mengabulkan doa (lagi Maha Dekat.”)

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Swt.:

Katakanlah, “Jika aku sesat, maka sesungguhnya aku sesat atas kemudaratan diriku sendiri. Dan jika aku mendapat petunjuk, maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. (Saba: 50)

Yakni kebaikan itu semuanya dari sisi Allah melalui apa yang diturunkan oleh-Nya berupa wahyu dan kebenaran yang jelas yang di dalamnya terkandung petunjuk, penjelasan, dan bimbingan. Dan barang siapa yang sesat, maka sesungguhnya kemudaratan kesesatannya itu hanya akan menimpa dirinya sendiri karena ulahnya sendiri.

Abdullah ibnu Mas’ud r.a. ketika ditanya tentang suatu masalah yang berkaitan dengan Mufawwidah mengatakan, “Aku akan menjawab menurut pendapatku sendiri. Jika benar, berarti dari sisi Allah. Dan jika keliru, maka dari sisiku dan dari setan, sedangkan Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari pendapatku yang keliru itu.” ,

Firman Allah Swt.:

Sesungguhnya Dia Maha mendengar lagi Maha Dekat. (Saba: 50)

Allah Maha mendengar semua ucapan hamba-hamba-Nya, lagi Maha Dekat yang karenanya Dia memperkenankan doa orang yang memohon kepada-Nya.

Sehubungan dengan hal ini Imam Nasai telah meriwayatkan sebuah hadis dari Abu Musa r.a. yang terdapat di dalam kitab Sahihain pula, disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda (kepada para sahabatnya yang berzikir terlalu keras):

إِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا، إِنَّمَا تَدْعُونَ سميعا قريبا مجيبا

Sesungguhnya kalian berseru (berdoa) bukan kepada Tuhan yang tuli dan bukan pula kepada Tuhan yang gaib, sesungguhnya kalian sedang berdoa kepada Tuhan Yang Maha mendengar, Maha Dekat, lagi Maha memperkenankan (doa).

Wallahu a’lam dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

««««« juz 21 ««««      «««« juz 22 ««««      «««« juz 23 «««««