Penciptaan Manusia

Tafsir Al-Qur’an: Surah Ash-Shaaffaat ayat 11-13

0
72

Tafsir Al-Qur’an: Surah Ash-Shaaffaat ayat 11-13. Menghadapkan pertanyaan kepada orang musyrik ketika mereka mengingkari kebangkitan dan hisab untuk membantah mereka, serta menunjukkan kekuasaan Allah Subhaanahu wa Ta’aala dalam penciptaan manusia. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

  فَاسْتَفْتِهِمْ أَهُمْ أَشَدُّ خَلْقًا أَمْ مَنْ خَلَقْنَا إِنَّا خَلَقْنَاهُمْ مِنْ طِينٍ لازِبٍ (١١) بَلْ عَجِبْتَ وَيَسْخَرُونَ (١٢) وَإِذَا ذُكِّرُوا لا يَذْكُرُونَ (١٣)

Maka tanyakanlah kepada mereka (kaum musyrik Mekah), “Apakah penciptaan mereka yang lebih sulit ataukah apa yang telah Kami ciptakan itu?” Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat. Bahkan engkau (Muhammad) menjadi heran (terhadap keingkaran mereka) dan mereka menghinakan (engkau). Dan apabila mereka diberi peringatan mereka tidak mengindahkannya. Ash-Shaffat : 11-13)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Fastaftihim (maka tanyakanlah kepada mereka), yakni tanyakanlah kepada penduduk Mekah.

A hum asyaddu khalqan (apakah mereka yang lebih hebat penciptaannya), yakni dalam membangkitkan.

Am man khalaqnā (ataukah apa yang telah Kami ciptakan itu), yakni ataukah malaikat-malaikat dan seluruh makhluk yang telah Kami ciptakan sebelum mereka.

Innā khalaqnāhum min thīnin (sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah), yakni dari Adam a.s., sedang Adam a.s. dari tanah.

Lāzib (yang liat), yakni yang lengket.

Bal ‘ajibta (bahkan kamu merasa heran), hai Muhammad, dengan pendustaan mereka kepadamu.

Wa yaskharūn (dan mereka mencemooh) kamu dan kitabmu.

Wa idzā dzukkirū (dan apabila diberi pelajaran), yakni diberi nasihat dengan Al-Qur’an.

Lā yadzkurūn (mereka tidak mengingat[nya]), yakni tidak mengambil pelajaran (darinya).

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. [12]Maka tanyakanlah kepada mereka (kaum musyrik Mekah), “Apakah penciptaan mereka[13] yang lebih sulit ataukah apa yang telah Kami ciptakan itu[14]?” Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka[15] dari tanah liat.

[12] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan tentang penciptaan makhluk-makhluk yang besar, seperti langit, bumi, malaikat, dsb. maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala memerintahkan bertanya kepada orang-orang yang mengingkari kebangkitan setelah mati agar mereka mengakuinya atau sebagai celaan bagi mereka.

[13] Setelah mati.

[14] Yaitu malaikat, langit, bumi dan lain-lain. Tentu mereka akan mengakui, bahwa penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia. Hal ini seharusnya membuat mereka mengakui adanya kebangkitan setelah mati, bahkan kalau seandainya mereka merenungkan keadaan diri mereka, tentu mereka akan mengetahui bahwa awal penciptaan mereka adalah dari tanah liat, di mana hal ini lebih sulit dibayangkan daripada penciptaan kembali setelah sebelumnya pernah ada dan masih tersisa sebagian tulangnya.

[15] Yaitu nenek moyang mereka, Adam ‘alaihis salam.

  1. Bahkan engkau (Muhammad) menjadi heran (terhadap keingkaran mereka)[16] dan[17] mereka menghinakan (engkau).

[16] Yakni bahwa engkau wahai Rasul dan manusia yang berpikir cerdas pasti akan heran terhadap pendustaan orang-orang kafir terhadap kebangkitan padahal telah jelas bukti dan dalilnya baik secara naqli maupun ‘aqli (akal) yang seharusnya tidak menerima lagi adanya pengingkaran.

[17] Lebih mengherankan lagi ketika mereka menghinakan orang yang memberitakan tentang kebangkitan. Mereka tidak cukup sampai mengingkari bahkan ditambah dengan menghinakan.

  1. Dan[18] apabila mereka diberi peringatan mereka tidak mengindahkannya.

[18] Yang mengherankan juga adalah ketika mereka diingatkan terhadap sesuatu yang telah mereka kenali dalam fitrah dan akal mereka, namun mereka tidak memperhatikannya. Jika karena kebodohan mereka, maka berarti hal itu menunjukkan dalamnya kebodohan mereka, karena mereka telah dingatkan dengan sesuatu yang telah tertanam dalam fitrah mereka dan telah diketahui dalam akal mereka. Namun jika mereka pura-pura bodoh atau keras kepala, maka hal itu lebih mengherankan lagi sebagaimana kita mengherankan orang yang mengingkari kenyataan.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Maka tanyakanlah kepada mereka) kepada orang-orang kafir Mekah, kalimat ayat ini mengandung makna Taqrir atau Taubikh, yakni mengandung nada menetapkan atau celaan, (“Apakah mereka yang lebih kukuh kejadiannya ataukah yang telah Kami ciptakan itu?”) yakni para malaikat, langit, bumi dan semua apa yang ada di antara keduanya. Didatangkannya lafal Man mengandung pengertian memprioritaskan makhluk yang berakal. (Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka) asal mereka, yaitu Nabi Adam (dan tanah liat) tanah yang melekat di tangan bilamana dipegang. Maksudnya, kejadian mereka adalah dari sesuatu yang lemah, karena itu janganlah mereka bersikap takabur dan sombong, yakni mengingkari Nabi ﷺ dan Al-Qur’an, yang hal ini dengan mudah dapat mengakibatkan mereka terjerumus ke dalam jurang kebinasaan.
  2. (Bahkan) lafal Bal di sini menunjukkan arti Intiqal, yakni perpindahan dari suatu topik pembicaraan kepada pembicaraan yang lain, yaitu pembahasan mengenai keadaan Nabi Muhammad dan orang-orang kafir Mekah (kamu heran) pembicaraan ayat ini ditujukan kepada Nabi ﷺ yakni kamu heran akan keingkaran mereka terhadapmu (dan) mereka (menghinakan kamu) karena keherananmu itu.
  3. (Dan apabila mereka diberi pelajaran) maksudnya, dinasihati dengan ayat-ayat Al-Qur’an (mereka tiada mengingatinya) mereka tidak menjadikannya sebagai pelajaran.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Swt. berfirman, “Tanyakanlah kepada orang-orang yang ingkar kepada hari berbangkit itu, manakah yang lebih kuat kejadiannya, apakah diri mereka ataukah langit dan bumi beserta segala sesuatu yang ada pada keduanya, termasuk para malaikat, setan-setan, dan makhluk-makhluk yang besar-besar?”

Ibnu Mas’ud r.a. membacanya dengan bacaan am man adadna, karena sesungguhnya mereka mengakui bahwa semuanya itu lebih kuat dan lebih kokoh kejadiannya dari pada diri mereka. Apabila kenyataannya memang demikian, lalu mengapa mereka mengingkari adanya hari berbangkit? Padahal mereka menyaksikan hal-hal lainnya yang lebih besar daripada apa yang diingkari oleh mereka, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

لَخَلْقُ السَّمَوَاتِ وَالأرْضِ أَكْبَرُ مِنْ خَلْقِ النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar, daripada penciptaan manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Al-Mu-min: 57)

Kemudian Allah Swt. menjelaskan bahwa mereka diciptakan dari sesuatu yang lemah. Untuk itu Allah Swt. berfirman:

Sesungguhnya Kami menciptakan mereka dari tanah liat. (Ash-Shaffat: 11)

Mujahid, Sa’id ibnu Jubair, dan Ad-Dahhak mengatakan, bahwa lazib ialah tanah liat yang bermutu baik yang sebagiannya dapat disatukan dengan sebagian yang lain.

Ibnu Abbas r.a. dan, Ikrimah mengatakan bahwa lazib adalah tanah liat yang bermutu baik lagi licin.

Qatadah mengatakan bahwa lazib ialah tanah liat yang menempef di tangan bila dipegang.

Firman Allah Swt.:

Bahkan kamu menjadi heran (terhadap keingkaran mereka) dan mereka menghinakan kamu. (Ash-Shaffat: 12)

Yakni bahwa engkau Muhammad merasa heran terhadap kedustaan yang dilakukan oleh para pengingkar hari berbangkit itu, padahal engkau percaya dan membenarkan hal-hal menakjubkan yang diberitakan oleh Allah Swt. yaitu kembali hidupnya tubuh-tubuh sesudah matinya. Keadaan mereka berbeda dengan kami, mereka sangat mendustakan hal tersebut sehingga mereka memperolok-olokkan apa yang kamu beritakan kepada mereka tentang hari kebangkitan itu.

Qatadah mengatakan bahwa Nabi Muhammad ﷺ merasa heran dan orang-orang yang sesat menghinakannya.

Wallahu a’lam dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 .

««««« juz 22 ««««      «««« juz 23 ««««      «««« juz 24 «««««