Keberhakan-Nya untuk Diibadahi

Tafsir Al-Qur’an: Surah Yaasiin ayat 45-47

0
27

Tafsir Al-Qur’an: Surah Yaasiin ayat 45-47. Di antara bukti kekuasaan Allah Subhaanahu wa Ta’aala dan keberhakan-Nya untuk diibadahi yang dapat manusia saksikan pada kapal-kapal yang mereka naiki, dan bagaimana orang-orang kafir tetap di atas kekafirannya padahal banyak bukti-bukti yang menunjukkan keberhakan-Nya untuk diibadahi sehingga mereka tertimpa azab. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

  وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّقُوا مَا بَيْنَ أَيْدِيكُمْ وَمَا خَلْفَكُمْ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (٤٥) وَمَا تَأْتِيهِمْ مِنْ آيَةٍ مِنْ آيَاتِ رَبِّهِمْ إِلا كَانُوا عَنْهَا مُعْرِضِينَ (٤٦) وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ قَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنُطْعِمُ مَنْ لَوْ يَشَاءُ اللَّهُ أَطْعَمَهُ إِنْ أَنْتُمْ إِلا فِي ضَلالٍ مُبِينٍ (٤٧)

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Takutlah kamu akan siksa yang di hadapanmu (di dunia) dan azab yang akan datang (akhirat) agar kamu mendapat rahmat.” (Niscaya mereka berpaling). Dan setiap kali suatu tanda dari tanda-tanda (kebesaran) Tuhan datang kepada mereka, mereka selalu berpaling darinya. Dan apabila dikatakakan kepada mereka, “Infakkanlah sebagian rezeki yang diberikan Allah kepadamu,” orang-orang yang kafir itu berkata kepada orang-orang yang beriman, “Apakah pantas kami memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki Dia akan memberinya makan, kamu benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Q.S. Yaasiin : 45-47)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa idzā qīla lahum (dan bila dikatakan kepada mereka), yakni bila Nabi Muhammad ﷺ berkata kepada penduduk Mekah.

Ittaqū mā bainā aidīkum (“Takutlah terhadap apa yang di hadapan kalian), yaitu persoalan akhirat. Beriman dan beramallah kalian untuknya.

Wa mā khalfakum (dan apa yang di belakang kalian), yaitu persoalan dunia. Jangan sampai kalian terpedaya oleh dunia dan keindahannya.

La‘allakum turhamūn (supaya kalian mendapat rahmat”, [niscaya mereka berpaling]), yakni supaya kalian mendapat rahmat di akhirat dan tidak dijatuhi azab.

Wa mā ta’tīhim (dan tiadalah datang kepada mereka), yakni kepada orang-orang kafir Mekah.

Min āyatin (suatu ayat), yakni suatu bukti.

Min āyāti (dari ayat-ayat), yakni dari bukti-bukti.

Rabbihim (Rabb mereka), seperti bulan yang terbelah, gerhana matahari, Nabi Muhammad ﷺ dan Al-Qur’an.

Illā kānū ‘anhā mu‘ridlūn (melainkan mereka selalu berpaling darinya), yakni selalu mendustakan bukti-bukti itu. 47

Wa idzā qilā lahum (dan bila dikatakan kepada mereka), yakni bila kaum mukminin yang fakir berkata kepada mereka.

Aηfiqū (nafkahkanlah), yakni bersedekahlah kalian kepada orang-orang fakir.

Mimmā razaqakumullāhu (sebagian rezeki yang telah dikaruniakan Allah kepada kalian), yakni yang telah diberikan Allah Ta‘ala kepada kalian.

Qālal ladzīna kafarū (berkatalah orang-orang yang kafir), yakni orang-orang kafir Mekah.

Lil ladzīna āmanū (kepada orang-orang yang beriman), yakni kepada kaum mukminin yang fakir.

A nuth‘imu (“Apakah kami akan memberi makan), yakni apakah kami akan bersedekah.

Mal lau yasyā-ullāhu ath‘amahū (kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki, Dia akan memberinya makan), yakni memberinya rezeki.

In aηtum (tiadalah kalian), yakni tiadalah kalian, wahai segenap kaum mukminin! Menurut satu pendapat, orang-orang mukmin berkata kepada mereka, “Tiadalah kalian.”

Illā fī dlalālim mubīn (melainkan dalam kesesatan yang nyata), yakni dalam kekeliruan yang nyata. Ayat ini diturunkan berkenaan dengan sikap ateis kaum Quraisy.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Takutlah kamu akan siksa yang di hadapanmu (di dunia) dan azab yang akan datang (akhirat) agar kamu mendapat rahmat.” (Niscaya mereka berpaling).
  2. Dan setiap kali suatu tanda dari tanda-tanda (kebesaran) Tuhan[25] datang kepada mereka, mereka selalu berpaling darinya.

[25] Disandarkannya ayat (tanda) kepada Tuhan mereka menunjukkan sempurnanya ayat itu dan jelasnya, karena tidak ada sesuatu yang lebih jelas dari ayat Allah dan lebih agung penjelasannya, dan bahwa termasuk tarbiyah (pengurusan) dari Allah kepada hamba-hamba-Nya adalah Dia menyampaikan kepada mereka ayat-ayat-Nya, di mana dengan ayat-ayat mereka dapat menjadikannya pedoman terhadap hal yang bermanfaat bagi mereka baik pada agama maupun dunia mereka.

  1. Dan apabila dikatakakan kepada mereka, “Infakkanlah sebagian rezeki yang diberikan Allah kepadamu,” orang-orang yang kafir itu berkata kepada orang-orang yang beriman[26], “Apakah pantas kami memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki Dia akan memberinya makan, kamu[27] benar-benar dalam kesesatan yang nyata[28].”

[26] Sambil menentang yang hak dan mengolok-oloknya serta berhujjah dengan kehendak Allah.

[27] Wahai orang-orang mukmin.

[28] Karena memerintahkan demikian.

Hal ini menunjukkan kebodohan mereka atau pura-pura bodoh, karena kehendak Allah Subhaanahu wa Ta’aala bukanlah hujjah bagi pelaku maksiat selama-lamanya. Meskipun yang Allah kehendaki akan terjadi, dan yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi, tetapi Dia telah memberikan kemampuan dan kekuatan kepada hamba, di mana dengan kemampuan itu mereka dapat mengerjakan perintah dan menjauhi larangan. Oleh karena itu, jika mereka meninggalkan hal yang diperintahkan, maka yang demikian atas dasar pilihan mereka sendiri, bukan karena dipaksa.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Takutlah kalian akan siksa yang di hadapan kalian) berupa azab di dunia sebagaimana apa yang telah menimpa orang-orang selain mereka (dan siksa yang akan datang) yaitu azab di akhirat (supaya kalian mendapat rahmat”) tetapi mereka tetap berpaling.
  2. (Dan sekali-kali tiada datang kepada mereka suatu tanda dari tanda-tanda kekuasaan Rabb mereka melainkan mereka selalu berpaling daripadanya.)
  3. (Dan apabila dikatakan) berkata sahabat-sahabat yang miskin (kepada mereka, “Nafkahkanlah) sedekahkanlah kepada kami (sebagian dari rezeki yang diberikan Allah kepada kalian”) berupa harta benda (maka orang-orang yang kafir itu berkata kepada orang-orang yang beriman,) dengan nada yang sinis sebagai ejekan yang ditujukan kepada mereka, (“Apakah kami akan memberi makanan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki tentulah Dia akan memberinya makan) sesuai dengan keyakinan kalian itu. (Tiada lain kalian) yaitu apa yang kalian katakan kepada kami, padahal kalian mempunyai keyakinan bahwa Allah pasti memberi makan kalian (melainkan dalam kesesatan yang nyata”) yakni jelas sesatnya. Ditegaskannya lafal Al Ladziina Kafaruu mengandung arti yang mendalam.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Swt. menceritakan perihal keterlanjuran orang-orang musyrik dalam kesesatan mereka dan tiada kepedulian mereka terhadap dosa-dosa yang telah mereka kerjakan dan terhadap masa depan yang ada di hadapan mereka, yaitu hari kiamat.

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Takutlah kamu akan siksa yang di hadapanmu dan siksa yang akan datang.” (Yasin: 45)

Mujahid mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah dosa-dosa, sedangkan menurut yang lain adalah kebalikannya.

supaya kamu mendapat rahmat. (Yasin: 45)

Yakni mudah-mudahan Allah mengasihani kalian dan menyelamatkan kalian dari azab-Nya bila kalian takut akan hal tersebut. Sebagai kelanjutannya ialah mereka menolak hal tersebut, bahkan berpaling darinya melalui firman berikutnya, yaitu:

Dan sekali-kali tiada datang kepada mereka suatu tanda dari tanda-tanda kekuasaan Tuhan mereka. (Yasin: 46)

Yang menunjukkan keesaan-Nya dan kebenaran rasul-rasul-Nya.

melainkan mereka selalu berpaling darinya. (Yasin: 46)

Maksudnya, mereka tidak mau merenungkannya, tidak mau menerimanya, dan tidak mau mengambil manfaat darinya.

Firman Allah Swt.:

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Nafkahkanlah sebagian dari rezeki yang diberikan Allah kepadamu”  (Yasin: 47)

Yakni apabila mereka diperintahkan untuk membelanjakan sebagian dari rezeki yang diberikan oleh Allah kepada mereka untuk kaum fakir miskin

maka orang-orang yang kafir itu berkata kepada orang-orang yang beriman. (Yasin: 47)

Yaitu memperbincangkan perihal orang-orang beriman yang fakir, Dengan kata lain mereka berkata kepada orang mukmin yang menganjurkan mereka untuk berinfak dengan nada sinis dan tanggapan yang menentang.

Apakah kami akan memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki tentulah Dia akan memberinya makan (Yasin: 47)

Mereka yang kalian anjurkan agar kami berinfak kepada mereka sekiranya Allah menghendaki, tentulah Dia memberikan kecukupan kepada mereka dan memberi mereka makan dari rezeki yang diberikan-Nya kepada mereka, dan kami sependapat dengan kehendak Allah Swt. terhadap mereka.

tiadalah kamu melainkan dalam kesesatan yang nyata. (Yasin: 47)

dalam anjuran kalian kepada kami untuk melakukan hal tersebut.

Ibnu Jarir mengatakan, dapat pula ditakwilkan bahwa kalimat ini merupakan firman Allah Swt. terhadap orang-orang kafir yang menentang itu. saat mereka mendebat orang-orang mukmin yang menganjurkan kepada mereka untuk berinfak. Allah berfirman kepada mereka: tiadalah kamu melainkan dalam kesesatan yang nyata. (Yasin: 47).

Akan tetapi, pendapat ini masih perlu diteliti lagi.

Wallahu a’lam dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 .

««««« juz 22 ««««      «««« juz 23 ««««      «««« juz 24 «««««