Tidaklah Mungkin Bagi Matahari Mengejar Bulan

Tafsir Al-Qur’an: Surah Yaasiin ayat 40

0
31

Tafsir Al-Qur’an: Surah Yaasiin ayat 40. Tanda-tanda kekuasaan Allah Subhaanahu wa Ta’aala dan keesaan-Nya. Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

  لا الشَّمْسُ يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ (٤٠)

Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya. (Q.S. Yaasiin : 40)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Lasy syamsu yambaghī lahā (tidaklah semestinya matahari), yakni tidak dibenarkan bagi matahari.

Aη tudrikal qamara (dapat menyusul bulan), yakni terbit di orbit bulan sehingga menyirnakan cahaya bulan.

Wa lal lailu sābiqun nahār (dan tidak pula malam dapat mendahului siang), yakni malam tidak dapat terbit di orbit siang sehingga menghilangkan cahaya siang.

Wa kullun (dan masing-masing), baik bumi, matahari, bulan, maupun bintang-bintang.

Fī falakiy yasbahūn (beredar pada orbitnya), yakni beredar pada tempat peredarannya dan berjalan pada tempat perjalanannya.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan[16] dan malam pun tidak dapat mendahului siang[17]. Masing-masing[18] beredar pada garis edarnya[19].

[16] Sehingga berkumpul bersama dalam satu malam.

[17] Sehingga malam tidaklah datang sebelum siang habis.

[18] Baik matahari, bulan dan bintang.

[19] Ini semua merupakan dalil dan bukti yang nyata yang menunjukkan keagungan Allah Maha Pencipta dan keagungan sifat-sifat-Nya, khususnya sifat kuasa, bijaksana, dan meliputnya pengetahuan-Nya.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Tidaklah mungkin bagi matahari) tidak akan terjadi (mendapatkan bulan) yaitu matahari dan bulan bersatu di malam hari (dan malam pun tidak dapat mendahului siang) malam hari tidak akan datang sebelum habis waktu siang hari. (Dan masing-masing) matahari, bulan dan bintang-bintang. Tanwin lafal Kullun ini merupakan pergantian dari Mudhaf Ilaih (pada garis edarnya) yang membundar (beredar) pada garis edarnya masing-masing. Di dalam ungkapan ini benda-benda langit diserupakan sebagai makhluk yang berakal, karenanya mereka diungkapkan dengan lafal Yasbahuuna.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Swt.:

Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan. (Yasin: 40)

Mujahid mengatakan bahwa matahari dan bulan masing-masing mempunyai batasan tersendiri yang tidak dapat dilampaui oleh yang lainnya, tidak dapat pula dikurangi oleh yang lainnya. Apabila masa kemunculan yang satu tiba, maka yang lainnya pergi; begitu pula sebaliknya bilamana yang lainnya datang, maka yang satunya pergi.

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Al-Hasan sehubungan dengan makna firman-Nya: Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan (Yasin: 40) Bahwa hal tersebut terjadi di malam munculnya bulan sabit.

Ibnu Abu Hatim dalam bab ini telah meriwayatkan dari Abdullah ibnul Mubarak yang mengatakan bahwa sesungguhnya angin itu mempunyai sayap, dan sesungguhnya bulan itu beristirahat di tempat yang ditutupi oleh air.

As-Sauri telah meriwayatkan dari Ismail ibnu Abu Khalid, dari Abu Saleh, bahwa makna yang dimaksud ialah cahaya yang ini tidak dapat menyusul cahaya yang itu, demikian pula sebaliknya.

Ikrimah telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan. (Yasin: 40) Maksudnya, matahari dan bulan mempunyai kekuasaan tersendiri. Karena itu, tidak pantas bagi matahari terbit di malam hari.

Firman Allah Swt.:

dan malam pun tidak dapat mendahului siang. (Yasin: 40)

Yakni tidaklah pantas bila malam hari, lalu berikutnya malam hari lagi, sebelum adanya siang hari di antara keduanya; kekuasaan matahari di siang hari, dan kekuasaan bulan di malam hari. Ad-Dahhak mengatakan bahwa malam hari tidak akan pergi dari arah ini sebelum siang hari datang dari arah itu seraya berisyarat menunjuk ke arah timur.

Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan malam pun tidak dapat mendahului siang. (Yasin: 40) Keduanya saling mengejar yang lainnya dengan waktu yang cepat dan salah satunya muncul dengan kepergian yang lainnya.

Maka yang dimaksud ialah bahwa tidak ada tenggang waktu antara malam dan siang hari, bahkan masing-masing dari keduanya datang menyusul kepergian yang lainnya tanpa tenggang waktu, karena keduanya telah diperintahkan untuk terus-menerus saling silih berganti dengan cepat.

Firman Allah Swt.:

Dan masing-masing beredar pada garis edarnya. (Yasin: 40)

Yakni malam, siang, mentari, dan bulan, semuanya beredar di. cakrawala langit, menurut Ibnu Abbas, Ikrimah, Ad-Dahhak, Al-Hasan, Qatadah, dan Ata Al-Khurrasani.

Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan bahwa tempat peredarannya ialah di antara langit dan bumi; demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim, tetapi riwayat ini garib sekali, bahkan munkar.

Ibnu Abbas r.a. dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang dari kalangan ulama Salaf mengatakan dalam cakrawala seperti berputarnya alat penenun.

Mujahid mengatakan, yang dimaksud dengan falak ialah perumpamaannya seperti pengengkol alat penggilingan atau seperti pengengkol alat tenun. Alat tenun tidak dapat berputar, melainkan dengan berputarnya alat tersebut. Begitu pula sebaliknya, bila alat tenun berputar, maka ia pun akan ikut berputar.

Wallahu a’lam dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 .

««««« juz 22 ««««      «««« juz 23 ««««      «««« juz 24 «««««