Keduanya Menampilkan Ketataan

Tafsir Al-Qur’an: Surah Ash-Shaaffaat ayat 102

0
74

Tafsir Al-Qur’an: Surah Ash-Shaaffaat ayat 102. Kisah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dengan anaknya Nabi Isma’il ‘alaihis salam, dimana keduanya menampilkan ketataan, pengorbanan dan penyerahan yang tinggi kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala dan kabar gembira tentang kelahiran Ishaq ‘alaihis salam. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (١٠٢)

Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (Q.S. Ash-Shaffat : 102)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Fa lammā balagha ma‘ahus sa‘ya (maka ketika anak itu telah sampai [pada umur yang cukup untuk] berusaha bersama Ibrahim). Yakni beramal karena Allah Ta‘ala dengan menjalankan ketaatan.

Qāla (berkatalah Ibrahim) kepada anaknya, Isma‘il a.s. Menurut satu pendapat, Ishaq a.s.

Yā bunayya innī arā fil manāmi (“Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi). Yakni aku telah mendapat perintah di dalam mimpi.

Annī adzbahuka faηzhur mādzā tarā (bahwa aku menyembelih kamu. Karena itu, pikirkanlah apa pendapatmu”). Yakni apa saran dan nasihat kamu.

Qāla yā abatif‘al mā tu’maru (dia berkata, “Wahai ayahandaku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu itu). Yakni perintah menyembelih itu.

Sa tajidunī iη syā-allāhu minash shābirīn (kamu akan mendapatiku, insya Allah, termasuk orang-orang yang sabar) dalam menghadapi penyembelihan itu.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi[22] bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu[23]!” Dia (Ismail) menjawab[24], “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar[25].”

[22] dan mimpi para nabi adalah hak (benar) dan merupakan wahyu.

[23] Beliau bermusyawarah dengan anaknya agar anaknya dapat menerima dan tunduk kepada perintah itu.

[24] Dengan sikap sabar dan mengharap pahala dari Allah, mencari keridhaan-Nya dan berbakti kepada kedua orang tuanya.

[25] Nabi Ismail memberitahukan bapaknya bahwa ia siap bersabar, dan ia sertakan kalimat insya Allah, karena sesuatu tidaklah terjadi tanpa kehendak Allah ‘Azza wa Jalla.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Maka tatkala anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim) yaitu telah mencapai usia sehingga dapat membantunya bekerja; menurut suatu pendapat bahwa umur anak itu telah mencapai tujuh tahun. Menurut pendapat yang lain bahwa pada saat itu anak Nabi Ibrahim berusia tiga belas tahun (Ibrahim berkata, “Hai anakku! Sesungguhnya aku melihat) maksudnya, telah melihat (dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu!) mimpi para nabi adalah mimpi yang benar, dan semua pekerjaan mereka berdasarkan perintah dari Allah swt. (maka pikirkanlah apa pendapatmu!”) tentang impianku itu; Nabi Ibrahim bermusyawarah dengannya supaya ia menurut, mau disembelih, dan taat kepada perintah-Nya. (Ia menjawab, “Hai bapakku) huruf Ta pada lafal Abati ini merupakan pergantian dari Ya Idhafah (kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu) untuk melakukannya (Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”) menghadapi hal tersebut.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Swt.:

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim. (Ash-Shaffat: 102)

Yakni telah tumbuh menjadi dewasa dan dapat pergi dan berjalan bersama ayahnya. Disebutkan bahwa Nabi Ibrahim a.s. setiap waktu pergi menengok anaknya dan ibunya di negeri Faran, lalu melihat keadaan keduanya. Disebutkan pula bahwa untuk sampai ke sana Nabi Ibrahim mengendarai buraq yang cepat larinya; hanya Allah-lah Yang Maha mengetahui.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. Mujahid, Ikrimah, Sa’id ibnu Jubair, Ata Al-Khurrasani, dan Zaid ibnu Aslam serta lain-lainnya sehubungan dengan makna firman-Nya: Maka tatkala anak itu sampai (pada usia sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, (Ash-Shaffat: 102) Maksudnya, telah tumbuh dewasa dan dapat bepergian serta mampu bekerja dan berusaha sebagaimana yang dilakukan ayahnya.

Maka tatkala anak itu sampai (pada usia sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, “Hai Anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu! ” (Ash-Shaffat: 102)

Ubaid ibnu Umair mengatakan bahwa mimpi para nabi itu adalah wahyu, kemudian ia membaca firman-Nya: Ibrahim berkata, “Hai Anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” (Ash-Shaffat: 102)

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain ibnul Junaid, telah menceritakan kepada kami Abu Abdul Malik Al-Karnadi, telah menceritakan kepada kami Sufyan ibnu Uyaynah, dari Israil ibnu Yunus, dari Sammak, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

رُؤْيَا الْأَنْبِيَاءِ فِي الْمَنَامِ وَحْي

Mimpi para nabi itu merupakan wahyu.

Hadis ini tidak terdapat di dalam kitab-kitab Sittah dengan jalur ini.

Dan sesungguhnya Ibrahim memberitahukan mimpinya itu kepada putranya agar putranya tidak terkejut dengan perintah itu, sekaligus untuk menguji kesabaran dan keteguhan serta keyakinannya sejak usia dini terhadap ketaatan kepada Allah Swt. dan baktinya kepada orang tuanya.

Ia menjawab, “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintah­kan kepadamu.” (Ash-Shaffat: 102)

Maksudnya, langsungkanlah apa yang diperintahkan oleh Allah kepadamu untuk menyembelih diriku.

insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (Ash-Shaffat: 102)

Yakni aku akan bersabar dan rela menerimanya demi pahala Allah Swt. Dan memang benarlah, Ismail a.s. selalu menepati apa yang dijanjikannya. Karena itu, dalam ayat lain disebutkan melalui firman-Nya:

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولا نَبِيًّا وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا

Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al-Qur’an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan ia menyuruh ahlinya untuk salat dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridai di sisi Tuhannya. (Maryam: 54-55)

Wallahu a’lam dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

««««« juz 22 ««««      «««« juz 23 ««««      «««« juz 24 «««««