Kapal-kapal yang Mereka Naiki

Tafsir Al-Qur’an: Surah Yaasiin ayat 41-44

0
29

Tafsir Al-Qur’an: Surah Yaasiin ayat 41-44 Di antara bukti kekuasaan Allah Subhaanahu wa Ta’aala dan keberhakan-Nya untuk diibadahi yang dapat manusia saksikan pada kapal-kapal yang mereka naiki, dan bagaimana orang-orang kafir tetap di atas kekafirannya padahal banyak bukti-bukti yang menunjukkan keberhakan-Nya untuk diibadahi sehingga mereka tertimpa azab. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

  وَآيَةٌ لَهُمْ أَنَّا حَمَلْنَا ذُرِّيَّتَهُمْ فِي الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ (٤١) وَخَلَقْنَا لَهُمْ مِنْ مِثْلِهِ مَا يَرْكَبُونَ (٤٢) وَإِنْ نَشَأْ نُغْرِقْهُمْ فَلا صَرِيخَ لَهُمْ وَلا هُمْ يُنْقَذُونَ (٤٣) إِلا رَحْمَةً مِنَّا وَمَتَاعًا إِلَى حِينٍ (٤٤)

Dan suatu tanda (kekuasaan Allah) bagi mereka adalah bahwa Kami angkut keturunan mereka dalam kapal yang penuh muatan. Dan Kami ciptakan juga untuk mereka (angkutan lain) seperti apa yang mereka kendarai. Dan jika Kami menghendaki, Kami tenggelamkan mereka, maka tidak ada penolong bagi mereka dan tidak pula mereka diselamatkan. Melainkan (Kami selamatkan mereka) karena rahmat yang besar dari Kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai waktu tertentu. (Q.S. Yaasiin : 41-44)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa āyatul lahum (dan suatu ayat bagi mereka), yakni suatu pelajaran dan bukti bagi penduduk Mekah.

Annā hamalnā dzurriyyatahum (adalah bahwa Kami telah mengangkut keturunan mereka) di dalam sulbi bapak-bapak mereka ketika bapak-bapak mereka dan keturunannya diangkut.

Fil fulki (dalam kapal), yakni di dalam perahu Nabi Nuh a.s.

Al-masyhūn (yang sarat muatan), yakni yang dibebani beban berat. Ada yang berpendapat, yang dipersiapkan dan bermuatan penuh hingga tiada yang tersisa lagi.

Wa khalaqnā lahum mim mitslihī (dan Kami juga menciptakan untuk mereka yang sepertinya), yakni yang seperti perahu Nabi Nuh a.s.

Mā yarkabūn (yang dapat mereka naiki), seperti perahu-perahu kecil dan unta.

Wa in nasya’ nughriqhum (dan jika Kami menghendaki, Kami dapat saja menenggelamkan mereka) di laut.

Fa lā sharīhka lahum (lalu tiadalah bagi mereka seorang penolong pun), yakni tak seorang pun yang dapat menolong mereka dari penenggelaman.

Wa lā hum yungqadzūn (dan tidak pula mereka dapat diselamatkan), yakni ditolong dari tenggelam.

Illā rahmatam minnā (kecuali karena rahmat dari Kami), yakni kecuali karena nikmat dari Kami, hingga mereka diselamatkan dari tenggelam.

Wa matā‘an (dan sebagai kesenangan), yakni penangguhan.

Ilā hīn (sampai suatu saat), yakni sampai saat kematian dan kebinasaan mereka.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Dan suatu tanda[20] (kekuasaan Allah) bagi mereka adalah bahwa Kami angkut keturunan mereka dalam kapal yang penuh muatan[21].

[20] Yakni dalil dan bukti yang menunjukkan bahwa Allah yang berhak diibadahi adalah karena Dia yang mengaruniakan berbagai nikmat kepada manusia dan yang menghindarkan azab, di antaranya adalah apa yang disebutkan dalam ayat di atas.

[21] Kata “dzurriyyah”dalam ayat tersebut juga bisa diartikan dengan nenek moyang mereka, yakni Allah Subhaanahu wa Ta’aala yang mengangkut nenek moyang mereka ke dalam kapal Nabi Nuh ‘alaihis salam yang penuh muatan, dan nikmat kepada nenek moyang merupakan nikmat bagi keturunannya.

  1. Dan Kami ciptakan juga untuk mereka (angkutan lain) seperti apa yang mereka kendarai[22].

[22] Yakni seperti kapal Nabi Nuh, yaitu yang mereka buat dengan tangan mereka berupa kapal yang besar atau yang kecil serta alat pengangkutan umum lainnya dengan pengajaran dari Allah Subhaanahu wa Ta’aala. Dia mengajarkan mereka sebab-sebab tidak tenggelam.

  1. Dan jika Kami menghendaki, Kami tenggelamkan mereka[23], maka tidak ada penolong bagi mereka dan tidak pula mereka diselamatkan.

[23] Meskipun mereka berada di kapal.

  1. Melainkan (Kami selamatkan mereka) karena rahmat yang besar dari Kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai waktu tertentu[24].

[24] Agar mereka kembali atau mengejar hal yang telah luput dari mereka.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan suatu tanda bagi mereka) yang menunjukkan kekuasaan Kami (adalah bahwa Kami angkut keturunan mereka) menurut qiraat yang lain lafal Dzurriyyatahum dibaca dalam bentuk jamak sehingga bacaannya menjadi Dzurriyyaatihim, maksudnya ialah kakek moyang mereka (dalam bahtera) yakni perahu Nabi Nuh (yang penuh muatan) dipadati penumpang.
  2. (Dan Kami ciptakan untuk mereka seperti bahtera itu) seperti perahu Nabi Nuh, perahu kecil dan besar yang dibuat oleh mereka sesudahnya, bentuknya sama dengan perahu Nabi Nuh. Ini berkat apa yang telah Allah swt. ajarkan kepada Nabi Nuh (yang akan mereka kendarai) mereka berlayar dengannya.
  3. (Dan jika Kami menghendaki niscaya Kami tenggelamkan mereka) sekalipun memakai perahu (maka tiadalah penolong) yakni penyelamat (bagi mereka dan tidak pula mereka diselamatkan) ditolong sehingga selamat.
  4. (Tetapi Kami selamatkan mereka karena rahmat yang besar dari Kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai kepada suatu ketika) tiada yang menyelamatkan mereka melainkan rahmat Kami kepada mereka; dan karena Kami hendak memberikan kesenangan hidup kepada mereka sampai batas ajal mereka.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Swt. berfirman, bahwa suatu tanda lagi bagi mereka yang menunjukkan kebesaran kekuasaan Allah Swt. ialah Dia telah menundukkan laut agar dapat membawa bahtera, yang antara lain bahkan yang pertama ialah bahteranya Nabi Nuh a.s. Yaitu bahtera yang diselamatkan oleh Allah Swt. dengan membawa Nuh a.s. dan orang-orang yang beriman kepadanya, yang pada masa itu tidak ada seorang pun dari keturunan Bani Adam yang ada di muka bumi ini selamat selain dari mereka sendiri. Karena itulah Allah Swt. berfirman:

Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bahwa Kami angkut keturunan mereka (Yasin: 41)

Yaitu kakek moyang mereka.

dalam bahtera yang penuh muatan. (Yasin: 41)

Yakni dalam perahu yang penuh dengan muatan barang-barang dan hewan-hewan yang diperintahkan oleh Allah kepada Nuh untuk mengangkutnya ke dalam perahunya dari tiap-tiap jenis sepasang.

Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahwa al-masyhun artinya penuh dengan muatan. Hal yang sama dikatakan oleh Sa’id ibnu Jubah, Asy-Sya’b, Qatadah, dan As-Saddi.

Ad-Dahhak, Qatadah, serta Ibnu Zaid mengatakan bahwa bahtera yang dimaksud adalah bahteranya Nabi Nuh a.s.

Firman Allah Swt.:

dan Kami ciptakan untuk mereka yang akan mereka kendarai seperti bahtera itu. (Yasin: 42)

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa yang dimaksud ialah unta, karena sesungguhnya unta itu adalah perahu daratan, mereka menjadikannya sebagai sarana angkutan dan kendaraan. Hal yang sama dikatakan oleh Ikrimah, Mujahid, Al-Hasan, dan Qatadah dalam suatu riwayat yang bersumber darinya, serta Ibnu Syaddad dan lain-lainnya lagi.

As-Saddi dalam riwayat yang lain mengatakan bahwa yang dimaksud adalah hewan ternak.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Fadl ibnus Sabbah telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Fuda’il, dan Ata, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas r.a. yang telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan Kami ciptakan untuk mereka yang akan mereka kendarai semisal dengan bahtera itu. (Yasin: 42) Ia mengatakan, ‘Tahukah kalian, apakah yang dimaksud oleh firman tadi?” Kami (murid-muridnya) menjawab, “Tidak tahu.” Ibnu Abbas berkata bahwa yang dimaksud adalah perahu-perahu yang dibuat sesudah perahu Nabi Nuh a.s.

Hal yang sama telah dikatakan oleh Abu Malik, Ad-Dahhak, Qatadah, Abu Saleh, dan As-Saddi, bahwa yang dimaksud dengan firman-Nya: dan Kami ciptakan untuk mereka yang akan mereka kendarai seperti bahtera itu. (Yasin: 42) yakni perahu-perahu.

Dan pengertian yang dikemukakan oleh pendapat ini bertambah kuat bila ditinjau dari segi makna firman-Nya:

إِنَّا لَمَّا طَغَى الْمَاءُ حَمَلْنَاكُمْ فِي الْجَارِيَةِ * لِنَجْعَلَهَا لَكُمْ تَذْكِرَةً وَتَعِيَهَا أُذُنٌ وَاعِيَةٌ

Sesungguhnya Kami tatkala air telah naik (sampai ke gunung) Kami bawa (nenek moyang kamu) ke dalam bahtera, agar Kami jadikan peristiwa itu peringatan bagi kamu dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar. (Al-Haqqah: 11-12)

Adapun firman Allah Swt.:

Dan jika Kami menghendaki, niscaya Kami tenggelamkan mereka. (Yasin: 43)

Maksudnya, orang-orang yang ada di dalam bahtera itu.

maka tiadalah bagi mereka penolong. (Yasin: 43)

Yakni tiada seorang pun yang dapat menolong dan menyelamatkan mereka musibah tenggelam.

dan tidak pula mereka diselamatkan. (Yasin: 43)

dari musibah tenggelam yang menimpa mereka.

Tetapi (Kami selamatkan mereka) karena rahmat yang besar dari Kami. (Yasin: 44)

Istisna dalam ayat ini bersifat munqati’, yakni tetapi berkat rahmat Kami, kalian dapat berjalan di daratan, juga dapat mengadakan perjalanan di laut kemudian Kami selamatkan kalian sampai masa yang telah ditentukan. Karena itulah disebutkan dalam firman selanjutnya:

dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai kepada suatu ketika (Yasin: 44)

Yaitu sampai waktu yang telah ditentukan di sisi Allah Swt.

Wallahu a’lam dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 .

««««« juz 22 ««««      «««« juz 23 ««««      «««« juz 24 «««««