Terjadinya Hari Kiamat

Tafsir Al-Qur’an: Surah Yaasiin ayat 48-50

0
30

Tafsir Al-Qur’an: Surah Yaasiin ayat 48-50. Menceritakan tentang keyakinan orang-orang kafir yang menganggap mustahil terjadinya hari kiamat. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَيَقُولُونَ مَتَى هَذَا الْوَعْدُ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (٤٨) مَا يَنْظُرُونَ إِلا صَيْحَةً وَاحِدَةً تَأْخُذُهُمْ وَهُمْ يَخِصِّمُونَ (٤٩) فَلا يَسْتَطِيعُونَ تَوْصِيَةً وَلا إِلَى أَهْلِهِمْ يَرْجِعُونَ (٥٠)

Dan mereka (orang-orang kafir) berkata, “Kapan janji (hari berbangkit) itu (terjadi) jika kamu orang-orang yang benar?” Mereka hanya menunggu satu teriakan, yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar. Sehingga mereka tidak mampu membuat suatu wasiat dan mereka (juga) tidak dapat kembali kepada keluarganya. (Q.S. Yaasiin : 48-50)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa yaqūlūna (dan mereka berkata), yakni orang-orang kafir Mekah.

Matā hādzal wa‘du (“Kapankah [terjadinya] janji ini), yakni janji yang kamu ancamkan kepada kami itu, hai Muhammad!

Ing kuηtum shādiqīn (jika memang kalian adalah orang-orang yang benar), yakni jika memang kamu termasuk orang yang benar bahwasanya kami akan dibangkitkan sesudah mati.

Mā yaηzhurūna (tiadalah mereka menantikan), yakni tiadalah kaummu itu menanti azab tatkala mereka mendustakanmu.

Illā shaihataw wāhidatan (melainkan satu pekikan saja), yakni tiupan yang pertama.

Ta’khudzuhum wa hum yakhish-shimūn (yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar), yakni tengah berselisih di pasar.

Fa lā yastathī‘ūna taushiyatan (kemudian mereka tidak mampu membuat satu wasiat pun). Menurut yang lain, tidak mampu mengucapkan satu kata pun.

Wa lā ilā ahlihim yarji‘ūn (dan tidak pula dapat kembali kepada keluarganya) dari pasar. Ada yang berpendapat, (tak dapat) memberikan jawaban.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Dan mereka (orang-orang kafir) berkata[1], “Kapan janji (hari berbangkit) itu (terjadi) jika kamu orang-orang yang benar?”

[1] Sambil mendustakan dan meminta disegerakan azab.

  1. Mereka hanya menunggu satu teriakan,[2] yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar[3].

[2] Maksudnya, suara tiupan sangkalala pertama yang ditiup oleh malaikat Israfil yang menghancurkan bumi ini.

[3] Yakni ketika mereka sedang lalai dan sibuk, baik dengan jual beli, tawar-menawar, makan, minum, dsb.

  1. Sehingga mereka tidak mampu membuat suatu wasiat[4] dan mereka (juga) tidak dapat kembali kepada keluarganya[5].

[4] Sedikit atau banyak.

[5] Dari pasar dan dari kesibukan mereka, bahkan mereka mati di tempat mereka berbisnis.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan mereka berkata, “Bilakah terjadinya janji ini?) yakni hari berbangkit (jika kalian orang-orang yang benar?”) mengenai apa yang kalian katakan.
  2. Allah berfirman, (“Mereka tidak menunggu) menanti-nanti (melainkan satu teriakan saja), yaitu tiupan malaikat Israfil yang pertama (yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar”) lafal Yakhishshimuuna pada asalnya adalah Yakhtashimuuna, kemudian harakat Ta dipindahkan kepada Kha, lalu Ta diidgamkan kepada Shad. Maksudnya, mereka dalam keadaan lalai dari kedatangan hari kiamat, disebabkan mereka sibuk dalam pertengkaran mereka, jual beli yang mereka lakukan, makan, dan minum serta kesibukan-kesibukan lainnya. Menurut qiraat yang lain lafal Yakhishshimuuna mempunyai Wazan sama dengan lafal Yadhribuuna, artinya sebagian dari mereka bertengkar dengan sebagian yang lain.
  3. (Lalu mereka tidak kuasa membuat suatu wasiat pun) tidak dapat berwasiat (dan tidak pula dapat kembali kepada keluarganya) dari pasar dan dari tempat-tempat kesibukan mereka, semuanya mati di tempatnya masing-masing.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Swt. menceritakan tentang keyakinan orang-orang kafir yang menganggap mustahil terjadinya hari kiamat. Hal ini diungkapkan melalui firman-Nya:

Bilakah (terjadinya) janji ini? (Yasin: 48)

Dalam ayat lain disebutkan melalui firman-Nya:

يَسْتَعْجِلُ بِهَا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِهَا

Orang-orang yang tidak beriman kepada hari kiamat meminta supaya hari itu segera didatangkan. (Asy-Syura: 18)

Adapun firman Allah Swt.:

Mereka tidak menunggu melainkan satu teriakan saja yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar. (Yasin: 49)

Artinya, tiada yang mereka tunggu melainkan hanya satu teriakan saja, dan teriakan ini hanya Allah Yang Maha Mengetahui adalah tiupan sangkakala yang pertama. Dilakukan tiupan pada sangkakala yaitu tiupan yang mengejutkan, saat itu manusia sedang berada di dalam pasar-pasar mereka dan sedang dalam aktivitas kehidupan mereka yang saling bersaing dan bertengkar di antara sesamanya sebagaimana biasanya. Ketika mereka sedang dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba Allah memerintahkan kepada Malaikat Israfil untuk meniup sangkakala. Maka Malaikat Israfil melakukan tiupan yang cukup panjang; tiada seorang pun di permukaan bumi ini melainkan mendengar suara itu yang terdengar dari arah langit. Kemudian manusia yang ada digiring menuju ke Padang Mahsyar dengan api yang mengepung mereka dari segala penjuru. Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:

Lalu mereka tidak kuasa membuat suatu wasiat pun. (Yasin: 50)

terhadap apa yang dimiliki oleh mereka, karena urusan yang sedang dialami oleh mereka lebih penting dari itu,

dan tidak (pula) dapat kembali kepada keluarganya. (Yasin: 50)

Sehubungan dengan bab ini banyak asar dan hadis yang telah kami kemukakan di tempat lain. Setelah itu barulah terjadi tiupan kematian yang karenanya semua makhluk hidup mati semuanya selain Tuhan Yang Maha Hidup lagi terus-menerus mengatur makhluk-Nya. Selanjutnya terjadi tiupan kebangkitan.

Wallahu a’lam dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 .

««««« juz 22 ««««      «««« juz 23 ««««      «««« juz 24 «««««