Sunnatullah dalam Menunda Azab

Tafsir Al-Qur’an: Surah Fathir ayat 45

0
102

Tafsir Al-Qur’an: Surah Fathir ayat 45. Akibat yang akan diterima kaum musyrik, amal buruk akan kembali menimpa pelakunya, segala sesuatu akan binasa, sunnatullah dalam menunda azab hingga hari Kiamat. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

  بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَى ظَهْرِهَا مِنْ دَابَّةٍ وَلَكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِ بَصِيرًا (٤٥)

Dan sekiranya Allah menghukum manusia disebabkan apa (dosa) yang telah mereka perbuat, niscaya Dia tidak akan menyisakan makhluk melata di bumi ini, tetapi Dia (Allah) menangguhkan (hukuman)nya, sampai waktu yang sudah ditentukan. Nanti apabila ajal mereka tiba, maka Allah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya. (Q.S. Fathir : 45)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa lau yuākhidzullāhun nāsa (dan sekiranya Allah mengazab manusia), maksudnya jin dan manusia.

Bimā kasabū (disebabkan ulah mereka), yakni disebabkan sejumlah dosa mereka.

Mā taraka ‘alā zhahrihā (niscaya Dia tidak akan menyisakan di muka bumi itu), yakni di atas permukaan bumi.

Miη dābbatin (suatu makhluk pun), khususnya dari kalangan jin dan manusia.

Wa lākiy yu-akhkhiruhum (namun, Dia memberi mereka penangguhan), yakni memberi mereka tempo.

Ilā ajalim musamman (hingga waktu yang telah ditentukan), yakni hingga waktu tertentu.

Fa idzā jā-a ajaluhum (kemudian bila ajal mereka telah tiba), yakni saat kebinasaan mereka.

Fa innallāha kāna bi ‘ibādihī bashīrā (maka sesungguhnya Allah Maha melihat hamba-hamba-Nya), yakni siapa yang akan dibinasakan dan siapa yang akan diselamatkan.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. [26]Dan sekiranya Allah menghukum manusia disebabkan apa (dosa) yang telah mereka perbuat, niscaya Dia tidak akan menyisakan makhluk melata di bumi ini[27], tetapi Dia (Allah) menangguhkan (hukuman)nya, sampai waktu yang sudah ditentukan[28]. Nanti apabila ajal mereka tiba, maka Allah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya[29].

[26] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan sempurnanya santun (kesabaran)-Nya, benar-benar memberi tangguh, dan pemberian tangguh kepada para pelaku dosa dan maksiat.

[27] Yakni hukuman itu mengena semuanya sampai hewan yang tidak terkena beban..

[28] Yakni hari Kiamat, Dia menangguhkan mereka namun tidak membiarkan.

[29] Maka Dia akan membalas mereka sesuai ilmu-Nya dengan memberi pahala kepada orang-orang mukmin dan memberi hukuman kepada orang-orang kafir.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan kalau sekiranya Allah swt. menyiksa manusia disebabkan usahanya) karena maksiat-maksiat yang telah dikerjakannya (niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi (suatu makhluk pun) yang hidup merayap di atasnya (akan tetapi Allah menangguhkan penyiksaan mereka, sampai waktu yang tertentu) yakni hari kiamat (maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Melihat keadaan hamba-hamba-Nya) Dia kelak akan membalas amal perbuatan mereka, yaitu dengan memberi pahala kepada orang-orang yang beriman dan menghukum orang-orang yang kafir.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Swt. berfirman:

Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melata pun. (Fathir: 45)

Yaitu sekiranya Allah menghukum mereka karena dosa-dosa mereka, tentulah akan binasa semua penduduk langit dan bumi dan segala sesuatu yang dimiliki oleh mereka berupa hewan ternak (harta kekayaan) dan sumber-sumber penghidupan mereka.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Sinan, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman, telah menceritakan kepada kami Sufyan As-Saurr, dari Abu Ishaq, dari Abul Ahwas, dari Abdullah yang mengatakan bahwa hampir saja serangga tanah disiksa di dalam liangnya karena dosa yang dilakukan oleh anak manusia. Kemudian Abdullah (Ibnu Mas’ud r.a.) membaca firman-Nya: Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melata pun. (Fathir: 45)

Sa’id ibnu Jubair dan As-Saddi telah mengatakan sehubungan dengan makna firman Allah Swt.: niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melata pun. (Fathir: 45) Yakni niscaya Allah tidak memberi mereka air hujan, akhirnya semua hewan melata pun binasa semuanya.

Akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu. (Fathir: 45)

Maksudnya, Allah menangguhkan mereka sampai hari kiamat, lalu Dia akan menghisab mereka di hari itu dan setiap orang akan mendapat balasan dari amal perbuatannya. Orang yang taat akan mendapat pahala, sedangkan orang yang durhaka akan mendapat azab dan siksaan. Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:

maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya. (Fathir: 45)

Demikian akhir surah Fathir. Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

««««« juz 21 ««««      «««« juz 22 ««««      «««« juz 23 «««««